NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilih Ami

Sepanjang perjalanan meninggalkan Lembah Embun, untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, dada Rasyid terasa jauh lebih ringan.

Entah kenapa. Padahal tadi ia baru saja melakukan hal paling nekat dalam hidupnya, menawarkan seorang gadis desa menjadi calon istrinya hanya beberapa hari setelah pertemuan pertama mereka.

Kalau dipikir-pikir, itu memang terdengar gila. Bahkan dirinya sendiri hampir tidak percaya sudah mengatakannya secara langsung. Namun anehnya, Rasyid tidak menyesal sedikit pun.

Justru setelah menyampaikan isi hatinya, ada kelegaan yang sulit dijelaskan di dalam dadanya. Seolah selama ini ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya, dan akhirnya berhasil ia ungkapkan.

Mobilnya melaju membelah jalan pegunungan yang mulai diselimuti kabut sore. Rasyid memandang keluar jendela sambil mengingat kembali ekspresi Ami tadi. Wajah terkejut itu. Tatapan bingungnya. Dan cara gadis itu memandang dirinya seolah sedang mempertanyakan kewarasan seorang calon bupati. Tanpa sadar Rasyid tersenyum kecil.

“Pak…” Andre yang sejak tadi menyetir akhirnya memberanikan diri bicara. “Boleh saya jujur?”

“Hm?”

“Bapak benar-benar serius?”

Rasyid tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya balik, “Menurut kamu saya terlihat bercanda?”

Andre terdiam beberapa detik sebelum geleng-geleng kepala kecil. “Justru itu yang bikin saya khawatir.”

Rasyid menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya. “Selama ini saya dikelilingi banyak orang,” katanya tenang. “Tapi sedikit sekali yang benar-benar berani bicara jujur.” Ia menatap jalan di depan. “Dan perempuan itu,” bibirnya melengkung tipis, “bahkan tidak takut pada saya.”

Andre terkekeh kecil. “Atau memang tidak tertarik sama Bapak.”

Rasyid tertawa pelan untuk pertama kalinya hari itu. “Mungkin.” Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius. “Tapi saya tidak akan pasrah begitu saja.”

Andre melirik sekilas.

Rasyid menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh keyakinan. “Saya akan memperjuangkan dia.” Bukan sekadar karena tertarik. Bukan karena penasaran. Tetapi karena untuk pertama kalinya, Rasyid merasa menemukan seseorang yang mampu melihat dirinya sebagai manusia biasa, bukan sebagai calon bupati, bukan sebagai figur politik, dan bukan sebagai laki-laki yang punya masa depan kekuasaan. Dan semakin ia memikirkan Ami, semakin kuat keyakinannya bahwa perempuan itu bukan gangguan bagi jalan hidupnya.

Justru mungkin Ami adalah alasan mengapa ia akhirnya memahami seperti apa pemimpin yang ingin ia menjadi nanti.

Di usianya yang sudah memasuki kepala tiga, Rasyid sebenarnya berada pada fase hidup yang dianggap paling matang untuk membangun rumah tangga.

Tiga puluh dua tahun.

Usia ketika keluarganya mulai sering menyinggung soal pernikahan di setiap pertemuan keluarga. Usia ketika teman-teman seusianya sudah sibuk mengantar anak sekolah, sementara dirinya masih hidup di tengah jadwal rapat dan perjalanan politik.

Bukan berarti Rasyid sulit mendapatkan perempuan. Justru sebaliknya. Sejak muda, ia selalu dikelilingi banyak gadis.

Wajahnya rupawan, pembawaannya tenang dan berwibawa. Ditambah lagi latar belakang keluarganya yang terpandang membuat Rasyid selalu menjadi perhatian di mana pun ia berada.

Ia juga berpendidikan tinggi. Lulusan S2 luar negeri dengan karier yang sudah mapan bahkan sebelum terjun ke politik.

Kini namanya semakin dikenal setelah memutuskan maju sebagai calon bupati di tanah kelahiran ayahnya sendiri. Semua itu membuat Rasyid menjadi sosok “sempurna” di mata banyak orang. Dan justru itulah yang membuatnya lelah.

Karena semakin dewasa, Rasyid mulai menyadari bahwa sebagian besar perempuan yang mendekatinya bukan benar-benar tertarik pada dirinya sebagai manusia. Mereka tertarik pada masa depannya. Pada nama keluarganya. Pada status sosialnya. Dan sekarang, pada kemungkinan menjadi istri seorang bupati.

