Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: IBU YANG MENGEMIS DI BENGKEL
Bab 23: Ibu yang Mengemis di Bengkel
Matahari sore meredup di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga keunguan yang seolah ikut membawa hawa gerah di sekitar Bengkel Mandiri Jaya. Suara bising knalpot blombongan yang sedang diservis oleh Cak To memenuhi pelataran bengkel yang berminyak. Di sudut lain, Revan sedang berjongkok di samping motor bebek tua milik pelanggan, jemarinya yang legam oleh pelumas rantai bergerak lincah memasang rantai baru yang tadi pagi ia beli menggunakan uang "pinjaman dari ibunya Miko".
Revan menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju kaos hitamnya yang sudah dekil. Ada kepuasan tersendiri saat ia melihat motor itu kembali berfungsi normal berkat tangannya sendiri. Rasa bangganya sebagai cowok mandiri semakin berakar kuat di dadanya.
"Van, ada yang nyariin lo tuh di depan," seru Cak To dari balik kepulan asap motor yang sedang diuji coba. Cowok itu menunjuk ke arah pembatas trotoar di depan bengkel menggunakan kunci inggrisnya.
Revan mengerutkan dahi. Siapa? Miko? Biasanya anak itu langsung masuk ke dalem tanpa permisi, batinnya bingung.
Revan perlahan bangkit dari jongkoknya, meletakkan tang potong di atas meja kayu penuh oli, lalu melangkah menuju area depan bengkel. Namun, baru beberapa langkah melewati barisan ban bekas yang menumpuk, seluruh persendian di kaki Revan mendadak mengeras, mengunci tubuhnya di tempat berdiri.
Sosok wanita paruh baya dengan daster batik usang dan jilbab instan yang sedikit miring sedang berdiri mematung di tepi jalan.
Itu Ibu.
Jantung Revan berdegup kencang, memberikan sensasi sesak yang mendadak di ulu hatinya. Sudah hampir tiga minggu ia tidak melihat Ibunya, dan dalam rentang waktu yang singkat itu, penampilan Ibu tampak berubah drastis hingga membuat Revan hampir pangling. Ibu terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertengkar di ruang tamu. Pipi Ibu tampak tirus, gurat kesedihan dan kelelahan tercetak sangat jelas di sudut-sudut matanya yang sembap dan memerah, seolah wanita itu baru saja menghabiskan air matanya berhari-hari tanpa henti.
Begitu sepasang mata Ibu yang layu menangkap sosok Revan yang berdiri dengan pakaian kotor berselimut oli, bendungan air mata di pelupuk mata Ibu seketika pecah.
"Revan... Anakku..." rintih Ibu dengan suara yang sangat bergetar.
Wanita itu langsung berlari kecil menghampiri Revan, mengabaikan tatapan heran dari Cak To dan beberapa sopir angkot yang sedang mengantre servis. Tanpa memedulikan baju Revan yang kotor dan bau bensin, Ibu langsung menghambur, mendekap tubuh tegap anak bungsunya itu dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, Revan akan menguap hilang dari pandangannya.
"Pulang, Nak... Ibu mohon pulang... Rumah sepi banget gak ada kamu, Revan..." tangis Ibu pecah di atas dada Revan. Bahu wanita yang kian ringkih itu terguncang hebat akibat isakan yang teramat sangat menyakitkan.
Revan membeku. Kedua tangannya yang hitam karena oli menggantung kaku di udara, menolak untuk membalas pelukan hangat yang selama ini dirindukannya. Sentuhan fisik dari Ibunya mendadak memicu memori kelam malam itu kembali berputar di otaknya seperti proyektor rusak.
“Ibu gak menyangka kelakuan kamu serendah ini, Revan! Kamu tega mencuri uang belanja Ibu sendiri demi hura-hura di luar?!”
Kalimat tuduhan kejam Ibu malam itu kembali berdengung keras di telinga Revan, membakar habis sisa rasa iba yang sempat muncul di hatinya saat melihat kondisi fisik Ibu yang menyusut. Ego remaja Revan yang terlanjur mengkristal menjadi sebongkah batu es yang dingin langsung mengambil alih kendali dirinya.
Dengan sentakan yang cukup kasar, Revan memegang kedua bahu Ibu lalu mendorong tubuh wanita itu menjauh, melepaskan dekapan hangat tersebut tanpa belas kasihan.
"Gak usah drama di sini, Bu. Malu dilihatin orang," desis Revan dengan nada suara yang sangat datar dan dingin, sepasang matanya menatap Ibu tanpa ada binar kehangatan sedikit pun.
