NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Gema dari Masa Lalu yang Terlupa

Malam di Navasari kini tak lagi menawarkan kesunyian yang menenangkan bagi Alana. Di dalam menara observasi yang terisolasi oleh dinding kaca melingkar dan membran energi tipis yang berdesis, ia mulai merasakan sebuah fenomena yang pernah disebut Arlo dalam catatan usangnya sebagai "Arus Balik". Jika pada bulan-bulan pertama Alana hanya merasa seperti pemancar yang mengirimkan pesan ke arah kehampaan kosmik yang tuli, kini alam semesta atau lebih tepatnya, penghuni bumi mulai mengirimkan balasan yang menyesakkan.

Setiap kali Alana memejamkan mata, ia tidak lagi melihat kegelapan. Ia melihat jaringan. Ribuan, mungkin jutaan, benang perak halus seolah menjuntai dari langit-langit tak kasatmata dan tertancap langsung ke inti dadanya. Benang-benang itu bukan sekadar imajinasi; mereka bergetar dengan frekuensi yang sangat nyata. Ia bisa merasakan denyut syukur yang hangat dari seorang ibu di pedalaman Kalimantan yang baru saja sembuh dari sakit setelah mendengar "suara batin" Alana. Ia merasakan kelegaan dingin dari seorang pria di penjara pinggiran Brasil yang menemukan kedamaian sesaat. Bahkan, ada detak harapan yang stabil dan ritmis dari seorang gadis kecil di bangsal rumah sakit yang ia kirimi pesan pengharapan kemarin malam.

Namun, orkestra emosi ini sangat melelahkan. Tubuh Alana bukan lagi sekadar raga manusia; ia adalah sebuah antena raksasa yang terpaksa menampung arus listrik emosi dunia. Setiap getaran membuat pendaran indigo di kulitnya berdenyut, menciptakan riak cahaya yang memantul di dinding kaca menara, membuat ruangan itu tampak seperti berada di bawah permukaan laut yang bercahaya.

Getaran yang Salah

Pagi ini, di tengah riuh rendah energi itu, ada satu benang yang bergetar dengan cara yang sangat asing. Benang ini tidak membawa emosi manusia. Ia terasa dingin, tajam, dan memiliki frekuensi mekanis yang sangat mirip dengan suara mesin-mesin tua di dalam kapsul Navigasi Langit yang terkunci di gudang. Getaran itu terasa seperti gesekan logam di atas kaca, memicu rasa mual di perut Alana.

"Alana, kau tampak gelisah. Wajahmu sepucat kertas, dan pendaran di tanganmu... itu tidak stabil."

Suara Elian memecah konsentrasi Alana. Elian berdiri di balik membran pemisah, sedang berlutut membersihkan sisa-sisa kristal indigo yang membeku di lantai. Kristal-kristal itu adalah residu dari transmisi energi besar yang dilakukan Alana semalam untuk menciptakan gangguan elektromagnetik demi mengusir drone milik Reno yang mencoba mendekat.

Alana menempelkan telapak tangannya ke permukaan meja kristal, mencoba mencari stabilitas fisik yang kian memudar. "Ada seseorang di luar sana, Elian. Seseorang tidak hanya menerima pesanku, tapi dia sedang mencoba 'membalasnya' menggunakan jalur belakang yang seharusnya sudah mati."

Alana memejamkan mata lebih rapat, membiarkan pikirannya mengikuti benang dingin itu melintasi benua dan samudera. Di dalam benaknya, sebuah bayangan mulai mengkristal. Ia melihat sebuah toko jam antik di jalanan sempit kota Zurich, Swiss. Di bawah toko itu, terdapat sebuah laboratorium tersembunyi yang dipenuhi dengan tabung-tabung vakum yang berpijar oranye redup. Diagram astronomi manual yang sudah menguning memenuhi dinding, dan di tengah ruangan itu, seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi sedang menatap layar osiloskop kuno yang menampilkan pola gelombang rasi Cygnus.

Tiba-tiba, sebuah suara statis terdengar di dalam ruang observasi. Suara itu tidak berasal dari speaker digital modern, melainkan keluar dari pengeras suara tembaga milik kakek Surya yang sudah berkarat dan tidak dialiri listrik selama tiga dekade.

