NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:348
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di bawah kanopi pepohonan raksasa Black Forest yang diselimuti oleh salju tebal, keheningan malam pecah oleh deru mesin yang memiliki suara rendah dan detak jantung yang berpacu panik.

​Joan berdiri di atas bukit salju, wujud manusianya tampak tegang di balik jubah bulu tebalnya. Mata cokelat madunya yang dialiri pendar merah tipis akibat kontaminasi virus Lucian, menatap lurus ke arah lembah di bawah.

Di sana, sekitar tiga puluh serigala dari sisa kawanan lamanya sedang merayap mundur. Di antara mereka terdapat wanita, anak-anak, dan serigala tua yang sudah lemah.

Mereka adalah bagian dari serigala yang menolak kegilaan hukum rimba Selena, namun mereka sekarang justru sudah menjadi buruan paling empuk.

​"Joan, mereka terlalu dekat," bisik Riven yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

Bahu Riven diselimuti salju dan tangannya mencengkeram sebilah belati.

"Unit H.A.R.T tidak menggunakan rute darat biasa. Mereka mengepung kita dari tiga titik dengan jip taktis senyap."

​"Di mana Jessy?" Joan bertanya tanpa mengalihkan pandangan.

​"Di barisan paling belakang, bersama yang terluka. Dia menolak untuk ditinggalkan," jawab Riven dengan rahang mengeras.

"Manusia-manusia di bawah sana tidak akan mendengarkan negosiasi, Joan. Bagi mereka, lolongan semalam adalah deklarasi pemusnahan."

​Joan mengepalkan tangannya. Di dalam dadanya, benang hitam antivirus Lucian berdenyut, dan menyalurkan gema rasa sakit dari beberapa serigala di distrik lain yang saat ini sedang dieksekusi oleh militer.

Rasa sakit itu memicu insting Alpha-nya untuk mengaum, untuk turun dan merobek setiap tenggorokan manusia. Namun, Joan menggigit bibirnya hingga berdarah.

​“Jika aku menjadi monster sepenuhnya, aku akan kalah di hadapan Selena,” batinnya mengingatkan.

​Tiba-tiba sebuah suar cahaya keunguan melesat ke langit malam, memecah kegelapan Black Forest. Cahaya itu meledak di atas kepala kawanan serigala, menjatuhkan partikel-partikel debu yang berkilau dingin.

​"Hujan perak!" teriak salah satu serigala di lembah.

​"Unit H.A.R.T, buka tembakan! Formasi delta, rilis Ag-V!" Sebuah suara mekanis dari pengeras suara militer menggema begitu keras disusul oleh rentetan tembakan beruntun.

​Proyektil-proyektil gas meledak di antara pepohonan dan melepaskan kabut perak nano keunguan yang mematikan. Dua serigala muda yang mencoba menyerang balik langsung terperangkap di dalam kabut tersebut.

Pekikan mengerikan terdengar saat urat-urat di tubuh mereka menonjol dan berubah menjadi kristal perak yang kaku. Mereka tumbang ke atas salju, lalu membeku menjadi patung logam yang tak bernyawa.

​"Jangan hirup kabutnya! Mundur ke dataran tinggi!"

Joan melompat dari bukit salju dan mendarat dengan dentuman keras di tengah kekacauan. Wujudnya berubah memjadi bulu hitam kasar yang tumbuh di sepanjang rahang dan lengannya, taringnya memanjang, dan merobek bibirnya sendiri.

Rasa lapar dan amarah memuncak, namun Joan mengarahkan kekuatan itu bukan untuk menyerang, tapi untuk menciptakan dinding angin dari energi hitamnya untuk menghalau kabut Ag-V agar tidak menyentuh sisa kawanannya.

​Dari balik kegelapan hutan, tiga jip taktis Unit H.A.R.T menerobos semak-semak. Para prajurit dengan zirah polimer hitam dan helm sensor inframerah melompat turun dan langsung mengarahkan senapan berpeluncur gas perak ke arah Joan.

​"Target utama terdeteksi! Ini Alpha Joan!" teriak salah satu komandan lapangan H.A.R.T melalui radio. "Gunakan peluru sekunder! Lenyapkan!"

​"Mundur!" Joan mengaum kepada kawanannya.

