black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu Arini
" ada apa ini....." ucap sang menejer.
" aku tidak mau tau kamu harus pecat orang ini..." ujar Nara dengan nada perintah.
" Arini ada apa kamu baru bekerja sudah bikin masalah." ujar menejer.
" menejer, aku melakukan pelayanan dengan baik dan benar, nona ini (A) yang pertama melihat produk ini, tapi kemudian nona ini (Nara ) datang dan merebut produk yang nona ini (A) pilih." ujar pelayan itu
" jika barang itu aku mau tidak peduli siapapun harus memberikannya padaku...." ujar Nara.
" menejer aku mau kamu pecat pelayan ini dan aku bayar barang ini dua kali lipat." ujar Nara.
" Arini sekarang kamu berhenti bekerja, kamu di pecat pergi ke bagian HRD untuk mengambil sisa gaji kamu." ujar sang menejer.
" tapi menejer, tolong jangan pecat aku aku sangat membutuhkan uang ini...." ujar Arini.
" itu bukan urusanku.... Nona sekarang barang ini menjadi milikmu mari kita ke kasir untuk lakukan pembayaran maaf atas ketidak nyamanan ini." ujar sang menejer.
" tau kan akibatnya jika melawan ku, rasakan....." ucap Nara lalu pergi.
dari kejauhan dua sosok sedang memperhatikan kejadian itu yaitu Wira dan ayu.
" ay itu kan Nara....." ujar Wira.
" iya aku lihat juga itu memang Nara ." jawab ayu.
" apa dia selalu memprovokasi membuat keributan di mana saja dia berada." ujar Wira.
" aku tidak tau." ujar ayu yang juga tidak mengerti dengan sikap nara yang tidak masuk akal.
" jadi tidak beli tasnya." tanya Wira karena kebetulan tas itu juga ada toko yang sama.
" aku sudah tidak tertarik lagi dengan tas itu." ujar ayu.
" lalu...." tanya Wira.
" aku lebih tertarik pada pelayan yang di pecat itu." ujar ayu.
" ay... Suamimu ini masih pejantan tangguh dan kamu tidak lihat pelayan itu juga seorang wanita...." ujar Wira yang tidak mengerti maksud sebenarnya dari ayu.
" apasih yang kamu bicarakan, aku lihat pelayan itu sangat profesional dan jujur, mengingat saran suami untuk aku mencari teman di toko, aku jadi tertarik merekrut pelayan itu untuk bekerja dengan ku." ujar ayu.
" ah... Mata istriku sangat tajam, mengambil berlian yang di buang oleh orang buta. Sungguh tindakan heroik sekaligus menguntungkan." ujar Wira.
" kita tunggu sampai pelayan itu keluar." ujar ayu.
" um...." angguk Wira.
Selang beberapa menit pelayan wanita itu pun keluar dari toko dengan keadaan sedih, ayu yang sudah menunggu langsung datang menghampiri pelayan wanita itu.
" bisa mengobrol sebentar....." ujar ayu bersama Wira yang mengekor di belakang ayu.
" oh eh maaf siapa ya... apa kita saling kenal." ujar pelayan wanita itu.
" kita tidak saling kenal, dan baru pertama bertemu, jadi bagai mana apa kita bisa mengobrol sebentar." ujar ayu.
" boleh, tapi di mana...." ucap pelayan wanita itu ragu dan takut. ayu melihat sekitarnya dan menemukan kafe terdekat.
" di sana ....." ujar ayu, pelayan itu hanya setuju dan Wira Hanga ikut saja.
" kenalin aku Ayu, ini suami aku Wira dan ini anak aku Sasa. Aku sudah melihat kejadian tadi, dan aku sangat suka dengan sifat dan sikap kamu yang profesional." ujar ayu.
" siapa nama kamu...." ujar ayu lagi.
" Arini...." jawab gugup dan ragu Arini.
" nama yang bagus dan selalu membawa keberuntungan, aku ingin menawari mu bekerja di tempatku bagai mana." ujar ayu.
Arini yang masih kebingungan dengan semuanya menjadi gagu dan tidak tau dengan keadaan sekarang yang sedang terjadi.
" Arini...hey bagai mana." ujar ayu.
" maksudnya aku bekerja dengan kak ayu gitu." ujar Arini menjawab sekenanya aja tanpa berpikir.
