NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Burung dalam sangkar

"Kenapa menatapku begitu?" Kedua alis Hana hampir menyatu menatap tatapan tajam Salsa kepadanya.

"Kau terlihat bahagia, Na." Salsa tersenyum tipis sembari menyedot minuman dinginnya.

Mereka sedang berada di cafe yang terletak di pusat kota.

"Ya, aku memang bahagia dengan hidupku akhir-akhir ini."

"Benarkah? Aku senang mendengarnya." Salsa terlihat antusias.

"Ya, aku mencoba menikmati hidup walaupun hutangku masih banyak." Hana menyuapkan potongan cake ke dalam mulutnya.

"Benar. Kau harus melakukannya." Terlihat sang sahabat sangat menyemangati Hana.

Mereka saling menyayangi satu sama lain.

"Kau akan ke mana setelah ini?"

"Aku?"

Salsa mengangguk.

"Entahlah.. Aku bingung menghabiskan cutiku kali ini."

"Kau tidak mengunjungi ibumu lagi?"

Hana terdiam menunduk, tangannya sibuk mengaduk jus yang ia pesan.

"Aku ingin. Tapi aku tak ingin bertemu dengan mereka." suaranya terdengar lirih.

"Ada apa? Apa tahun lalu kau bertemu dengan mereka?"

Hana menggeleng pelan.

"Tidak. Tapi firasatku kali ini aku akan bertemu dengan mereka."

Salsa diam sejenak.

"Apa kau membenci mereka?" Tanya Salsa pelan.

"Bagaimana menurutmu?"

"Kau melalui banyak kesulitan. Aku pikir jika membenci mereka pun kau tidak salah."

Hana hanya diam.

Dari dalam hatinya pun ia sendiri bingung dengan perasaannya. Sejak kecil ayah dan Irza membuatnya kesulitan, hanya ibu yang berada di pihaknya.

"Jika kau ingin mengunjungi ibumu, tolong ajak aku, Na. Aku ingin mengucapkan salam pada ibumu."

"Ya."

Terik matahari yang begitu menyengat beberapa hari terakhir, membuat kulit menjadi lebih kering.

Sudah dua hari Luca pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negri bersama Ruby.

Saat ini pria yang memiliki tatto di bahu kiri sedang menikmati alunan musik dan segelas alkohol di tangannya.

"Tuan, anda baik-baik saja?" Ruby menatap khawatir Luca yang sudah setengah sadar di ruangan vip lantai tiga. Tatapan sulit diartikan.

"Kau.. tahu, Hana.. membuatku gila." Racau Luca. Ia menegak habis sisa alkohol yang berada di dalam gelas.

"Anda ingin Nona Hana berada di sini?" Ruby mengetahui bahwa Luca sangat menyukai Hana, bahkan perempuan itu berkali-kali menolak pinangan Luca untuk menikah.

"Tidak, Ruby. Dia membenciku..sangat." Ruby menghela napas pelan, kini majikannya tak sadarkan diri.

"Nona, hari ini tuan Luca akan pulang."

"Baik. Apa ada pesan darinya?"

"Tuan ingin makan seafood untuk makan malam."

"Ada lagi?"

"Itu saja, Nona."

"Baik, terima kasih. Kalian hati-hati di jalan."

"Baik, Nona."

Ruby menutup telepon, saat ini dirinya sedang berada di salah satu hotel untuk menemani Luca rapat dengan salah satu rekan bisnis.

"Senang bisa berbisnis bersama anda, tuan Luca."

"Semoga kerja sama kita membuahkan hasil yang bagus untuk perusahaan kita, Mr. Lee." Keduanya berjabat tangan sebelum berpisah.

"Apa kau sudah menghubungi Hana tentang kepulanganku?"

"Sudah, tuan."

"Kau menyampaikan pesanku?"

"Seafood untuk makan malam?"

"Ya."

"Sudah saya lakukan, tuan."

"Bagus. Setelah ini aku akan berjalan sebentar."

"Saya akan mengantar anda, tuan."

Luca mengangkat tangan.

"No. Kau bebas sampai setelah jam makan siang. Lakukan hal yang kau sukai di sini sebelum kita pulang."

"Hubungi jika anda membutuhkan saya, tuan."

Luca mengangguk lalu beranjak pergi dari hotel tersebut.

"Apa yang Hana sukai?" Luca bergumam sembari mengedarkan matanya menatap beberapa aksesories perempuan.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"

Salah satu karyawan toko menghampiri Luca yang terlihat kebingungan.

"Bisa kau berikan aku yang disukai gadis Asia berumur 20tahunan?"

"Untuk kekasih anda?"

"Ya, ya. Kekasihku."

Mengatakannya saja Luca merasa bahagia apalagi jika itu benar-benar terwujud.

"Baik, ada lagi tuan?"

"Kemas dengan cantik."

"Baik, tuan."

Karyawan membantu memilihkan beberapa aksesories rambut lalu meminta pendapat Luca, pria itu beberapa kali menolak.

Dia melihat dan mencocokkan Hana dalam bayangannya.

Beberapa menit akhirnya ia mendapatkan barang yang ia pastikan cocok dipakai oleh Hana.

