Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 kepulangan sang pemangsa dan pantulan di cermin retak
Cahaya fajar menyapu ubin batu pelataran luar Sekte Pedang Awan, mengusir sisa-sisa embun beku yang menempel di atap gedung-gedung asrama. Aktivitas pagi baru saja dimulai. Para murid berpakaian abu-abu berlalu-lalang dengan wajah mengantuk, membawa sapu lidi, keranjang cucian, atau sekadar bergegas menuju kantin untuk memperebutkan bubur jatah harian. Kehidupan di pelataran luar adalah siklus kemiskinan dan rutinitas tanpa akhir bagi mereka yang tidak memiliki bakat atau latar belakang berkuasa.
Di tengah kesibukan yang monoton itu, langkah kaki lambat dan berirama memecah suasana.
Seorang pemuda berjalan melewati gerbang utama pelataran luar. Penampilannya sangat mengenaskan. Jubah abu-abunya telah kehilangan warna aslinya, berubah menjadi kanvas abstrak yang dilukis oleh lumpur kering, getah pinus, dan noda darah kehitaman yang berlapis-lapis. Kain di bagian lengan dan kakinya robek compang-camping, memperlihatkan otot-otot padat yang dipenuhi sayatan luka yang baru menutup. Rambutnya panjang terurai berantakan, diikat seadanya dengan seutas akar kering.
Banyak murid secara refleks memalingkan wajah atau menutup hidung karena bau tanah basah dan karat darah yang menyengat. Walaupun penampilannya menyerupai mayat hidup yang baru merangkak keluar dari liang lahat, tidak ada satu orang pun yang berani melontarkan ejekan.
Mata pemuda itu memancarkan ketenangan absolut. Tidak ada sisa ketakutan, tidak ada keraguan. Setiap langkah kakinya yang berat meninggalkan jejak aura penindasan tipis di udara sekitarnya. Pengalaman membunuh hewan iblis dan merenggut nyawa sesama kultivator di Jurang Kabut Beracun telah menajamkan instingnya hingga menyerupai bilah pedang yang baru diasah. Fluktuasi energi di sekitar tubuhnya terasa jauh lebih padat dan mengancam dibandingkan sebulan yang lalu.
Pemuda itu adalah Lin Chen. Ia telah kembali dari Hutan Pinus Berbisik.
Lin Chen tidak memedulikan tatapan menyelidik dari orang-orang di sekitarnya. Ia berjalan lurus menuju Balai Tugas, sebuah bangunan kayu besar beratap melengkung di pusat area sekte luar. Di sinilah misi diserahkan dan poin jasa didistribusikan.
Di halaman depan Balai Tugas, seorang gadis mungil sedang sibuk menyapu daun-daun gugur. Gadis itu menghentikan gerakannya saat melihat sosok Lin Chen mendekat. Sapu di tangannya nyaris terjatuh.
"K-Kakak Senior Lin?" sapa Bai Xue dengan suara pelan, matanya membulat menatap luka-luka di tubuh pemuda itu.
Lin Chen menghentikan langkahnya sejenak. Ia mengingat gadis ini. Bai Xue adalah murid yang menyerahkan token antreannya sebulan lalu. Gadis itu terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya; tidak ada memar baru di wajahnya, mengindikasikan bahwa nama Lin Chen berhasil melindunginya dari pemerasan para preman sekte selama absennya pemuda itu.
"Kau masih menjaga kebun herbal?" tanya Lin Chen datar.
Bai Xue mengangguk cepat, wajahnya sedikit memerah. "Iya, Kakak Senior. Tidak ada yang berani menggangguku setelah mereka tahu kau... maksudku, setelah kejadian di alun-alun bulan lalu. Terima kasih banyak. Apakah Kakak Senior terluka parah? Aku memiliki sedikit ramuan daun penutup luka di asrama—"
"Tidak perlu. Simpan ramuanmu," potong Lin Chen. Suaranya tidak kasar, hanya mengandung kepraktisan murni. "Pastikan kau tidak membuang poin jasamu untuk hal yang tidak berguna. Fokuslah menerobos tingkat kedua."
