Dunia Doni runtuh saat istri tercintanya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan putri mereka, Maudi. Di masa rentan itu, masuklah Seina, seorang wanita licik yang ambisius. Demi menguasai harta Doni, Seina melakukan aksi nekat,ia menukar Maudi dengan putri kandungnya sendiri, Eliza.
Sejak saat itu, nasib kedua bocah tersebut berubah 180 derajat. Eliza tumbuh sebagai gadis yang sangat dimanja dan bergelimang kemewahan. Sebaliknya, Maudi yang merupakan anak kandung Doni, justru dianggap sebagai pembawa sial oleh Seina. Selama tujuh tahun, Maudi kecil hidup dalam penderitaan, disiksa secara fisik dan mental oleh Seina tanpa sepengetahuan Doni.
Penderitaan Maudi berakhir ketika sebuah insiden membuatnya terbuang dan akhirnya tumbuh di lingkungan pesantren. Di sinilah mutiara yang terpendam itu mulai bersinar. Maudi ternyata adalah seorang anak yang sangat jenius.
Assalamualaikum...
yuk, ikuti kelanjutan kisahnya ....
semoga suka.... jangan lupa dukungannya ya🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Maudi masih mematung, tubuhnya kini tertutup oleh jaring yang sangat bau akan alkohol...
"Kena kau, bakteri!" teriak Kevin girang dari balik semak-semak. Ia memakai baju APD lengkap, berwarna kuning mencolok, membuatnya tampak seperti pisang raksasa di tengah kegelapan.
Maudi membeku di dalam jaring. Ia mencium aroma menyengat dari alkohol 70% yang membasahi jaring itu. ':Serius? Mereka menculikku pakai alkohol?'' batin Maudi menahan tawa.
Rasya keluar dari balik mobil, berdiri lima meter jauhnya sambil memegang senter UV. "Maudi Daneswara, atau siapa pun namamu. Ikutlah denganku secara baik-baik ke laboratorium, dan aku akan memberikanmu lingkungan paling steril di dunia...."
Maudi pura-pura ketakutan, suaranya dibuat gemetar. "T-tuan... tolong... Maudi banyak kuman, Maudi sedang gatal-gatal, Maudi belum mandi dua hari!"
Mendengar kata belum mandi dua hari, Rasya refleks mundur dua langkah dengan wajah pucat. "Kevin! Jangan biarkan dia mendekatiku! Semprot dia lagi!"
"Siap, Tuan!" Kevin dengan semangat menyemprotkan disinfectant spray ke arah Maudi hingga udara di sana penuh kabut putih.
Memanfaatkan kabut dari semprotan Kevin yang memenuhi udara, Maudi bergerak secepat kilat. Ia mengeluarkan pisau kecil dari balik sepatunya, menyayat jaring itu dalam satu gerakan halus.
Saat kabut menipis, Kevin melongo. Jaring itu kosong.
"Lho? Tuannn! Bakterinya hilang!" pekik Kevin panik.
"Di atasmu, Kevin," suara dingin Rasya terdengar.
Kevin mendongak. Maudi sudah duduk santai di atas dahan pohon tinggi, sambil memainkan botol hand sanitizer milik Kevin yang entah sejak kapan sudah berpindah tangan ke tangannya.
"Tuan higienis" ucap Maudi dengan nada mengejek. "Terima kasih semprotannya, aromanya lumayan segar. Tapi kalau mau menculikku, lain kali jangan pakai baju kuning terang. Anda terlihat seperti target latihan tembak bagi orang-orang sepertiku." Maudi memainkan pistol nya... sesekali mengarahkannya pada Rasya dan Kevin yang bergidik ngeri.
"Kurang ajar..." desis Rasya. Ia ingin mengejar, tapi ia melihat Maudi baru saja menyentuh batang pohon yang penuh lumut dengan tangan kosong. "Kevin, jangan kejar! Dia sudah terkontaminasi lumut! Itu menjijikkan!"
