Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
Sinar matahari pagi pertama setelah kemenangan besar itu terasa hangat, menembus sisa-sisa kabut warna-warni yang masih menggantung tipis di celah-celah gerbang Orizon. Bau belerang dan minyak goreng masih tercium samar, menjadi pengingat bisu betapa "ajaibnya" pertunjukan teater kematian semalam.
Alesia duduk di atas tumpukan peti kayu di halaman benteng, kakinya selonjoran dengan santai. Ia masih mengenakan jubah hitamnya, namun tudungnya sudah dibuka, memperlihatkan rambutnya yang agak acak-acakan. Di sampingnya, Lily sedang sibuk mengumpulkan kain-kain putih yang semalam "terbang" menjadi hantu.
"Gusti, hamba rasa kita harus mencuci kain-kain ini dengan air kembang. Baunya benar-benar seperti telur busuk gara-gara belerang Anda," ucap Lily sambil menutup hidungnya, namun matanya berbinar senang.
Alesia tertawa kecil, ia mengambil sepotong ubi rebus dari piring kecil di sampingnya. "Itu namanya bau kemenangan, Ly. Kalau kagak bau begini, itu jenderal-jenderal koalisi kaga bakal percaya kalau kita ini sarang iblis. Gimana? Anak-anak Mawar aman semua?"
"Aman, Gusti. Mereka semua sedang beristirahat di paviliun bawah. Mereka tidak henti-hentinya menceritakan bagaimana ekspresi wajah para prajurit koalisi saat melihat 'hantu' kami. Mita bahkan bilang ada satu prajurit yang pingsan sebelum pedangnya dicabut," lapor Lily sambil terkikik.
"Bagus. Kasih mereka bonus makanan enak nanti. Mereka udah kerja keras jadi kru film horor dadakan," sahut Alesia.
Tiba-tiba, suara langkah kaki zirah yang berat terdengar mendekat. Magnus berjalan melintasi halaman, diikuti oleh Jenderal Kael yang tampak sedang mencatat sesuatu di gulungan perkamen. Wajah Magnus terlihat lebih cerah, meski ada gurat kelelahan di bawah matanya.
"Masih di sini, Siti? Aku pikir kau sudah kembali ke tempat tidur setelah keributan semalam," tanya Magnus, ia berhenti tepat di depan Alesia.
Alesia mendongak, menyeringai lebar. "Kagak bisa tidur, Bang. Adrenalin gue masih tinggi. Lagian, gue lagi nungguin tagihan janji lu semalam. Inget kan? Pantai Selatan?"
Magnus tersenyum tipis, ia duduk di samping Alesia, mengabaikan protokol bahwa seorang Raja tidak seharusnya duduk di atas peti kayu di depan umum. "Aku tidak pernah lupa janjiku. Kael sedang mengurus administrasi tawanan dan pembersihan jalur perbatasan. Begitu semua selesai siang ini, kita berangkat."
Jenderal Kael membungkuk hormat. "Semua sudah terkendali, Yang Mulia. Para raja koalisi sedang menyusun surat pernyataan damai di bawah pengawasan menteri hukum. Mereka sepertinya benar-benar trauma dengan 'asap ungu' kemarin."
Alesia menyenggol lengan Kael dengan sikunya. "Gimana, Pak Jenderal? Taktik 'Ghaib' gue lebih efektif daripada adu bacok kan? Hemat tenaga, hemat nyawa."
Kael berdehem, wajahnya sedikit merona. "Hamba harus mengakui, Permaisuri... cara Anda berpikir memang sangat... unik. Efisiensi psikologisnya luar biasa. Meski hamba sempat bingung kenapa hamba harus memakai topeng monster perunggu yang pengap itu."
"Itu biar estetik, Kael! Biar horornya dapet!" tawa Alesia pecah.
Magnus menatap istrinya dengan tatapan yang dalam. "Siti, soal tawanan... Raja Selatan meminta agar mereka diperbolehkan pulang segera setelah menandatangani perjanjian. Bagaimana menurutmu?"
Alesia terdiam sejenak, ia mengunyah ubi rebusnya perlahan. "Gini, Bang. Kalau lu lepasin mereka sekarang, mereka bakal pulang dengan cerita kalau Orizon itu sakti mandraguna. Itu bagus buat pertahanan jangka panjang kita. Tapi, jangan kasih pulang cuma-cuma."