Tanpa menunggu balasan, Lin Chen melangkah masuk ke dalam Balai Tugas. Bai Xue menatap punggung tegap itu dengan perasaan campur aduk antara rasa segan dan kekaguman. Bagi Bai Xue, Lin Chen adalah anomali yang menolak hancur di bawah hukum rimba sekte ini.
Udara di dalam Balai Tugas terasa sejuk dan dipenuhi aroma dupa cendana. Di ujung ruangan, di balik meja mahoni panjang, duduk sosok yang familiar. Su Mei, sang murid pelataran dalam kandidat, sedang membolak-balik lembaran perkamen menggunakan jari-jarinya yang lentik. Jubah hijau mudanya tampak tanpa cela, memancarkan aura dingin yang membuat murid-murid lain menjaga jarak minimal lima langkah dari mejanya.
Merasakan kedatangan seseorang, Su Mei mengangkat wajahnya. Mata indahnya yang sedingin es menyipit saat mengunci pandangan pada sosok Lin Chen yang kotor dan berdarah.
Lin Chen melangkah maju, melepaskan kantong kulit usang dari pinggangnya, lalu meletakkannya di atas meja mahoni. Suara benturan benda padat terdengar pelan dari dalam kantong tersebut.
"Melapor pada Senior Su Mei. Murid Lin Chen menyerahkan tugas penjagaan Sektor Utara Hutan Pinus Berbisik. Kuota terpenuhi," ucap Lin Chen seraya menundukkan kepala sedikit sebagai standar formalitas.
Su Mei tidak langsung menyentuh kantong itu. Matanya justru memindai tubuh Lin Chen dari atas ke bawah. Sebagai kultivator Tahap Kondensasi Qi tingkat enam, persepsi spiritualnya jauh melampaui murid biasa. Ia dapat merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari pemuda di depannya ini. Sebulan yang lalu, Lin Chen hanyalah praktisi tingkat dua dengan aliran Qi yang kasar dan berantakan.
Sekarang, aliran Qi di dalam Dantian Lin Chen berputar dengan kepadatan yang sangat tinggi, memancarkan fluktuasi Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tiga yang sangat solid. Lebih mengejutkan lagi, aura darah yang menyelimuti pemuda ini begitu pekat, mengisyaratkan bahwa terobosan tersebut tidak dicapai melalui meditasi damai, melainkan melalui pertarungan hidup dan mati berulang kali.
"Kau menembus tingkat ketiga dalam sebulan hanya dengan menjaga perbatasan?" tanya Su Mei, nada suaranya sedikit berubah, menunjukkan percikan rasa penasaran.
Lin Chen mempertahankan ekspresi datarnya. "Hutan Pinus Sektor Utara sangat murah hati memberikan tekanan, Senior. Murid ini kebetulan menemukan sedikit pencerahan saat dikejar oleh kawanan hewan buas."
Su Mei mendengus pelan, mengetahui bahwa pemuda itu tidak mengatakan kebenaran seutuhnya. Menanyakan rahasia kultivasi orang lain merupakan hal tabu. Ia menarik tali kantong kulit itu dan mengeluarkan isinya.
Lima buah tanduk Serigala Angin berjejer rapi di atas meja. Bagian pangkal tanduk tersebut dipotong dengan potongan yang sangat presisi, menunjukkan eksekusi pembunuhan yang rapi tanpa merusak nilai materialnya. Kualitas tanduk ini sempurna, energi elemen angin di dalamnya masih berdenyut stabil.
"Bagus," ucap Su Mei singkat. Ia mengambil sebuah stempel kayu dan membubuhkan cap merah pada buku catatannya. "Tugas selesai dengan nilai sempurna. Jatah bulan depanmu dijamin utuh. Selain itu, sebagai hadiah penyelesaian tugas zona merah, kau berhak mendapatkan dua Batu Roh Tingkat Rendah dan satu botol Pil Pengumpul Qi."
