NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guntur Pemersatu

Hujan badai yang mengguyur wilayah sekitar mall cabang ternyata jauh lebih hebat dari perkiraan. Suara angin yang menderu-deru menabrak kaca jendela besar di kamar VVIP Suite yang dipesan Nathaniel, menciptakan suasana yang kontras dengan kehangatan di dalam ruangan. Kabar tentang longsor di jalur utama menuju Seoul membuat perjalanan pulang menjadi mustahil malam ini.

Nathaniel baru saja menutup telepon dari William dengan helaan napas berat. Kepercayaan William adalah segalanya, dan meski hatinya berdegup kencang karena harus menghabiskan malam berdua dengan Alessia di tempat asing, ia tetap harus menjaga profesionalitasnya sebagai pelindung.

"Ayah sudah setuju. Kita tidak punya pilihan lain selain menunggu badai reda," ucap Nathaniel tanpa menoleh, matanya masih menatap ke luar jendela yang buram oleh air hujan.

Alessia baru saja selesai mandi air hangat untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulang. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan santai, hanya mengenakan bathrobe putih tebal milik hotel yang membungkus tubuh mungilnya. Rambutnya yang masih basah ia biarkan tergerai, memberikan kesan alami yang sangat menggoda bagi siapa pun yang melihatnya.

Nathaniel menoleh dan seketika membeku. Matanya membelalak, tenggorokannya mendadak terasa kering melihat Alessia yang tampak begitu tenang dengan pakaian seminim itu di hadapannya.

"Al... gunakan kaos yang tadi aku siapkan," pinta Nathaniel, suaranya sedikit serak. Ia menunjuk ke arah tumpukan pakaian yang tadi ia beli dari butik di lantai bawah mall sebelum mereka check in.

"Kenapa, Kak?" tanya Alessia dengan nada sok polos, ia justru berjalan mendekati meja makan di tengah ruangan, sengaja melewati Nathaniel dengan jarak yang sangat dekat.

Nathaniel memejamkan matanya sejenak, mencoba mengatur napas dan detak jantungnya yang mulai tak terkendali. Ia tahu Alessia sedang sengaja mengujinya, namun di situasi seperti ini, terjebak badai di kamar hotel yang mewah, ketahanannya berada di titik terendah.

"Dengar, Al. Aku sepakat untuk berterus terang soal perasaanku padamu, tapi kamu harus dengarkan aku," Nathaniel berbalik, menatap Alessia dengan sorot mata yang tajam dan serius. Tidak ada lagi jejak kegugupan, yang ada hanyalah ketegasan seorang pria yang sedang berjuang melawan instingnya sendiri.

"Aku bilang pakai, pakai sekarang. Kita makan malam," tegas Nathaniel. Kalimatnya bukan lagi sebuah permintaan, melainkan perintah yang tidak bisa dibantah.

Alessia terdiam, melihat sisi dominan Nathaniel yang muncul ke permukaan. Ia tahu jika ia terus memancing, ia mungkin tidak akan menyukai (atau justru terlalu menyukai) konsekuensi yang akan terjadi malam ini.

"Galak sekali," gumam Alessia pelan, namun ia akhirnya melangkah menuju tas belanjanya. Ia mengambil kaos kebesaran yang dibelikan Nathaniel dan memakainya dengan patuh.

Nathaniel menghela napas lega saat Alessia sudah berpakaian lebih tertutup. Ia segera menata hidangan makan malam yang baru saja diantarkan oleh room service ke atas meja. "Duduklah. Kamu butuh tenaga setelah seharian ini. Besok pagi kita harus berangkat sangat awal jika jalanan sudah dibuka."

Di bawah cahaya lampu temaram kamar suite dan suara hujan yang masih riuh di luar, mereka duduk berhadapan. Suasana canggung kembali menyelimuti, namun ada keintiman yang berbeda, sebuah rahasia yang semakin dalam di antara denting sendok dan garpu mereka.

Nathaniel menutup pintu kamar tidur dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara sekecil apa pun yang bisa mengusik tidur lelap Alessia. Di luar, kilat masih menyambar sesekali, diikuti dentuman guruh yang membuat kaca jendela bergetar. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan menuju sofa di ruang tamu suite tersebut.

Ponselnya bergetar di saku. Nama William Sinclair kembali muncul di layar. Nathaniel berdeham, menetralkan suaranya agar terdengar setenang mungkin sebelum menggeser ikon hijau.

"Iya, Ayah. Alessia sudah tertidur di kamar," lapor Nathaniel spontan, bahkan sebelum William sempat bertanya.

Di seberang telepon, suara William terdengar jauh lebih lega, namun masih terselip nada cemas.

📞 William: "Syukurlah. Ibu sangat khawatir dengan kalian, Nathan. Apalagi Alessia, dia itu sangat takut petir sejak kecil. Dia pasti kesulitan tidur kalau badainya sehebat itu."

