Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kalung Perak Usang
Rasa takut murni merayapi sumsum tulang Sukma.
Dia terlempar ke dunia 1991 ini bukan sebagai pemeran utama Novel cengeng yang dilindungi takdir oleh penulisnya.
Realitas menamparnya telak malam ini. Dia adalah perempuan yang sedang menduduki kursi kosong milik seorang korban pembunuhan berencana.
Dan jadwal matinya mungkin hanya tertunda.
Sukma bangkit dari dipan bambu. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai tanah liat yang dingin.
Dia melangkah perlahan menuju jendela kayu di ruang depan, mengintip lewat celah anyaman bambu ke arah pekarangan gelap di luar sana.
Logikanya berputar liar, membongkar ulang detail kematian tragis Sukma Ayu yang asli.
Diceritakan di novel, perempuan malang itu disuruh Jamilah mencari rumput tambahan di lahan sengketa dekat kandang Pak Kades.
Lalu tiba-tiba, seekor sapi jantan seberat setengah ton mengamuk beringas, menghimpit tubuh kurus Sukma Ayu ke dinding bata sampai tulang dadanya remuk.
Orang desa menyebutnya musibah. Kecelakaan sial gara-gara sapi gila.
Bohong besar.
Sukma mencengkeram kusen jendela. Sapi jantan peliharaan kades itu diikat menggunakan tambang nilon ganda ke pasak kayu ulin.
Simpul mati ndak akan pernah bisa terbuka sendiri hanya karena tarikan kepala hewan peliharaan, sekuat apa pun sapi itu meronta.
Kecuali... ada tangan manusia yang sengaja mengendurkan simpulnya tepat saat Sukma Ayu lewat.
Pembunuhnya menghirup udara yang sama dengannya. Bebas berkeliaran di Sumber Brantas.
Mata Sukma menyipit menembus kegelapan, menatap lekat siluet atap rumah Lasmi di ujung gang.
Siapa yang paling diuntungkan dari kematian itu? Lasmi? Perempuan tua serakah itu punya motif kuat menyingkirkan menantu pengganggu agar akses ke uang wesel bulanannya bebas hambatan.
Jamilah dan Joko? Pasangan suami istri tukang intip itu memandang Sukma Ayu sebagai tembok tebal penghalang warisan rumah dan tanah.
Atau Prapto dan Ningsih? Mereka pasti muak melihat Sukma dan empat anaknya menumpang makan dari hasil jerih payah keluarga Priyanto.
Semuanya punya motif. Semuanya punya kesempatan. Dan sekarang, orang-orang itu masih berpapasan dengannya di pasar atau pos ronda.
Brak!
Pintu depan didorong kasar dari luar. Lamunan horor Sukma pecah seketika.
Gito berdiri di ambang pintu. Napas anak tujuh tahun itu memburu. Seragam merah putihnya sobek parah di bagian bahu kiri, menampakkan kulitnya yang tergores merah.
Sudut bibirnya berdarah, bercampur kotoran tanah yang menempel di pipi.
Tapi mata Gito sama sekali ndak memancarkan ketakutan anak kalah berkelahi. Sorot matanya tajam, menyipit puas menahan senyum kemenangan yang aneh.
"Baju sopo maneh sing mbok tarik sampai sobek begini, To?" Sukma langsung mendekat. Tangannya refleks menarik lengan anak tirinya itu masuk ke dalam rumah, sementara tangan kirinya cekatan menyambar lap basah dari ember pojokan.
Gito meringis pelan saat kain basah menekan sudut bibirnya.
"Bukan aku sing mulai narik, Mak. Kardi tuh, tangannya gatel."
"Anaknya Bu Karto?" Sukma menghentikan usapannya. "Gara-gara neker neh?"
"Bukan." Gito meludah pelan ke lantai, membuang sisa darah kotor dari mulutnya.
"De'e ngajak ribut gara-gara de'e bilang Mas Sigit itu anak pungut. Anak haram jadah sing dipelihara Bapak cuma gara-gara kasihan dari panti asuhan."
Tangan Sukma kaku di udara. Dadanya mendadak sesak. Stigma sosial desa di era Orde Baru memang sekejam ini.
Garis keturunan darah menentukan posisi seseorang di mata tetangga, dan status anak pungut adalah bahan hinaan paling rendah yang bisa dilemparkan di tengah jalan.
"Terus? Kamu pukul Kardi?" tanya Sukma. Suaranya diatur sedatar mungkin, menekan emosi keibuannya yang mendadak mendidih tumpah ruah.
Gito tertawa kecil. Tawa yang terlalu sinis dan gelap untuk ukuran bocah sekolah dasar.
"Kardi badannya gede, Mak. Umurnya jauh di atasku. Lek aku maju adu jotos sendiri ya pasti bonyok mati konyol." Gito menatap mata ibunya lurus-lurus.
"Aku pura-pura lari mundur."
"Lari ke mana?"
"Ke arah warung esnya Mak Karman." Gito tersenyum miring.
"Pas de'e ngejar dan mau mukul kepalaku pakai kayu, aku sengaja jongkok cepat. Kayunya Kardi bablas nabrak kaca etalase warung sampai pecah berantakan."
Sukma terdiam seribu bahasa. Matanya menelanjangi anak kecil di depannya ini.
"Orang-orang di pos ronda langsung lari nangkap Kardi. Mak Karman teriak-teriak minta ganti rugi. Kardi nangis diseret bapaknya, padahal aku sing sengaja mancing de'e ke situ," lanjut Gito puas.
Napas Sukma tertahan di tenggorokan. Anak ini... punya kecerdasan yang mengerikan.
Manipulatif. Dingin. Penuh perhitungan.
