Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Arya tidak tahu, kedua orang yang dicarinya sekarang telah berdiri di depan gedung apartemennya. Tapi keduanya tidak tampak seperti pemilik perusahaan besar dengan nilai kekayaan ratusan trilyun. Mereka lebih tampak seperti dua turis yang tersesat.
"Apa benar ini?"
"Benar. Aku pernah membaca berkas pengacara Herman dan ini tempatnya"
"Hanya memiliki 16 lantai. Apa dia tidak punya uang?" tanya ayah Arya meragukan kemampuan putra bungsunya.
"Dia memiliki beberapa gedung lain. Tapi yang ini istimewa. Karena menantu kita tinggal disini"
"Menantu kita tinggal di tempat kecil ini?"
"Si bungsu tidak pernah mengatakan siapa dia sebenarnya pada menantu"
"Apa dia bodoh?"
"Tapi mereka jatuh cinta disaat bungsu tidak memiliki apa-apa. Sekarang seharusnya keduanya bisa hidup enak. Pasti di apartemen paling luas di gedung ini" jelas ibu Arya lalu masuk ke dalamnya.
Baru saja mereka ingin mendekat ke bagian resepsionis, terdengar teriakan yang mengganggu telinga.
"Kenapa kalian tidak mengijinkan aku naik??! Sudah kubilang Arya Mahendra itu adalah kekasihku!! Dia calon suamiku! Jadi aku boleh datang ke apartemennya kapan saja!!"
"Maaf Nona, tapi tidak ada pemberitahuan sama sekali kepada kami pihak keamanan. Jadi Anda tidak boleh naik ke atas"
"Bukti apa lagi yang harus aku berikan?! Aku kekasih Tuan Arya Mahendra yang ada di lantai 16!"
"Maaf Nona. Selama tidak ada pemberitahuan resmi dari pemilik apartemen, kami tidak bisa memberikan akses untuk Anda"
"Kalian!!! Sungguh keterlaluan!! Aku akan mengadu pada Arya agar kalian dipecat!!"
Ayah dan ibu Arya saling berpandangan lalu melihat wanita yang berteriak tadi berjalan keluar dari gedung apartemen. Dengan menghentak-hentakkan sepatu hak tinggi murahan ke lantai.
"Jadi ini selera si bungsu?" tanya Ayah Arya.
"Tidak mungkin! Bungsu tidak mungkin memilih wanita seperti itu. Tidak mungkin memilih wanita yang suka membungkus dirinya terlalu ketat seperti itu. Dia lebih ... Konservatif"
"Tapi jelas sekali wanita itu menyebut bungsu sebagai kekasihnya!!"
"Iya, tapi itu tidak mungkin. Kata bungsu, menantu kita adalah wanita yang lembut dan sabar. Tidak mungkin wanita yang itu"
"Kalau sampai wanita itu benar istri bungsu, maka perjalanan ini sia-sia. Sekarang kita pulang saja, aku sudah lelah!!" kata ayah Arya lalu memilih untuk duduk di sebuah kursi.
Ibu Arya juga menyusul, duduk dan merasa kecewa karena apa yang ada dibayangannya begitu berbeda dengan kenyataan.
Tak lama keduanya duduk, sang penjaga keamanan datang.
"Tuan dan Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga keamanan itu.
"Tidak ada! Tidak ada yang bisa kau bantu!!"
Karena jawaban ayah Arya yang terlalu kasar membuat penjaga keamanan berubah sikap. Dari yang lembut menjadi lebih tegas.
"Tuan dan Nyonya tinggal di gedung apartemen ini?"
"Tidak!! Anak kami pemiliknya!!"
"Tuan, saya bertanya dengan baik-baik tapi Anda menjawab dengan ketus. Gedung apartemen ini memiliki peraturan yang tegas. Tidak boleh ada pengunjung dari luar tanpa seijin pemilik apartemen"
Ayah Arya semakin kesal mendengarnya. Dia berdiri, menampakkan postur tubuh yang besar tinggi lalu berkacak pinggang. Dan mulai mengeluarkan semua amarah yang dirasakannya.
"Sudah aku bilang!!! Anakku pemiliki gedung ini. Dia yang membayarmu! Apa kau tahu pemilik gedung ini?!"