Nathaniel terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana tadi Alessia sempat berjengit setiap kali ada kilat menyambar, sebelum akhirnya kelelahan dan terlelap setelah Nathaniel duduk di tepi tempat tidur menunggunya.

"Tenang, Ayah. Ada aku yang berjaga di ruang tamu. Aku pastikan semua pintu terkunci dan dia merasa aman," jawab Nathaniel. Suaranya rendah, sarat dengan janji perlindungan yang tulus.

📞 William: "Terima kasih banyak ya, Nathan. Kamu memang paling bisa Ayah andalkan. Entah apa jadinya kalau Alessia sendirian di sana tanpa kamu."

Setiap kata pujian dari William terasa seperti sembilu yang mengiris nurani Nathaniel. "Paling bisa diandalkan". Kepercayaan itu begitu murni, begitu besar, hingga Nathaniel merasa punggungnya semakin berat memikul rahasia yang ia bangun bersama Alessia.

Di satu sisi ia adalah perisai bagi Alessia, namun di sisi lain, ia adalah pria yang baru saja melumat bibir putri dari orang yang sangat memercayainya itu.

"Sama-sama, Ayah. Itu sudah menjadi kewajibanku," balas Nathaniel lirih.

Setelah sambungan terputus, Nathaniel menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia menatap langit-langit ruangan yang remang-remang. Kamar VVIP Suite ini sangat luas, namun ia merasa terkurung dalam labirin moralitasnya sendiri.

Ia memejamkan mata, namun bayangan Alessia yang tertidur pulas dengan kaos kebesaran darinya terus membayangi. Nathaniel tahu, malam ini ia tidak akan bisa tidur barang sekejap pun. Bukan karena takut badai atau longsor, tapi karena ia harus menjaga hatinya agar tidak melewati batas lagi di bawah atap yang sama dengan wanita yang ia cintai secara rahasia.

———

Cahaya matahari pagi yang malu-malu mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar suite, membiaskan rona keemasan di ruangan yang semalam dilanda ketegangan badai. Nathaniel mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Bunyi ping dari pesan masuk di ponselnya menjadi alarm alami yang memaksanya membuka mata.

Namun, saat ia mencoba bergerak, ia merasakan beban hangat di lengan dan dadanya. Nathaniel menunduk dan jantungnya berdegup kencang seketika. Alessia tidak lagi berada di kamar tidur yang luas itu. Gadis itu meringkuk di sebelahnya, tertidur lelap di sofa ruang tamu yang sempit sambil memeluk lengan kekar Nathaniel seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.

Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajah Nathaniel. Rasa lelahnya seolah menguap melihat wajah damai Alessia dalam balutan kaos kebesaran yang semalam ia berikan. Dengan gerakan sangat pelan agar tidak mengejutkannya, Nathaniel menunduk dan memberikan kecupan singkat yang penuh kasih di kening Alessia.

"Morning," gumam Nathaniel dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Morning, Kak," jawab Alessia lirih. Ia tidak membuka matanya, justru semakin menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Nathaniel, menikmati aroma maskulin yang selalu membuatnya merasa aman.

Nathaniel mengelus rambut Alessia dengan lembut. "Tidur nyenyak?" tanyanya memastikan.

Alessia hanya menjawab dengan anggukan kecil di dadanya, jemarinya masih mencengkeram kain kemeja Nathaniel yang kini sudah sangat kusut.

"Kenapa pindah ke sofa, Al? Tempat tidur di dalam jauh lebih nyaman," tanya Nathaniel lagi, meski dalam hati ia merasa hangat karena kehadiran gadis itu di sisinya.

"Gunturnya besar sekali sampai jendela bergetar, Kak. Aku takut," jawab Alessia jujur, suaranya masih terdengar mengantuk. "Di kamar rasanya sepi sekali. Aku tidak bisa tidur kalau tidak mendengar napas Kakak."

Nathaniel tertegun. Ia teringat ucapan William semalam di telepon tentang ketakutan Alessia pada petir. Ternyata, sedewasa apa pun Alessia mencoba bersikap di kantor, di dalam hatinya ia tetaplah gadis kecil yang membutuhkan perlindungan Nathaniel.

"Lain kali panggil aku saja, jangan tidur di sofa sempit begini. Badanmu bisa pegal semua," ucap Nathaniel lembut, meski ia sendiri tidak berniat melepaskan pelukan itu.

Ia melirik ponselnya lagi. Pesan dari asisten di kantor mengabarkan bahwa jalur utama menuju Seoul sudah mulai dibuka satu jalur. Nathaniel tahu mereka harus segera bersiap, namun untuk beberapa menit ke depan, ia memilih untuk tetap diam di sofa itu, membiarkan waktu berhenti sejenak dalam kehangatan rahasia mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!