"Apa kau tahu makanan kesukaan Hana?"

"Ya, tuan?" Ruby sedang mengendarai mobil terkejut dengan pertanyaan Luca.

"Saya tidak begitu tahu, tuan. Tetapi saya pikir Nona Hana menyukai semua makanan manis."

"Benarkah? Apa kau ada saran?"

"Kue coklat? Pudding coklat?"

Ruby berpikir keras sembari membelah jalanan, mereka saat ini sudah sampai di tanah air menuju apartemen.

"Cari toko terbaik, aku akan membelikannya coklat."

"Baik, tuan."

Bel pintu berbunyi..

Hana yang sedang memasak untuk makan malam segera menuju pintu utama.

"Kenapa dia menekan bel?"

Hana bergumam sembari membuka pintu untuk Luca.

"Hello, Hana. Kau merindukanku?"

Luca masuk diikuti oleh Ruby yang menyeret koper dan barang-barang milik Luca.

"Bagaimana perjalanan anda, tuan?"

Hana enggan menjawab pertanyaan konyol Luca.

"Perjalanan? Sangat sepi tanpa kabarmu. Kenapa kau tak membalas pesanku?"

Hana mengambil jas yang dilepaskan Luca, kemudian pria itu duduk di sofa.

"Makan malam anda akan siap sebentar lagi, tuan. Anda ingin minum sesuatu?"

"Ambilkan air putih." Luca berhenti mengganggu Hana yang tak menghiraukannya.

"Tuan, barang-barang anda sudah saya letakkan di kamar anda."

"Ya, kau pergilah."

Ruby terkejut ketika mendengar pengusiran itu, padahal dirinya berharap diundang untuk makan malam.

"Lain waktu kau akan makan bersamaku."

Seakan Luca tahu isi pikiran Ruby.

"Baik, tuan. Saya permisi."

Ruby berlalu pergi, Hana yang kembali membawa air putih menghentikan Ruby.

"Tidak, dia ada urusan."

Luca mencegah Hana sebelum perempuan itu berbicara.

Ruby segera keluar sebelum tatapan tajam berganti dengan pemecatan.

"Kenapa kau begitu perhatian padanya?" Kedua alis Luca berkerut ketika Hana meletakkan air minum di meja.

"Bukan seperti itu."

"Ya, kau perhatian."

"Maafkan saya."

Hana memilih mengalah dan berlalu ke dapur untuk menyelesaikan masakan.

Usai makan malam, dirinya sedang berada di kamar Luca untuk membongkar isi koper beserta barang-barang milik Luca.

Sedangkan pria tersebut sedang bersantai sembari merokok di balkon.

"Tuan, anda ingin camilan?"

Hana menghampiri Luca.

"Ya, dirimu."

Hana berlalu sebelum Luca benar-benar serius dengan ucapannya.

"Astaga, gadis itu benar-benar menggemaskan."

Luca mematikan rokok dan beranjak menghampiri Hana yang ia pastikan menuju dapur.

"Hana, kau sudah melihat oleh-oleh dariku?"

Hana sedang membuat susu untuknya seketika menoleh.

"Oleh-oleh untuk saya, tuan?"

"Ya. Kau belum membukanya?"

Hana menggeleng. Bahkan dirinya tidak tahu mendapatkan oleh-oleh.

"Kotak berwarna biru yang ada di dalam koper itu untukmu."

Hana mengingat kotak yang Luca maksud tak ada di koper saat ia membongkar barang.

"Saya tidak melihatnya, tuan."

"Apa? Kau tak melihat ada kotak berwarna biru?"

Luca sedikit terkejut. Ia mengingat bahwa dirinya sudah memasukkan kotak tersebut ke dalam koper.

Luca berlalu naik ke lantai atas untuk memeriksa sendiri.

Hana membawa nampan yang berisi susu hangat dan camilan untuk Luca menuju kamar pria tersebut.

"Hana, kemarilah." Panggil Luca dari walk in closet ketika mengetahui gadis itu masuk.

"Ada apa, tuan?"

"Ini untukmu."

Luca memberikan kotak yang ia maksud kepada Hana. Dirinya menemukan benda itu di kantong belanjaan yang belum Hana bongkar.

"Terima kasih, tuan."

"Kau tak ingin membukanya?"

"Nanti akan say-"

"Di sini."

Hana menurut.

Di dalamnya terdapat beberapa jepitan rambut yang cantik dan gelang dari beberapa batuan alam

"Mereka sangat cantik, tuan."

Hana sangat terpukau dengan aksesoris yang diberikan oleh Luca, dimana dirinya yang sangat menyukai benda-benda tersebut.

"Ya, seperti dirimu."

Hana tak mendengarkan, ia tenggelam dalam hayalan dirinya memakai aksesoris tersebut dalam balutan pakaian yang senada.

"Terima kasih, tuan. Ini cantik sekali."

Bagaimana senyum tulus itu menghipnotis Luca.

"Susu dan camilan ada di atas meja, tuan. Saya permisi."

"Tunggu."

Hana berbalik menatap Luca yang bersandar di pintu penghubung walk in closet dengan kamar tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!