Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *11
Tubuh pria itu sedikit menegang di dalam pelukan. Merlin perlahan membuka matanya. Ia tak perlu melihat layar pun, ia sudah tahu siapa yang menghubungi di jam-jam seperti ini. Jam di mana seharusnya hanya ada mereka berdua.
Reyno melepaskan pelukannya perlahan. Wajahnya ragu. Sangat ragu. Ada perang besar di matanya, antara ingin tetap di sini bersama istrinya, atau harus pergi menjaga wanita lain.
Namun akhirnya, kebiasaan dan rasa tanggung jawab itu kembali menang.
"Aku angkat bentar ya, Mer. Siapa tahu ada hal penting," ucapnya pelan, lalu bangkit berdiri dan berjalan menjauh sedikit.
Dan di saat itulah, sesuatu di dalam hati Merlin perlahan kembali jatuh. Jatuh ke tempat yang makin dalam, makin dingin, makin sulit dipulihkan. Reyno menerima telepon itu dengan suara pelan, namun cukup terdengar jelas di ruangan yang hening itu.
"Iya, Yara? Ada apa?"
Merlin menunduk dalam. Tangannya perlahan mengepal di atas paha, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyergap.
"Kenapa nangis lagi? Udah, tenang dulu ya. Tarik napas panjang oke. Oke aku ke sana sekarang. Sabar ya, aku jalan sekarang."
Kalimat terakhir itu membuat darah Merlin seolah berhenti mengalir. Tubuhnya membeku di tempat.
Reyno mematikan telepon dan langsung berbalik menghadap istrinya. Wajahnya penuh rasa bersalah, penuh keprihatinan, namun juga penuh kecemasan untuk orang lain.
"Mer ...."
Merlin diam beberapa detik, menelan rasa pahit di tenggorokannya, sebelum akhirnya bertanya dengan suara begitu lirih. "Dia kenapa lagi?"
"Katanya sesak napas, panik, dan nggak bisa napas kalau nggak ada aku di sebelahnya," jawab Reyno cepat, sambil mengusap wajahnya dengan frustasi. "Aku takut dia kenapa-kenapa, Mer. Aku nggak tenang kalau diem aja di sini."
Dan lagi-lagi, Merlin harus mengerti. Lagi-lagi ia harus menjadi pihak yang mengalah. Lagi-lagi ia harus membiarkan suaminya pergi, meski hatinya sendiri sedang menangis dalam diam.
"Iya," jawabnya pelan, hampir tak terdengar. "Pergi aja. Urusin dia dulu."
Reyno mendekat dengan langkah cepat, mencium kening istrinya sekilas. Ciuman yang terasa buru-buru dan penuh rasa tak enak hati.
"Makasih ya. Kamu yang paling ngerti aku. Aku janji nanti aku balik lagi, secepatnya."
Setelah itu, Reyno buru-buru mengambil kunci mobil dan jaketnya, lalu bergegas keluar dari apartemen itu. Pintu depan terbuka, lalu tertutup kembali. Bunyi kunci dikunci dari luar terdengar jelas. Dan seketika itu juga, keheningan yang jauh lebih berat dan lebih dingin kembali datang menyergap Merlin.
Merlin masih duduk di tempat yang sama, tak bergerak, tak menangis. Air matanya seolah sudah kering dan habis terbuang di hari-hari sebelumnya. Namun perlahan, rasa kosong itu merayap masuk memenuhi setiap rongga dadanya. Rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang ikut dibawa pergi bersama suaminya tadi.
Ia menoleh ke arah meja makan. Di sana masih ada dua cangkir teh hangat yang tadi sempat ia buat untuk mereka berdua. Satu cangkir sudah diminum sedikit, tapi satunya lagi masih penuh, belum disentuh sama sekali.
Uap panas yang naik dari dalam cangkir itu perlahan makin menipis, makin samar, lalu akhirnya hilang sama sekali. Menjadi dingin. Menjadi tak bernyawa.
Sama persis seperti sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang dulu begitu hangat dan penuh harapan, namun sekarang mulai perlahan berubah, menjadi dingin, menjauh, dan mulai terlambat untuk disadari.