Beberapa perempuan bersikap terlalu manis. Sebagian terlalu berusaha terlihat pantas. Ada juga yang terang-terangan membicarakan masa depan politiknya bahkan sebelum benar-benar mengenalnya.

Semua terasa dibuat-buat. Rasyid muak pada hubungan yang dipenuhi kepentingan seperti itu. Karena itulah selama bertahun-tahun ia memilih menjaga jarak. Ia sibuk bekerja, melanjutkan pendidikan, lalu membangun karier politiknya tanpa benar-benar membuka hati untuk siapa pun.

Sampai akhirnya ia bertemu Ami. Seorang gadis desa sederhana yang bahkan menolak bertemu dengannya. Perempuan yang sama sekali tidak silau pada gelar, jabatan, ataupun kharisma yang selama ini membuat banyak orang kagum padanya. Dan justru karena itu Rasyid mulai percaya bahwa mungkin, setelah sekian lama, akhirnya ia menemukan seseorang yang tulus memandang dirinya sebagai manusia biasa.

Bagi banyak orang, pasangan seorang calon bupati haruslah perempuan sempurna di atas kertas. Berpendidikan tinggi. Pandai berbicara di depan publik. Memiliki pergaulan luas. Dan mampu menjaga citra politik suaminya.

Tetapi bagi Rasyid, semua itu bukan yang paling utama. Ia justru merasa terlalu banyak pejabat jatuh karena dikelilingi orang-orang yang hanya pandai menyenangkan hati mereka.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sedikit orang yang berani berkata jujur. Dan itu berbahaya. Karena itulah Rasyid tidak mencari pasangan yang sekadar terlihat pantas berdiri di sampingnya di atas panggung politik.

Ia mencari seseorang yang mampu menjadi pengingatnya. Seseorang yang berani menegur saat ia salah. Yang tidak takut kehilangan keuntungan hanya karena memilih berkata jujur. Dan anehnya, semua itu justru ia temukan pada Ami. Gadis desa sederhana yang bahkan tidak segan mempertanyakan programnya di depan umum.

Semakin Rasyid mengingat percakapan mereka di Lembah Embun, semakin kuat keyakinannya. Ami mungkin tidak memiliki gelar tinggi. Tidak berasal dari keluarga elit. Tidak pandai pencitraan. Tetapi perempuan itu punya sesuatu yang jauh lebih penting: kejujuran dan kepedulian pada masyarakat kecil.

Rasyid yakin, jika suatu hari ia benar-benar menjadi bupati, maka kekuasaan akan membawa banyak godaan. Pujian. Kepentingan. Orang-orang yang berusaha memanfaatkan jabatan. Dan di tengah semua itu, ia membutuhkan seseorang yang mampu menariknya kembali agar tetap berpijak pada tujuan awalnya. Seseorang yang bisa berkata: “Kebijakan ini tidak adil untuk rakyat kecil.” Atau, “Jangan terlalu percaya pada orang-orang di sekitar Anda.”

Rasyid percaya, Ami akan melakukan itu. Bukan karena ingin menjatuhkannya. Melainkan karena peduli. Karena itulah, di mata Rasyid, Ami bukan kelemahan bagi karier politiknya. Justru perempuan itu bisa menjadi alasan mengapa ia tetap menjadi pemimpin yang waras ketika kekuasaan mulai mengubah banyak orang.

Keinginan Rasyid terjun ke dunia politik sebenarnya bukan muncul karena ambisi kekuasaan semata.

Sejak kecil, ia tumbuh dengan cerita tentang kakeknya. Seorang pemimpin daerah yang sampai sekarang masih dikenang masyarakat dengan baik. Bukan karena kekayaan atau pengaruhnya, melainkan karena keberpihakannya pada rakyat kecil.

Kakeknya dikenal sederhana. Sering turun langsung ke pasar, duduk bersama petani, bahkan tidak segan mendatangi rumah warga yang sedang kesulitan. Banyak orang tua di daerah itu masih mengingat bagaimana pemimpin tersebut lebih sering memakai kendaraan biasa daripada pengawalan berlebihan.

Dan yang paling membekas bagi Rasyid adalah satu hal: kakeknya dicintai rakyat dengan tulus. Bukan ditakuti. Bukan dihormati karena jabatan semata. Melainkan karena masyarakat merasa benar-benar dipedulikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!