NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahta Berdarah

Ruangan CEO yang tadinya tenang mendadak jadi medan perang antara dua aura yang bertolak belakang. Cahaya perak dari tubuh gue beradu sama kabut hitam pekat milik Sakti Langit. Reno yang ada di pojokan langsung pingsan cuma karena tekanan udaranya.

"Lu bilang kekuatan ini milik lu?" gue melangkah maju, setiap pijakan gue bikin lantai marmer itu retak dan terbakar. "Kakek gue bilang, kekuatan nggak punya pemilik. Dia cuma milih siapa yang punya hati buat jagainnya. Dan lu? Lu cuma punya ambisi busuk."

Sakti Langit ketawa halus, tapi matanya dingin banget. "Hati? Hati itu cuma kelemahan, Arka. Liat kakekmu, mati sebagai supir. Liat teman-temanmu, jadi bangkai di gudang. Itu harga dari sebuah 'hati'."

BRAKKK!

Pintu ruangan hancur berkeping-keping. Leo melesat masuk dengan gaya parkour, menembakkan dua pistol peraknya secara bersamaan. Peluru-peluru itu nggak ngincer jantung Sakti, tapi ngebentuk pola melingkar di sekelilingnya—sebuah disruptor energi buatan tim Serigala Putih.

"Sori telat, Tuan Muda! Lift-nya beneran macet, gue terpaksa panjat dinding luar pake suction cup!" teriak Leo sambil mendarat dengan mulus di atas meja kerja. "Wuih, kakek-kakek ini skin care-nya apa ya? Mukanya mulus bener kayak pantat bayi."

Di saat yang sama, bayangan merah melintas di atas plafon. Hana muncul kayak hantu, jatuh dari kegelapan dengan dua sabit yang udah membara karena gesekan tenaga dalamnya.

"Sakti Langit..." suara Hana rendah, penuh dendam. "Ini buat Kian!"

Hana menyerang secepat kilat. Sabitnya mengincar leher Sakti. Tapi dengan gerakan malas, Sakti cuma ngangkat satu jari. Ting! Sabit Hana tertahan oleh perisai transparan yang kerasnya melebihi berlian.

"Anak buah Kian?" Sakti natep Hana datar. "Kian itu murid yang gagal. Terlalu banyak perasaan. Sama kayak kamu."

Sakti mengibaskan tangannya, menciptakan gelombang gravitasi yang melempar Hana dan Leo ke arah dinding. Gue nggak tinggal diam. Gue kumpulin semua energi naga di tangan kanan gue, membentuk tombak cahaya yang jauh lebih padat dari sebelumnya.

"Jangan sentuh mereka!"

Gue melesat, tombak gue beradu langsung sama sabit energi gelap Sakti Langit.

BOOOOOM!!!

Ledakan energinya bikin seluruh kaca di lantai 100 itu pecah berkeping-keping. Angin malam Jakarta langsung masuk dengan beringas. Di tengah debu yang beterbangan, gue liat Sakti Langit masih berdiri tegak, tapi topengnya yang tadi dia pegang hancur jadi abu.

"Menarik," bisik Sakti. Dia natep telapak tangannya yang sedikit menghitam karena luka bakar dari energi naga gue. "Ternyata lonceng tua itu beneran bisa bikin naga kecil ini punya taring."

Gue terengah-engah. Nafas gue panas. "Ini baru permulaan, Kakek Tua."

Leo bangkit, benerin koat putihnya yang udah robek di bagian bahu. Dia ngeluarin sebuah tabung kecil dari sakunya. "Tuan Muda, Hana... jangan kasih dia celah buat jentikin jari lagi. Gue bakal pasang Jammer frekuensi jiwa. Dia nggak bakal bisa pake teknik penyegel selama alat ini nyala!"

Leo ngelempar tabung itu ke tengah ruangan. Alat itu muter dan ngeluarin suara frekuensi tinggi yang bikin telinga berdenging. Gue ngerasa tenaga dalam gue jadi makin liar, tapi Sakti Langit kelihatan sedikit terganggu. Gerakannya jadi nggak se-elegan tadi.

"Hana, sekarang!" teriak gue.

Kami bertiga maju barengan. Gue sebagai tameng di depan, Hana nyerang dari titik buta bawah, dan Leo nembak dari sudut-sudut yang nggak terduga. Ini adalah koordinasi antara kekuatan naga, teknik pembunuh, dan teknologi elit.

"Nadia ada di balik pintu baja itu, Arka!" Leo teriak sambil nembak pilar di belakang Sakti. "Ambil kuncinya dari leher kakek itu!"

Gue liat sebuah kalung dengan kunci perak kecil di leher Sakti Langit. Itu kunci ruangan Nadia. Amarah gue makin meledak. Malam ini, entah gue yang mati atau sejarah Naga Selatan yang berakhir di sini.

