NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: TABRAKAN DUA DUNIA DAN KEKUATAN SEJATI

JLEEEEEEEBBBBBB!!!

Suara benturan itu bukan sekadar bunyi, melainkan guncangan yang membuat seluruh isi gunung berguncang hebat seolah mau runtuh. Gelombang kejut hitam yang dilontarkan Sang Adipati Kala bertabrakan dengan dinding cahaya raksasa yang diciptakan gabungan kekuatan Raga, Kanjeng Raden, Nyi Blorong, Eyang Sastro, dan ribuan pasukan gaib.

Angin badai berputar kencang, debu dan batu beterbangan ke segala arah. Cahaya putih dan kegelapan ungu saling menekan, berdesakan, berjuang mati-matian untuk saling menaklukkan. Di titik pertemuan itu, udara sampai mendidih, menciptakan kilatan-kilatan petir kecil yang menyambar-nyambar.

Raga berdiri di pusat dinding cahaya itu, kedua tangannya terentang ke depan, seluruh urat di leher dan lengannya menonjol habis-habisan. Keringat bercucuran deras, napasnya terengah-engah. Tekanan yang diterimanya luar biasa berat, rasanya seperti ditimpa gunung besar. Tulang-tulangnya sampai berderak-derak menahan beban itu.

"TAHAN! JANGAN MUNDUR SATI CENTi PUN!" teriak Raga parau, suaranya hilang tertelan gemuruh energi.

Di sebelah kanannya, Kanjeng Raden berdiri kokoh, tubuhnya membesar dua kali lipat dengan aura emas menyala terang. Ia menancapkan ujung tombaknya ke tanah sebagai penopang, kedua tangannya mendorong energi sekuat tenaga. Darah mulai menetes dari sudut bibirnya. Tekanan musuh ini jauh melebihi apa pun yang pernah ia hadapi selama ratusan tahun hidupnya.

"MAKHLUK KEPARAT INI... KEKUATANNYA JAUH LEBIH BESAR DARI DULU!" geram Kanjeng Raden di antara gigi-giginya yang gemeretak.

Di sebelah kiri, Nyi Blorong bergetar hebat. Tubuhnya yang setengah ular itu melilit batuan besar agar tidak terhempas. Aura jahat Sang Adipati Kala begitu mencekam hingga membuat makhluk-makhluk lemah di belakang mereka banyak yang jatuh berlutut, tidak sanggup menahan tekanan niat jahat semurni itu.

"Raga... dia terlalu kuat... kita tidak bisa menahannya lama-lama..." ucap Nyi Blorong dengan suara gemetar ketakutan.

Dari atas tebing, Eyang Sastro dan Mbah Joyo juga ikut mengerahkan segala ilmu mereka. Eyang Sastro terus membaca mantra-mantra penolak bala tertinggi, sementara Mbah Joyo terus melemparkan manik-manik suci yang meledak menjadi cahaya pelindung tambahan. Namun, mereka berdua sadar, perbedaan kekuatan terlalu jauh. Dinding cahaya mereka perlahan tapi pasti mulai terdorong mundur. Retakan-retakan mulai muncul di permukaannya.

"Hahahaha! Lemah! Terlalu lemah!"

Suara Sang Adipati Kala bergaung menyejek mereka. Raksasa bertopeng itu berdiri santai di balik gelombang kegelapannya, hanya menggunakan satu tangan saja untuk menekan mereka semua.

"Kalian mengira dengan berkumpul bersama, kalian bisa mengalahkan aku? Aku adalah Raja Waktu! Aku adalah Penguasa Kematian! Energi kalian ini... hanyalah angin sepoi-sepoi bagiku!"

Sang Adipati Kala lalu mengangkat tangan kirinya perlahan. Seketika, gelombang kegelapan itu makin meluap besar, dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya!

"RASAKAN INI! HANCUR BERSAMA CANGKANG DUNIA KALIAN!"

BRAAAAAKKKK!!!

Dinding cahaya pertahanan mereka pecah berantakan!

Seperti bendungan jebol, energi hitam meluap masuk menerjang segala sesuatu di depannya! Ribuan pasukan gaib Kanjeng Raden terpental jauh, terbakar, dan lenyap begitu saja saat tersentuh gelombang itu.

Kanjeng Raden dan Nyi Blorong terlempar jatuh bergulingan ke tanah, terluka parah. Eyang Sastro dan Mbah Joyo dari atas tebing terpental masuk ke dalam gua karena hantaman hebat itu.

Dan Raga... dia tersentak hebat, tubuhnya terpental mundur puluhan meter sampai punggungnya menghantam dinding batu tebing keras-keras. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Ia jatuh berlutut, pandangannya kabur, seluruh badannya terasa remuk dan nyeri luar biasa.

"Habis sudah... kita kalah..." batin Raga putus asa. Ia melihat Sang Adipati Kala berjalan perlahan mendekat, Gada Besi di tangannya diseret di tanah menciptakan percikan api dan goresan dalam.