Su Mei meletakkan dua buah batu putih bercahaya redup dan sebuah botol porselen kecil di atas meja.
Lin Chen memasukkan hadiah tersebut ke dalam sakunya. Pil Pengumpul Qi adalah sumber daya standar yang sangat berharga bagi murid luar, berguna untuk mempercepat penyerapan energi alam.
Saat Lin Chen hendak berbalik pergi, Su Mei berbicara lagi, kali ini suaranya diturunkan menjadi volume yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Zhao Feng belum sepenuhnya pulih, tulang lengannya hancur berkeping-keping. Ada rumor yang beredar bahwa dia meminta bantuan pada sepupunya, Zhao Tian, seorang murid pelataran luar tingkat tujuh yang terafiliasi dengan Fraksi Pedang Darah. Berhati-hatilah dengan bayanganmu sendiri, Lin Chen. Kekuatan tingkat tiga tidak cukup untuk membuatmu tidur nyenyak di sekte ini."
Lin Chen menghentikan langkahnya sejenak. Fraksi Pedang Darah adalah salah satu kelompok bayangan terkuat di sekte luar. Peringatan Su Mei bukanlah bentuk kepedulian, melainkan pengamatan objektif dari seseorang yang senang melihat bidak catur saling beradu.
"Terima kasih atas informasinya, Senior. Murid ini memiliki kebiasaan tidur dengan satu mata terbuka," jawab Lin Chen sebelum melangkah keluar dari Balai Tugas.
Di saat yang sama, jauh di dalam asrama khusus murid elit sekte luar, suasana terasa sangat mencekam.
Zhao Feng duduk bersandar di ranjangnya. Lengan kanannya dibalut perban tebal berlapis ramuan herbal berbau menyengat. Wajahnya sangat pucat, matanya memancarkan keputusasaan dan amarah yang meledak-ledak. Di depannya, salah satu pengikutnya sedang berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat.
"Katakan sekali lagi," desis Zhao Feng, suaranya bergetar menahan rasa sakit. "Di mana Ma Kun?"
Pengikut itu menelan ludah dengan susah payah. "K-kami tidak tahu, Kakak Zhao. Ma Kun dan dua anak buahnya pergi ke Hutan Pinus sejak tiga hari yang lalu untuk mencari Lin Chen. Mereka berjanji akan membawa kepala Lin Chen hari ini. Pagi ini... para penjaga gerbang melihat Lin Chen kembali sendirian. Dia terlihat terluka parah, auranya sangat mengerikan. Dia telah menyerahkan misinya ke Balai Tugas. Ma Kun dan kelompoknya tidak pernah kembali."
Mata Zhao Feng melebar hingga bola matanya nyaris keluar dari rongganya. Ma Kun adalah praktisi tingkat tiga puncak. Bersama dua rekannya, kelompok itu seharusnya mampu membantai kawanan Serigala Angin tanpa kesulitan berarti. Hilangnya mereka secara bersamaan dengan kembalinya Lin Chen merupakan fakta yang terlalu mengerikan untuk disimpulkan.
"Tidak mungkin... tidak mungkin sampah itu bisa membunuh Ma Kun," gumam Zhao Feng. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur di pelipisnya. Fantasi pembalasan dendamnya seketika hancur berkeping-keping, digantikan oleh kengerian absolut. Orang yang lengannya ia patahkan, kini telah berubah menjadi monster yang menelan seluruh regu pembunuh tanpa meninggalkan sisa.
Zhao Feng menatap lengan kanannya yang cacat. Ia sadar, jika ia tidak segera bertindak, Lin Chen pasti akan datang mencarinya untuk menyelesaikan urusan masa lalu.
"Panggil Kakak Zhao Tian," perintah Zhao Feng dengan suara parau. "Katakan padanya aku rela menyerahkan seluruh jatah sumber dayaku selama setahun penuh. Suruh dia membunuh Lin Chen sekarang juga!"