Ibu tersentak, menatap telapak tangannya sendiri yang kini ikut terkena noda oli dari baju Revan, lalu beralih menatap wajah asing anak bungsunya. "Revan... Kamu tega ngomong gitu sama Ibu? Ibu ke sini jalan kaki nyariin kamu dari rumah Miko sampai ke sini, Nak... Ibu cuma mau kamu pulang. Kita makan bareng lagi di rumah..."
"Pulang ke mana, Bu? Ke rumah yang isinya cuma tuduhan?" Revan mendengus hambar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang menyakitkan. "Buat apa Revan pulang kalau di mata Ibu dan Ayah, Revan ini cuma anak nakal pemicu masalah yang hobi nyuri uang? Biar Revan tebak, Ibu ke sini pasti disuruh sama Ayah atau si anak emas itu kan? Karena gak ada lagi yang bisa kalian salah-salahin di rumah?"
"Nggak, Nak! Nggak ada yang menyuruh Ibu! Ini kemauan Ibu sendiri—"
"Cukup, Bu!" potong Revan, suaranya meninggi, memotong kalimat Ibu dengan tegas hingga membuat wanita itu terkesiap mundur satu langkah. "Revan gak akan pernah injakin kaki di rumah itu lagi sebelum nama Revan dibersihkan! Sebelum Ibu sama Ayah sadar siapa pencuri yang sebenarnya di rumah itu! Revan punya harga diri, Bu. Revan bisa cari uang sendiri di sini tanpa harus mengemis belas kasihan dari kalian yang selalu pilih kasih!"
Revan merogoh saku celananya, menunjukkan dompetnya dengan angkuh ke hadapan Ibu, membuktikan kemandirian palsunya yang ia bangun di atas kebohongan Miko.
Air mata Ibu mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang kuyu. Hati Ibu hancur berkeping-keping mendengar kalimat penuh kebencian yang keluar dari mulut anak yang ia lahirkan dan besarkan dengan penuh kasih sayang itu. Ibu ingin sekali berteriak, memberi tahu Revan bahwa uang di laci itu diambil oleh Ayah demi menyambung nyawa Arka yang sedang sekarat menahan gagal ginjal. Ibu ingin menjelaskan bahwa tidak ada yang membencinya di rumah.
Namun, Ibu teringat akan pesan dan sumpah suaminya malam itu. Ayah memohon agar penyakit Arka dirahasiakan rapat-rapat dari Revan agar anak bungsu mereka tidak merasa terbebani dan bisa fokus menyelesaikan sekolahnya tanpa perlu memikirkan biaya rumah sakit yang mencekik. Sumpah itu kini mengunci rapat bibir Ibu, menahan kebenaran berdarah yang seharusnya bisa menyelesaikan semua salah paham ini.
"Revan... Ibu mohon... Jangan kayak gini, Nak..." Ibu kembali maju, mencoba meraih ujung jemari tangan Revan yang kotor, mengemis dengan sisa-sisa harga dirinya sebagai orang tua di pinggir jalan raya yang bising.
Namun, Revan dengan cepat menarik tangannya kembali ke belakang tubuhnya, menolak sentuhan Ibu seolah-olah wanita itu adalah pembawa wabah penyakit.
"Pekerjaan Revan belum selesai. Mending Ibu pulang sekarang, urus aja si Arka yang paling pintar akting sakit itu sampai puas," ujar Revan dingin, membalikkan tubuhnya membelakangi Ibu tanpa mau melihat raut wajah hancur wanita yang telah melahirkannya.
Revan melangkah lebar-lebar kembali ke dalam area bengkel, mengambil tang potongnya lagi dan pura-pura sibuk mengutak-atik mesin motor, mengabaikan sosok Ibu yang masih berdiri lemas di tepi jalan selama beberapa menit sembari menangis tersedu-sedu dalam keheningan sore yang kejam.
Ibu akhirnya melangkah pergi dengan tubuh yang bergoyang ringkih, membawa pulang remukan hatinya yang paling dalam. Sementara itu, di sudut bengkel, Revan meremas tang potong di genggamannya hingga telapak tangannya memutih. Dadanya bergemuruh hebat, menahan gejolak emosi yang bercampur aduk antara rasa bersalah dan amarah yang membakar.
Gue gak salah. Gue cuma mempertahankan harga diri gue, batin Revan penuh kelancangan, mencoba menguatkan fondasi salah pahamnya yang kian kokoh.
Remaja keras kepala itu merasa telah memenangkan pertempuran harga diri melawan Ibunya sendiri malam itu, tanpa pernah ada yang memberi tahu bahwa penolakannya yang kasar di depan bengkel sore ini akan menjadi salah satu memori paling berdarah yang akan terus menghantui tidurnya selama berbulan-bulan.
Bersambung....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...