Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dideportasi ke Pangkuan Iblis
Pulau Manado Tua. Pelabuhan kecil.
Florence baru tiga hari menginjakkan kaki di pulau ini. Ia tidur di masjid, siang hari membantu membersihkan dermaga untuk mendapatkan makan. Ia tidak punya identitas, tidak punya tujuan, hanya punya tekad: menjauh sejauh mungkin dari Bira Tengah, menjauh sejauh mungkin dari dia.
Namun, tekad tidak bisa melawan sistem.
Siang itu, razia gabungan Imigrasi dan Kepolisian menyisir pelabuhan. Mereka mencari pekerja asing tanpa dokumen, menyelidiki laporan tentang sindikat perdagangan orang.
Florence, dengan wajah pucat, rambut coklat yang asing, dan logat bicara yang tidak sepenuhnya lokal, langsung menjadi target.
“Nama. KTP. Paspor.” Petugas itu berbicara dengan nada datar.
Florence gemetar. “Saya... saya tidak punya, Pak. Saya...”
“Tidak punya dokumen berarti imigran ilegal,” potong petugas itu. “Bawa.”
Ia mencoba menjelaskan. Tentang kabur, tentang dikejar, tentang Kakek Samin. Namun, ceritanya terdengar seperti dongeng bagi telinga aparat. Seorang gadis tanpa identitas, tanpa keluarga, ditemukan di pulau terpencil. Prosedur standar harus dijalankan.
Ia digiring ke kantor imigrasi di Manado. Di sana, sidik jarinya diambil. Data wajahnya dipindai.
Dan di sanalah masalahnya dimulai.
Data Florence Beatrix tidak ada di catatan sipil Indonesia. Namanya asing. Wajahnya asing. Namun, sistem pencocokan data global yang baru menemukan satu kecocokan.
Florence Beatrix. Lahir di New York, Amerika Serikat. Status: Dilaporkan hilang oleh Suster Maria O’Connell dari Panti Asuhan St. Agnes, Brooklyn, Empat bulan yang lalu. Kewarganegaraan: Amerika Serikat.
Florence menatap layar komputer itu dengan mata kosong. Ia kabur dari Amerika karena dijebak. Ia kabur dari Lucifer karena disiksa. Sekarang, negara ini akan memulangkannya ke Amerika. Ke negara yang sama dengan Lucifer.
Ke neraka yang sama.
“Tidak... Pak, saya tidak bisa pulang,” bisiknya, suaranya tercekat. “Kalau saya pulang... saya mati.”
Petugas itu menatapnya iba, tetapi tangannya terikat prosedur. “Maaf, Bu. Sesuai hukum internasional, kami wajib memulangkan Anda ke negara asal Anda. Anda warga negara Amerika. Di sana Anda akan aman. Anda bisa melapor ke polisi di sana jika Anda merasa terancam.”
Melapor ke polisi. Florence ingin tertawa. Melaporkan Lucifer Azrael ke polisi? Sama saja dengan menyerahkan diri langsung ke algojo.
Ia tidak punya pilihan. Ia bukan warga negara Indonesia. Ia tidak bisa meminta suaka karena tidak ada bukti ancaman yang konkret di mata hukum. Ia hanya seorang gadis tanpa paspor.
Tiga hari kemudian, dengan pengawalan dua petugas imigrasi, Florence dinaikkan ke pesawat komersial. Rute Manado – Jakarta – Doha – New York. JFK International Airport.
Selama tiga belas jam penerbangan, Florence tidak tidur. Ia menatap jendela, melihat awan, melihat samudra yang luas. Setiap kilometer yang ditempuh pesawat adalah satu kilometer yang mendekatkannya kembali ke Lucifer.
Ia menggenggam salib kayu, Satu-satunya benda yang ia miliki. Satu-satunya doa yang ia punya.
Tuhan... kalau Engkau memang ada... kenapa Engkau kirim aku balik ke dia?
---
JFK International Airport, New York. Gerbang Kedatangan.
Florence melangkah keluar dengan kaki yang terasa seperti timah. Rambutnya kusut. Bajunya adalah baju pemberian Nenek Darmi yang sudah lusuh. Ia terlihat seperti gelandangan, bukan seperti warga negara Amerika yang pulang kampung.
