Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Interogasi Berdarah dan Bayangan Sang Dalang
Keheningan di Puncak Awan terasa seakan menyedot oksigen dari paru-paru setiap orang yang hadir. Mayat Tetua Jian, seorang Guru Bela Diri yang dipuja bagaikan dewa oleh sekte-sekte lokal, tergeletak tragis di dekat pilar yang retak. Darahnya perlahan meresap ke dalam celah bebatuan kuno.
Langkah kaki Arya bergema pelan.
Tap. Tap. Tap.
Setiap langkahnya adalah palu godam yang menghantam kewarasan Bastian Tjandra. Pemuda yang beberapa menit lalu mengklaim diri sebagai raja itu kini merosot di kursinya, wajahnya seputih kertas. Keringat dingin membasahi kemeja sutra mahalnya.
"Sepuluh," ucap Arya, memulai hitungan mundurnya dengan nada sedatar mesin pembaca waktu.
"A-Arya! Tunggu!" Bastian tergagap, suaranya melengking panik. Ia menoleh ke arah ratusan praktisi bela diri dan pengawal yang mengelilingi pelataran. "Apa yang kalian lihat?! Bunuh dia! Siapa pun yang bisa menyentuh sehelai rambutnya, Keluarga Tjandra akan memberinya lima ratus miliar dan pil spiritual tingkat tinggi! Serang dia!"
Namun, tidak ada satu pun yang bergerak. Ratusan pria bersenjata itu justru mundur selangkah secara serentak. Uang dan pil memang menggiurkan, namun itu tidak ada artinya jika nyawa mereka melayang hanya dengan sentuhan jari pria monster di hadapan mereka.
"Sembilan," lanjut Arya tanpa menghentikan langkahnya. Jarak mereka kini tersisa lima meter.
"Keparat kalian semua! Anjing-anjing tidak berguna!" Bastian mengumpat histeris. Keputusasaan memicu sisa-sisa arogansinya. Ia tiba-tiba merogoh saku dalam jasnya dan menarik sebuah pistol perak kecil dengan desain futuristik. Itu bukan senjata api biasa, melainkan Pistol Penembus Qi yang pelurunya dilapisi dengan jarum racun spiritual—barang selundupan pasar gelap bernilai ratusan miliar.
"Mati kau, gembel!"
Dor! Dor! Dor!
Bastian menarik pelatuk secara membabi buta. Tiga jarum perak melesat menembus udara, menargetkan dahi, tenggorokan, dan jantung Arya. Kecepatan proyektil itu melebihi kecepatan suara, dirancang khusus untuk menembus perisai energi kultivator.
Namun, Arya bahkan tidak repot-repot menggunakan perisai Qi-nya. Ia memiringkan kepalanya hanya beberapa milimeter untuk menghindari jarum pertama, menjentikkan jarinya untuk membelokkan jarum kedua ke arah pilar, dan dengan santai menangkap jarum ketiga dengan dua jarinya.
Sring!
Jarum perak yang bergetar memancarkan aura racun hijau itu berhenti dengan patuh di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah Arya.
"Senjata proyektil hanya efektif jika penggunanya memiliki kemampuan kalkulasi lintasan yang lebih cepat dari target," Arya menganalisis dengan tenang, seolah sedang menguliahi murid yang bodoh.
"Delapan."
Bastian membuang senjatanya yang kini tak berguna dan mencoba merangkak mundur, namun punggungnya membentur sandaran kursi harimaunya. Ia terjebak.
Arya akhirnya berhenti tepat di hadapan Bastian. Ia menunduk menatap pemuda yang gemetar hebat itu, tatapannya kosong dari belas kasihan.
"Tujuh detikmu telah habis karena kau membuang waktuku dengan trik murahan," ucap Arya dingin.
Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan kanan Bastian yang bertumpu pada sandaran kursi.
"Katakan nama orang yang memerintahkan transfer dana ke teknisi Penerbangan 777."
"A-Aku tidak tahu! Sumpah demi Tuhan, aku tidak—"
KRAK!
Arya mematahkan jari telunjuk Bastian hingga membengkok ke arah punggung tangan dengan sudut yang mengerikan.
"ARGHHHHH!" Jeritan Bastian membelah kabut di puncak gunung. Matanya melotot hingga hampir keluar, air mata dan ingus mengalir bercampur menjadi satu.
Para tamu di perjamuan itu memalingkan wajah, tidak sanggup melihat kekejaman absolut tersebut. Elena, yang masih berdiri di dekat gerbang, menatap dengan napas tertahan. Ia telah menyiksa banyak target, tapi efisiensi dan ketenangan Arya saat mematahkan tulang musuh benar-benar berada di level sosiopat yang elegan.
"Aku bukan detektif, Bastian. Aku tidak peduli pada sumpah atau alibimu. Di duniaku, kau hanya memiliki dua pilihan: bicara atau hancur," suara Arya tetap datar. Ia memindahkan cengkeramannya ke jari tengah Bastian.
"Sebutkan namanya."
