NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

POV Ghea

Aku mendengar suara ribut di kedai saat aku mencoba membuat reseo menu baru di dapur. seperti suara perempuan berteriak memanggil namaku. Aku segera keluar dan melihat apa yang terjadi.

Tampak seorang perempuan marah-marah. Tiba-tiba rambutku terasa dijambak seseorang.

"Ghea, perempuan tol*l, sial, rendahan, beraninya kamu kasih racun pada anakku! Lihat! Anakku sekarang terbaring di rumah sakit, berjuang hidup karena ulahmu!" ucap perempuan itu sambil memegang rambutku. Aku yang masih terkejut hanya diam sambil menahan rasa sakit di kepala.

"Bu, tenanglah, katakan dengan jelas apa yang terjadi, tak usah ada emosi." Gayo menenangkan wanita itu dan berusaha melepas genggaman erat di kepalaku dibantu Wati dan Reya.

"Hei, bagaimana tak emosi, anakku masuk rumah sakit setelah makan disini dan kalian tak tanggung jawab! Jika tak percaya, kalian DATANG ke rumah sakit, tengok anakku. Aku mau kalian ganti rugi!!!!." katanya dengan emosi yang menggebu.

"Dia anakku tulang punggung keluarga, jika dia mati, bagaimana semua kami bisa hiduuuupp?" wanita itu tersedu.

"Bu, tolong jelaskan dengan terang, kronologinya bagaimana?" tanya Gayo.

"Masih kurang jelas lagi, Ha! Kemarin anakku makan disini, lalu dia kejang, dan sekarang di ICU!! Kamu mau bunuh anakku Ghea? Aku menuntut balas!" Wanita itu tiba-tiba menyerangku lagi. Wajahku terasa perih karena cakaran, juga kepala sakit karena jambakan.

Setelah mendengar perkataan wanita itu, tak ada lagi yang membelaku, mereka takut membantu pembunuh jika ternyata memang aku yang membunuh anak ibu itu.

Tak berapa lama jambakannya berhenti dan diikuti suara "gedebug". Kulihat sosok Ghani di depanku.

"Kami bisa melaporkan tindakan Ibu ke polisi atas tuduhan penganiayaan dan coba tebak siapa yang masuk penjara? Itu Anda!" Ghani mengancam wanita itu.

Wanita itu terdiam.

"Tapi dia mencoba membunuh anakku!"

Ghani menghampiri wanita itu dan jongkok. "Bu, semua bisa dibicarakan dengan baik. Kami tahu perasaan Anda sebagai seorang Ibu, pasti sangat sedih apalagi putra ibu sebagai korban. Kami janji akan mengusut ini dengan tuntas dan seluruh biaya pengobatan putra ibu, akan kami tanggung. " kata Ghani lembut.

Wanita itu terdiam. Aku perlahan menghampiri Wainta itu. "Atas nama manajemen Kedai Raos, kami minta maaf atas kejadian ini Bu, kami berjanji akan mengusut tuntas masalah ini dan biaya pengobatan putra ibu, akan kami tanggung. Kataku lembut sambil menahan perih.

Ibu itu terdiam. Tak lama air matanya keluar. Beliau mengangguk dan berucap lirih "Terima kasih."

Tak lama dia pun pergi.

"Bapak/Ibu mohon maaf atas kesalahpahaman ini, kami mohon Bapak/Ibu untuk bersedia meninggalkan tempat ini dan beberapa hari kedepan kedai ini tutup karena kami akan investigasi menyeluruh." Ghani memberi pengumuman pada pelanggan.

"Kalian segera pulang, tolong untuk dapur jangan dimasuki." Perintah Ghani pada karyawanku.

Akupun hanya berkata dalam hatiku, sebenarnya kedai ini punya siapa, punya Ghani atau punyaku.

"Ghe, sakit?" tanya Ghani tiba-tiba.

"Tidak, hanya perih sedikit." Jawabku.

Dia mengambil anti septik dan mencoba membersihkan lukaku. Aku merasakan deru nafasnya saat dia menotolkan kapas yang sudah mengandung antiseptik di wajahku.

"Sakit?"

"Tidak."

"Kenapa tadi kamu diam saja saat dicakar?" tanyanya saat selesai membersihkan wajahku.

"Aku panik, otakku membeku, jadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."

"Sekarang harus bagaimana?" aku menghela nafas panjang.

"Kita selidiki dulu." kata Ghani.

"Yang pertama amankan CCTV dulu, untuk menghindari ada sabotase CCTV dimatikan. Yang kedua kita ke rumah sakit untuk mencari tahu dia keracunan karena apa, baru kita menentukan langkah selanjutnya." papar Ghani.

Aku segera mengambil laptop dan mengirimkan file rekaman CCTV ke Ghani. Selanjutnya kami menuju rumah sakit untuk memastikan keaadan anak ibu itu.

"Dari hasil pemeriksaan tim medis terhadap Saudara Wela, yang bisa kami sampaikan saat ini adalah kondisi kejang hebat dan gagal napas yang dialaminya kemarin merupakan tanda dari kondisi yang sangat kritis. Berdasarkan observasi klinis di IGD, kami menemukan tanda-tanda spesifik berupa kadar laktat darah yang sangat tinggi serta warna kulit yang kemerahan meski pasien dalam kondisi sesak napas berat." kata dokter yang menangani Wela saat kami sampai di rumah sakit.

"Hasil diagnosis kami menunjukkan bahwa Saudara Wela mengalami keracunan sianida akut. Kami mencurigai racun ini berasal dari hidangan rebung yang ia konsumsi kemarin. Berdasarkan pemaparan orangtua Saudara Wela, Saudara Wela memang suka tumis rebung dan dia mengalami kejang setelah mengkonsumsi tumis rebung yang dibelinya dari sebuah restoran. Rebung mengandung senyawa alami yang jika tidak direbus atau diolah dengan durasi yang tepat, akan melepaskan gas sianida saat masuk ke sistem pencernaan manusia."

"Saat ini Saudara Wela sudah berada di ruang Intensif. Kami telah memberikan suntikan Hydroxocobalamin, yaitu antidot atau penawar racun khusus untuk menetralisir sianida di dalam darahnya. Dia juga telah kami pasangkan alat bantu napas atau ventilator untuk memastikan suplai oksigen ke otaknya tetap terjaga sementara tubuhnya berjuang membuang sisa racun."

"Meskipun kondisinya sempat sangat kritis, kabar baiknya adalah kami berhasil memberikan penawar sebelum terjadi kerusakan organ yang permanen, dan sekarang masa kritis tersebut sudah lewat. Mungkin nanti malam sudah bisa dipindah ke bangsal perawatan biasa." papar dokter.

"Baik dokter terima kasih atas penjelasannya. Kami permisi."

Kamipun pamit dari ruang dokter.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!