Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|23| Menolak Untuk Menangis
-Beberapa jam yang lalu, Apartemen lantai 22 Skyline City.
Alana duduk diruang tengah dengan wajah super badmood, bahkan tanpa sempat memakai riasan serta tidak mandi dari hari kemarin. Rambutnya berantakan, isi pikirannya pun ikut berantakan juga. Dilihatnya map berwarna merah di atas meja tersebut.
Lambang rumah sakit di kota lain yang menurut Alana adalah rumah sakit terpencil yang tidak mungkin orang akan tau, tapi ternyata salah. Lelaki didepannya lebih pintar dari Alana. Sudah berkali-kali Alana mengintip isi map tersebut sambil menghembuskan nafas kasar.
"Apa yang lo mau" Satu kalimat akhirnya keluar dati mulut Alana.
Bayu tersenyum, Ia sudah menunggu saat-saat ini sejak tadi. "Atur pertemuan saya dengan Devara"
Alana melirik sinis lalu mengambil ponselnya, setelah beberapa menit melihat ponselnya, Ia melirik Bayu kembali dengan malas. "Jam 11.30 pertemuan di hotel X, lantai 46 vip room dengan Pak Taslim. Gue hubungi beliau supaya lo bisa ikut pertemuan penting itu"
Bayu tersenyum puas, lalu bersender di sofa empuk tersebut. "Kerja bagus"
......................
-Hotel X lantai 46 vip room.
Devara langsung berbalik dan ingin menghajarnya, namun Bayu langsung maju. "Saya ambil dia, dan anda akan selamat atau anda dipenjara" Ucap Bayu saat itu juga, tangannya sudah memegang ponsel yang tertera kontak seorang polisi yang sudah siap Ia tekan tombol panggil.
Devara tersenyum, Ia menepuk jas Bayu dengan pelan. "Kotor.., saya serahkan dia tapi anda tidak bisa keluar dari sini dengan selamat" Ujar Devara pelan.
Devara menarik tangan Aruna keluar ruangan dengan cepat, Bayu yang melihatnya langsung mencengkram keras ponselnya. Lagi-lagi kesempatannya gagal kali ini.
Devara terus menggenggam tangan Aruna, hingga gadis itu menghentikan langkahnya dan berusaha melepaskan tangannya. "Lepas" ujarnya.
Devara menoleh kebelakang, menatap Aruna. "Kamu mau mendatangi anjing itu?" bentak Devara.
Aruna tersenyum pahit, "Anjing..?, kenapa kamu benci banget sama Bayu"
Devara membuang pandangan. "Jangan sebut nama dia didepan saya"
Aruna berjalan mendekat, "Cemburu?" Bisiknya dengan lirih.
Devara langsung melepaskan genggaman tangan Aruna. Pria itu mencengkram pipi Aruna dengan kasar dan mendorongnya hingga menempel ditembok. "Beraninya kamu mengucapkan seperti itu"
Aruna diam, tak menjawab. Matanya terus menatap Devara dengan intens. Hingga lelaki itu melepaskan cengkramannya dan pergi meninggalkan Aruna sendirian dengan pipi merah bekas tangan Devara, lagi. Kejadian itu terulang lagi, namun disituasi berbeda.
Kali ini pria itu mencengkramnya untuk menutupi perasaan cemburunya yang sudah mulai ketebak oleh Aruna. Dulu dia mencengkram Aruna buat ngamcam dan nunjukin kalau dia benar-benar menyimpan dendam.
......................
-Mahesa Hospital
Suara heels Marisa terdengar jelas di lorong rumah sakit yang cukup senyap itu. Langkahnya terhenti di salah satu ruangan vip yang didepannya sudah dijaga oleh dua orang pengawal.
Marisa tersenyum tipis saat melihat pengawal yang berjaga itu, Ia melepas kaca mata hitam nya dan melambaikan tangan memberi isyarat untuk membukakan pintu ruangan tersebut.
Suara alat yang terdengar jelas didalam ruangan serta dinginnya ac yang terus menyala dipadukan dengan aroma obat yang menyengat menjadi penyambut Marisa didalam ruangan itu.
Suara pintu ruangan dibuka oleh suster yang menjaga pasien. "Selamat malam Bu Marisa" ucap suster tersebut.
"Pindahkan dia ke rumah sakit di Amerika, buat surat rujukannya dan surat-surat penting lainnya. Saya akan tanda tangani" Ujar Marisa dengan datar sambil matanya terus menatap tubuh tak berdaya dari seseorang didepannya.
"Tapi Bu, perintah Pak ...."
"Ikuti perintah saya, rahasiakan dari dia" Potong Marisa dengan cepat.
Perawat langsung mengangguk cepat dan keluar dari ruangan.
Marisa mencoba untuk duduk dikursi samping rajang itu, lututnya terasa lemas saat melihat Wijaya yang lemah dan seperti orang yang sudah tak bernyawa, pucat.