" iya kamu kerja sama aku, aku memiliki toko perhiasan dan tak lama lagi itu akan segera di buka, aku butuh seseorang untuk membantuku nanti...." jawab ayu.
" aaaa eee iiii tunggu kak, Kaka pilih aku buat kerja sama kakak." tanya Arini.
" iya...." jawab ayu.
" kita baru ketemu dan belum kenal juga, Kaka jangan bercanda." ujar Arini.
" memang ini terlalu mendadak tapi ini aku serius ingin menawari mu pekerjaan." ujar ayu.
" kak aku ini orang berpendidikan rendah dan tidak mengerti tentang perhiasan mengapa kakak tidak cari orang lain saja." ujar Arini.
" namamu Arini kan, aku tidak akan banyak bicara, mata dan penilaian istriku pada seseorang tidak pernah salah, jika dia memilih kamu itu karena kamu pantas, sekarang kamu katakan saja mau atau tidak bekerja pada istri ku." ujar Wira to the point.
Arini yang mendengar kan Wira seperti di dorong ke sudut dengan ruang kecil untuk memilih dua pilihan tidak bisa menawar.
" ini... Baik lah karena aku memang butuh pekerjaan aku terima pekerjaan ini." ujar Arini ragu tapi juga tidak bisa menolak tawaran terbuka dari orang.
" bagus...., ayo tambahkan kontak mu." ujar ayu.
" babababa ik...." ujar Arini dengan ragu menunjukkan ponsel dengan layar yang sudah bergaris di sana sini, mungkin ini lah yang di katakan ponsel perjuangan.
" ini ponsel kamu....." ujar ayu.
" iya kak...." jawab Arini malu.
" kita beli ponsel dulu baru setelah itu tambahkan kontak mu " ujar ayu.
" eeeeh.... Kak mau kemana, ponselku masih bisa digunakan aku tidak perlu ponsel baru....." ujar Arini tapi ayu tidak mendengarkannya dan terus membawa Arini.
Ayu membawa Arini ke toko ponsel yang cukup besar di dalam mall itu Wira hanya setia mengikuti ayu.
" ay... Aku di sana ya kamu sama Arini pilih ponsel aja." ujar Wira
" iya... tunggu aku sebentar." ujar ayu.
Kini hanya ada ayu dan Arini di depan lemari kaca yang di dalamnya berbaris deretan ponsel terbaik.
" ada yang bisa kami bantu...." sambut ramah pelayan.
" sebentar ya...., Arini kamu pilih satu ponsel yang kamu mau cepet." ujar ayu.
" tapi kak ponselku masih bisa di gunakan." ujar Arini merasa sungkanan belum apa apa sudah ponsel baru.
" udah ini ponsel untuk pekerjaan ponsel lama kamu terserah mau kamu apain." ujar ayu.
" tapi kak...." ujar Arini masih tak enak hati.
" tolong bawakan tiga ponsel terbaik....." ujar ayu.
" baik mohon tunggu sebentar." ujar pelayan.
" kak aku ambil yang paling murah aja." ujar Arini.
" udah diam saja biar aku yang pilih." ucap ayu.
" silahkan ini ponsel terbaik di toko kami saat ini." ujar pelayan.
" ayo kamu pilih satu." ujar ayu.
" kak ini serius....." ujar Arini.
" iya serius... Udah cepet pilih...." ujar ayu.
" baik.... Aku pilih yang ini saja...." ujar Arini.
" kamu ambil yang ini, tolong ya." ujar ayu menyerahkan kartu Bank miliknya.
" baik tunggu sebentar." ujar pelayan itu.
Tak butuh waktu lama transaksi berhasil dan ayu meminta Arini untuk langsung aktifasi ponselnya dan memindah akun di ponsel lamanya ke ponsel baru serta mendownload beberapa aplikasi yang di butuhkan.
" sudah kak...." ujar Arini.
" sekarang tambahkan kontak mu." ujar ayu mengarahkan ponselnya ke ponsel Arini.
" bagus... Sudah selesai." ujar ayu.
" Kak terimakasih ya...." ujar Arini.
" sudah sudah...., Arini mulai hari ini kamu sudah resmi bekerja denganku, sekarang kamu katakan kamu minta gaji berapa." ujar ayu.
" eh kan tokonya masih belum buka kak." ujar Arini.
tapi tambah dikit
dan buatlah rumah mu sebagai tempat berteduh paling nyaman bagi suamimu yang balik dari rasa lelah nya