Raksasa itu berhenti tepat di hadapan Raga. Tingginya menjulang menutupi cahaya bulan dan bintang.

"Lihat dirimu, Penjaga Muda... Hancur lebur begitu saja. Di mana keberanianmu tadi? Di mana kesombonganmu?" ejek Sang Adipati Kala. Ia menendang dada Raga pelan tapi cukup kuat untuk membuat pemuda itu terguling lagi.

"Aku beri kesempatan terakhir. Serahkan Kitab itu, serahkan Kunci Gerbang, dan bersujudlah padaku. Aku akan biarkan orang-orangmu hidup. Kalau tidak... satu per satu akan kubunuh di depan matamu, mulai dari kakekmu, lalu guru, lalu teman-temanmu itu."

Raga mengangkat kepalanya susah payah. Matanya kabur, penuh darah dan air mata. Ia melihat ke arah Kanjeng Raden yang terbaring lemah, Nyi Blorong yang terluka parah, dan ke arah mulut gua tempat Eyang Sastro dan Mbah Joyo berada. Semuanya terluka, semuanya kalah.

Ia meraba dadanya, merasakan Kitab Lontar yang masih tersimpan aman di sana, masih berdenyut pelan tapi terasa lemah.

"Maafkan aku Eyang Noto... Maafkan aku semua... Aku gagal..." bisik Raga lirih. Tangannya perlahan bergerak ke arah dada, bersiap mengeluarkan kitab itu.

Namun, saat tangannya menyentuh sampul kulit kitab itu...

Tiba-tiba ia mendengar suara. Bukan suara manusia, bukan suara makhluk, tapi suara yang dalam dan tulus, bergaung langsung dari dalam kitab itu sendiri.

"Jangan menyerah, cucuku... Ingatlah siapa dirimu... Ingatlah apa yang kau bawa..."

Suara Eyang Noto!

"Kekuatan sejati bukanlah untuk mengalahkan musuh... Tapi untuk melindungi apa yang kau cintai... Kau bukan bertarung sendirian... Kau membawa doa seluruh makhluk baik... Kau membawa kasih sayang... Dan kasih sayang itu... adalah kekuatan terbesar di dunia ini!"

Seketika!

Raga teringat kembali. Teringat saat ia menolak Nyi Blorong bukan karena benci, tapi karena ingin saling menghargai. Teringat saat ia berdamai dengan Kanjeng Raden. Teringat wajah kakeknya, wajah Eyang Sastro, wajah seluruh warga desa yang damai.

Kekuatan itu... bukan kekuatan pukulan, bukan kekuatan sihir. Itu adalah kekuatan Kasih Sayang.

Raga mengangkat kepalanya. Tatapannya yang tadinya penuh keputusasaan kini berubah. Matanya yang berdarah itu perlahan bersinar kembali, bukan warna emas biasa, tapi warna PUTIH SUCI yang sangat terang, menyilaukan mata Sang Adipati Kala yang tertutup topeng besi itu.

"AKU... TIDAK... AKAN... MENYERAH!!!"

Raga berteriak sekuat tenaga, memuntahkan sisa tenaga hidupnya. Ia mencabut Kitab Lontar dari dadanya, lalu merobek baju di dadanya dan menempelkan kitab itu langsung ke kulit dadanya sendiri.

"DEMI DARAHKU! DEMI NYAWAKU! DEMI SEMUA YANG KUCINTAI! WAHYU NOTO... TURUNKAN KEKUATAN TERAKHIRMU!!!"

TRRRRRIIIIINNNNGGGGGGG!!!!

Suara lonceng besar bergema sampai ke langit ketujuh!

Kitab Lontar itu bersinar menyilaukan! Cahayanya tidak lagi keluar dari tangan, tapi keluar dari seluruh tubuh Raga! Cahaya putih itu begitu murni, begitu kuat, begitu hangat!

Sang Adipati Kala mundur selangkah karena kaget dan perih. "APA INI?! CAHAYA APA INI?!"

Seluruh luka di tubuh Raga sembuh seketika! Tulang yang patah menyambung kembali! Tenaga yang habis terisi kembali berkali-kali lipat!

Tubuh Raga perlahan terangkat melayang ke udara. Jubahnya yang koyak berubah menjadi jubah cahaya panjang putih bersih. Di belakang punggungnya, terbentuk lingkaran cahaya besar menyerupai matahari pagi. Kedua keris di pinggangnya melebur dan menyatu menjadi sebilah Pedang Cahaya yang panjang dan terang benderang.

Ia bukan lagi sekadar pemuda desa. Bukan lagi sekadar murid pendekar.

Raga kini telah bangkit menjadi PENJAGA SEJATI, reinkarnasi kekuatan Eyang Noto yang sesungguhnya!

"Kau bertanya apa kekuatanku, Adipati Kala?" suara Raga kini lembut namun berwibawa, bergema memenuhi seluruh lembah.

