Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^22
Perhatian tanpa wacana, perlindungan tak terduga datang menghampiri, dan pengorbanan menutup angan yang sulit di gapai. Telah di perlihatkan dengan tidak sengaja. Hingga menghadirkan rasa sesal pada benak seseorang yang hanya bisa diam melihat ke arah objek di depan mata. Membuat sukma berseru memenuhi kepala, 'seharusnya kau ada di sana untuk membantunya?'
Tetapi, tujuan utamanya bukan itu. Karena diri tidak ingin membuat kesalah pahaman itu semakin besar didalam diri sang putri.
Perlahan mengarahkan padangannya tepat di mana sosok perempuan yang duduk sendiri, meliha kearah objek pemandangan utama hari ini.
"Berhentilah menatapnya seperti itu."
Suara familiar yang menyapa pendengaran sang empu, ampuh mengalihkan pandangan matanya.
"Jika kau merasa bersalah dengannya, seharusnya kau minta maaf padanya. Bukannya diam melihatnya dari kejauhan. Itu akan mendatangkan kesempatan untuk orang lain." Sambung orang itu yang telah duduk di sisi kanan sang empu.
Tidak langsung memberi balasan, Anrey membuang napas gusar sembari menyandarkan punggungnya. "Jika aku mengejarnya terus-menerus untuk mendapatkan maaf darinya, itu akan membuatnya tidak nyaman. Karena Yuna beda dari yang lain." Tersenyum singkat, kembali melihat di mana Yuna berada.
"Dia hanya menjaga image keluarganya saja." Rendah sang penyulut. Austyn.
"Karena dia cucu pertama di keluarganya." Balas Anrey yang tak kalah rendahnya.
Kepala Austyn menangguk setuju. "Benar, hanya dia yang akan menjadi kunci utama dari keluarganya."
Sadar ataupun tidak sadar, Austyn mengatupkan bibirnya dengan raut wajah yang sulit diartikan, akan isi kepala yang tengah beradu argumen. Mencari cara untuk mendapatkan posisi yang telah di miliki Yuna di sekolah. Tanpa harus mengusik kehidupan Yuna.
Walaupun Austyn berasal dari keluarga kalangan atas, Austyn sangat mengakui. Jika bermain-main dengan Yuna bukanlah jalan yang bagus. Itu akan malah membuat masa depannya suram.
"Kau yang melakukan hal itu?" Tanya Anrey yang membuyarkan lamunan Austyn.
"Apa yang kau bicarakan?" Bukannya memberi jawaban, Austyn malah berbalik tanya kepada Anrey .. karena tidak paham kemana arah pembicaraan Anrey saat ini.
"Kau merundungnya?"
Saat itu juga Austyn membuang napas malas. Tahu, siapa yang tengah Destan bicarakan.
"Hingga dia menggunakan baju olahraga saat masuk kelas" Sambung Anrey yang masih menunggu tanggapan dari Austyn.
"Kenapa kau malah mengkhawatirkannya? Di saat hubungan mu dengan Yuna sedang tidak baik-baik saja." Kesal Austyn.
"Jika kau iri padanya, seharusnya kau bermain sehat. Bukannya bertingkah seperti anak kecil yang lupa akan kesalahannya." Akhir Anrey, kini memilih beranjak dari duduknya. Dan berjalan pergi meninggalkan Austyn sendiri, hanya karena ingin membantu Aldi yang tengah kewalahan merebut bola basket di tangan sang lawan.
"Kenapa banyak sekali orang gang mudah bicara tapi tidak tahu jika hal itu sangat sulit untuk di lakukan." Gerutu Austyn, menatap kesal ke arah Anrey berada.
Melihat sekelilingnya yang hanya mendapati seluruh penghuni dalam kelasnya, sebelum kedua netranya tidak sengaja tertuju di luar ruangan di mana seorang guru wanita setengah paruh baya yang bertugas untuk mengelola perpustakaan. Enah kenapa membuat kening Austyn mengernyit samar dengan pandangan tanya. Karena tidak seharusnya guru perpusatakaan itu keluar saat jam pelajaran seperti ini. Karena itu masih jam kerjanya sebagai seorang guru. Apalagi gerak-gerik wanita itu juga terlihat sangat mencurigakan.
