NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.Kemenangan

Keheningan yang menyelimuti Alun-Alun Kota Karasu terasa begitu padat, seolah udara pun enggan bergetar sebelum kalimat keramat itu terucap. Ketua juri perlahan merobek amplop putih di tangannya. Suara kertas yang terkoyak itu terdengar lewat pengeras suara, tajam seperti sembilu yang mengiris ketegangan.

Ren berdiri tegak, namun ia bisa merasakan beban Hana yang bersandar di lengan kirinya. Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya meremas kain seragam Ren hingga kusut. Di sisi kanannya, Yuki menarik napas panjang, menatap lurus ke arah piala perak yang berkilau tertimpa matahari pagi.

"Pemenang Pesta Rasa Nusantara tahun ini, dengan selisih poin yang sangat tipis namun mutlak dalam hal karakter rasa..." Ketua juri berhenti sejenak, menatap ke arah tribun penonton di mana Kudo dan Bu Keiko duduk terpaku. "...adalah perwakilan dari SMA Sakura Harapan, Tim Akira Ren!"

Ledakan sorak-sorai seketika pecah, mengguncang fondasi panggung. Ribuan warga Kota Karasu berdiri, bersorak, dan bertepuk tangan—sebuah apresiasi masif bagi anak muda yang berhasil menghidupkan kembali identitas kota mereka yang sempat mati suri.

Hana tersentak, matanya terbuka lebar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja. Tanpa memedulikan ribuan pasang mata dan sorotan kamera, ia langsung menghambur ke pelukan Ren, menangis tersedu-sedu di dada pemuda itu.

"Kita menang, Ren... Kita benar-benar menang!" isak Hana.

Ren tertegun sejenak. Tangannya yang masih kaku perlahan melingkar di bahu Hana, memberikan pelukan yang jauh lebih hangat dan protektif dari biasanya. Ia tidak berkata apa-apa, namun ia membiarkan dagunya bersandar di atas kepala Hana, menghirup aroma sisa uap dapur yang masih tertinggal di rambut gadis itu. Sebuah senyum tipis—senyum tulus yang sangat langka—akhirnya muncul di wajahnya yang biasanya dingin.

Yuki mendekat, ia tidak memeluk Ren seerat Hana, namun ia menggenggam tangan kanan Ren dengan sangat kuat. Matanya berkaca-kaca, memancarkan rasa bangga yang tak terukur. "Kamu melakukannya, Ren. Kamu mengembalikan kehormatan Tante Reina."

Sementara itu, di sisi lain panggung, kehancuran Ryuji Asuka tampak begitu nyata. Ia berdiri mematung, menatap piringnya yang masih tersisa banyak sementara piring Ren ludes tak bersisa. Asisten-asistennya tertunduk layu, mesin-mesin canggih di belakang mereka kini tampak seperti onggokan besi tua yang tidak berguna.

"Tidak mungkin..." gumam Ryuji, suaranya parau. "Logaritma rasa itu... seharusnya sempurna. Bagaimana mungkin masakan tradisional tanpa angka bisa mengalahkan hitungan kimiawi?"

Ia melangkah gontai ke arah Ren. Kerumunan wartawan yang tadi memujanya kini mulai beralih fokus ke arah sang juara baru. Ryuji menatap Ren dengan mata yang merah karena amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu.

"Kamu pikir ini sudah berakhir?" desis Ryuji, suaranya bergetar hebat. "Kamu hanya memenangkan satu kompetisi kecil. Asuka Jaya tetap menguasai pasar kota ini. Aku akan menghancurkan restoranmu sampai ke akar-akarnya!"

Ren melepaskan pelukan Hana perlahan, lalu melangkah maju menghadapi Ryuji. Ia tidak lagi menatap Ryuji sebagai musuh yang mengancam, melainkan sebagai seseorang yang patut dikasihani.

"Ryuji," panggil Ren pelan. "Masalahmu bukan pada masakanmu. Masalahmu adalah kamu tidak pernah mencintai orang-orang yang memakan masakanmu. Kamu hanya mencintai dirimu sendiri di dalam piring itu."

Ren menunjuk ke arah tribun, di mana orang-orang masih bersorak menyebut nama Ren's Cuisine. "Lihat mereka. Mereka tidak bersorak untuk teknikku. Mereka bersorak karena mereka merasa 'pulang'. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu beli dengan uang perusahaanmu."

Ryuji terdiam, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia melihat ke arah penonton, lalu melihat ke arah ayahnya yang berdiri di lantai atas gedung seberang, membelakangi jendela dan pergi meninggalkan ruangan dengan kecewa. Menara kaca itu mulai retak, bukan secara fisik, melainkan secara reputasi.

Bu Keiko dan Kudo berlari naik ke panggung. Kudo langsung mengangkat Ren ke udara dengan tawa menggelegar, sementara Keiko memeluk Hana dan Yuki bergantian dengan air mata bahagia. Rin ikut melompat-lompat di sekitar mereka, menarik-narik ujung apron Ren.

"Kak Ren hebat! Sate teripangnya bau wangi!" seru Rin polos.

Di tengah hiruk-pikuk kemenangan itu, Ren menatap ke langit biru Kota Karasu. Ia merasa seolah-olah ada beban berat yang terangkat dari dadanya. Dendam lama yang membakar hatinya kini mulai mendingin, digantikan oleh rasa tanggung jawab baru untuk melindungi keluarga yang ada di depannya sekarang.

Kemistri di antara mereka berempat—Ren, Hana, Yuki, dan Keiko—terasa begitu solid di bawah siraman cahaya matahari. Mereka adalah pahlawan baru Kota Karasu, ksatria dapur yang telah meruntuhkan tirani teknologi dengan kejujuran rasa.

Namun, di balik kegembiraan itu, Ren menyadari satu hal. Asuka Jaya adalah monster yang terluka, dan monster yang terluka biasanya akan menyerang lebih membabi buta. Perjalanan mereka menuju tingkat nasional baru saja dimulai, dan tantangannya akan jauh lebih besar dari sekadar kompetisi pelajar.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!