Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 27_Kegaduhan ditengah Malam
Arumi mengambil uang itu dengan tangan gemetar, ia tidak melihat nilainya, ia melihat pengorbanan di balik keringat suaminya.
Ia menarik Adrian masuk, menyuruhnya duduk, dan segera mengambil air hangat untuk membasuh luka di bahu suaminya.
"Kenapa kamu lakukan ini, Adrian? Kamu bisa saja menelepon Hendra sekarang dan kita bisa tidur di kasur empuk." bisik Arumi sambil mengoleskan obat pada luka lecet Adrian.
Adrian meringis saat obat itu menyentuh kulitnya, namun ia tersenyum.
"Karena tidur di kasur empuk dengan rahasia di antara kita rasanya jauh lebih menyakitkan daripada luka ini, Arumi. Aku ingin kau melihat bahwa tanpa nama Arkadia, aku tetaplah pria yang akan berjuang untuk memberimu makan." seru Adrian.
Arumi terdiam, ia memeluk Adrian dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung yang terluka itu.
"Aku juga gagal hari ini, tidak ada yang mau memakai jasaku karena aku tinggal di sini." ucapnya.
"Jangan menyerah," kata Adrian ambil memegang tangan Arumi.
"Kalau mereka tidak mau memberimu proyek dan kita akan ciptakan proyek sendiri, besok aku dengar pemilik toko material tempatku bekerja butuh renovasi kantor kecilnya. Aku akan coba tawarkan namamu padanya. Dia orang jujur, dia tidak peduli di mana kau tinggal, yang dia peduli hanyalah apakah kerjamu bagus."
Namun, tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam terparkir di ujung gang sejak sore tadi.
Di dalamnya Hendra memperhatikan mereka dengan teropong, ia merasa tidak tega melihat tuannya diperlakukan seperti itu, namun ia memiliki perintah mutlak dari Kakek Haris yaitu "jangan campuri ujian mereka kecuali nyawa Adrian terancam."
Tiba-tiba, ponsel Hendra berbunyi dan itu adalah laporan dari tim intelijen di Jakarta.
"Tuan Hendra, Siska telah dibebaskan dari hotel Pak Surya oleh seseorang bernama Romi dn dia adalah mantan direktur Arkadia yang dipecat Tuan Adrian karena korupsi. Mereka sepertinya sedang menuju ke arah kediaman Tuan Muda di gang ini." ucap timnya.
Hendra menegang. "Siapkan tim. Jangan biarkan mereka mendekat. Tapi ingat, jangan sampai Tuan Muda tahu kita ada di sini."
Di dalam rumah petak itu Adrian dan Arumi berbagi sebungkus nasi rames dalam kedamaian yang rapuh.
Mereka tidak tahu bahwa Siska dengan rasa dendam yang sudah mencapai ubun-ubun, sedang bersiap untuk membakar kebahagiaan baru mereka.
Siska tahu Adrian adalah orang kaya yang menyamar, dan ia berniat mengungkapnya dengan cara yang paling memalukan di depan seluruh warga gang agar Arumi merasa semakin terhina.
"Tunggu saja Kakakku yang suci," gumam Siska di dalam mobil Romi yang melaju kencang.
"Malam ini, aku akan merobek topeng suamimu di depan semua tetangga miskinmu ini." serunya dengan kebencian yng begitu besar.
Malam semakin larut, dan di tengah kesunyian gang, langkah kaki penuh kebencian mulai mendekati pintu kontrakan nomor 4.
Perjuangan Adrian dan Arumi baru saja dimulai, dan kali ini, musuh mereka bukan lagi soal uang, melainkan soal harga diri yang dipertaruhkan di depan umum.
...****************...
Malam di gang sempit itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Suara TV dari rumah sebelah, tangisan bayi, dan aroma selokan yang menguap karena sisa panas matahari menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi siapa pun yang terbiasa dengan kemewahan.
Di dalam kontrakan nomor 4, Arumi baru saja selesai membalut bahu Adrian yang lecet.
Mereka duduk berdampingan di atas tikar pandan, membagi sisa air putih dalam gelas plastik.
