NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

...ooOoo...

Deru mesin Porsche 911 GT3 RS milik Navarro akhirnya mereda saat ia mematikan kontak di basemen parkir eksklusif The Obsidian Tower, sebuah gedung apartemen mewah berlantai lima puluh yang menjulang di distrik finansial.

Keheningan basemen yang dingin itu sempat menjebak Navarro dalam lamunan selama beberapa menit.

Jemarinya masih mengetuk setir secara berirama, sementara indra penciumannya seolah-olah masih menyimpan sisa aroma mawar es bercampur keringat dingin dari tubuh Issabelle.

Setelah memastikan mobilnya terkunci, Navarro melangkah masuk ke dalam lift pribadi yang membawanya langsung menuju lantai paling atas, tempat penthouse mewahnya berada.

Begitu pintu lift berdinding kaca itu berdenting terbuka di lantai atas, dentuman musik techno-remix berfrekuensi rendah langsung menyambut indra pendengarannya.

Bau alkohol mahal, asap rokok premium, dan aroma uap dari mesin vape memenuhi udara ruangan berkonsep open-space tersebut.

Tirai-tirai kaca besar sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan panorama lampu-lampu kota Chicago yang berkilau di bawah langit malam yang pekat.

Di tengah ruang tamu yang luas, di atas sofa kulit modular berbentuk U, teman-teman terdekatnya masih terjaga.

Skylar, Grey, George, dan beberapa anggota inti dari lingkaran mereka sedang berkumpul.

Di atas meja kaca berukuran besar, botol-botol whiskey kosong berserakan di antara tumpukan kartu poker dan beberapa stik pengontrol konsol permainan.

Mereka tampaknya sedang berada di tengah-tengah permainan taruhan yang bising.

"Oh! Lihat siapa yang baru saja kembali ke sarang!" seru Grey, mengangkat gelas sloki berisi cairan amber ke udara saat melihat siluet Navarro berjalan masuk.

"Sang Tuan Muda yang mendadak menghilang di tengah pesta!"

George, yang sedang fokus menghisap rokoknya di sudut sofa, hanya menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menyelidik.

"Kau terlihat berantakan, Nav. Tapi matamu... kau tidak terlihat seperti orang yang habis menyelesaikan urusan bisnis dengan senjata."

Navarro tidak terlalu memedulikan gurauan atau tatapan penasaran dari teman-temannya.

Aura dominan yang biasanya ia pancarkan untuk mengintimidasi malam ini tampak sedikit melunak, digantikan oleh pembawaan yang santai namun penuh teka-teki.

Ia melangkah mendekati sofa modular tersebut, lalu menjatuhkan tubuh tegapnya di sela-sela ruang kosong antara Skylar dan George.

Ia menyandarkan punggungnya yang lelah pada bantalan sofa yang empuk, mengabaikan stik permainan yang disodorkan Grey ke arahnya.

Pikiran Navarro sama sekali tidak berada di ruangan ini.

Pikirannya telah tertinggal beberapa puluh meter di bawah pohon ek tua, di dalam kabin mobil sportnya yang sempat menjadi saksi runtuhnya pertahanan seorang putri klan Dark Dubois.

Navarro mendongak, menyandarkan kepalanya pada tepi sofa hingga pandangannya tertuju lurus pada langit-langit kamar tamu penthouse-nya yang beraksen beton ekspos modern.

Ia perlahan menutup matanya, membiarkan kebisingan musik di sekitarnya memudar menjadi sekadar dengung latar belakang.

Di balik kegelapan kelopak matanya, memori tentang malam ini kembali berputar dengan resolusi yang teramat tajam.

Bagaimana bisa... batin Navarro, sebuah helaan napas pendek keluar dari hidungnya.

Bagaimana bisa aku jatuh sejauh ini pada pesona seorang gadis mawar es?

Sepanjang hidupnya sebagai pewaris tunggal garis darah Von-riccardo di Pantai Barat, Navarro selalu dikelilingi oleh wanita-wanita yang mencoba menarik perhatiannya.

