NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Percakapan di Bawah Cahaya Bulan dan Nama yang Terucap

Hutan Bayangan Berbisik perlahan merelakan kegelapannya usai tebasan Pedang Petir Hijau Abadi membelah langit. Dua bulan Ridokan kini bersinar tanpa halangan, menumpahkan cahaya peraknya ke atas tanah berlumut yang masih mengepulkan asap sisa pertarungan.

Ajil berjalan menjauh dari kawah abu tempat Iblis Zarkul musnah. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Sistem di dalam kepalanya mungkin mencatat bahwa kondisi fisiknya berada pada angka seratus persen berkat Mana Tak Terbatas dan efek Setelan Malam Abadi, namun jiwa manusiawinya tidak bisa dibohongi. Kelelahan mental yang menumpuk menghantamnya malam ini.

Mengingat kembali insiden beberapa hari terakhir—mulai dari membantai puluhan bandit di jalanan demi menyelamatkan orang tua dari anak kecil, menaklukkan Beruang Api Kematian, hingga baru saja mengeksekusi seorang Ksatria Iblis—semuanya menguras sisa-sisa kewarasannya.

Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit perlahan naik, memijat pangkal hidungnya. Bau darah, jeritan bandit yang terbakar petir ungu, dan wajah menangis Milo yang begitu mirip dengan Arzan, terus berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak.

Ia menemukan sebuah area terbuka yang cukup kering di bawah naungan pohon ek raksasa berdaun keperakan. Ajil menghentikan langkahnya. Dengan lambaian tangan kanannya yang terhubung ke Cincin Ruang Tak Terbatas, ia mengeluarkan beberapa potong kayu kering yang ia kumpulkan dari pinggiran hutan. Ia menumpuknya dengan rapi, lalu memercikkan setitik petir ungu sebesar ujung jarum dari telunjuknya.

Bzzzt... Wush.

Api unggun seketika menyala, mengusir hawa dingin hutan yang menggigit tulang. Cahaya jingga kemerahan menari-nari, memantulkan siluet wajah Ajil yang bersudut tajam dan dipenuhi rahang yang mengeras. Ia duduk bersila di atas sebuah akar pohon yang menonjol, menatap lurus ke dalam jilatan api.

Ia kembali mengeluarkan sisa daging Kalkun Hutan yang ia beli di Valeria, menusuknya dengan ranting besi, dan mulai memanggangnya di atas api. Lemak daging yang menetes ke dalam bara api menciptakan bunyi gemeretak dan kepulan asap beraroma gurih yang kontras dengan bau anyir hutan tersebut. Namun, mata hitam pekat Ajil tidak berfokus pada makanannya. Ia menatap kosong, terjebak dalam sangkar masa lalunya sendiri.

Di atas sana, tersembunyi di balik dahan raksasa pada ketinggian lima puluh meter, Erina masih berdiam diri. Mata zamrudnya menatap ke bawah, mengamati bahu lebar pria itu yang tampak sedikit turun malam ini. Pria yang baru saja membelah langit itu kini terlihat tak lebih dari seorang manusia biasa yang sedang memikul kelelahan dunia di pundaknya.

Ajil memutar ranting besinya perlahan. Hening menguasai malam, hanya diisi oleh suara gemeretak kayu bakar. Lalu, tanpa memalingkan wajahnya dari api unggun, Ajil membuka mulutnya. Suara baritonnya yang datar, dingin, dan sedikit serak membelah kesunyian hutan.

"Turunlah. Tidak ada untungnya kau terus mengikutiku dari atas sana, Telinga Runcing."

Angin malam seolah berhenti berhembus mendengar kalimat itu.

Di atas pohon, Erina menahan napasnya sesaat. Ia sudah menduga Ajil menyadari keberadaannya, tapi dipanggil secara langsung dengan nada sinis seperti itu membuat harga dirinya sebagai seorang High Elf sedikit tertohok. Namun, rasa penasarannya yang telah bermutasi menjadi cinta yang gila, jauh lebih besar dari ego rasialnya.