"Mas, besok tidak usah memaksakan diri kalau bahumu masih perih," ucap Arumi lembut, jarinya mengusap pelan kulit di sekitar luka suaminya.
Adrian menggeleng, menatap Arumi dengan binar mata yang tetap tajam meski tubuhnya sangat letih.
"Luka ini hanya sementara, Arumi. Kepercayaanmu padaku jauh lebih penting. Besok aku akan tetap berangkat. Aku ingin mengumpulkan uang untuk membeli meja gambar yang lebih layak untukmu." ucap Adrian.
Baru saja Arumi hendak menjawab, keheningan mereka pecah oleh suara deru mobil yang berhenti mendadak di ujung gang yaitu suatu hal yang langka terjadi di lingkungan itu.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang angkuh dan teriakan yang melengking membelah malam.
"Arumi! Keluar kau, Kakakku yang malang!"
Arumi tersentak, ia sangat mengenali suara itu, itu adalah suara Siska.
Namun, nada suaranya kini tidak lagi memelas seperti saat ia diusir dari rumah tapi suaranya penuh dengan kemenangan dan kebencian yang meluap.
Adrian segera berdiri, meski punggungnya terasa kaku, ia menahan tangan Arumi yang hendak membuka pintu.
"Biar aku yang hadapi," bisik Adrian.
Begitu pintu kayu itu terbuka, cahaya senter dari ponsel beberapa orang langsung menyorot wajah Adrian.
Di depan pintu, Siska berdiri dengan gaun merah yang mencolok, sangat kontras dengan lingkungan kumuh di sekitarnya.
Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya bernama Romi, pria yang dikenali Adrian sebagai mantan direktur yang ia pecat karena kasus penggelapan dana.
Beberapa tetangga mulai keluar dari rumah mereka, penasaran dengan keributan yang terjadi.
"Lihat ini, semuanya!" seru Siska sambil menunjuk ke arah Adrian dan Arumi yang kini berdiri di ambang pintu.
"Kalian lihat pria ini? Namanya Ian, kan? Kuli bangunan yang baru pindah ke sini?" serunya lagi.
Warga gang saling berbisik. "Iya, itu Si Ian yang tadi kerja di proyek ruko," sahut salah satu warga.
Siska tertawa sinis, wajahnya mendekat ke arah Arumi.
"Kak, kau benar-benar menyedihkan. Kau pikir kau sedang menjalani kisah cinta yang romantis dengan tinggal di tempat sampah ini? Kau tahu siapa suamimu ini sebenarnya?"
Arumi menegang, tangannya mengepal, ia melirik Adrian yang tetap berdiri tenang dengan wajah yang tertutup debu proyek.
"Dia bukan kuli panggul biasa, Arumi!" Siska berteriak agar semua tetangga mendengar.
"Dia ini Adrian Arkadia! Pemilik Arkadia Group! Dia pria paling kaya di negeri ini yang sedang menjadikanmu sebagai kelinci percobaan! Dia sedang menonton kalian semua seperti menonton binatang di kebun binatang!"
Suasana menjadi riuh, warga mulai berteriak kaget, ada yang tertawa mengejek, ada yang menatap sinis.
"Ah, tidak mungkin!" teriak seorang warga.
"Mana ada orang kaya mau angkut semen sampai bahunya lecet begitu? Siska, kau pasti mabuk ya?" ucap salah satu warga.
Romi melangkah maju, menatap Adrian dengan kebencian yang mendalam.
"Dia benar warga sekalian, dan saya adalah mantan karyawannya. Pria ini sangat kejam. Dia memecat orang seenaknya dan sekarang dia sedang berpura-pura miskin untuk mendapatkan simpati dari wanita bodoh ini. Lihat wajahnya baik-baik, bukankah dia mirip dengan foto-foto di koran?"
Adrian merasakan darahnya mendidih, bukan karena identitasnya dibongkar, melainkan karena mereka mempermalukan Arumi di depan publik.
Namun, ia tidak boleh menggunakan identitas aslinya sekarang, ia telah berjanji pada Arumi untuk tidak menyentuh kekuatan Arkadia selama tiga bulan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