Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Langit siang di atas mansion keluarga Vane terlihat cerah.
Terlalu cerah.
Dan pengalaman hidup Cain mengatakan satu hal penting.
Kalau suasana terlalu tenang… berarti sebentar lagi hidupnya akan hancur lagi.
"…Aku ingin cuti."
Edgar yang duduk di sebelahnya langsung mengangguk dengan mata kosong. "Aku juga."
Cedric yang berada di depan mereka bahkan tidak mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. "Aku ingin tidur selama tiga hari."
Hening penuh penderitaan memenuhi ruang kerja sementara itu.
Tiga pria tampan berpakaian formal sekarang terlihat seperti korban sistem kerja kerajaan yang gagal total.
Dan penyebabnya sangat sederhana yaitu majikan mereka.
TOK.
Pintu ruangan terbuka. Valdis masuk sambil membawa teh santai.
DEG.
Ketiga asisten itu langsung refleks duduk tegak.
Raja Arcadia mengangkat alis kecil melihat suasana ruangan. "Kenapa wajah kalian seperti veteran perang?"
Cain menjawab datar, "…Karena kami memang veteran perang administrasi."
"Ah."
Valdis duduk santai di sofa sambil menikmati teh. Sama sekali tidak merasa bersalah. Padahal penyebab utama tambahan pekerjaan mereka saat ini… ya dirinya sendiri.
Karena Raja kerajaan Arcadia itu memanggil Cassius, Silas, dan Zevian ke mansion Vane dengan alasan rapat penting.
Namun setelah datang…beliau malah ikut menetap.
DEG.
Edgar perlahan memijat pelipis. "Yang Mulia…"
"Hm?"
"Bukankah seharusnya Anda kembali ke istana?"
Valdis meminum tehnya elegan. "Aku sedang mengawasi situasi."
Cain menatap kosong ke depan. "Situasi teh sore hari?"
"Itu juga penting."
Cedric sekarang benar-benar ingin resign.
Namun sebelum trio korban majikan itu bisa mengalami kehancuran mental lebih jauh…
TOK.
Pintu ruangan terbuka lagi. Kali ini Cassius masuk bersama Silas dan Zevian.
Dan atmosfer ruangan langsung berubah.
Aura para monster kerajaan Arcadia benar-benar berbeda.
Tenang.
Berat.
Mengintimidasi.
Valdis perlahan menurunkan cangkir tehnya. "Kita mulai."
Hening langsung memenuhi ruangan.
Cain buru-buru menyerahkan beberapa laporan.
"Retakan abyss di wilayah utara meningkat dua kali lipat dibanding bulan lalu."
Silas menerima dokumen itu sambil membaca cepat.
Cedric melanjutkan datar, "Night Vanguard juga menemukan beberapa monster tingkat tinggi bergerak mendekati area manusia."
Cassius menyipitkan mata tipis. "…Mereka mulai aktif lebih cepat."
Valdis mengangguk kecil. "Dan bukan hanya monster."
Cain menyerahkan laporan lain. "Beberapa desa menemukan simbol pengikut Lilith."
DEG.
Suasana langsung berubah lebih dingin.
Edgar perlahan menelan ludah kecil.
Karena bahkan bagi mereka… nama itu tetap menyeramkan.
Lilith.
Ratu abyss.
Makhluk yang hampir menghancurkan dunia bertahun-tahun lalu.
Valdis membuka laporan terakhir perlahan.
"Dan rumor tentang Crimson Flame mulai menyebar."
DEG.
Tatapan Zevian perlahan berubah sedikit lebih tajam.
Silas menyender di kursinya sambil memijat pelipis. "Terlalu cepat."
Cassius diam beberapa detik sebelum berkata rendah, "Kalau pengikut Lilith benar-benar mulai bergerak…"
"…Mereka pasti mencari Crimson Flame," lanjut Valdis pelan.
Hening.
Berat.
Namun tepat saat suasana mulai terasa terlalu serius…
BRAK.
Pintu ruangan terbuka keras. Ares masuk sambil menggigit apel santai. "Oh. Rapat orang tua."
DEG.
Atmosfer serius langsung retak.
Valdis menunjuknya dramatis. "Anak kurang ajar ini lagi."
Ares mengangkat bahu santai lalu duduk sembarangan di sofa kosong.
"Aku cuma lewat."
"Kau masuk sambil makan."
"Itu efisien."
Cain perlahan menatap langit-langit spiritual.
Entah kenapa… setiap kali generasi keluarga Vane dan Arkwright berkumpul, suasana formal selalu hancur dalam lima menit.
Namun Ares tiba-tiba berhenti menggigit apel. Tatapan emasnya bergerak ke laporan di meja.
"…Abyss makin parah?"
Hening kecil muncul.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk… nada suara Ares terdengar serius.
Cassius mengangguk kecil. "Akademi kemungkinan besar akan mempercepat persiapan pertahanan."
Valdis menyilangkan tangan perlahan. "Karena itu aku ingin semua pengguna artefak mulai berlatih serius."
Tatapan birunya bergerak ke arah Zevian.
"Termasuk kalian."