"Tunggu! Kumohon, Arya! Jika aku mengatakannya, mereka akan membunuh seluruh keluargaku!" Bastian menangis tersedu-sedu, menahan rasa sakit yang membakar sistem sarafnya.
KRAK!
Jari tengah Bastian dipatahkan tanpa sedikit pun keraguan.
"ARGHH! Hentikan! HENTIKAN! IYA! AKU AKAN BICARA!" Bastian menjerit parau, napasnya tersengal-sengal menahan syok rasa sakit. Ia tahu pria di hadapannya ini benar-benar akan mencincangnya perlahan hingga ia gila.
Arya menghentikan tangannya, namun tetap menatap lurus ke mata Bastian, menunggu konfirmasi logis.
"K-Keluarga Tjandra... kami hanya perantara..." Bastian terbatuk, darah mulai keluar dari sudut bibirnya akibat tergigit oleh giginya sendiri karena menahan sakit. "Penerbangan 777 tidak kecelakaan karena masalah teknis mesin biasa. Ada ledakan dari dalam. Teknisi itu dibayar untuk menanamkan artefak pembakar Qi di ruang kargo pesawat."
Mata Arya menyipit tipis, mengunci setiap kata-kata Bastian. "Siapa yang menginstruksikan keluargamu?"
"Itu... itu adalah pesanan dari Tuan Besar Keluarga Dewangga," bisik Bastian, menyebutkan nama itu dengan nada yang sangat ketakutan. "Keluarga Nomor Satu di Ibukota. Tapi... tapi bahkan mereka bukan dalang utamanya! Mereka bertindak atas perintah utusan rahasia dari Kuil Kegelapan. Tuan Besar Permana memiliki sesuatu yang diinginkan oleh Kuil Kegelapan, sebuah kunci peninggalan kuno. Mereka menjatuhkan pesawat itu untuk mengambilnya!"
[Ding! Konfirmasi Fakta Terverifikasi. Sinkronisasi dengan Database Intelijen Bayangan: Keluarga Dewangga memiliki relasi gelap dengan entitas kultivasi bawah tanah. Detail Kuil Kegelapan ditambahkan ke dalam log misi.]
Arya melepaskan tangan Bastian. "Kuil Kegelapan. Organisasi yang bersembunyi di balik bayang-bayang bumi. Informasi yang cukup efisien."
Bastian memegangi tangannya yang hancur, menatap Arya dengan tatapan memohon yang menyedihkan. "Kau... kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Aku sudah mengatakan semuanya! Kau bilang aku punya pilihan untuk bicara... biarkan aku pergi. Keluarga Tjandra akan menyerahkan seluruh aset kepada Dragon Corp! Aku akan menjadi anjingmu!"
Arya berbalik membelakangi Bastian, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku trench coat-nya.
"Aku memang memberimu pilihan untuk bicara, Bastian. Tapi aku tidak pernah menjanjikan kehidupan sebagai kompensasinya," jawab Arya rasional.
"Kau bajin—"
Sebelum Bastian sempat menyelesaikan makiannya, sebuah bilah Qi kecil tak kasat mata melesat dari balik mantel Arya, memotong tepat di saraf tulang belakang leher Bastian.
Suara makian itu terpotong seketika. Tubuh Bastian mengejang sebentar sebelum akhirnya merosot ke lantai, matanya terbuka lebar, menatap langit abu-abu Gunung Lawu tanpa sisa kehidupan.
Kaisar Ibukota dari Keluarga Tjandra tewas dengan tragis di perjamuannya sendiri.
Arya mengalihkan pandangannya ke arah ratusan tamu yang kini jatuh berlutut, menempelkan dahi mereka ke tanah batu yang dingin. Tidak ada yang berani menatap wajahnya. Mereka tahu, tatanan kekuasaan di negara ini baru saja diubah paksa oleh satu pria.
"Mulai detik ini, Keluarga Tjandra dihapus dari peta kekuasaan," suara Arya menggelegar ke seluruh pelataran. "Sampaikan pesan ini ke Ibukota: Jika ada yang berani melindungi sisa-sisa Keluarga Tjandra, mereka akan berakhir sama."
Arya mulai berjalan menuruni tangga batu, membelah lautan manusia yang bersujud ketakutan.
Saat ia melewati Elena, wanita itu tidak bersujud, namun ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan tertinggi dari seorang pejuang kepada penguasa yang absolut.
"Pusat kekuasaan Keluarga Dewangga berada di jantung Ibukota, Tuan," bisik Elena saat Arya lewat di dekatnya, memberikan informasi taktis secara sukarela. "Mereka dilindungi oleh Formasi Segel Naga. Manusia biasa tidak bisa mendekat."
Arya tidak menoleh, namun langkahnya tidak terhenti. "Bagus. Karena aku sudah lama berhenti menjadi manusia biasa."
Sosoknya perlahan menghilang ditelan kabut tebal Gunung Lawu, meninggalkan legenda mengerikan di Puncak Awan dan sebuah badai berdarah yang siap menyapu bersih Keluarga Dewangga di jantung Ibukota.