Dari putri-putri klan aliansi yang anggun hingga wanita-wanita malam, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menggetarkan satu sel pun di dalam kepalanya.

Bagi Navarro, wanita biasanya hanyalah ornamen atau bidak.

Namun, Issabelle berbeda.

Gadis itu datang ke hidupnya seperti badai salju yang tak terduga.

Dan wangi tubuhnya... Navarro menarik napas dalam-dalam seolah-olah aroma itu masih ada di sana.

Wangi murni yang pertama kali ia rasakan di koridor sekolah dan di dalam mobil tadi benar-benar telah bertindak sebagai racun candu yang merusak segala kalkulasi logis di dalam otaknya.

Aroma itu bukan sekadar wangi parfum, melainkan wangi esensi murni dari seorang Dubois yang memicu seluruh insting kepemilikan dan protektif di dalam jiwanya yang biasanya mati rasa.

Navarro mengulum senyum tipis, sebuah senyuman murni yang sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—terlihat di wajah tampannya yang dingin.

Ia sedang memikirkan ciuman lembut perpisahan mereka tadi.

Kecupan singkat yang awalnya diniatkan Issabelle sebagai formalitas untuk melarikan diri, namun berakhir dengan cengkeraman tengkuk yang dalam dari tangannya sendiri.

Rasa manis yang tertinggal di bibirnya seolah-olah menolak untuk memudar.

Ia teringat bagaimana menggebu-gebu dan nekatnya Issabelle saat mengajaknya untuk bercinta di koridor bar dan di dalam mobil tadi.

Tantangan gila yang dilontarkan gadis itu dengan mata basah dan dada yang naik turun karena frustrasi.

Navarro mengakuinya di dalam hati—saat kalimat itu keluar dari bibir Issabelle, ada bagian dari dirinya yang sangat ingin mengiyakan ajakan itu.

Sisi predatornya berteriak untuk merenggut dan menandai gadis itu malam ini juga di atas jok kulit mobilnya.

Namun, ia tidak berani.

Bukan karena ia takut pada hukum atau ancaman klan Dubois, melainkan karena ia tidak sanggup menyakiti Mine-nya secepat itu di saat kondisi psikologis gadis itu sedang hancur.

Ia tidak ingin menjadi bajingan rendahan yang memanfaatkan kerapuhan seorang wanita untuk memuaskan ego fisiknya sendiri.

Memikirkan bagaimana ia berhasil menahan diri dan melihat ekspresi syok Issabelle yang menganga karena penolakannya justru membuat senyuman di wajah Navarro semakin melebar.

Pikirannya kemudian melayang sedikit lebih jauh, mengingat kalimat ambigu yang sengaja ia lontarkan di akhir ciuman tadi.

Bagaimana rasanya jika salah satu bagian dirinya...

Navarro menggelengkan kepalanya sedikit, membuka matanya kembali sambil memaki dirinya sendiri dalam hati.

Tidak, tidak. Kamu hanya akan berciuman, Navarro. Jangan melangkah terlalu jauh dulu.

Ia mencoba menekan sisa-sisa ketegangan di bawah perutnya.

Ia tidak sebirahi itu untuk merusak segalanya di awal permainan.

Kontrak mereka sudah berjalan.

Satu hari, satu ciuman. Navarro menyipitkan matanya ke langit-langit, menyusun rencana taktis untuk esok hari di sekolah.

Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa besok, di sudut mana pun di High School, ia akan mencium gadis itu lagi, melumatnya hingga sepasang bibir tipis milik Issabelle membengkak karena intensitas gairahnya.

Di sisi lain sofa, Skylar yang sejak tadi sedang memegang kaleng birnya mendadak menghentikan obrolannya dengan George.

Pandangan mata Skylar terkunci pada profil samping wajah Navarro.

Untuk beberapa saat, Skylar mengerutkan keningnya, tidak percaya dengan apa yang sedang ia saksikan.