Gito ndak sekadar membalas dendam fisik. Anak tujuh tahun ini sanggup mengorbankan etalase kaca milik tetangga yang ndak bersalah demi menghancurkan musuhnya lewat tangan orang tua dan sanksi sosial warga.
Semua itu dia lakukan tanpa harus kena pukul parah.
Lek anak ini ndak dibentuk dengan benar dari sekarang,
Gito bakal tumbuh jadi monster sosiopat yang jauh lebih licik dari Joko atau Jamilah. Alat pembunuh tak kasat mata.
Sukma membuang lap basah itu ke dalam ember. Dia berjongkok, mensejajarkan pandangannya dengan mata Gito.
"Besok pagi, sebelum kamu berangkat sekolah, kamu ikut Ibu ke warung Mak Karman. Kita bawa uang, kita ganti kacanya diam-diam."
Gito langsung melotot protes. "Lho, kok kita sing ganti, Mak?! Kan Kardi sing mecahin kayunya! Semua orang ronda lihat sendiri!"
"Karena kamu sing sengaja ngarahin kayunya ke sana, To," potong Sukma tegas, nadanya ndak menerima bantahan. Jari telunjuknya mengetuk dada kiri Gito.
"Berani licik, berani bayar ongkosnya. Jangan pernah ngorbankan piring nasi orang miskin kayak Mak Karman cuma buat menang berantem di jalanan. Ngerti kamu?"
Bibir Gito terkatup rapat. Dia menunduk menatap ujung jari kakinya yang kotor, lalu mengangguk pelan. Dia mengerti aturan main baru ibunya.
Sukma berdiri. Kepalanya mendadak berdenyut pusing. Satu masalah selesai, masalah lain menggedor pintu kewarasannya.
Matahari sore mulai benar-benar tenggelam menyembunyikan diri di balik punggung Gunung Arjuno.
Semburat jingga di langit berubah menjadi biru gelap. Suara azan magrib dari pelantang masjid desa terdengar sahut-menyahut.
Sinta dan Syaiful sudah selesai mandi, duduk anteng mengunyah singkong rebus di dapur. Gito baru saja masuk ke kamar ganti baju.
Tapi Sigit belum pulang.
Anak sulung yang biasanya paling disiplin soal waktu itu ndak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Jantung Sukma memompa darah lebih cepat.
Ingatannya tentang pembunuh Sukma Ayu asli kembali menghantuinya.
Bagaimana kalau si pembunuh sengaja melepas tambang sapi itu karena tahu Sukma lemah? Bagaimana kalau sekarang targetnya bergeser ke anak-anaknya saat Sutrisno ndak ada di rumah?
Sukma melangkah tergesa ke luar rumah.
Sandal jepitnya menendang kerikil jalanan yang mulai gelap. Dia berdiri di pinggir jalan utama desa, matanya liar mengawasi setiap bayangan yang lewat di bawah lampu kuning pos ronda.
Pikirannya sudah merancang skenario mencari ke rumah Kades, atau melabrak Lasmi malam ini juga.
Tiba-tiba, sesosok bayangan kecil muncul dari balik tikungan warung. Berjalan gontai menembus kabut tipis. Sendirian.
"Sigit!"
Sukma setengah berlari menghampiri anak itu. Tangannya refleks mencengkeram kedua bahu Sigit, mengecek lekuk tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki mencari luka atau memar.
"Dari mana kamu, Le?! Magrib baru pulang! Bikin Ibu jantungan nyariin!"
Sigit mendongak. Ndak ada rasa bersalah karena pulang terlambat di wajah kotor itu. Sama sekali ndak ada ketakutan layaknya anak yang bersiap diomeli ibunya.
Wajah bocah sembilan tahun itu justru terlihat berbeda. Auranya mendadak terasa bertahun-tahun lebih tua dari usianya.
Sorot matanya kosong, seperti orang dewasa yang baru saja ditampar rahasia raksasa di siang bolong dan kebingungan memproses lukanya.
"Ibu..." Suara Sigit terdengar sangat pelan. Kering. Melayang tertiup angin malam.
"Ada apa? Kamu dicegat preman pasar?" cecar Sukma panik.
Sigit menggeleng lambat. Tangannya yang sedari tadi menyembunyikan sesuatu di dalam saku celana seragamnya perlahan ditarik keluar. Jari-jari mungilnya membuka genggaman erat itu.
Sebuah kalung perak usang dengan bandul berbentuk ikan kecil tergeletak di telapak tangannya.
"Tadi... ada perempuan tua nyegat aku di depan gerbang sekolah. Bajunya apik. Wangi."
Sukma menahan napas. "Siapa perempuan itu, Git? Kamu disakiti?"
"Ndak." Sigit menelan ludah, suaranya bergetar tipis di ujung kalimat.
"De'e ngasih kalung ini. De'e bilang, aku ndak perlu takut lagi hidup melarat di sini. De'e bilang..."
Anak itu menatap mata Sukma lurus-lurus. Memaku ibu tirinya itu di tempat.
"...aku punya nenek kandung di ujung timur. Di Banyuwangi."
Udara malam Desa Sumber Brantas mendadak terasa membekukan sumsum tulang belakang Sukma.
Kalung perak. Perempuan dari Banyuwangi. Ini jelas bukan sekadar kunjungan rindu cucu yang tak sengaja lewat.
Ada pihak ketiga yang sedang mengerahkan bidaknya masuk ke papan catur keluarga ini.
Sigit memiringkan kepalanya sedikit, menuntut jawaban atas nama asing yang baru saja menghancurkan logika kekeluargaannya.
"Ibu... pernah dengar nama Sri Rahayu?"