Meninggalkan keramaian pelataran luar, Lin Chen menyusuri jalan setapak sunyi menuju gubuk reyotnya di pinggiran asrama. Tidak ada orang yang berani mendekati area tersebut, menjadikannya tempat paling ideal untuk menyembunyikan rahasia.
Ia mendorong pintu kayunya dan menguncinya dari dalam. Hal pertama yang ia lakukan adalah merebus air panas, membersihkan seluruh kotoran di tubuhnya, dan mengganti pakaiannya dengan jubah cadangan yang lebih bersih. Setelah memastikan tubuhnya kembali segar, Lin Chen duduk bersila di tengah ruangan, menutup semua celah jendela dengan kain usang.
Waktunya memeriksa hasil panen.
Ia mengeluarkan tiga kantong penyimpanan milik kelompok Ma Kun. Barang-barang berserakan di atas lantai kayu. Sebelas keping perak, tiga botol pil penyembuh luka luar, satu botol berisi setengah Pil Pengumpul Qi, beberapa potong pakaian ganti, dan sebuah peta sekte luar yang jauh lebih detail daripada miliknya.
Semua itu adalah harta yang lumayan, tidak ada satu pun yang bisa menandingi objek utama yang kini digenggam oleh tangan kanan Lin Chen.
Sebuah Batu Roh Tingkat Menengah.
Berbeda dengan batu roh tingkat rendah yang hanya seukuran kuku dan memancarkan cahaya redup, batu di tangannya ini seukuran telur burung puyuh, berwarna seputih susu, dan memancarkan cahaya yang menerangi seluruh sudut ruangan gubuk. Udara di sekitar batu itu berputar membentuk riak kecil akibat padatnya energi spiritual yang terkandung di dalamnya. Satu Batu Roh Tingkat Menengah setara dengan seratus Batu Roh Tingkat Rendah dalam hal nilai tukar. Kualitas kemurnian energinya ribuan kali lipat lebih baik.
Lin Chen menelan ludah. Ia baru saja menerobos tingkat tiga melalui pemaksaan ekstrem di tengah pertarungan berdarah. Fondasinya saat ini sangat tidak stabil. Dantiannya bergejolak seperti lautan yang habis diamuk badai. Jika ia mampu menyerap energi murni dari batu ini, ia tidak hanya menstabilkan kultivasinya, berpotensi mendorong batasnya menuju tingkat tiga pertengahan.
Tepat saat ia berniat memutar *Napas Karang Esensi* untuk menyerapnya, layar cahaya biru transparan berpendar tiba-tiba di depan retinanya.
**[Situasi Kultivasi Kritis Terdeteksi.]**
**[Objek: Batu Roh Tingkat Menengah. Kondisi Tubuh: Meridian melebar paksa akibat terobosan darurat. Fondasi tidak stabil.]**
**[Silakan tentukan metode penyerapan energi:]**
**[Pilihan 1: Serap langsung dengan kecepatan maksimal.
Hadiah: Anda langsung mencapai Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat. Tekanan energi akan meledakkan tiga meridian utama. Anda akan menjadi cacat kultivasi secara permanen, terhenti di tingkat empat seumur hidup.]**
**[Pilihan 2: Jual Batu Roh Tingkat Menengah ini ke Pasar Gelap, tukarkan dengan 100 Batu Roh Tingkat Rendah, serap perlahan selama setahun.
Hadiah: Keamanan absolut. Proses kultivasi melambat drastis. Anda kehilangan momentum dan akan dibunuh oleh fraksi musuh dalam dua bulan mendatang.]**
**[Pilihan 3: Gunakan formasi 'Ekstraksi Tetesan Embun' menggunakan sisa keping perak dan darah Anda sendiri. Ubah energi batu roh menjadi cairan, biarkan tubuh menyerapnya secara pasif melalui rasa sakit peleburan otot dan tulang.