Perlahan, ilusi sihir pembiasan cahaya di sekitar tubuh Erina memudar bagai kabut yang tersapu angin.

Dari atas dahan yang tinggi, Erina melompat turun. Gerakannya tidak terikat oleh hukum gravitasi normal. Ia melayang turun dengan keanggunan yang absolut, seolah udara itu sendiri yang menjadi anak tangga baginya. Zirah sutra mithrilnya yang berwarna putih mutiara memantulkan cahaya dua bulan Ridokan, membuat tubuhnya seolah memancarkan pendaran suci. Rambut perak kebiruannya berkibar lembut membingkai wajah ovalnya yang sempurna.

Ia mendarat di atas tanah berlumut tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun, tepat sepuluh langkah di seberang api unggun, berhadapan dengan Ajil.

[SISTEM: Peringatan. Entitas High Elf terdeteksi.]

[Level: 200. Kelas: SSS. Status: Netral.]

Ajil melihat layar hologram itu sekilas, lalu mematikannya. Ia sama sekali tidak terkesan. Ia menarik daging panggangnya dari atas api dan mulai menggigitnya. Wajahnya tidak menunjukkan riak emosi, apalagi kekaguman. Bagi pria-pria di benua timur, melihat Erina turun dari langit di bawah cahaya bulan adalah pemandangan yang akan membuat mereka berlutut memuja. Bagi Ajil, peri ini tak lebih dari gangguan malam yang berisik.

"Jadi, apa maumu?" tanya Ajil sinis, matanya menatap tajam melewati nyala api. "Jika kau menginginkan material dari iblis tadi, ambil saja abunya. Jika kau dikirim oleh Guild untuk mengawasiku, kau membuang waktumu, Telinga Runcing.".

Erina tidak terpancing oleh panggilan merendahkan itu. Ia melangkah maju dua tindak, berdiri dengan postur anggun, kedua tangannya terlipat sopan di depan perutnya. Mata zamrudnya yang biasanya memancarkan arogansi dan keangkuhan, kini menatap lurus ke dalam mata hitam Ajil dengan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Aku tidak menginginkan harta, dan aku tidak tunduk pada Guild manapun di benua ini," ucap Erina, suaranya mengalun merdu seperti dentingan harpa perak di tengah keheningan hutan. "Aku mengikutimu karena aku melihat sesuatu yang aneh. Seseorang yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan dunia, namun memilih untuk melindungi anak-anak jalanan yang menangis dari amukan monster."

Ajil menghentikan kunyahannya. Rahangnya mengeras. Menyebut kejadian di pasar itu adalah sebuah kesalahan besar. Pria itu menelan dagingnya dengan paksa.

"Itu bukan urusanmu," desis Ajil dingin.

Erina menggeleng pelan. Ia melangkah lebih dekat, mengabaikan hawa mengintimidasi yang mulai menguar dari tubuh Ajil. Jarak mereka kini hanya terpisahkan oleh api unggun.

"Kau selalu memasang wajah sedingin gletser, berbicara seolah dunia ini adalah musuhmu," Erina memiringkan wajahnya, menatap lebih dalam ke sepasang mata kelam di depannya. "Tapi matamu tidak bisa berbohong. Di balik kilatan petir ungu dan kekejamanmu saat membantai para bandit itu... ada duka yang terlalu dalam. Sebuah kesedihan yang begitu luas hingga kau sendiri hampir tenggelam di dalamnya.".

Mendengar kata-kata itu, jantung Ajil berdegup menyakitkan. Dinding pertahanan batinnya yang ia bangun dari es dan amarah merasa terancam. Pria ini tidak ingin ada yang melihat kelemahannya. Ia tidak ingin dikasihani, apalagi oleh penduduk dunia fantasi yang menjadi penyebab ia terpisah dari keluarganya.

"Tutup mulutmu," geram Ajil, nadanya turun satu oktaf, berubah menjadi ancaman mematikan.