"Kekuatanku bukanlah sihir hitam. Bukan pula kekuatan kematian. Kekuatanku adalah KEBENARAN dan KASIH SAYANG. Dan itu adalah hal yang paling tidak bisa kau kalahkan selamanya!"

Tanpa menunggu jawaban, Raga melesat bagai kilat ke arah Sang Adipati Kala! Kecepatannya melebihi pandangan mata makhluk biasa!

TRANG!!!

Pedang Cahaya itu menabrak Gada Besi Sang Adipati Kala!

Kali ini posisinya terbalik! Sang Adipati Kala yang terpental mundur sampai beberapa meter karena kekuatan hantaman itu! Tangannya yang memegang senjata sampai bergetar hebat dan melepuh kena cahaya suci!

"TIDAK MUNGKIN! SAKIT! SAKIT ITU APA?!" raung Sang Adipati Kala kaget dan marah luar biasa. Selama ribuan tahun tidak ada yang pernah melukainya, apalagi membuatnya kesakitan.

"Rasakanlah hukuman alam semesta untuk makhluk sepertimu!" seru Raga. Ia berputar di udara, lalu menebaskan Pedang Cahaya itu membentuk lingkaran besar.

"MANTRA PENGIKAT KEBENARAN! KUNCI CAHAYA!"

Dari ujung pedang itu keluar ribuan tali cahaya putih yang melesat cepat mengikat tubuh Sang Adipati Kala! Tali itu bukan terbuat dari bahan, tapi terbuat dari sumpah setia dan kasih sayang!

Sang Adipati Kala meronta sekuat tenaga, aura hitamnya meledak-ledak mencoba memutuskan ikatan itu, tapi semakin ia meronta, tali itu makin erat dan makin membakar kulit dan energinya.

"LEPASKAN AKU! KAU TIDAK BISA MENGURUNGKU LAGI! AKU PENGUASA WAKTU!"

"Benar kau penguasa waktu," jawab Raga tenang sambil turun perlahan dan berjalan mendekat. "Tapi kau bukan penguasa hati nurani. Dan di sini... hati nurani lah yang berkuasa."

Raga berdiri tepat di depan raksasa yang kini terikat tak berdaya itu. Ia mengangkat Pedang Cahaya tepat di depan lubang mata topeng besi Sang Adipati Kala.

"Kau punya dua pilihan. Kembalilah ke tempat asalmu, jangan pernah ganggu manusia dan alam lagi, dan aku biarkan kau hidup. Atau... aku hancurkan wujudmu selamanya sampai jadi debu yang tidak ada rasa sakitnya lagi."

Sang Adipati Kala diam. Ia merasakan kekuatan di depan matanya itu bukan ancaman kosong. Ia merasakan bahwa pemuda di depannya ini benar-benar punya kuasa untuk memusnahkannya seketika dari muka bumi ini. Kekuatan kasih sayang itu... ternyata jauh lebih mengerikan bagi makhluk jahat daripada kekuatan api atau pedang tajam sekalipun.

"Kau... siapa sebenarnya kau..." tanya Sang Adipati Kala lirih, arogansinya hilang sudah.

"Aku hanyalah manusia biasa. Penjaga keseimbangan. Dan nama saya... Raga."

Raga menurunkan pedangnya sedikit. Ia tidak menghabisi nyawanya, karena itu bukan sifat penjaga sejati.

"Pergilah. Dan sampaikan pada semua temanmu di kegelapan sana: Wilayah ini ada penjaganya. Dan penjaganya... tidak akan pernah mundur lagi."

Perlahan, ikatan cahaya itu dilepas. Sang Adipati Kala, yang merasa malu dan takut bercampur jadi satu, mundur perlahan ke belakang, menarik sisa pasukannya yang ketakutan setengah mati.

"Ingat kata-katamu, Penjaga... Kita belum selesai... Tapi hari ini... aku mengalah..."

Dan seketika, kabut ungu itu lenyap, tanah berguncang terakhir kali, dan mereka semua menghilang sepenuhnya.

Suasana menjadi hening. Damai.

Matahari pagi mulai menyingsing lagi dari ufuk timur, menyinari medan perang yang penuh debu dan bekas luka.

Raga berdiri tegak di tengah-tengah. Cahaya putih di tubuhnya perlahan masuk kembali ke dalam, kembali tenang dan sederhana. Ia kembali jadi pemuda biasa, tapi matanya kini jauh lebih dalam dan bijaksana.

Kanjeng Raden, Nyi Blorong, Eyang Sastro, dan Mbah Joyo perlahan bangkit berdiri, menatap Raga dengan mulut ternganga tak percaya. Bukan karena kekuatannya, tapi karena ketulusan hatinya yang mampu menaklukkan kegelapan terbesar sekalipun.

Perang sudah selesai. Damai kembali tercipta. Dan kisah Penjaga Gerbang... baru saja dimulai babak utamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!