Dua petugas imigrasi Amerika menyambutnya. Mereka berbicara dengan nada ramah, menanyakan apakah ia butuh menghubungi keluarganya, menanyakan apakah ia butuh bantuan psikolog.
Florence hanya menggeleng. Keluarga? Ia tidak punya. Bantuan? Tidak ada yang bisa membantunya dari Lucifer.
Setelah semua proses administrasi selesai, ia dilepaskan. Bebas. Di tengah bandara terbesar di Amerika. Sendirian. Tanpa uang. Tanpa tempat tujuan.
Ia berjalan keluar gedung bandara. Udara New York di bulan Oktober menusuk kulit. Dingin. Berbeda dengan hangatnya Pulau Bira Tengah.
Ia berdiri di trotoar, melihat lautan taksi kuning. Ia tidak punya tujuan. Panti Asuhan St. Agnes? Lucifer pasti sudah mengawasi tempat itu. Kakek Samin? Terlalu jauh. Ia benar-benar sendiri.
Dan di saat itulah, ia merasakannya lagi. Rasa gatal di tengkuk. Perasaan diawasi.
Ia menoleh secara perlahan. Di seberang jalan, terparkir sebuah SUV hitam dengan kaca film gelap. Jenis mobil yang sama dengan yang sering menjemputnya di pulau neraka dulu.
Jantung Florence berhenti berdetak.
Kaca mobil itu turun perlahan, hanya sedikit. Cukup untuk memperlihatkan sepasang mata biru. Dingin. Tajam. Dan saat itu, sedetik, sorotnya melunak saat menatap Florence.
Tidak ada senyum. Tidak ada kata. Hanya tatapan.
Lucifer.
Dia tidak perlu menyisir Manado Tua. Dia tidak perlu membakar pulau. Dia hanya perlu menunggu di rumahnya. Karena cepat atau lambat, dunia akan memuntahkan Florence kembali kepadanya.
Sistem. Hukum. Prosedur. Semuanya bersekongkol untuk mengembalikan mawar layu itu ke pemiliknya.
Pintu SUV itu terbuka. Lucifer keluar. Ia masih mengenakan kemeja hitam, sama seperti saat ia mengintai di Bira Tengah. Ia berjalan menyeberang, tidak peduli dengan lalu lintas yang membunyikan klakson. Matanya tidak lepas dari Florence.
Florence ingin lari. Kakinya ingin bergerak. Tetapi ia tidak bisa. Dua bulan ia kabur. Dua bulan ia bertahan. Dan sekarang, semua usahanya hancur dalam sekejap oleh selembar dokumen deportasi.
Lucifer berhenti satu meter di depannya. Ia menatap Florence dari atas ke bawah. Rambut kusut. Baju lusuh. Wajah pucat dan ketakutan. Hancur. Lebih hancur dari saat ia tinggalkan di pulau.
Namun, di mata Lucifer, Florence tetap Florence. Malaikat tanpa sayap yang bahkan bandara sebesar JFK tidak bisa menyembunyikannya.
“Pulang,” hanya itu yang Lucifer katakan. Suaranya rendah. Bukan perintah. Bukan juga permintaan. Lebih seperti fakta. Seperti menyatakan bahwa matahari terbit dari timur.
Florence ingin membantah. Ingin berteriak. Ingin mengatakan aku bukan milikmu. Namun, yang keluar dari bibirnya hanya satu kalimat, lirih, hancur, kalah.
“Ke mana?”
Lucifer tidak menjawab dengan kata. Ia hanya membuka pintu SUV-nya. Mengundang. Atau memaksa. Tidak ada bedanya.
Di dalam mobil, penghangat menyala. Hangat. Sama hangatnya dengan neraka.
Florence masuk. Karena ia tidak punya pilihan lain. Karena di negara seluas ini, hanya ada satu orang yang mencarinya. Dan orang itu adalah iblisnya.
Pesawat membawanya pulang. Bukan ke rumah. Bukan ke panti. Melainkan ke kandang.
---