Ia menerjang maju dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan manusia.

​Cakar hitam Joan menghantam moncong jip taktis pertama, ia membaliknya hingga jip itu menghantam pohon besar. Namun, sebelum ia bisa menyerang prajurit di dalamnya, sebutir peluru khusus berlapis partikel perak nano mengenai bahunya.

​"Argh!" Joan berlutut di atas salju.

Rasa sakitnya luar biasa dan terasa seperti ada ribuan pisau es yang menjalar ke dalam pembuluh darahnya dan mencoba membekukan jantung Alpha-nya. Energi hitam di dalam dirinya bergejolak, menolak infeksi tersebut dengan paksa.

​Seorang prajurit H.A.R.T melangkah mendekat dan mengarahkan moncong laras senapan tepat ke kepala Joan yang sedang melemah.

"Untuk semua manusia yang kalian bantai semalam," desis prajurit itu, lalu jarinya mulai menarik pelatuk.

​Sebelum peluru ditembakkan, sesosok siluet abu-abu melesat cepat. Riven dalam wujud serigala bajanya, menggigit pergelangan tangan prajurit itu dan membantingnya ke tanah, lalu merebut senjatanya. Riven tidak membunuh pria itu, karena ia tahu hukum rasa sakit akan berbalik menyerangnya. Ia hanya mematahkan senjatanya dan melempar prajurit itu menjauh.

​"Joan! Bangun!" Riven berteriak sambil menarik tubuh Joan yang mulai berselimut pendar perak di bagian lukanya.

​Salju yang putih bersih di sekitar mereka sekarang telah ternoda oleh bercak darah merah-emas milik kaum serigala dan cairan kimia perak yang beracun. Ini adalah pertempuran kecil pertama yang menandai bahwa dunia tidak lagi aman bagi mereka yang berbeda.

​Di barisan belakang, Jessy menyaksikan semuanya dengan tubuh gemetar. Ia bisa merasakan setiap jengkat rasa sakit yang dialami Joan. Sebagai bagian dari Selena, ada resonansi aneh yang menggelitik batinnya. Ia tahu, di atas sana, Selena sedang menonton pertumpahan darah ini.

​"Selena, kenapa kamu membiarkan ini terjadi?" tangis Jessy, mencengkeram dadanya sendiri yang terasa sesak.

​Seorang prajurit H.A.R.T lainnya berhasil memutar jalur dan muncul dari balik semak-semak tepat di depan Jessy.

Sensor di helm prajurit itu berkedip merah dan mendeteksi tanda biometrik Jessy yang sangat membingungkan, ia memiliki DNA yang sama persis dengan target mereka, yaitu Selena, namun tanpa radiasi energi darah bulan yang berbahaya.

​"Ada warga sipil di sini? Tidak, tunggu! Wajah ini."

Prajurit itu ragu-ragu dan menurunkan senjatanya sejenak saat melihat wajah Jessy yang identik dengan dewi yang menghancurkan langit semalam.

"Siapa kamu sebenarnya?"

​"Dia adalah alasan mengapa kalian semua masih memiliki kesempatan untuk hidup!"

Riven tiba-tiba muncul dan menghantam prajurit itu dengan bahunya hingga pingsan. Riven kemudian meraih lengan Jessy.

"Kita harus pergi dari sini, sekarang! Joan tidak akan bisa menahan mereka lebih lama lagi jika mereka mendatangkan bantuan udara!"

​Joan dengan sisa kekuatannya, melepaskan gelombang kejut hitam terakhir dari tubuhnya dan menciptakan badai salju buatan yang membutakan sensor-sensor Unit H.A.R.T.

Di bawah perlindungan badai salju dan kegelapan malam, Joan, Riven, dan Jessy kemudian memimpin sisa kawanan yang selamat melarikan diri lebih dalam ke jantung Black Forest.

​Pertempuran malam itu berakhir dengan kekalahan telak bagi moralitas kaum serigala. Mereka kemudian menyadari sesuatu, yaitu di bawah hukum rimba yang diberikan Selena, manusia tidak menjadi mangsa yang lemah sebaliknya manusia justru bertransformasi menjadi monster yang jauh lebih efisien, karena dipersenjatai dengan sains dan dendam yang membara.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!