Erina tidak mundur. "Namaku Erina. Aku berasal dari garis keturunan bangsawan High Elf di benua timur. Aku telah hidup ratusan tahun, melihat kebangkitan dan keruntuhan kerajaan manusia. Tapi aku belum pernah melihat sepasang mata yang menyimpan keputusasaan seindah matamu. Katakan padaku... siapa namamu? Apa yang sebenarnya kau cari di dunia ini?"

"Keberanian yang bodoh," batin Ajil.

Kesabarannya habis. Ia tidak ingin ada yang mengorek luka lamanya.

Mata Ajil menyipit tajam. Dalam sepersekian detik, udara di sekitar mereka berubah. Hutan yang tadinya sunyi mendadak terasa mencekik.

WUSSSHHH!

Ajil melepaskan Aura Gravitasi Jiwa miliknya. Sebuah kabut energi berwarna hijau pekat meledak dari tubuhnya, menyapu ke segala arah. Api unggun di antara mereka seketika padam, tertekan hingga menjadi bara yang berasap. Tanah di bawah kaki Ajil melesak ke dalam.

Tekanan gravitasi yang ratusan kali lipat lebih berat dari normal menghantam tubuh Erina. Rambut perak sang High Elf itu tersentak ke belakang, zirah mithrilnya berderit menahan beban yang tak kasat mata. Udara di paru-parunya seolah dipaksa keluar. Jika Erina adalah petualang Kelas A seperti Rino atau Richard, ia pasti sudah berlutut memuntahkan darah. Namun, sebagai entitas Level 200 Kelas SSS, Erina mampu menahannya. Ia menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke tanah, membiarkan aura suci dari dalam tubuhnya beresonansi untuk melawan tekanan mematikan itu.

"Pergi," perintah Ajil, suaranya kini bergetar oleh amarah yang tertahan. Petir ungu mulai memercik di buku-buku jarinya. "Jangan berpura-pura mengerti penderitaanku. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah hilang dariku."

Meski seluruh otot dan tulangnya dipaksa bekerja keras menahan gravitasi Ajil, Erina tetap menatap wajah Ajil. Tidak ada ketakutan di mata zamrudnya, yang ada hanyalah empati yang tulus dan air mata yang perlahan menggenang.

"Kau benar," ucap Erina dengan suara yang sedikit tertahan akibat tekanan udara, namun tetap merdu dan penuh tekad. "Aku mungkin tidak tahu siapa yang hilang dari hidupmu. Aku tidak tahu duka macam apa yang merobek hatimu hingga kau menjadi sang algojo yang berdarah dingin."

Erina melangkah satu tindak ke depan, membelah tekanan aura hijau itu dengan tekad baja. Sepatu bot peraknya menginjak tanah yang retak. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter di atas sisa bara api.

"Tapi aku tahu satu hal," lanjut Erina lembut, membiarkan sebutir air mata jatuh melewati pipi pualamnya. "Luka yang kau simpan terlalu besar untuk kau pikul sendirian di dalam kegelapan. Kau tidak perlu berpura-pura menjadi monster tanpa hati di depanku. Aku tidak akan memusuhimu, dan aku tidak akan menertawakan lukamu. Aku hanya... ingin berada di sisimu. Mengenal pria di balik jaket hitam ini.".

Ajil terdiam kaku. Tangan kanannya yang tadinya memercikkan petir ungu perlahan berhenti bergetar.

Ia menatap wanita di depannya. Seorang High Elf dengan kecantikan mutlak, level yang luar biasa tinggi, namun rela menahan rasa sakit dari auranya hanya untuk membujuknya agar tidak merasa sendirian. Wajah Erina yang disinari cahaya bulan dan sisa bara api terlihat begitu tulus, nyaris putus asa memohon agar Ajil membuka sedikit saja celah di hatinya.

Kenangan akan malam di mana Ami memeluknya saat ia di-PHK dari pabrik pertama kali terlintas di benaknya. Saat itu, Ami juga menatapnya dengan tatapan yang sama. Tatapan yang mengatakan: 'Kau tidak perlu kuat setiap saat. Ada aku di sini.'

