Meretas Batas : Titik Cinta!

Meretas Batas : Titik Cinta!

Perceraian

Prolog

Isi otaknya dengan cepat merangkai setiap memori yang paling ingin Jia hindari. Namun, entah bagaimana caranya, semua rekaman memori itu muncul kembali, menyelinap tanpa ampun, dan Jia, sangat membenci hal itu.

Tidak!! Ada apa ini?? Setelah sekian lama, Mengapa datang lagi?? Mari kita lupakan!!” Gumam Jia lirih sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

Kemudian, dengan gesit dia mengambil sebuah buku yang ada di ruangan kliniknya, berusaha menepis semua kenangan menyakitkan itu. Dia membuka sebuah buku motivasi dan menemukan sebuah kalimat yang menarik.

“Jangan biarkan masa lalu menentukan masa depanmu. Percayalah, kamu memiliki kekuatan untuk menciptakan kebahagiaanmu sendiri.”

...****************...

Sebelas tahun berlalu. Jia merasa saat ini adalah waktu yang terbaik dari segala tahun yang pernah ada. Setelah sebelumnya selalu bertarung dengan dirinya sendiri, membuang rasa trauma, yang terkadang masih membekas di benaknya.

Semua berawal dari perlakuan Kay dan seisi sekolah yang merundungnya, Jia didiagnosis mengalami gangguan mental, yaitu Depresi berat.

Dia selalu menyangkalnya, namun gejala tersebut kerap kali muncul pada saat semester genap, saat dia menduduki bangku kelas dua SMA.

Saat malam hari, Jia terbangun dengan keringat dingin dan jantung yang berdetak kencang. Dia bermimpi seolah-olah Kay datang, bersiap mencekik untuk membunuhnya. Mimpi buruk itu terus berulang sehingga mengganggu berbagai aktivitas di sekolahnya

Pada akhirnya, Jia memutuskan untuk melakukan terapi dan meminum obat-obatan secara teratur, tanpa seorangpun yang tahu, kecuali Nata.

Keyakinan untuk sembuh inilah yang mengantarkan Jia melanjutkan pendidikannya untuk belajar di sekolah kedokteran. jia dinyatakan lulus setelah berjuang dan belajar mati-matian mengambil profesi spesialis gangguan jiwa, yaitu menjadi seorang Psikiater.

Hal yang sepadan bukan? Belajar sambil mengobati dirinya sendiri dan menolong orang lain. Kemudian terdengar suara langkah kaki masuk ke ruang kliniknya, tanpa mengetuk pintu maupun mengatakan kata “permisi”, sehingga membuatnya harus menutup buku bacaannya.

Wanita dengan kemeja “oversize” warna biru abu dengan model lengan balon itu tampak sibuk dengan semua barang bawaannya.

“Taraaaaaaa!! Selamat ya, resmi jadi Dokter Jiwa!!” Nata menyodorkan kopi es americano kesukaannya.

Jia dengan nada datarnya, “Hanya ini? Aku perlu uang banyak Nat, untuk membayar sewa klinik ku.”

“Sialan! Jangan bercanda! Kamu bahkan lebih kaya dariku!” Nata dengan nada ketusnya menaruh buket bunga mawar putih di meja.

“Oh ya, bagaimana bisa seorang Asisten Manager berada disini? Bagaimana dengan bos mu? Dia tidak menyuruhmu lembur lagi bukan??” Sahut Jia sambil meminum es kopinya.

Nata terlihat kesal seraya merengek kepada Nata seperti anak kecil. “Lupakan, jangan tanya dia! Sekarang aku sedang kabur! Ayo makan malam denganku Jia, kumohon???”

...****************...

Jia mengiyakan kemauan Nata, untuk makan di restoran kesukaannya, yaitu “seafood restaurant”. Mereka menikmati makan malam dengan penuh canda tawa. Sampai suatu ketika, ponsel Jia berdering, Jad menghubunginya melalui “video call”.

Jad bertanya, hadiah natal apa yang Jia inginkan di akhir tahun ini. Sudah menjadi kebiasaan Jad dan ayahnya untuk mengirimkan banyak hadiah.

Mereka melakukan ini sejak Jia berumur 11 tahun. Jia berusaha menolak hadiah yang diberikan mereka, karena sudah terlalu banyak, sampai-sampai ada yang belum sempat dia buka.

“Lebih baik kamu dan ayah ke Indonesia, itu hadiah Natal terindah untukku.”

Jad terlihat kesal. “Tidak, selama bajing4n yang menyakitimu itu masih berada di sana!”

Mata Jia melebar, dia segera memarahi kakak laki-lakinya. “JAD!!! Jaga bicaramu, bukankah kita telah sepakat untuk tidak membahasnya lagi???”

“Baiklah, maaf! Jadi, hadiah apa yang kamu inginkan? Bagaimana jika sebuah pulpen biasa dan snack berasal dari negara ini?”

“Pulpen biasa? Memangnya ada pulpen luar biasa?” ucap Jia seraya tertawa ringan.

“Hei, pulpen hitam yang ayah hadiahkan di saat ulang tahunmu yang ke-15 dulu adalah “spy camera pen”. Apakah kamera nya berfungsi dengan baik?”

Jia terdiam sejenak, alisnya bertautan karena berusaha memanggil memorinya di masa lalu, “Jad, apa maksudmu?? Spy cam pen?? Untuk apa kamu memberikan pulpen seperti itu?”

*“*Untuk membantumu belajar Jia! Jika kamu melihat di bagian tengah “spy camera pen”, ada garis yang jika kamu membukanya, terdapat usb yang dapat menyimpan berbagai file dan dapat terkoneksi pada laptop atau komputer mu… 'Wait'!! Jangan bilang selama ini kamu tidak mengetahuinya??”

