Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 35
Setelah persiapan hampir dua minggu lamanya, Jenia dan Ansel resmi menjadi sepasang suami istri. Semua tamu menatap haru sepasang pengantin yang baru resmi itu, bahkan kedua orang tua Ansel menatap anak dan menantunya dengan mata yang memerah.
Melihat bagaimana Ansel di usia yang masih terbilang muda, sudah berani mengambil tanggung jawab yang besar. Siapa yang tidak bangga, bahkan kakak-kakak Ansel yang melihat itu pun merasa sangat bangga terhadap adiknya itu.
Menikah dengan wanita yang sudah memiliki anak yang cukup besar bukanlah hal yang mudah, banyak tanggung jawab yang Ansel tanggung di pundaknya, dan di usinya yang masih 23 tahun itu, Ansel sudah berani memikul tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga dan juga ayah.
“Anak Ayah sudah menjadi papa saja,” canda Dhani menepuk cukup kencang pundak sang putra.
Ansel tersenyum dan memeluk singkat sang ayah, lalu beralih memeluk sang ibunda yang matanya sudah berair.
“Ya ampun, bunda tidak menyangka kamu sudah sedewasa ini, Ansel. Bunda bangga sekali denganmu,” lirih Lasmaya membuat Ansel tersenyum lebar. Ia mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar, karena ia sendiri baru saja selesai menangis setelah melihat Jenia dengan pakaian pengantinnya.
“Terima kasih bunda sudah memberikan restu kepada Ansel, Ansel janji akan menjadi suami dan papa yang baik untuk Jenia dan Cwen,”
Lasmaya melepaskan pelukannya dan mengelus lembut pipi sang putra, rasanya ia baru saja melihat Ansel yang baru belajar berjalam, kini malah resmi menjadi seseorang yang memiliki tanggung jawab besar.
“Bunda percaya sama kamu, jaga rumah tangga kamu ya, kepala keluarga harus memiliki kepala yang dingin jika menghadapi masalah, jangan terbawa emosi jika sedang kesal, jaga Jenia dan Cwen seperti kamu menjaga diri kamu sendiri,” nasihat Lasmaya.
“Baik bunda, akan Ansel ingat nasihat bunda,”
Lasmaya tersenyum dan beralih memeluk sang menantu dengan haru.
Lasmaya melepaskan pelukannya dan menangkup wajah sang menantu, ia menatapnya penuh kasih sayang.
“Jenia, terima kasih sudah mempercayai Ansel untuk menjadi pendamping hidup kamu, jaga rumah tangga kalian, bunda senang karena kamu yang berhasil membuat Ansel percaya kembali dengan cinta, bunda senang karena kamu yang menjadi pendamping anak bunda, bunda senang karena kamu dan Cwen yang menjadi bagian dari keluarga bunda,” Lasmaya kembali memeluk menantunya yang sudah banjir air mata.
“Sudah dong jangan menangis, masa hari bahagia begini riasannya malah rusak,” canda Lasmaya mengusap pelan air mata yang mengalir deras di pipi Jenia.
“Bunda juga sedang menangis loh,” lirih Jenia menatap mata Lasmaya yang memerah bahkan siap mengeluarkan air matanya kembali.
***
Banyak teman-teman Ansel yang datang, entah saat jaman SMP, SMA bahkan saat jaman ia kuliah, semuanya Ansel undang, karena terkadang masih sering melakukan reuni, sehingga pertemanan mereka terjaga dengan baik, walaupun ada beberapa yang hilang kontak.
“Kamu lelah ya berdiri terus?”
Ansel menatap khawatir Jenia yang terlihat sangat kelelahan, rasanya sangat tidak tega melihat istrinya yang berjam-jam berdiri untuk menyambut para tamu itu.
“Aku tidak apa-apa kok, sedikit pegal saja karena berdiri terus,” Jenia menunjukkan senyumnya untuk menunjukkan jika dia memang bail-baik saja.
Ansel menggeleng, lalu membawa Jenia duduk,” duduk dulu ya, belum ada yang datang lagi kok,”
“Aku ambilin makan dulu ya,” Ansel hendak turun dari atas altar tapi langsung di tahan oleh Jenia.
“Kenapa? Ada yang kamu mau?” tanya Ansel menoleh pada istrinya itu.
“Aku masih kenyang, dua jam yang lalu kita baru saja makan,”
“Atau kamu mau yang lain, buah, ice cream, ada salad buah juga, kamu mau apa? Minum ?”