Maudi tertawa kecil, ia melemparkan sebuah botol kecil ke arah Rasya. Refleks, Rasya menangkapnya dengan sapu tangannya ,ia takut menyentuh botol itu langsung.
"Itu sabun buatanku. Pakailah kalau Anda merasa dunia ini terlalu kotor untuk Anda," teriak Maudi sebelum melompat ke balik tembok dan menghilang dalam kegelapan.
Kevin mendekat, mencoba mengintip botol itu. "Tuan, apa itu racun?"
Rasya membuka tutup botolnya sedikit. Seketika, aroma bunga alami yang sangat murni dan menenangkan menyeruak, aroma yang sama dengan bidadari di bandara pagi tadi. Anehnya, Rasya yang biasanya mual dengan bau parfum menyengat, justru merasa paru-parunya seperti dibersihkan.
"Ini... bukan sabun biasa," gumam Rasya. Matanya menatap ke arah Maudi menghilang. "Dia baru saja menghina standarisasi laboratoriumku dengan satu botol kecil ini." ucap Rasya dengan ketus,dadanya merasa sesak karena baru saja mendapatkan ejekan dari gadis kecil.
"Jadi kita pulang, Tuan? Saya sudah gatal-gatal pakai baju hazmat ini," keluh Kevin sambil menggaruk punggungnya.
"Pulang. Dan Kevin... besok kau harus mandi cairan pemutih. Kau sudah membiarkan aset berharga itu lepas seperti belut," perintah Rasya ketus sambil masuk ke mobil yang bagian dalamnya sudah disemprot ulang oleh sistem otomatis.
Di kejauhan, Maudi yang sedang memantau mereka lewat teropong malam menggelengkan kepala. "CEO paling jenius di Asia ternyata bisa dikalahkan oleh ketakutannya pada lumut. Menarik juga bermain-main dengan Tuan Steril ini..." Maudi yang merasa terhibur masuk kembali ke paviliun, tidak jadi pergi ke markasnya karena sudah semakin larut.
___
Fajar baru saja menyingsing, membiaskan cahaya jingga pucat ke balik jendela kamar Maudi. Maudi baru saja selesai melaksanakan salat subuh ketika pintu kamarnya digedor kasar.
BRAK!
Seina masuk ke paviliun tanpa permisi, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi amarah yang meluap-luap. Ia terlihat seperti wanita yang tidak tidur semalaman karena teror yang ia alami.
Dor...
Dor....
Dor...
Maudi menggedor kamar mandi dengan keras.
"Maudi! Keluar kamu, dasar anak sialan!" teriak Seina.
Maudi langsung mengoleskan krim buruk rupa pada wajahnya....
Ceklek....
audi membuka pintunya dengan santai.
Seina langsung menarik paksa khimar Maudi.namun tidak sampai terlepas karena kekuatan Maudi yang jauh lebih besar dari Seina "Apa yang kamu lakukan semalam? Kamu yang menyuruh Bram datang ke sini, kan? Kamu yang membocorkan rencanaku?"
Maudi berdiri dengan tenang, ia menepis tangan Seina dengan gerakan lembut namun tegas. Ia menatap ibu tirinya itu dengan tatapan datar yang membuat bulu kuduk Seina berdiri.
"Ibu bangun terlalu pagi untuk seseorang yang baru saja gagal melakukan pembunuhan," jawab Maudi dingin.
Seina ternganga, napasnya memburu. "Apa maksudmu?"
"kemarin malam, tanpa sengaja, aku mendengar telepon Ibu dengan Bram," suara Maudi kini merendah, berat dan penuh penekanan. "Ibu merencanakan kematian Kakek dengan sangat detail. Sayang sekali, rencana Ibu tidak hanya cacat, tapi juga memalukan."
Seina memucat. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan berteriak. "Itu fitnah! Kamu mau mengadu ke Papa? Silakan! Doni tidak akan percaya pada gadis lusuh sepertimu!"