"...Navigator... apakah itu kau, Arlo? Ataukah kau akhirnya berhasil menemukan pewaris yang dicari Surya selama ini? Ini adalah transmisi darurat dari Stasiun Helios. Kami telah menunggu sinyal ini selama lima puluh tahun, tiga bulan, dan dua belas hari."

Alana tersentak mundur hingga kursinya berderit. Napasnya memburu. "Siapa itu? Elian, bagaimana bisa suara itu keluar dari speaker mati?"

Elian mendekati meja, wajahnya pucat pasi. "Itu tidak mungkin. Kabel speaker itu sudah dipotong kakek sejak aku masih kecil."

"Arlo tidak pernah bercerita padamu tentang 'Tim Bumi'?" tanya pria di seberang frekuensi itu. Suaranya jernih namun penuh dengan beban sejarah. "Namaku adalah Dr. Viktor Vance. Aku adalah rekan kakekmu, Surya. Aku adalah navigator cadangan yang seharusnya berangkat jika Arlo gagal dalam uji coba pertama di tahun tujuh puluhan. Aku adalah orang yang mendesain algoritma enkripsi surat batin yang kau gunakan sekarang untuk menyapa dunia."

Dekadensi Molekuler

Elian mengepalkan tangannya di tepi meja. "Tim Bumi? Kakek Surya selalu mengatakan bahwa proyek ini adalah rahasia pribadinya. Dia bilang dia sendirian setelah Arlo berangkat."

"Tentu saja dia berbohong," sahut Viktor melalui desis frekuensi statis yang semakin tajam. "Surya adalah seorang pelindung yang sangat teliti. Dia harus menghapus semua jejak keberadaan kami untuk melindungi kalian dari kejaran otoritas global yang ingin memanen teknologi ini. Dia memalsukan kematian kami, menghancurkan catatan universitas, atau membuat kami tampak seperti ilmuwan gila yang gagal total. Tapi kami tidak pernah berhenti. Kami tetap mengawasi langit melalui teleskop radio rahasia. Kami tahu tentang 'Embun Keabadian' yang kau minum, Alana, dan kami tahu bahwa kau sekarang sedang mengalami Dekadensi Molekuler."

Alana tertegun. Kata "dekadensi" terdengar seperti kutukan. "Apa yang kau maksud dengan dekadensi molekuler?"

"Kau pasti merasakannya, Alana," jawab Viktor dengan nada dingin yang klinis, seolah ia sedang membacakan diagnosa medis. "Kau merasa tubuhmu semakin ringan setiap harinya, bukan? Kau mulai merasa sulit untuk menggenggam benda padat. Terkadang, tanganmu seolah menembus permukaan meja sebelum kau memfokuskan pikiranmu. Itu karena duniamu sedang menolakmu. Embun Indigo itu bukan obat permanen; itu hanyalah perekat sementara agar jiwamu tidak langsung terlempar keluar dari raga saat menerima energi kosmik. Jika kau tidak segera melakukan 'Sinkronisasi Tanah', kau akan menguap menjadi cahaya murni dan menghilang dari dimensi ini dalam waktu kurang dari satu tahun."

Kesunyian yang menyakitkan menyelimuti menara. Alana menatap tangannya yang kini tampak sedikit transparan di bawah cahaya lampu menara. Ia mencoba menyentuh sebuah pena kristal di meja, dan untuk sedetik, ujung jarinya seolah melewati benda padat itu sebelum akhirnya ia bisa merasakannya. Ketakutan yang amat sangat menjalar di tulang belakangnya.

"Apa yang kau inginkan dari kami, Viktor?" tanya Elian, suaranya bergetar antara amarah dan proteksi. "Kenapa baru sekarang kau muncul setelah membiarkan kami berjuang sendirian?"

"Karena 'Penjemput Fajar' yang kalian hadapi kemarin hanyalah pion kecil, Elian. Ada kekuatan yang lebih besar yang sedang bergerak di balik bayang-bayang pemerintahan. Mereka telah menemukan lokasiku di Zurich hanya karena satu surat batin Alana yang ceroboh. Setiap surat yang kau kirimkan tanpa enkripsi baru, Alana, adalah koordinat GPS yang memancarkan lokasi Navasari bagi mereka yang memiliki teknologi sensor kuno. Aku muncul untuk memberimu kesempatan hidup."

Suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari ujung transmisi di Zurich. Alana bisa mendengar teriakan dalam bahasa Jerman di latar belakang, diikuti suara pintu besi yang digedor paksa.