Sebentar mengarahkan pandangan mata di mana Yuna yang sudah tidak ada di tempat duduknya. Sebelum beranjak dan pergi dari lapangan yang dikhususkan untuk jam olahraga. Dan hal itu ternyata tidak luput dari sepasang mata milik Tessa.
Terus berjalan dengan langkah ringan mengikuti wanita di depan sana yang sangat terlihat jelas tengah menyembunyikan suatu hal yang mungkin akan merugikan wanita itu sendiri.
Hingga langkah Austyn terhenti saat wanita itu masuk ke dalam satu ruangan yang seharusnya tidak wanita itu kunjungi. Kepala sekolah.
Saat itu juga tanpa sadar, senyum aneh terpancar menghiasi wajah Austyn. "Apa yang dia lakukan di dalam sana?"
Kembali berjalan untuk mendekati ruangan itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun, karena Austyn yakin akan menemukan hal menarik dari dalam ruangan itu.
Berdiri di dekat jendela yang tidak begitu terang, tapi masih bisa dilihat oleh Austyn. Apa yang ada didalam ruangan itu. "Apa yang mereka bicarakan?" Gumam Austyn, dengan kening mengerut samar.
Spontan, kedua mata Austyn membulat sempurna akan pemandangan yang sangat menjijikan. "Apa yang mereka lakukan?"
"Bagaiman bisa mereka__" tidak menuntasan perkataannya, kini Austyn dengan cepat merogoh saku celana olahraganya untuk mengambil benda pipih yang di manfaatkan oleh Austyn untuk merekam dua wania dewasa itu.
Merasa itu sudah cukup, Austyn segera pergi dari tempatnya berdiri dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Karena Austyn masih tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis itu lihat.
"Ternyata tidak hanya di dalam novel ataupun di dalam imajinasi seorang penulis, jika hal itu benar-benar ada di kehidupan." Rendah Austyn yang kini telah duduk dengan lemas di bangku panjang depan kelas.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Tersentak, Austyn refleks menoleh ke sumber suara dengan raut wajah terkejut. Hal itu membuat sang pembicara mengeryitkan keningnya.
"Apa yang kau lihat hingga terkejut seperti itu?" Kembali bertanya, karena Yuna mulai menaruh curiga pada Austyn.
"Bukan hal yang buruk, dan itu tidak akan penting bagimu." Balas Austyn, yang memilih berdiri dari duduknya dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Semakin membuat Yuna curiga dengan sikap aneh Austyn yang terlihat seperti orang tidak percaya dengan suatu hal. Tapi, Yuna tak ingin membuang waktunya hanya untuk mencari apa yang tengah Austyn sembunyikan. Karena gadis itu harus menemui kepala sekolah untuk meminta contoh-contoh soal yang akan diujikan minggu depan. Hanya kepala sekolah yang dapat membantunya untuk mendapatkan lembar-lembar contoh soal itu.
Kembali melangkah kearah di mana ruang kepala sekolah berada, dengan melupakan apa yang baru saja terjadi padanya, mencurigai Austyn.
Sampainya di dekat ruang kepala sekolah, kepala Austyn spontan mengangguk sekilas untuk menyapa seorang wanita yang tak lain guru penjaga perpustakaan.
Walaupun sapaan Yuna mendapat balasan dari sang wanita, tapi kedua kaki Yuna perlahan memelan dan terhenti. Hanya ingin menoleh kebelakang melihat punggung wanita itu dengan sorot mata yang menimpan seribu pertanyaan.
"Apa aku tadi tidak salah liha? Dia baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah." Gumam Yuna.
"Entahlah itu tidak penting sama sekali." Imbuh Yuna, sebelum berjalan sedikit untuk berdiri didepan pintu ruangan khusus kepala sekolah.
Mengetuk pintu itu terlebih dahulu sebelum masuk, setelah mendapat balasan dari orang di dalam sana.
"Yuna__" Rendah kepala sekolah yang kembali menegerkan kacamata bulatnya di tulang hidung. membuat Tessa tersenyum simpul, setelah menutup rapat pintu ruangan itu.
"Maaf jika saat mengganggu waktu anda." Sopan Yuna, mengangguk sekilas. Sebelum berjalan mendekat, berdiri di depan meja kerja sang kepala sekolah.
"Apa yang kau inginkan?"