Jenia tersenyum lembut dan membawa kembali Ansel duduk di sebelahnya.
“Aku sedang tidak mau makan apa-apa,” bisik Jenia.
“Kamu sakit perut? Atau kamu merasa mual? Pasti karena kelelahan sampai tidak selera makan,” Ansel masih saja mengkhawatirkan Jenia karena yang selera makan apapun.
“Kamu tadi suapin kau makan banyak sekali loh, satu piring penuh, dan ini masih dua jam setelah kita makan, makanan di perut belum tercerna semua loh ini,” ucap Jenia terkekeh geli melihat raut khawatir suaminya itu.
“Cwen,”
Jenia dan Ansel sontak menoleh ke asal suara, keduanya melihat Cwen yang baru saja terjatuh dengan gaya yang sedikit aneh. Tubuhnya telungkup, dengan kaki yang menyangkut di atas kursi, juga dressnya yang tersingkap membuat Lasmaya cepat-cepat membantu Cwen untuk berdiri.
“Kamu tidak apa-apa sayang?”
Bukan Lasmaya yang bertanya, melainkan Ansel yang sudah jongkok di depan Cwen yang terlihat masih shock dengan cara terjatuhnya tadi.
Ansel meneliti wajah dan juga kedua tangan Cwen, memastikan tidak ada yang terluka dan cedera, sangat terlihat jika Ansel mengkhawatirkan putrinya.
Lasmaya yang mengkhawatirkan sampai terdiam melihat Ansel yang tiba-tiba muncul itu, cepat juga pergerakan putranya itu melihat sang putri yang terjatuh.
Cwen menatap Ansel dengan mata berkaca-kaca, membuat Ansel semakin panik.
“Sayang ada apa? Ada yang sakit? Kasih tahu papa di mana bagian yang sakitnya?”
Cwen malah menangis, membuat Ansel langsung memeluknya, Lasmaya juga kembali ikutan panik karena Cwen yang menangis sesenggukkan , di pikiran mereka, jika Cwen menangis karena merasa tubuhnya ada yang sakit, tapi siapa sangka jika bukan itu alasannya.
“Cwen senang papa panggil Cwen dengan panggilan ‘sayang’,” ucap Cwen membuat Lasmaya, Ansel dan juga beberapa orang yang berkerumun di sana langsung terdiam mendengar alasan Cwen menangis itu. Benar-benar di luar dugaan mereka.
“Cwen ada apa? Ada yang sakit?” Ansel menoleh dan mendapati Jenia yang ikut turun dari atas altar karena mendengar suara tangisan putrinya.
Cwen melepaskan pelukannya dari Ansel dan beralih memeluk mamanya.
“Ada yang sakit, hmm?” tanya Jenia lembut mengusap-usap punggung sang putri.
Cwen menggeleng, “papa tadi panggil Cwen ‘sayang’, Cwen senang mama,” beritahu Cwen membuat Jenia langsung diam. Lalu setelahnya tersenyum.
“Ya ampun Cwen, mama sudah panik loh, mama kira tangan atau anggota tubuh Cwen yang lain ada yang sakit sampai menangis,” kekeh Jenia melepaskan pelukannya dan menatap Ansel yang masih diam di tempatnya, sepertinya masih tidak menyangka dengan kejadian yang terjadi beberapa menit lalu itu.
Semua orang menghela napas lega dan kembali kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk melanjutkan makan mereka yang tertunda.
“Lihat papa sudah panik loh karena Cwen sampai menangis,” Jenia menunjuk Ansel yang masih diam di tempatnya.
Cwen menoleh dan menatap Ansel yang sudah resmi menjadi papanya itu, air matanya malah kembali keluar dan kembali menangis membuat Ansel mendekat dan memeluk Cwen lembut.
“Kenapa menangis lagi?” tanya Ansel lembut di dekat telinga sang putri.
“Cwen tidak tahu, tapi Cwen senang.” Cwen malah semakin kencang menangisnya membuat Ansel akhirnya menggendong Cwen, lalu membawanya ke altar dengan satu tangannya yang memeluk pinggang sang istri.
Semua keluarga besar Ansel yang melihat itu langsung tersenyum kecil, merasa senang melihat bagaimana Ansel yang benar-benar peduli dengan istri juga anak tirinya.
lanjutkan pokoknya
seru ceritanya