“Bagaimana aku bisa tahu jika kamu tidak pernah memberitahukannya?? Lagipula kelima pulpen yang kamu beri berwarna sama!! Tidak ada bedanya dengan pulpen biasa!”

“Hei kamu kan cerdas, apakah Jia ku telah menjadi bodoh?”

“Tutup mulutmu Jad!!!”bentak Jia kesal.

Otak Jia kembali bekerja keras, dia memaksanya untuk kembali mengingat waktu dimana dia masih berusia 15 tahun. Jad yang tidak sabar, memaksanya untuk berbicara seraya mengejeknya.

5 menit berlalu…

Kemudian Jia berdiri sambil menggebrak meja makan. Nata dan Jad pun terkejut. “ Ah, aku teringat sesuatu Jad, sudah dulu ya!”

“Hei, hei tunggu…” ucap Jad dengan suara terpotong akibat Jia mematikan “video call” secara mendadak.

Jia segera berdiri dan keluar dari restoran, memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Nata pun mengikutinya dengan langkah yang tergesa-gesa, kemudian menahan langkah Jia.

“Apa yang terjadi, mengapa wajahmu terlihat panik?”

“Aku harus segera pergi ke rumah orang tuaku.

Pulang lah, aku akan mengabarimu nanti.”

“Tidak, aku ikut denganmu! Kamu tidak terlihat baik Jia.”

Kemudian terlihat lampu mobil menyorot ke arah mereka, membuat mata mereka terpejam akibat silaunya cahaya tersebut. Terlihat seorang pria berotot keluar dari dalam mobil seraya menyapa Jia.

“Hai, selamat ya Jia. Hm … bolehkah aku mengambil sahabatmu dulu?” ucap Doris seraya memamerkan ototnya.

“Ambillah, sekalian nikahi dia, ” goda Jia seraya tertawa lebar.

Nata meringis, dia segera mengeleng-gelengkan kepalanya, pertanda tidak ingin bersama Doris. Namun dengan sekuat tenaga, Jia mendorongnya sehingga dia berhasil masuk ke dalam mobil. Kemudian Jia segera berlari meninggalkan mereka.

“HEI JIAAA, TUNGGUUU!!!! JANGAN TINGGALKAN AKU BERSAMA MONSTER BEROTOT INII!!! Nata menjerit seraya mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.

Doris segera menarik pelan tangan Nata agar kepalanya menoleh kepadanya. Setelah kepalanya masuk ke dalam mobil, Doris segera menutup kaca mobil dan menguncinya.

Alis Doris segera bertautan. Ada rasa kesal yang muncul di dadanya. “Apa kamu gil4?? Orang-orang pikir aku akan menculikmu jika berteriak seperti itu!!!”

“Haaaa… memangnya kapan aku pernah waras jika berhadapan denganmu?? Sudahlah, cepat antarkan aku ke rumah ibunya dengan kecepatan penuh!!! Ayo cepat!!”

...****************...

Jia segera masuk ke mobil dan pergi ke rumah ibunya. Namun sesampainya di sana, ternyata Nata dan Doris sudah terlebih dahulu tiba di rumahnya.

“Apa-apaan ini? Sudah kukatakan untuk pulang saja, jangan mengikutiku!”

“Doris, pulanglah, aku tidak membutuhkanmu sekarang.” Nata mengusir Doris tanpa memperdulikan ucapan Jia.

Doris pun beranjak pergi dengan penuh kebingungan, dia melaju pesat dengan kecepatan penuh. Jia menatap tajam ke arah Nata, berharap dia sadar untuk pulang saja tanpa mencampuri urusannya.

“Ok, baiklah, aku akan pulang, namun akan aku pastikan dulu untuk mengetahui masalahmu, wajahmu terlihat pucat Jia, aku takut trauma yang kamu alami muncul…”

“Ssst, Diam!! Tidak ada yang boleh tahu masalah mentalku!! Baiklah, ayo masuk ke dalam rumah.” Jia membunyikan bel rumahnya.

Tidak berapa lama, Bi Inah dengan daster batik membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Dia memeluk Jia erat, melepas kerinduan. Wajah yang semakin tua dan keriput itu terlihat sedih bercampur haru dengan kedatangan Jia.

“Bibi senang mbak Jia akhirnya mau datang ke sini.” Bi Inah menahan isak tangis seraya membetulkan sanggul di rambutnya yang memutih karena uban.

“Tidak usah menangis bi, uhm… Ibu mana?”

“Aa … ada di ruang tamu mbak,” balas Bi Inah menunjuk ke arah ruang tamu.

Jia dan Nata pun berjalan menyusuri ruang tamu dan mendapati foto baj1ng4n itu masih terpampang di dinding, bersebelahan dengan foto keluarga mereka. Rasa marah Jia memuncak saat melihat foto tersebut.

“Ibu, turunkan foto bajingan itu, bukankah kami sudah lama bercerai.” ucap Jia memecah keheningan di ruang tamu dengan suara lantangnya.

Terpopuler

Comments

Miu Nuha.

Miu Nuha.

Motivasi yg bagus Jia, jgn terjebak oleh masa lalu. bukalah pikiranmu kafena masa depan jauh membentang meminta kau tangguh 👍

2025-08-24

1

🌹Widianingsih,💐♥️

🌹Widianingsih,💐♥️

ini kisah lanjutan kah ?
tokohnya masih sama

2025-08-14

1

🔥Cherry_15❄️

🔥Cherry_15❄️

ini lanjutan dari novel yang satunya kah?

2025-08-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!