"Aku mengirimkan sebuah berkas digital melalui frekuensi radio ini sekarang juga. Tangkap dengan sistem menaramu! Ini adalah 'Sandi Penyamaran' yang didesain kakekmu tepat sebelum dia wafat. Gunakan ini untuk membungkus setiap suratmu agar tidak bisa dilacak. Dan Alana... ada satu hal lagi. Di bawah fondasi mercusuar, ada sebuah ruang yang Surya sebut sebagai 'Akar Bumi'. Kau harus masuk ke sana dan menyentuh inti tanah Navasari jika kau ingin tetap memiliki raga manusia."

Frekuensi itu tiba-tiba terputus oleh jeritan logam yang memekakkan telinga. Sambungan mati total. Sinyal Dr. Viktor Vance menghilang dari radar batin Alana seolah pria itu baru saja ditelan bumi.

Menuju Akar Bumi

Alana terduduk lemas di kursi rotannya, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Informasi ini mengubah segalanya. Musuh mereka bukan lagi sekadar vlogger ambisius atau unit militer bersenjata, melainkan waktu dan hukum fisika yang mulai melenyapkan eksistensinya.

"Akar Bumi," bisik Elian pelan. Ia menatap lantai kayu menara dengan tatapan kosong. "Aku sudah tinggal di desa ini seumur hidupku, membantu kakek membersihkan gudang setiap minggu, dan aku tidak pernah tahu ada ruang lain di bawah mercusuar selain tangki penyimpanan oli tua yang berkarat."

"Kakek menyimpan rahasia di dalam rahasia," sahut Alana sambil menyeka air matanya. Ia melihat ke arah bintang amber di langit yang kini tampak seperti pemangsa yang menanti jiwanya. "Arlo mungkin sengaja tidak memberitahunya tentang hal ini karena dia ingin aku memilih jalanku sendiri. Dia ingin aku menjadi cahaya, tapi aku... aku tidak ingin menghilang, Elian. Aku ingin tetap bisa berdiri di sini, bersamamu."

Alana mengambil pena kristalnya dengan tekad yang lebih keras dari sebelumnya. Kali ini, ia tidak mengirimkan surat ke dunia luar. Ia mulai mengunduh seluruh sandi penyamaran yang dikirimkan Viktor ke dalam sistem saraf menara. Cahaya di dalam ruangan yang tadinya indigo terang, perlahan berubah menjadi hijau hutan yang dalam dan pekat, memberikan perasaan berat yang aneh namun menenangkan.

"Elian," kata Alana dengan nada suara yang penuh otoritas. "Malam ini, kita tidak akan mengawasi langit. Kita akan menggali tanah. Jika kakek meninggalkan sesuatu di bawah mercusuar untuk menyelamatkanku, itulah satu-satunya kesempatan kita."

Elian mengangguk pasti. Ia segera berlari menuju gudang luar untuk mengambil sekop, palu godam, dan senter bertenaga tinggi. Sementara itu, Alana mulai menuruni tangga melingkar menara. Setiap langkah yang ia ambil terasa luar biasa berat. Tarikan gravitasi bumi kini terasa menyakitkan, seolah-olah tanah Navasari sedang marah dan mencoba menarik paksa molekul tubuhnya untuk kembali bersatu dengan debu.

Di lantai dasar, di dalam gudang oli yang gelap dan berbau besi tua, mereka mulai menggeser rak-rak berat. Debu beterbangan di bawah sorot lampu senter Elian. Setelah beberapa menit mencari di balik tumpukan drum oli, mereka menemukan sesuatu yang aneh. Di bawah lapisan debu setebal satu inci, terdapat sebuah pelat baja yang tertanam di lantai beton dengan simbol rasi bintang Cygnus yang diukir kasar.

"Ini dia," bisik Elian, suaranya menggema di ruangan yang sempit itu.

Alana berlutut di depan pelat baja itu. Tangannya yang berpendar hijau kini gemetar. Ia tahu, di balik pintu ini, jawaban atas eksistensinya tersembunyi. Namun ia juga tahu, sekali ia masuk ke "Akar Bumi", hidupnya sebagai manusia biasa benar-benar telah berakhir, dan ia harus menerima takdirnya sebagai jembatan antara dua dunia.

"Siap?" tanya Elian sambil memegang linggis besi.

Alana mengangguk, menatap pintu gelap itu seolah sedang menatap masa depannya yang penuh teka-teki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!