Zevian mengangguk tenang. Namun entah kenapa… pikirannya langsung tertuju pada Freya.
DEG.
Dan itu ternyata disadari seseorang.
Silas perlahan mengangkat alis kecil.
Sedangkan Cain dalam hati mulai merasa hidupnya akan semakin melelahkan.
Di sisi lain mansion…Freya sedang mengalami penderitaan hidupnya sendiri.
"AKU TIDAK MAU LATIHAN."
Crimson Valkyrie melayang santai di atas kepalanya. "Dan dunia tidak peduli."
Freya memegangi tiang taman dengan ekspresi putus asa. "Api itu hampir membakar pohon kemarin."
"Itu detail kecil."
"POHONNYA HAMPIR MELEDAK."
"Itu berarti kekuatanmu berkembang."
Freya ingin menangis. Karena hari ini…Felix sendiri yang akan mengawasi latihannya.
DEG.
Dan itu menyeramkan.
Sangat menyeramkan.
Beberapa menit kemudian… Area latihan belakang mansion mulai dipenuhi orang.
Ares duduk santai di pagar kayu sambil makan apel seperti penonton bioskop.
Aria berdiri dekat Freya sambil membawa busur putih-keemasan miliknya.
Aurora Hymn.
Artefak itu memancarkan cahaya lembut seperti sinar bulan.
Sedangkan di sisi lain… Felix berdiri diam dengan tangan terlipat.
Tatapan merahnya tajam sekali.
Dan entah kenapa…Hari ini Felix terlihat ekstra protektif.
Sangat protektif.
Freya perlahan mulai curiga.
Dan kecurigaannya langsung benar saat Zevian datang.
DEG.
Begitu putra mahkota itu mendekat… Felix bergerak satu langkah tepat di depan Freya.
Hening.
Freya berkedip kecil.
Zevian juga diam sepersekian detik.
Sedangkan Ares… Ares langsung menyeringai seperti iblis sosial yang baru menemukan hiburan baru.
"Wow."
Felix bicara datar tanpa mengalihkan pandangan dari Zevian.
"Latihan dimulai."
DEG.
Freya langsung sadar. '…Kakak mode protektif aktif.'
Crimson Valkyrie tertawa kecil. "Dia benar-benar menjaga anak ayamnya."
'AKU BUKAN ANAK AYAM.'
Namun Felix tetap berdiri seperti tembok hidup antara Freya dan Zevian.
Dan suasananya sekarang aneh sekali. Aria yang lembut bahkan terlihat gugup kecil. Ares sudah hampir tertawa terbuka. Sedangkan Zevian… Tetap tenang seperti biasa.
Namun tatapan biru gelap itu terus bergerak ke arah Freya.
DEG.
Freya langsung refleks salah fokus. Dan itu kesalahan besar.
FWOOSH.
Api crimson di tangannya langsung meledak liar.
"WOAH..."
Ledakan panas langsung menyebar.
Freya panik total. "AKU KEHILANGAN KONTROL LAGI..."
Crimson Flame berputar liar di udara seperti badai api.
Temperaturnya langsung naik drastis. Rumput terbakar. Udara bergetar. Dan Freya mulai kehilangan fokus.
DEG.
Namun tepat saat api itu hendak mengamuk lebih jauh…
"Freya." Suara lembut Aria terdengar pelan.
DEG.
Cahaya putih-keemasan muncul dari Aurora Hymn.
FWIIIIISH.
Busur itu bersinar lembut. Dan bersamaan dengan itu… Api crimson Freya perlahan melambat. Seolah ditenangkan. Seolah dipeluk.
Freya membeku kecil. Karena sensasinya berbeda. Hangat. Tenang. Tidak menyakitkan.
Aria melangkah mendekat perlahan sambil memegang busurnya. "Tarik napas…" Suaranya sangat lembut.
Dan anehnya… Freya benar-benar mulai tenang.
FWOOSH.
Api crimson perlahan mengecil. Stabil. Lembut.
Semua orang langsung diam. Karena pemandangan di depan mereka…Indah sekali.
Api merah keemasan berputar lembut mengelilingi cahaya putih Aurora Hymn.
Tidak bertabrakan, melainkan...menyatu.
DEG.
Valdis yang baru datang bersama Cassius langsung berhenti di tempat.
Tatapannya berubah serius. "…Resonansi."
Silas menyipitkan mata kecil.
Sedangkan Zevian memperhatikan Freya tanpa berkedip.
Ares perlahan menurunkan apelnya.
Untuk pertama kalinya hari itu… Ia terlihat benar-benar serius.
Felix sendiri membeku kecil. Tatapan merahnya bergerak antara Freya dan Aria. Karena artefak mereka...benar-benar beresonansi sempurna.
FWOOSH.
Cahaya Aurora Hymn perlahan membentuk lingkaran putih di sekitar api crimson.
Dan tiba-tiba...
BOOM.
Ledakan mana kecil mengguncang area latihan. Freya membelalakkan mata. Karena untuk sepersekian detik, ia melihat sesuatu.
Sayap cahaya putih.
Dan api crimson membentuk pola seperti mahkota di udara.
DEG.
