Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semoga dia yang terkahir
"Kamu tidak apa-apa sayang?." Devan yang sudah memutar tubuhnya berdiri di depan Noora.
Noora yang mendapat pertanyaan dari Devan seketika langsung memeluk tubuh Devan, lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang Devan.
Devan yang menyadari Noora menangis pun menjadi panik. "Apa Adam melukaimu? mana yang sakit, apa kamu di pukul?." Devan yang terus menyusuri tubuh Noora takut ada yang terluka.
"Tidak.. aku tidak apa-apa." jawab Noora dengan nada berat karena terus menitihkan air matanya.
Devan pun seketika menyentuh pipi Noora dengan sangat lembut dan menatap wajah Noora yang putih bersih yang sudah di penuhi dengan air mata. Lalu menyekanya dengan penuh kasih sayang.
"Aku ada di sini sayang, kamu tidak perlu takut." Devan yang kembali menenggelamkan wajah Noora di dada bidangnya.
Setelah melihat Noora sedikit tenang dan sudah tidak menangis lagi, Devan pun membawa Noora untuk duduk di sofa. "Sini sayang duduk, dan minum dulu agar kamu lebih tenang." Devan yang melepaskan tubuh Noora untuk duduk di sofa.
"Jangan jauh-jauh dari ku, aku nyaman di pelukanmu." rengek Noora yang menarik Devan agar tidak menjauh darinya.
"Iya-iya sayang." Devan yang duduk di sebelah Noora lalu kembali meraih tubuh Noora untuk bersandar di pundaknya.
"Adam benar-benar tidak melukaimu kan?." Tanya Devan lagi yang menunduk menatap wajah Noora.
"Engga.. dan untungnya kamu buru-buru datang sayang." Noora yang mendongakkan wajahnya juga menatap wajah Devan.
"Aku sudah mempunyai firasat di jalan, karena kamu berkali-kali aku telfon namun tidak kunjung mengangkat, tidak mungkin kamu pulang lebih dulu tanpa aku jemput." Devan yang sudah memberikan segelas air putih kepada Noora."Bagaimana bisa Adam masuk ke ruanganmu? apa dia sengaja?." lanjut Devan.
"Entahlah.. aku sudah berkali-kali menolaknya dan menyuruh dia keluar dari ruangan ku, tapi tiba-tiba langsung memelukku." jelas Noora.
"Mantan suamimu itu benar-benar sudah gila." Devan yang masih begitu kesal dengan ucapan-ucapan Adam yang terus terngiang di telinganya."Kenapa kamu tidak pecat saja dia, itu akan membahayakanmu jika dia masih di sekelilingmu sayang."
"Aku tidak tega untuk memecatnya sayang, karena dia_." ucap Noora yang belum selesai namun sudah di sahut oleh Devan.
"Karena apa? apa karena dia mantan suamimu?."
"Bukan begitu sayang, kinerja dia juga sangat baik di perusahaan ini, bahkan dia selalu membantu para karyawan yang baru saja bergabung di perusahaan ini."
"Tapi bagaimana kalau dia akan kembali melakukan hal seperti barusan, kamu kan tau sendiri aku tidak bisa menjagamu 24 jam non stop." Devan yang tidak setuju dengan ucapan Noora.
"Karena hari ini juga tidak ada Viola sayang, jika ada Viola pasti dia tidak akan mudah masuk ke ruanganku begitu saja."
"Cup.. Cup..." Devan yang sudah melesatkan bibirnya begitu saja ke bibir Noora, seketika membuat Noora sangat terkejut.
"Sayang." Noora yang menatap wajah Devan dengan wajah memerah.
"Jangan menjawab terus ucapan ku, dan jangan membela laki-laki itu lagi, aku sangat cemburu." ucap Devan.
Noora yang mendengar ucapan Devan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, dengan tersenyum.
Devan yang mengetahui Noora sedang tersenyum langsung menyentuh dagu Noora agar kembali menatap wajahnya. "Jangan tersenyum ke arah lain?."
"Kenapa?." tanya Noora yang tidak mengerti.
"Aku takut cicak yang menempel di dinding akan terpesona melihat senyum manismu itu." ucap Devan.
Noora yang mendengar gombalan dari Devan semakin tersipu malu. "Aaa... sayang...." Noora yang sudah memukul dada bidang kekasihnya dengan manja.
"Berjanjilah untuk menjaga dirimu dengan baik di saat kamu tidak bersamaku." Devan yang terus menatap wajah Noora dengan penuh kasih sayang.
"Iya sayang, aku berjanji. Jika Adam seperti itu lagi aku akan segera memecatnya dari perusahan ini."
"Baiklah.. aku pegang janjimu." Devan yang mengecup kening Noora dengan sangat lembut.
Noora yang mendapat perlakuan lembut dari Devan seketika terasa terenyuh, ia merasa semenjak ada kehadiran Devan di dalam hidupnya menjadi tenang dan nyaman. "Semoga dia yang terakhir untukku tuhan." ucap Noora di dalam hati terus memandangi laki-laki di sampingnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?." tanya Devan.
"Karena kamu terlalu tampan." jawab Noora sambil tersenyum.
"Bisa aja kamu." Devan yang sudah mencubit hidung mancung milik Noora hingga berubah merah.
"Sakit ayang." Noora yang menyentuh hidungnya sendiri sambil cemberut.
Devan yang melihat ekspresi wajah Noora hanya tersenyum. "Apa Safa adikmu masih menjalin hubungan dengan Adam?." tanya Devan.
"Emm." Noora yang sedikit berfikir. "Sepertinya tidak, aku tidak pernah melihat mereka bertemu, bahkan dulu Safa juga menolak saat Adam akan menikahinya."
"Emang kamu tau mereka bertemu atau tidak, buktinya dulu saat Adam berselingkuh dengan adikmu, kamu tidak tau." sangkal Devan.
"Ahh.. jangan bahas masalah itu lagi, kepala ku sakit saat mengingatnya." grutu Noora sambil menjauhkan tubuhnya dari Devan.
"Iya-iya tidak." Devan kembali meraih tubuh Noora agar kembali mendekat.
Hari pun semakin larut, dan waktu sudah menunjukan pukul 17:35 WIB. Bahkan hujan pun sudah berhenti. Devan dan Noora memutuskan untuk segera pulang, karena kantor juga sudah sangat sepi. Devan dengan setia mengantarkan kekasihnya untuk pulang.
Di dalam mobil Devan terus menggenggam tangan Noora, sambil bercanda dan saling mengejek satu sama lain, bahkan tapa henti-hentinya Adam terus menciumi tangan kekasihnya sambil mengusap-usap cincin yang 3 bulan lalu ia sematkan di jari manis sang kekasih.
"l Love you My lover." ucap Adam menatap wajah Noora.
"l Love you too my future husband." balas Noora sambil tersenyum.