Hadiah: Memakan waktu tiga hari tiga malam. Mengukuhkan fondasi Tahap Tingkat Tiga. Tingkat kemurnian Dantian meningkat 50%.]**
Membaca ketiga opsi itu, wajah Lin Chen berubah menjadi kaku. Sistem ini adalah guru yang sangat kejam. Pilihan pertama mematahkan ilusi tentang kekuatan instan. Dunia kultivasi menolak jalan pintas; menelan energi di luar kapasitas wadah sama saja dengan menelan racun bunuh diri. Pilihan kedua adalah jalur para pengecut yang perlahan digerus oleh waktu.
Pilihan ketiga, seperti biasa, menawarkan rute paling menyiksa. Menyerap energi secara pasif melalui peleburan otot dan tulang terdengar seperti teknik penyiksaan kuno. Ketahanan fisik adalah kunci mutlak untuk bertahan di Alam Fana. Memiliki level tinggi tanpa fondasi yang sekeras baja hanyalah istana pasir yang runtuh oleh sapuan ombak.
"Sistem, aku mengambil pilihan ketiga," putus Lin Chen tanpa ragu.
Layar biru memudar, digantikan oleh masuknya gelombang informasi ke dalam otaknya. Panduan untuk membuat formasi 'Ekstraksi Tetesan Embun' tercetak jelas di lautan spiritualnya. Formasi ini bukanlah teknik sihir megah, melainkan metode susunan elemen dasar untuk memanipulasi aliran energi ruangan.
Lin Chen segera bergerak. Ia mengambil sebelas keping perak hasil rampasannya. Perak adalah konduktor energi alami. Ia memosisikan keping-keping perak itu membentuk sebuah lingkaran di atas lantai kayu gubuknya, menyusunnya dalam pola rasi bintang segi enam. Di titik pusat lingkaran, ia meletakkan tungku tanah liat kecil miliknya, dan meletakkan Batu Roh Tingkat Menengah ke dalam tungku tersebut.
Langkah terakhir adalah yang paling krusial. Lin Chen mengambil belati kecilnya dan menggores dangkal telapak tangan kirinya. Darah merah segar menetes keluar. Ia berjalan mengelilingi lingkaran, meneteskan darahnya tepat di atas setiap kepingan perak, mengikat formasi tersebut dengan esensi kehidupannya sendiri.
*Wusss!*
Begitu tetesan darah terakhir menyentuh keping perak keenam, formasi itu aktif seketika.
Kesebelas keping perak berpendar memancarkan cahaya kemerahan. Garis-garis energi tipis merambat di atas lantai kayu, menghubungkan setiap keping perak menuju tungku tanah liat di tengah ruangan. Udara di dalam gubuk tiba-tiba terasa seberat timah.
Lin Chen melangkah masuk ke dalam lingkaran formasi dan duduk bersila tepat di depan tungku.
Batu Roh Tingkat Menengah di dalam tungku mulai bereaksi terhadap tarikan formasi. Permukaan batu yang seputih susu itu perlahan mencair bagai lilin yang dipanaskan. Energi murni di dalamnya tidak meledak keluar dalam bentuk gas, melainkan berubah menjadi tetesan cairan energi kental berwarna putih berkilau yang menggenang di dasar tungku.
Ini adalah Ekstraksi Tetesan Embun. Mengubah energi kasar menjadi cairan murni yang jauh lebih mudah diserap oleh tubuh, sebuah metode yang sangat boros karena banyak energi menguap dalam prosesnya, manfaat akhirnya terhadap meridian tidak ada bandingannya.
Lin Chen memutar *Napas Karang Esensi*. Ia membuka pori-pori kulitnya dan mengarahkan aliran napasnya untuk menarik uap cairan energi tersebut ke dalam tubuhnya.
Sedot tarikan pertama masuk.
Tubuh Lin Chen mengejang hebat. Matanya membelalak lebar, urat-urat nadi di leher dan lengannya menonjol keluar seperti sulur akar pohon.
Rasa sakitnya seribu kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia mengonsumsi Bubur Penguat Otot. Energi cairan dari Batu Roh Tingkat Menengah ini terlalu murni. Begitu memasuki meridiannya, energi itu bertindak bagai pisau bedah panas yang merobek jalur energi secara mikro, membersihkan sisa-sisa kotoran miasma, lalu memaksa dinding meridian memadat kembali.