Maudi melangkah maju, memaksa Seina mundur hingga punggungnya membentur pintu. Maudi berbisik tepat di depan wajah Seina. "Aku tidak akan mengadu. Mengadu itu membosankan. Aku lebih suka... membuat Ibu melihat kematian Ibu sendiri setiap kali Ibu memejamkan mata."
"Maksudmu apa?!" desis Seina, suaranya bergetar.
"Ingat sup semalam?" Maudi tersenyum tipis di balik cadarnya. "Tadi malam, aku tidak benar-benar memberikan penawar racun yang sempurna. Aku memberikan dosis yang akan membuat Ibu mengalami mimpi buruk yang terasa nyata. Setiap kali Ibu tidur, Ibu akan mendengar suara detak jantung Kakek yang akan berhenti. Dan Ibu akan merasakan rasa sakit yang sama dengan yang Ibu rencanakan untuk Kakek...dan untuk kakek, aku sudah memberikan penawarannya terlebih dahulu di minuman kakek, jadi kakek tidak akan merasakan apapun"
Seina memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat. "Kamu... kamu iblis!"
"Aku hanya anak Ibu. Bukankah Ibu yang bilang begitu?" Maudi terkekeh pelan, tawa yang terdengar seperti gesekan pisau. "Ibu tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Ibu hanya perlu tahu bahwa setiap langkah Ibu di rumah ini, setiap percakapan Ibu dengan Bram ataupun yang lainnya , setiap niat busuk Ibu semuanya sudah berada dalam genggamanku."
Maudi berjalan menuju cermin, merapikan khimarnya dengan tenang. "Sekarang, pergilah. Ibu harus terlihat cantik di depan Kakek saat sarapan nanti. Jangan sampai dia melihat wajah ketakutan Ibu, nanti dia curiga."
" ibu yang mendidikku sangat keras dulu, dan lihatlah sekarang, aku bisa jadi teman atau musuh ibu" ucap Maudi dengan pelan.
Seina yang kehilangan akal sehatnya langsung berbalik pergi, namun ia berhenti di ambang pintu. "Aku akan menyingkirkanmu, Maudi. Aku akan pastikan kamu keluar dari rumah ini, baik dalam keadaan hidup atau mati!"
Maudi tidak menoleh. "Silakan dicoba, Ibu. Tapi ingat, kalau Ibu mencoba menyentuhku, mungkin Maudi akan melaporkan ibu ke kantor polisi...
Mendengar kantor polisi, Seina semakin meradang" heh,dasar anak tidak tahu di untung, aku yang melahirkan mu, aku yang menyusuimu, kau mau menjebloskan ibumu sendiri ke penjara, dasar anak durhaka" teriak Seina menggema di dalam paviliun itu.
"Aku seperti ini juga gara-gara ibu" jawab Maudi dengan wajah tersenyum mengejek.
Seina Mergi dengan membawa sejuta amarah, ternyata Maudi tidak selugu yang ia kira...ia harus merencanakan untuk menyingkirkan Maudi secepatnya atau, dirinya yang akan tersingkir kalau rahasianya terbongkar.
Duhhh gasabar lah intip² MP Pasangan perfect 😍
Nyonya Rebecca, duhhh ga sabar deh saat kamu tau siapa Maudi yg sesungguhnya, apa kamu ga pingsan, apa kamu masih dg sifat angkuh dan sombong bgituu ?!! cih.. dasar wanita sosialita minim kecerdasan akhlaq ilmu dan maximal kesyombongan 😏😏
Next Acara Pernikahan Rasya dan Maudi baiknya wajah Maudi bebas terekspos bebas, biarkan mereka yg mengira Maudi siburuk rupa menjadi Ratu yg sesungguhnya dihari besar itu tiba, dan kemunculan yg sesungguhnya itu akan menjadi guncangan terdahsyat bagi 2 keluarga tersebut 😏