"Saya tidak berniat menyelamatkan kamu, tapi karna kamu dia jadi bos besar sekarang" Ucap Marisa dengan lirih.
Marisa tertawa hambar, disudut matanya sudah bersiap buliran bening yang akan lolos begitu saja tanpa diminta. "Saya tidak akan membiarkan mereka bersama, tapi bukannya mereka sudah dijodohkan dari dulu?"
Marisa terus berbicara sendirian, namun seseorang yang terbaring lemah didepannya meneskan air mata. Hal tersebut membuat Marisa tertawa singkat, lalu membuang pandangannya, jujur Ia juga merasa sedih namun harus segera ditutupi, Ia tak mau terlihat lemah didepan orang yang sudah menghancurkan keluarga sahabatnya.
Namun, disisi lain Marisa juga berutang budi kepada Wijaya. Dia bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya. Dia melunasi semua hutangnya di Mahesa dan mengganti kerugian yang cukup banyak. Tak heran jika Ia berhutang banyak kepada rentenir.
Jika tidak melunasi hutangnya di Mahesa, mungkin Devara akan terlantar dijalanan. Bahkan Ibunya saja tak mau kembali walaupun keadaan sudah membaik dan menitipkan Devara kecil kepada Marisa.
Marisa mengusap matanya yang sedikit basah diujung menggunakan tisu. Menatap Wijaya kembali beberapa detik lalu pergi dari ruangan tersebut.
......................
Ting... Suara pintu lift terbuka, Aruna terus celingukan mencari keberadaan Devara di lobby hotel. Pria itu tega meninggalkan Aruna di hotel besar itu sendirian. Langkah Aruna terhenti saat bahu nya di pegang oleh seseorang.
"Run.." Suara lembut yang terdengar ditelinga Aruna, gadis itu tersenyum lalu membalikan badan.
"Dokter Bayu.." Ucap Aruna dengan senyuman.
Bayu meraih tangan Aruna, senyumannya masih mengambang di wajah tampannya. "Run... Sakit?" Bayu meraih pipi Aruna yang tampak kemerahan, lelaki itu sadar bekas merah itu bukan merah biasa.
"Run, ikut aku sekarang, kita kabur dari dia" ujar Bayu lirih, matanya menatap Aruna lekat dan terus mencoba untuk membujuk membuat gadis didepannya mau untuk ikut dengannya.
Aruna tersenyum, perlahan melepaskan tangan Bayu, bekas memar di ujung bibir bayu masih samar terlihat, Aruna masih ingat jelas kejadian saat itu. "Aku bisa selesain urusanku sendiri Dok, aku gak papa. Aku bakalan hubungi Dokter kalau aku udah gak berdaya lagi" ujar Aruna, lagi-lagi gadis itu masih bisa tersenyum seolah tak terjadi apapun hari itu.
"Sebelum dia ngeliat kita, aku pergi dulu ya" Kata Aruna sambil mengelus lengan Bayu dengan penuh perasaan.
Tatapan mata mereka tak bisa teralihkan, bahkan tangan Bayu mengepal menahan emosinya.
"Dia lebih memilih orang itu dari pada saya" Gumam Bayu lirih.
Aruna terus berjalan menjauh dari Bayu, rasa penyesalan pasti ada, namun dipikiran Aruna dia tidak mau orang lain terluka karena dirinya, apalagi Bayu adalah orang yang Ia sukai. Aruna masih yakin kalau dirinya kuat dan bisa melawan Devara hingga bebas tanpa harus kabur.
Langkahnya terhenti saat melihat Andre yang sedang celingukan mencari seseorang. Dengan cepat Aruna mengusap mata basahnya agar tak ketahuan oleh Andre.
"Astaga Ibu, saya keliling nyariin" ujar Andre sambil terengah-engah karena berlarian.
Aruna tak menjawab, Ia terus berjalan.
"Kita harus nginap karena klien Pak Devara yang lain akan datang besok siang" Ujar Andre yang berjalan dibelakang Aruna.
"Kamar aku dimana" Jawab Aruna dengan singkat dan masih berjalan memimpin didepan Andre.
"Ibu bakalan sekamar sama Pak Devara" Ucap Andre dengan cepat.
Aruna langsung berhenti berjalan. Saat itu juga dada nya terasa sesak. Hari itu dirinya harus sekamar dengan orang yang sangat Ia benci, namun bukan Aruna jika tidak menolak sebelum dipaksa.
"Saya akan tidur di kamar lain selain sekamar dengan dia. Ndre hotel ini besar, kenapa harus sekamar sih" Protes Aruna.
"Bu... Saya gak berani menentang Pak Devara, dia sudah marah sejak tadi, Ibu disuruh langsung masuk ke kamar. Sudah ditunggu" Ujar Andre sambil menunjukan bukti pesan dari Devara dilayar ponselnya yang membuat jatung Aruna seperti berhenti berdetak.