"Tahan..." geram Lin Chen dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Darah merembes keluar dari pori-pori kulit punggung dan lengannya, bercampur dengan keringat dingin.
Proses peleburan tulang telah dimulai. Energi murni itu meresap menembus jaringan otot, menyusup masuk ke dalam sumsum tulang. Lin Chen merasa seolah tulangnya dikeluarkan dari tubuhnya, dilemparkan ke dalam tungku pandai besi, dihancurkan dengan palu martil, lalu dibentuk ulang menjadi batangan baja.
Tidak ada jalan mundur. Membatalkan formasi di tengah jalan akan menyebabkan energi berbalik menyerang jantungnya. Lin Chen menutup mata rapat-rapat, mengunci kesadarannya di dalam Dantian, menolak kehilangan akal sehat di tengah ombak penyiksaan.
Satu hari berlalu. Gubuk kecil itu tetap terkunci rapat. Cahaya formasi terus berpendar konstan. Napas Lin Chen melemah, berubah menjadi sangat lambat dan panjang, mirip dengan pola hibernasi hewan buas berumur ratusan tahun. Lapisan darah kering kini membungkus seluruh tubuhnya seperti kepompong merah kehitaman.
Dua hari berlalu. Cairan di dalam tungku mulai menyusut separuh. Fluktuasi energi di dalam gubuk itu tidak lagi liar, melainkan berputar mengikuti irama detak jantung Lin Chen. Suara berderak pelan terus terdengar dari dalam tubuh pemuda itu. Tulang-tulangnya mengalami transformasi densitas secara fundamental.
Memasuki malam ketiga, proses ekstraksi mencapai puncaknya. Tetesan cairan energi terakhir menguap, ditarik bersih ke dalam hidung Lin Chen.
Di dalam lautan Dantiannya, lautan Qi yang tadinya bergolak tidak stabil kini telah tenang dan merata. Warnanya memudar dari merah kasar menjadi merah transparan yang memancarkan ketajaman luar biasa. Kapasitas energinya tidak meningkat meluap-luap menuju tingkat empat, struktur fondasinya kokoh tak tergoyahkan.
Krak!
Lingkaran perak di lantai pecah serentak, kehilangan seluruh fungsinya, berubah menjadi serpihan debu tak berharga. Formasi Ekstraksi Tetesan Embun telah selesai.
Lin Chen perlahan membuka matanya.
Layar biru Sistem memberikan notifikasi singkat.
**[Proses Penyerapan Selesai. Fondasi Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tiga Terkonsolidasi Sempurna. Kepadatan Tulang Meningkat.]**
Pemuda itu menghembuskan napas panjang, meniupkan segumpal debu dari lantai di depannya. Ia meregangkan tubuhnya yang kaku. Lapisan kepompong darah kering retak dan berjatuhan ke lantai, memperlihatkan kulit baru yang lebih cerah, sekuat jalinan otot macan tutul.
Lin Chen mengepalkan tinju kanannya. Suara gemeretak tulang terdengar renyah dan bertenaga. Ia dapat merasakan 'Batu Tumbuk' kini memiliki jangkauan penyaluran energi yang jauh lebih efisien. Setiap incinya memancarkan kekuatan fisik murni yang setara dengan hewan iblis.
"Tingkat tiga dengan fondasi padat. Aku siap menyambut siapa pun yang berani mengetuk pintu kematiannya," gumam Lin Chen dingin.
Ia berdiri, menatap ke arah luar jendela gubuk yang menunjukkan langit fajar hari keempat. Perburuan di alam liar telah usai, medan pertempuran sesungguhnya di dalam sekte baru saja dimulai. Fraksi Pedang Darah, Zhao Feng, atau murid pelataran dalam sekalipun; siapa pun yang menghalangi jalannya menuju puncak Tiga Alam, akan ia ubah menjadi batu pijakan yang bersimbah darah.