"Tuan, Anda tidak perlu emosi. Saya hanya, memberitahukan peraturan di gedung apartemen ini!"
"Dan aku adalah ayah pemilik gedung ini!"
"Tuan, Nyonya maaf , tapi saya harus meminta Anda berdua keluar dari lobi"
"Kau mengusirku?!"
"Tuan, saya mohon maaf. Tapi Anda terus saja menunjukkan sikap yang agresif, jadi ... "
"Agresif? Siapa kau pikir dirimu mengatakan aku agresif? Kau pikir ini agresif? Kau akan memohon ampun kalau aku tidak agresif, karena aku akan ... "
Hampir saja ayah Arya memukul petugas keamanan itu kalau ibu Arya tidak melerai.
"Sudah sayang!! Maaf petugas keamanan. Kami tidak bermaksud untuk melakukan hal yang buruk. Tapi memang benar kalau anak kami adalah pemilik gedung ini"
Dan meski kini ibu Arya yang menjelaskan, raut wajah penjaga keamanan tetap saja sinis. Seakan tidak percaya dengan mereka sama sekali.
"Tuan, Nyonya. Sebaiknya Anda berdua keluar dari lobi ini"
"Kau tidak percaya dengan kami? Sungguh, putra kami adalah pemilik gedung ini!" tegas ibu Arya.
"Lebih baik Anda menunjukkan identitas agar saya bisa membantu menemukan gedung mana yang sebenarnya anak Anda miliki" kata petugas keamanan tetap tidak percaya pada mereka.
Dan itu membuat ayah dan ibu Arya semakin kesal.
"Kami tidak berbohong. Kami adalah ayah dan ibu dari pemilik gedung ini."
"Nyonya, Anda tidak perlu berteriak. Tapi selama Anda tidak dapat membuktikan, maka saya akan meminta Anda berdua keluar. Maaf, tapi tolong jangan membuat keributan disini!"
"Kami ... Identitas kami ... "
Kini ibu Arya menyesal karena identitas mereka ditahan oleh pihak kapal pesiar. Lebih tepatnya dibawa oleh asisten yang tidak tahu kepergian mereka dari kapal pesiar. Dan yang paling penting, mereka tidak membawa uang negara ini.
"Selama Anda berdua bisa membuktikan identitas maka saya tidak akan memaksa untuk keluar dari lobi. Tapi karena tidak ada identitas, saya terpaksa meminta Anda berdua keluar dari gedung ini. Sekarang juga!"
Ayah dan ibu Arya tidak bisa membuat alasan juga pernyataan lagi. Keduanya hanya bisa keluar sesuai dengan saran penjaga keamanan. Kini mereka mulai menyesal telah pergi diam-diam untuk menemukan menantu yang tak pernah dikenal.
Suasana siang itu begitu terik. Ayah dan ibu Arya mulai merasa lemah karena belum makan sejak semalam. Mereka mulai mempertimbangkan untuk menghubungi salah satu putra lalu muncullah seorang wanita dari dalam gedung apartemen.
Wanita dengan wajah cantik tanpa riasan. Memakai mantel besar untuk menyembunyikan tubuhnya yang terlalu kurus untuk dibilang menarik. Tapi dadanya besar, menunjukkan wanita itu sudah menikah. Atau sudah pernah menikah karena tidak ada cincin apapun di jarinya.
Wanita itu melihat ke arah dua orang tua yang jumlah umurnya hampir 140 tahun. Yang berdiri diluar gedung apartemen dengan satu tas butut. Tak lama, berjalan ke arah mereka dan bertanya dengan suaranya yang lembut.
"Anda berdua tidak apa-apa?"
Ingin sekali ibu Arya menjaga harga diri terakhirnya setelah diusir. Dari gedung apartemen putranya sendiri. Tapi suaminya jelas memiliki agenda lain.
"Kami ingin menemukan anak kami yang tinggal di apartemen ini. Tapi penjaga keamanan mengusir kami. Sekarang kami lelah karena perjalanan panjang. Lapar juga haus tapi tidak bisa melakukan apa-apa"
Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Hanya melihat mereka sekali lagi dan segera membawa keduanya ke sebuah restoran. Disajikan banyak makanan juga minuman yang ramah pada orang dengan usia cukup lanjut.
"Sungguh wanita yang baik hati" kata ibu Arya dalam hati.
tahi