Aria juga terlihat terkejut. Busurnya bersinar jauh lebih terang dari biasanya.
Freya bisa merasakan mana mereka bergerak bersama.
Mengalir.
Terhubung.
Bahkan detak jantung mereka terasa sinkron sesaat.
Crimson Valkyrie langsung tertawa pelan.
"Oh… jadi sampai level ini."
Freya panik internal. 'APA YANG TERJADI?'
"Fusi resonansi."
'APA?'
"Artefak kalian cocok."
"Itu terdengar sangat romantis," komentar Ares santai.
"DIAM."
Namun Valdis sekarang terlihat sangat serius. Tatapannya tajam menatap dua artefak itu. "…Ini pertama kalinya aku melihat resonansi setinggi ini."
Cassius mengangguk kecil.
Silas menyender perlahan sambil memperhatikan mereka.
Sedangkan Zevian…tatapannya tidak pernah lepas dari Freya.
DEG.
Dan itu disadari Felix.
Sangat disadari.
Felix langsung melangkah maju satu langkah lagi. Tembok hidup mode maksimal.
Ares hampir tersedak apel melihatnya.
Freya sendiri mulai berkeringat spiritual. Karena suasana sekarang terasa seperti perang dingin diam-diam.
Aria buru-buru mencoba menyelamatkan situasi. "U-Um… mungkin kita bisa lanjut latihan?"
DEG.
Semua orang akhirnya kembali sadar.
Freya hampir menangis haru. 'ARIA PENYELAMAT HIDUPKU.'
Dan latihan pun berlanjut.
Namun sekarang bukan hanya latihan kontrol api. Melainkan latihan resonansi.
Satu jam kemudian…
BOOM.
Ledakan mana kecil kembali mengguncang lapangan.
Freya jatuh terduduk di tanah sambil megap-megap. "Aku… capek…"
Aria sendiri duduk di sampingnya sambil tertawa kecil lelah.
Karena ternyata…resonansi artefak mereka menguras mana luar biasa besar.
Namun hasilnya juga mengerikan.
Api crimson Freya sekarang bisa dibentuk jauh lebih stabil saat dipadukan dengan cahaya Aurora Hymn.
Dan lebih parah lagi…serangan gabungan mereka benar-benar kuat.
Target batu besar di ujung lapangan sekarang sudah hancur total.
Ares bersiul kecil. "Wah."
Valdis menyilangkan tangan sambil mengangguk puas. "Bagus."
Freya langsung menoleh tidak percaya. "...Yang Mulia baru saja memujiku?"
Valdis mengangkat alis kecil. "Kau ingin aku tarik lagi?"
"Tidak terima kasih."
Calista yang baru datang malah tersenyum kecil melihat mereka. "Lucu sekali."
Freya berkedip bingung. "Apanya?"
Calista menatap Freya dan Aria beberapa detik. "Kalian mengingatkanku pada seseorang."
DEG.
Freya langsung diam. Entah kenapa dadanya terasa aneh lagi saat mendengar itu.
Namun sebelum suasana berubah terlalu emosional…
TOK TOK TOK.
Suara langkah kaki cepat terdengar dari mansion. Seorang pelayan berlari mendekat sambil membawa beberapa surat.
"Surat dari akademi."
DEG.
Semua orang langsung menoleh.
Ares melompat turun dari pagar.
Aria berdiri cepat.
Freya sendiri langsung punya firasat buruk.
Dan benar saja.
Pelayan itu membuka surat pertama lalu berkata, "Akademi Starfell akan dibuka kembali… tiga hari lagi."
Hening.
DEG.
Freya membeku. "…Hah?"
Crimson Valkyrie langsung tertawa bahagia.
"Oh, penderitaan baru dimulai."
"AKU BELUM SIAP SEKOLAH."
Ares menyeringai kecil. "Sayang sekali."
Aria terlihat gugup kecil.
Sedangkan Felix langsung menyipitkan mata tipis ke arah surat itu.
Karena akademi berarti…banyak bangsawan, banyak pengguna artefak. Dan kemungkinan besar…masalah besar.
Valdis sendiri menghela napas kecil. "…Cepat juga."
Cassius menerima surat lain sambil membaca cepat. "Sepertinya akademi juga mulai bersiap menghadapi situasi abyss."
Silas mengangguk kecil.
Namun Freya sudah tidak mendengar lagi.
Karena otaknya sekarang hanya fokus pada satu hal.
Akademi.
DEG.
Tempat di mana protagonis, villain, konflik, dan bendera kematian biasanya berkumpul.
'…Aku akan mati.'
Crimson Valkyrie menyeringai lebar. "Tidak. Kau hanya akan sangat menderita."
"ITU TIDAK MEMBANTU. AKU BAHKAN TIDAK TAU SEKARANG AKU BERPERAN SEBAGAI APA."
Dan di tengah kekacauan itu…Zevian memperhatikan Freya diam-diam. Tatapan biru gelapnya perlahan melunak lagi saat melihat ekspresi panik Freya.
Karena entah kenapa ia mulai merasa hari-hari di akademi nanti tidak akan membosankan sama sekali.