***
Hari itu adalah hari Sabtu. Langit di luar tampak cerah, sinar matahari masuk melewati celah jendela apartemen, menerangi setiap sudut ruangan dengan kehangatan yang lembut. Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu penuh kesibukan, lembur, dan pulang larut malam, Reyno akhirnya punya waktu kosong sepenuhnya. Tidak ada pekerjaan kantor, tidak ada jadwal mendadak.
Setidaknya, itulah yang dipikirkan dan diharapkan oleh Merlin sejak pagi tadi.
Suasana hati wanita itu terasa jauh lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Sejak subuh, Merlin sudah bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyapu dan mengepel lantai sampai berkilau, merapikan semua barang yang berantakan, dan memasak menu lengkap. Semua makanan kesukaan Reyno. Ada ayam goreng bumbu spesial, tumisan sayur, dan sup hangat yang aromanya semerbak memenuhi seluruh ruangan.
Bahkan pagi itu, Merlin sempat menyisir rambutnya rapi dan memakai gaun rumahan berwarna krem. Gaun yang dulu pernah sangat dipuji oleh Reyno saat baru mereka nikah dulu. Sederhana memang, tapi cukup untuk membuat hatinya terasa sedikit hangat. Sudah sangat lama sekali rasanya mereka tidak menghabiskan waktu berdua saja, tanpa gangguan, tanpa terburu-buru.
Sekitar pukul sembilan pagi, pintu kamar tidur terbuka. Reyno keluar sambil meregangkan tubuhnya yang kekar, matanya masih sedikit menyipit menyesuaikan diri dengan cahaya ruang tamu. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya masih terlihat santai khas orang yang baru bangun tidur.
"Wangi banget. Ada apa nih pagi-pagi udah semerbak gini?" Rey berucap sambil melihat istrinya. Suaranya masih terdengar serak dan berat.
Merlin sedang berdiri di depan kompor di dapur, mengaduk masakan terakhir. Ia langsung menoleh begitu mendengar suara suaminya, lalu tersenyum manis.
"Aku bikin sarapan lengkap. Kan hari ini kamu libur, jadi aku pengen kita makan enak," jawabnya lembut.
Pria itu langsung tersenyum kecil, senyum yang tulus dan lebar. Dan untuk sesaat itu, Merlin merasa seolah sedang melihat Reyno yang dulu lagi. Reyno yang penuh perhatian, Reyno yang matanya hanya tertuju padanya.
Reyno berjalan mendekat ke dapur, lalu memeluk pinggang Merlin dari belakang. Dagunya bersandar santai di pundak istrinya, menghirup aroma sabun dan masakan yang menenangkan itu.
"Kangen banget suasana kayak gini. Tenang, hangat, ada kamu," gumamnya pelan di telinga Merlin.
Hati Merlin terasa menghangat. Sangat kecil, tapi cukup besar untuk membuat dadanya terasa sesak karena rindu yang sudah lama terpendam. Ia memegang tangan Reyno yang melingkar di perutnya, membiarkan rasa aman itu merasuk.
"Ya udah, kalau kangen jangan sering-sering pulang malam dong. Jangan sering ninggalin aku sendirian juga," jawabnya setengah bercanda, berusaha menyembunyikan rasa rindu yang dalam.
Reyno tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan akrab. Ia mengecup pelan pipi istrinya. "Iya, Bos. Siap laksanakan perintah. Mulai sekarang aku nurut deh sama kamu."
Mereka pun akhirnya duduk bersama di meja makan kecil itu. Sarapan berjalan lancar, menyenangkan, dan penuh obrolan ringan. Tidak ada dering telepon yang memecah keheningan. Tidak ada pesan masuk yang harus dibalas segera. Tidak ada nama Yara yang disebut satu kali pun di antara percakapan mereka.
Dan di momen itu, Merlin hampir lupa bagaimana rasanya merasa tenang, merasa bahagia, dan merasa menjadi satu-satunya wanita di dunia bagi suaminya sendiri. Rasanya damai sekali, seolah masalah-masalah kemarin sudah hilang ditelan bumi.
🥹🥹