Tanpa sadar, dada Ajil bergemuruh. Rasa marah yang menguasainya menguap, menyisakan kekosongan yang perlahan diisi oleh sebuah kehangatan kecil yang sudah lama mati.

"Kau mungkin bisa melihat dasar lautan dengan matamu yang tajam, Peri," gumam Ajil pelan, suaranya tak lagi berisi ancaman, melainkan sebuah kepasrahan yang lirih. "Tapi jangan pernah mencoba menyelami duka seorang pria yang telah mengubur dunianya sendiri... karena kau hanya akan ikut tenggelam di dalamnya bersama keheningan."

Erina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu indah hingga membuat bunga-bunga roh di sekitar pepohonan bermekaran. "Maka biarkan aku tenggelam bersamamu.

Setidaknya, kau tidak akan sendirian di dasar lautan itu."

Hening kembali mengambil alih. Tatapan mereka saling terkunci selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Dinding es di mata hitam Ajil tidak sepenuhnya hancur, namun untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Ridokan, dinding itu menunjukkan sebuah retakan kecil.

Perlahan, Ajil menarik kembali Aura Gravitasi Jiwa-nya.

Kabut hijau pekat itu terserap kembali ke dalam tubuhnya. Tekanan berat yang menghimpit hutan menghilang seketika. Udara malam kembali mengalir dengan bebas, mendinginkan wajah Erina yang sedikit memerah karena kelelahan menahan gravitasi. Api unggun di antara mereka secara ajaib kembali menyala perlahan dari sisa-sisa bara.

Ajil memutus kontak mata mereka, menunduk menatap nyala api yang mulai membesar. Ia kembali memutar sisa daging panggangnya, seolah percakapan penuh ketegangan barusan tidak pernah terjadi.

Namun, tepat ketika Erina berpikir bahwa pendekatannya gagal dan pria itu kembali menutup diri, sebuah suara bariton yang pelan namun sangat jelas terdengar menembus derik api unggun.

"Ajil."

Erina tersentak pelan. Mata zamrudnya berbinar-binar penuh harapan.

Pria berjaket hitam itu masih menatap api, namun rahangnya sedikit mengendur. Ia tidak menoleh, tapi kata-katanya ditujukan pada sosok anggun yang berdiri di seberangnya.

"Namaku Ajil," ulangnya dengan nada sedatar permukaan danau beku, namun tanpa sinisme. "Dan jika kau bersikeras untuk tenggelam... jangan salahkan aku jika kau tidak bisa kembali ke permukaan."

Mendengar nama itu terucap langsung dari bibir pria yang dicintainya, hati sang High Elf berbunga-bunga. Ribuan kupu-kupu seolah beterbangan di dalam dadanya. Erina tahu, Ajil belum menerimanya sepenuhnya, pria itu masih dibayangi trauma masa lalu. Namun ini adalah langkah pertama. Pintu besi yang terkunci rapat itu akhirnya terbuka selebar satu inci.

Dengan gerakan yang jauh lebih rileks, Erina melangkah mengitari api unggun, tidak lagi peduli pada gaun sutra mithrilnya yang mahal. Ia duduk di atas hamparan lumut, tepat di sebelah Ajil, hanya berjarak satu jengkal dari lengan pria itu. Wangi nektar bunga matahari dan embun pagi dari tubuh Erina menguar, menenangkan sisa-sisa bau belerang dari Setelan Malam Abadi milik Ajil.

"Terima kasih... Ajil," bisik Erina lembut, menyebutkan nama itu seolah itu adalah mantra paling suci di dunia. "Aku berjanji, aku adalah perenang yang sangat handal.".

Malam itu, di tengah Hutan Bayangan Berbisik yang kelam, sang dewa kematian berhati dingin tak lagi duduk sendirian. Dan sang High Elf arogan yang menolak seluruh raja di benua timur, akhirnya menemukan raja sejatinya di bawah cahaya dua bulan Ridokan. Takdir mereka kini telah terikat dalam satu benang yang sama, siap menghadapi badai dimensi yang akan segera datang.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!