"Maksudmu?"
"Suruh mereka bawa bibit tanaman unggul dari kerajaan mereka ke sini. Atau bawa tenaga ahli, misal ahli bangunan atau ahli kain. Kita butuh pembangunan, Bang. Daripada mereka kasih upeti emas yang cuma numpuk di gudang, mending mereka kasih sesuatu yang bisa bikin rakyat kita makin pinter dan maju."
Magnus tertegun, ia menatap Kael yang juga tampak terkejut dengan ide tersebut. "Barter ilmu pengetahuan dan sumber daya alam... kau benar. Itu jauh lebih berharga daripada emas yang bisa habis."
"Iyalah. Emas mah bisa dimaling, ilmu mah nempel terus," sahut Alesia santai.
Magnus mengangguk pada Kael. "Kau dengar itu, Kael? Tambahkan dalam perjanjian. Kita minta bibit gandum dari Selatan dan teknik penenun sutra dari Valerius sebagai syarat kepulangan para jenderal mereka."
"Baik, Yang Mulia. Hamba segera laksanakan," Kael membungkuk lagi dan bergegas pergi.
Setelah Kael pergi, Magnus menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di peti kayu yang sama dengan Alesia. "Terkadang aku lupa kalau kau bukan hanya seorang 'jawara', tapi juga seorang perencana yang cerdik."
"Ah, itu mah standar rakyat jelata di tempat gue, Bang. Kita harus pinter-pinter muter otak biar kagak buntung," Alesia menatap Magnus. "Eh, ngomong-ngomong... tadi pagi gue liat ada burung merpati terbang ke arah Utara. Itu buat Ibu Suri ya?"
Wajah Magnus sedikit meredup. "Ya. Kael sudah mengirim pasukan untuk memindahkan Ibu Suri ke Pulau Sunyi. Tidak ada dendam, Siti. Aku hanya memastikan dia tidak punya panggung lagi untuk bermain sandiwara."
Alesia memegang tangan Magnus, meremasnya lembut. "Gue ngerti, Bang. Emang berat, tapi ini yang terbaik buat semua orang. Biar dia punya waktu buat meditasi atau apalah di sana, siapa tahu dapet hidayah."
Magnus membalas genggaman tangan Alesia. "Terima kasih sudah mengerti. Sekarang, mari kita bicara soal rencana 'Nasi Liwet' itu. Kau bilang mau memasaknya di pantai?"
"Oh, jelas!" mata Alesia berbinar. "Gue butuh panci gede, beras pulen, santan, salam, sereh, sama teri kalau ada. Kalau kaga ada teri, ikan asin lokal juga boleh. Kita makan beralaskan daun pisang di pinggir pantai. Kagak ada piring emas, kagak ada pelayan yang nungguin di belakang. Cuma kita, Lily, dan angin laut."
"Terdengar sangat... damai," bisik Magnus. "Aku bahkan hampir tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan angin laut tanpa memikirkan invasi angkatan laut musuh."
"Makanya, liburan ini wajib! Lu harus refreshing, Bang. Biar gantengnya kaga ketutup sama kerutan mikirin negara mulu."
Lily mendekat dengan wajah ragu-ragu. "Mohon ampun, Gusti... tapi soal daun pisang, hamba rasa kita harus mencari ke kebun belakang istana sebelum berangkat. Apakah Anda butuh banyak?"
"Banyakin aja, Ly! Kita bikin prasmanan gaya lesehan!" Alesia bangkit dari duduknya. "Ayo, Ly! Kita siapin bumbu-bumbu rahasianya dulu. Bang Magnus, lu mandi dulu napa, bau asep tau!"
Magnus tertawa renyah, sebuah suara yang kini semakin sering terdengar sejak Alesia hadir. "Baik, Permaisuriku. Aku akan mandi dan bersiap. Kita berangkat saat matahari tepat di atas kepala."
Alesia berjalan menjauh sambil menarik tangan Lily, meninggalkan Magnus yang masih duduk di atas peti kayu. Magnus memandangi punggung istrinya itu dengan senyum yang tidak hilang-hilang. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Bukan lagi soal mempertahankan takhta dengan darah, tapi membangun masa depan dengan cinta dan... nasi liwet.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii