“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat yang Terkubur
Mendengar hal itu, Jia tersenyum sinis. Dia segera melepaskan tangannya dari cengkraman Liel dan melangkah maju, membuat Liel harus mundur secara perlahan. Seketika Jantung Liel berdegub kencang. Lututnya gemetar dan langkah kakinya mulai terasa goyah.
Jia mendorong Liel, membuat tubuhnya yang besar dan tinggi itu segera terhempas ke sofa empuk berwarna coklat tua.
Jia berbisik pelan di telinga Liel. “Apa dia tadi membelai dadamu yang berbentuk 'spongebob' itu seperti ini, hm?”
“Spo–spongebob?” Liel memalingkan wajahnya ke sebelah kanan sambil mengepalkan tangannya.
Kemudian Jia melebarkan kedua kakinya dengan posisi berlutut, dan paha liel, ada diantara kedua lututnya itu. Kemudian, kepalanya dia sandarkan di pundak Liel.
“Jika dia merangkulmu dari belakang, apa dia juga pernah merangkulmu dari depan seperti ini?” bisiknya lagi.
Liel menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia diam membisu. Entah mengapa, suara Jia yang pelan namun tegas itu begitu seksi, mengalun lembut, masuk ke telinganya.
Otaknya seakan membeku, tidak mampu berpikir jernih. Dia tidak menyangka, bahwa Jia akan seberani ini, terhadapnya yang bagaikan singa lapar, siap untuk menerkam Jia kapan saja.
“Apa dia juga pernah seperti ini?” lanjut Jia mengigit kecil telinga kiri Liel.
Seketika napasnya memburu, membuat bulu romanya berdiri. Liel mendengus kasar. “Tolong Jia, hentikan. Jangan memancing—”
Perkataannya terpotong saat Jia mencium bibir seksi, yang jarang tersenyum itu. Kemudian, dengan cepat Liel menghentikan ciuman mereka.
Liel memegang kedua lengannya. “Ji– Jia, kamu tahu ini tidak benar. Ada banyak CCTV di ruanganku…”
“Pfft, buahaha, itu bukan urusanku!! Lihatlah … betapa merahnya wajahmu saat ini … bahkan suara jantungmu terdengar sampai ke telingaku.”
Liel tidak menampik karena faktanya memang begitu. Kemudian, Jia menempelkan kembali bibirnya dengan cepat, ke bibir seksi pria itu. Lumatan demi lumatan dia beri untuk Liel. Ya, kali ini, ciuman mereka lebih panas.
Dia yang mulai terbawa suasana, seketika memeluk Jia. Jari jemarinya yang panjang dengan cepat menggerayangi punggungnya.
Tangan Liel yang berurat itu, kini mulai nakal dan berjalan perlahan, menyusuri bagian d4danya, membuat Jia tersentak. Dia berhenti, bahkan mendorong Liel dan segera berdiri dengan posisi terbaiknya.
“Baiklah, kita akhiri saja, aku ingin pulang. Lagipula … Liel juniormu itu sudah menegang, itu bisa membahayakanku.”
“Ak–akhiri? Setelah semua hasratku muncul?? Apa kamu mempermainkanku?!”
Jia mendecik kesal. “Ck, Itu hukuman karena sudah memberi ruang untuk Jenar! Ah, dan ini kemeja putihmu, aku sudah menggantinya.”
“Ugh, Jia aku mohon, jangan seperti ini …”
“BRAK!”
Pintu tertutup rapat saat Jia keluar dari ruang kantor, meninggalkan sejuta hasrat yang belum menghilang dari Liel. Seketika sakit kepala menderanya.
Liel memijat pelan dahinya seraya tersenyum. “ Haaa … berani sekali kelinci kecilku itu kabur, setelah semua yang dia lakukan padaku! Lihat saja, aku akan membalasnya!”
Kemudian mata Liel beralih kepada paper bag pemberian Jia. Dia segera menelpon Tony dan memerintahkannya untuk melacak nomor rekening Jia.
“Tetapi, untuk apa tuan?”
“Sepertinya Jia tetap membeli kemeja putih untukku. Aku hanya ingin mengembalikan uang yang sudah di belanjakannya itu. Datang dan ambil “black card” dariku, lalu kirimkan ke saldo rekeningnya sebanyak yang dia belanjakan, kalau bisa, lebihkan saja semuanya.”
“Se–semua? Tetapi … nona jia akan curiga jika uang yang di kirimkan mencapai ratusan mili—”
“Haah, secukupnya! Secukupnya saja Tony!! Pikirkan saja dengan otakmu itu!! Kepalaku sedang sakit, jadi aku mohon, jangan membuatku kesal.”
“Kepala anda sakit? Apa perlu saya panggilkan dokter pribadi anda tuan?”
“Tidak, aku hanya butuh dia…”
“Dia siapa tuan?”
“Cih, banyak tanya! Sudahlah, aku tutup teleponmu!”
Liel mematikan teleponnya dan segera duduk, merapikan jas dan dasinya. “Sial! Aku tidak tahu apakah aku bisa tidur malam ini!!”
Namun, jauh di dasar hatinya, dia berterima kasih kepada Jenar, sebab karena perilaku bodohnya itu, dia jadi melihat sesuatu yang lain dari Jia.