Navarro Von-riccardo—pria yang dikenal berdarah dingin, yang sanggup mematahkan rahang musuhnya tanpa mengubah ekspresi wajah—kini sedang bersandar dengan mata setengah terpejam sambil tersenyum-senyum sendiri seperti seorang remaja amatir yang baru saja memenangkan lotre.

Skylar menyenggol lengan George dengan sikutnya, memberi isyarat ke arah pemimpin mereka.

George pun menoleh dan ikut tertegun sejenak, sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepala sambil meneguk sisa whiskey-nya.

"Wah, gila... kau tersenyum seperti orang gila, Brother," celetuk Skylar, suaranya memecah keheningan personal Navarro.

Skylar meletakkan kaleng birnya di atas meja dengan bunyi dentang pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Navarro.

"Ada apa denganmu? hingga membuat otak jeniusmu korsleting seperti ini?"

Navarro tidak langsung mengubah posisinya. Ia perlahan menurunkan pandangannya dari langit-langit, menoleh ke samping kiri di mana Skylar sedang menatapnya dengan binar mata penasaran yang campur aduk dengan rasa geli.

Senyuman di bibir Navarro tidak hilang, justru bertransformasi menjadi sebuah seringai tipis yang sarat akan pengakuan emosi yang belum pernah ia suarakan sebelumnya pada siapa pun.

"Skylar," panggil Navarro, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh ketulusan yang asing di telinga teman-temannya.

Pria itu memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke dalam mata sahabatnya sejak kecil itu. "Apa seperti ini rasanya jatuh cinta, Sky?"

Ruangan itu mendadak terasa sedikit lebih tenang seiring dengan beberapa orang di dekat mereka yang mulai menurunkan volume suara untuk mendengarkan.

Navarro mengembuskan napas pendek, lalu menyandarkan sikunya di atas lutut, menunduk sejenak sambil menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat menangkup wajah pucat Issabelle.

"Pikiranku... yang biasanya memenuhi otakku, malam ini sama sekali tidak berfungsi. Sejak aku meninggalkan rumahnya, pikiranku selalu mengabsennya tanpa henti. Setiap detik, setiap tarikan napas, wajahnya dan wangi tubuhnya terus berputar di sini," Navarro mengetuk pelipisnya sendiri dengan jari telunjuk.

"Ini benar-benar di luar kendaliku."

Skylar terdiam selama beberapa detik. Keheningan itu tampak kontras dengan pembawaannya yang biasanya paling berisik di antara mereka.

Ia menatap lekat-lekat pada gurat wajah Navarro, mencari tanda-tanda apakah sahabatnya ini sedang bercanda atau berada di bawah pengaruh obat-obatan.

Namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata gelap yang memancarkan keseriusan mutlak dan binar kepemilikan yang sangat dalam.

Sebuah senyuman lebar dan tulus perlahan terukir di wajah Skylar. Ia mengangkat tangannya, lalu menepuk pundak bidang Navarro dengan kekuatan maskulin yang penuh dengan rasa bangga.

Skylar mengangguk mantap.

"Aku benar-benar bahagia, Brother, melihatmu bisa seperti ini," ucap Skylar, nadanya melunak, dipenuhi oleh rasa lega seorang sahabat yang akhirnya melihat sisi kemanusiaan dari seorang Riccardo.

"Selama bertahun-tahun aku mengira kau akan tumbuh menjadi Jomblo Akut tanpa jiwa seperti para tetua di keluarga mu. Tapi melihatmu bisa terobsesi dan jatuh sepesona ini pada seorang gadis... demi Tuhan, aku tidak keberatan jika harus membantumu menculik gadis itu dan mengurungnya di penthouse ini jika itu bisa membuatmu terus tersenyum seperti orang gila."

Navarro terkekeh rendah, sebuah tawa lepas yang jarang terdengar.

Ia menepis tangan Skylar dari pundaknya dengan santai.

"Kau tidak perlu menculiknya, Sky. Dia sudah berada di dalam pelukanku. Kontraknya sudah ditandatangani, dan besok permainan kami yang sebenarnya baru saja dimulai."

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!