Sakti Langit mendecih. Frekuensi dari alat Leo sepertinya bener-bener bikin dia risih. Wajah mulusnya mulai berkerut, dan aura hitam di sekelilingnya bergolak kayak oli panas.

​"Kalian pikir teknologi mainan dan dendam anak kecil bisa menghentikan keabadian?" Sakti menggeram.

​Tiba-tiba, dia merobek jubahnya. Di dadanya, ada lubang hitam kecil yang berdenyut—sebuah jantung buatan dari energi murni. Dia nggak nunggu lagi, dia langsung melesat ke arah Leo. Dia tau Leo adalah otak di balik gangguan ini.

​"Leo, awas!" teriak gue.

​BUKK!

​Leo nggak sempat menghindar sepenuhnya. Dia gunain kedua pistolnya buat nangkis pukulan Sakti, tapi kekuatannya terlalu gila. Pistol perak kesayangan Leo hancur berkeping-keping, dan tubuhnya terpental menghantam brankas besi di pojok ruangan sampai penyok.

​"Uhuk! Gila... itu tangan atau mesin giling?" Leo terbatuk darah, tapi dia masih sempet nyengir sambil mencet tombol di jam tangannya. "Hana... sekarang atau nggak sama sekali!"

​Di saat perhatian Sakti teralih ke Leo, Hana muncul dari bayangan plafon seperti predator. Dia nggak pake suara, nggak pake teriakan. Dia jatuh tepat di punggung Sakti, sabitnya melilit leher kakek itu.

​SRET!

​Darah hitam kental muncrat dari leher Sakti. Tapi dia nggak mati. Dia malah ketawa mengerikan. Dia pegang tangan Hana, lalu membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang bikin ubin marmer hancur.

​"Hana!"

​Gue nggak bisa nahan diri lagi. Gue kumpulin semua sisa energi naga gue. Tanah di lantai 100 itu bergetar hebat sampai gedung Atmaja miring beberapa derajat. Naga perak di punggung gue seolah keluar dari kulit, membentuk bayangan raksasa yang menembus atap gedung.

​"Sakti Langit! Lihat gue!"

​Gue melesat dengan kecepatan yang bikin udara di sekitar gue terbakar. Gue nggak pake tombak lagi. Gue gunain tangan kosong gue yang udah diselimuti sisik naga perak.

​BOOOOOM!!!

​Pukulan gue telak menghantam jantung hitam di dadanya. Sakti Langit terdorong mundur, menabrak tembok baja ruang penyekapan Nadia. Gue nggak kasih dia nafas. Gue hujani dia dengan ratusan pukulan beruntun yang kecepatannya melebihi mata manusia.

​"Ini buat Baron!" Bugh!

"Ini buat Kian!" Bugh!

"Dan ini buat setiap air mata Nadia!" PLAKKK!

​Satu pukulan terakhir gue arahkan tepat ke wajahnya. Topeng kulit manusianya robek, nunjukin wajah asli yang udah membusuk—dia emang udah mati seratus tahun lalu, cuma energi naga yang bikin dia tetep 'utuh'.

​Sakti terkapar, nafasnya tersengal-sengal hitam. Gue tarik kunci perak dari lehernya dengan kasar.

​"Gue... akan kembali... reinkarnasi nggak akan berhenti..." rintihnya.

​"Kalau gitu, gue bakal tunggu lu di setiap kehidupan, dan gue bakal hancurin lu lagi," jawab gue dingin. Gue injak jantung hitamnya sampai hancur berkeping-keping.

​Seketika, tubuh Sakti Langit hancur jadi abu hitam yang terbang kebawa angin malam Jakarta. Suasana mendadak sunyi. Alat jammer Leo berhenti berdenging.

​Gue lari ke arah pintu baja itu. Dengan tangan gemeteran, gue masukin kuncinya.

​KLIK.

​Pintu terbuka. Di sana, Nadia duduk terikat di kursi. Begitu dia liat gue, matanya yang sembab langsung penuh harapan. Gue buka ikatannya, dan dia langsung ambruk di pelukan gue, nangis sejadi-jadinya.

​"Arka... aku takut banget..." bisiknya sesenggukan.

​"Semuanya udah berakhir, Nad. Kita pulang," ucap gue sambil ngelus rambutnya.

​Gue nengok ke belakang. Leo lagi duduk nyender di brankas sambil dengerin lagu dari earphone-nya yang masih selamat, mukanya berdarah tapi tetep sok ganteng. Hana berdiri di pinggir gedung yang udah nggak ada kacanya, natap langit malam, mungkin lagi 'ngobrol' sama Kian di sana.

​Gue nunduk, liat tangan gue yang masih gemeteran. Dendam sudah lunas, tapi luka di hati karena kehilangan Baron dan Kian nggak akan pernah bener-bener sembuh. Tapi setidaknya, Naga Utara sudah memastikan... nggak akan ada lagi bayangan yang ganggu rumah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!