NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Gandraka mendekat, namun tidak untuk membantu Jayantaka berdiri. Ia justru berjongkok di depan jejak lukisannya yang sempat terinjak-injak warga. Jemarinya kembali bergerak, memperbaiki garis matahari yang rusak.

​"Anda memaksakan diri, Tuan Senopati. Luka di lambungmu itu bukan luka biasa, itu adalah bekas gigitan Kala," ucap Gandraka tanpa menoleh.

​Jayantaka meringis, memegangi perutnya yang berdenyut panas. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Bocah. Kau tahu sesuatu. Permainan Nyanggrang Wewe itu... Nadi hanya anak kecil, dia tidak mungkin punya kekuatan untuk mengundang petaka sebesar ini sendirian."

​Gandraka menghentikan gerakannya. Ia menatap Jayantaka dengan mata hitamnya yang seolah mampu menembus sukma sang Senopati.

​"Nadi memang hanya anak kecil yang bodoh dan sombong. Tapi di tanah ini, Trowulan terasa sangat jauh, Tuan. Suara doa-doa di keraton tidak terdengar sampai ke sini," bisik Gandraka. "Nadi tidak mengundang iblis. Dia hanya menyalakan lampu kecil di tengah kegelapan yang sangat pekat. Dan di kegelapan itu, sudah lama ada sesuatu yang lapar sedang menunggu pintu terbuka."

​"Siapa?" desak Jayantaka.

​"Eyang Jagad Ireng," jawab Gandraka singkat. "Dia tidak masuk melalui pintu yang dibuka Nadi. Dia hanya menggunakan anak-anak itu sebagai sandera agar Ayah dan Ibu tidak bisa lari lagi. Dia ingin memastikan bahwa saat dia datang nanti, tidak ada satupun orang di desa ini yang bisa membela kami."

​Jayantaka tertegun. Sebagai penyidik, ia biasa berurusan dengan konspirasi politik atau pemberontakan kadipaten, namun kali ini ia merasa seperti masuk ke dalam jaring laba-laba yang ditenun oleh kekuatan purba.

​"Kenapa dia menginginkan keluargamu?"

​Gandraka berdiri, membersihkan debu di telapak tangannya. Ia menatap ke arah ladang jagung di selatan, tempat orang tuanya berada.

​"Karena Ayah menyimpan sesuatu yang seharusnya sudah musnah saat runtuhnya kerajaan-kerajaan lama sebelum Majapahit berdiri. Sesuatu yang membuat Jagad Ireng rela menunggu ratusan tahun di bawah tanah."

​Belum sempat Jayantaka bertanya lebih jauh, suara kepakan sayap ribuan burung gagak terdengar dari arah hutan. Langit yang tadinya cerah mendadak mendung secara tidak wajar. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tawa kering yang menggema, bukan dari telinga, melainkan langsung di dalam kepala mereka.

​"Dia sudah mencium keberadaanmu, Tuan Senopati," ucap Gandraka datar. "Sebaiknya kau masuk dan genggam kerismu kuat-kuat. Karena malam ini, desa Mojorejo tidak akan tidur."

Sore itu, langit Mojorejo tampak tidak wajar. Ki Bagaskara dan Nyai Lodra pulang dari ladang dengan langkah terburu-buru, wajah mereka menyiratkan kecemasan yang dalam. Belum sempat mereka meletakkan cangkul, Gandraka sudah berdiri di depan pintu, menceritakan tentang kedatangan Ki Lurah dan amarah warga yang nyaris meledak.

​Jayantaka, yang masih terduduk lemas di amben, hanya bisa mengangguk mengonfirmasi cerita bocah itu. "Aku sudah menenangkan mereka, Ki Bagaskara. Tapi anak-anak desa itu... mereka dalam bahaya."

​Ki Bagaskara terdiam, matanya menatap tajam ke ufuk barat. "Ini lebih dari sekadar urusan warga, Jayantaka. Lihatlah ke atas."

​Semua mata tertuju ke langit. Saat itu seharusnya waktu menunjukkan pukul lima sore, saat matahari mulai condong dan meredup. Namun, sebuah fenomena mengerikan terjadi di depan mata mereka.

​Matahari yang tadinya sudah mulai turun, tiba-tiba berhenti. Seolah ada tangan raksasa yang menariknya kembali, sang surya justru bergerak naik ke puncak langit dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Langit yang mulai jingga berubah kembali menjadi putih menyilaukan, jauh lebih terang dari tengah hari biasanya.

​"Mataharinya... kembali ke tengah?" bisik Jayantaka tak percaya, tangannya menutupi mata dari silau yang menyengat.

​Udara mendadak berubah menjadi sangat panas, seperti berada di dalam tungku pembakaran. Tanah mulai retak-retak, dan daun-daun jagung di halaman seketika menguning lalu mengering dalam hitungan detik. Hawa panas itu bukan sekadar panas matahari, melainkan panas yang membawa aroma belerang dan kematian.

​"Ini bukan matahari kita," ucap Nyai Lodra sembari merangkul bahu Gandraka. Suaranya bergetar namun penuh tekad. "Ini adalah Surya Pralaya. Seseorang sedang memutar roda waktu di tanah ini agar kegelapan tidak perlu menunggu malam untuk berpesta."

​"Ayah..." desis Ki Bagaskara. Ia segera melepas ikat kepalanya, memperlihatkan guratan urat di dahinya yang berdenyut kencang. "Dia tidak sabar. Dia ingin memanggang sukma anak-anak desa yang terjebak di alam itu agar matang sebelum ia santap."

​Di tengah panas yang kian membakar kulit, Gandraka menunjuk ke arah matahari yang kini tampak berwarna merah darah di bagian tepinya. "Lihat! Di dalam cahayanya... ada mata."

​Benar saja, Jayantaka melihatnya dengan ngeri. Di tengah piringan cahaya yang menyengat itu, sebuah pupil raksasa yang vertikal seolah sedang mengawasi mereka dari langit. Matahari itu telah berubah menjadi mata raksasa yang menatap lurus ke rumah Ki Bagaskara.

​"Gusti Mahapatih... apa yang sebenarnya sedang kuhadapi?" batin Jayantaka, sembari tangannya mencengkeram hulu keris, menyadari bahwa logika dari Trowulan sama sekali tidak berguna di tempat ini.

​Ki Bagaskara kemudian berbalik, menatap Jayantaka dan Gandraka. "Jayantaka. masuk ke dalam rumah! Lodra, siapkan air garam di empat penjuru! Dia ingin membakar kita hidup-hidup sebelum matahari ini benar-benar 'terbenam' ke arah yang salah!"

1
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
saniscara patriawuha.
gasssss polllll
saniscara patriawuha.
🫰🫰🫰🫰🫰
saniscara patriawuha.
gasssdd...
saniscara patriawuha.
gassssss polllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!