Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Energi Roh
Energi Roh
Ze Kai melangkah tergesa-gesa ketika memasuki goa melalui pintu yang di bentuk dari tanah. Raut wajah khawatir jelas terlihat pada Kakek Jiang yang sedang merawat tanaman di kebun kecilnya.
"Apa yang terjadi, Ze Kai?" tanyanya dengan suara penuh perhatian saat melihat wajah Ze Kai yang gelisah dan napas yang masih terengah-engah. "Kenapa kau terlihat terkejut dan cemas?"
Ze Kai mendekat dan duduk di sisi Kakek, menjelaskan semua yang ia dengar dari kelompok kultivator itu. Bagaimana mereka sedang berburu binatang spiritual dan bahkan menyebutkan tentang mencari seseorang dengan bakat Elemen Tanah. Kakek mendengarkan dengan seksama, wajahnya semakin serius seiring dengan kelanjutan cerita Ze Kai.
"Jadi mereka sudah mulai mencari kita," gumam Kakek dengan pelan, menyentuh janggutnya dengan lembut. "Kau harus berhati-hati, nak. Jangan sekali-kali keluar sendirian jika tidak perlu."
"Aku akan berhati-hati, Kakek," jawab Ze Kai sembari mengangguk. "Tapi sekarang lebih dari sebelumnya, Aku harus meningkatkan kekuatan ku. Kalau tidak, aku tidak bisa melindungi Kakek atau bahkan diri ku sendiri jika mereka menemukan kita."
Genesis muncul dengan cepat dari cincin Ze Kai, melayang di udara dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.
"Benar. Untuk menghadapi ancaman seperti itu, kau perlu meningkatkan kultivasi dengan cepat. Aku sarankan untuk mencari binatang spiritual dengan level yang sesuai. Energi roh mereka akan membantu meningkatkan kekuatan elemen mu dan mempercepat perkembangan kultivasimu."
Ze Kai melihat Genesis dengan sedikit tersenyum. "Kau tidak tidak memanggil ku 'Pemilik Baru' lagi?"
"Aku akan memanggil nama mu saja," jawab Genesis.
"Hmm, ya. Itu lebih menyenangkan dan terasa seperti teman."
"Nanti akan aku bantu kau mencari informasi tentang binatang spiritual yang cocok untukmu. Kita akan mencari yang levelnya tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk memberikan energi roh yang kau butuhkan."
-
-
-
Pada keesokan paginya.
Ze Kai mempersiapkan diri dengan hati-hati sebelum keluar dari goa. Ia meminta sang Kakek untuk tidak keluar goa sama sekali sampai ia kembali, dan memastikan pintu goa tertutup dengan rapat seperti semula. Xiao Bai melompat ke pundaknya dengan lincah, siap menemani perjalanan kali ini.
"Apa saja binatang spiritual yang cocok untukku, Gen?" tanyanya saat menyusuri jalan kecil menuju hutan dalam. Udara di hutan terasa lebih sejuk dan lebih tebal dengan energi alam.
"Berdasarkan data yang aku miliki," jelas Genesis sambil berterbangan di sisi Ze Kai "Binatang spiritual yang cocok untukmu saat ini adalah Harimau Hutan Berbulu Salju atau Ular Berwarna Biru. Keduanya memiliki energi roh yang sesuai dengan level kultivasimu sekarang. Tidak terlalu kuat, hingga membuatmu kesulitan. Tapi cukup untuk memberikan dorongan besar pada perkembanganmu."
"Singa atau ular..." gumam Ze Kai terlihat berpikir. "Apa bedanya energi roh yang diberikan oleh keduanya?"
"Harimau Hutan Berbulu Salju memberikan energi roh yang lebih fokus pada kekuatan fisik dan stabilitas energi elemen," jelas Genesis. "Sedangkan Ular Berwarna Biru memberikan energi yang lebih fokus pada kelincahan dan kemampuan mengendalikan energi dengan lebih halus. Cocok untuk memperkuat Elemen Air yang baru kau pelajari."
Selama perjalanan, mereka sering bertemu dengan berbagai jenis binatang liar. Mulai dari rusa dengan tanduk besar hingga babi hutan yang sedang mencari makanan. Namun mereka tidak serta merta membunuh mereka semua. Hanya yang bersifat menyerang saja, dan yang hanya dibutuhkan saja.
Ze Kai lebih memilih menghindar dengan hati-hati, atau hanya berdiri diam sampai mereka pergi sendiri. Genesis selalu memberikan informasi tentang setiap binatang yang mereka temui, menjelaskan tentang karakteristik dan kebiasaan mereka.
"Kenapa kau begitu tahu banyak tentang binatang dan alam sini, Genesis?" tanya Ze Kai, ketika mereka sedang menyusuri jalan yang tertutup dedaunan kering.
"Karena sistem ku terhubung dengan memori pemilik sebelumnya," jawab Genesis dengan sedikit menunduk. "Pemilik sebelumnya adalah seseorang yang sangat mencintai alam dan semua makhluk di dalamnya. Ia selalu belajar tentang setiap binatang dan tanaman yang ditemuinya. Semua pengetahuan itu tersimpan di dalam ingatanku dan bisa ku bagikan denganmu."
"Pemilik sebelumnya pasti orang yang luar biasa ya," ucap Ze Kai dengan kagum.
"Ya, dia memang luar biasa," jawab Genesis dengan senyum lembut. "Tapi kau juga punya potensi yang sama besarnya, Ze Kai. Kau lebih sabar dan peduli terhadap makhluk lain dibandingkan dengan dia saat masih muda."
Sambil berbicara, mereka terus berjalan hingga menjelang sore hari. Saat Ze Kai sedang beristirahat di bawah naungan pohon besar, Xiao Bai tiba-tiba mengeong tajam dan melihat ke arah semak-semak yang lebat di kejauhan. Genesis juga segera ikut melihat ke arah sana.
"Ada sesuatu yang kuat di sana," bisik Genesis dengan suara rendah. "Coba kau perhatikan dengan seksama."
Ze Kai mengikuti arah pandangan Xiao Bai dan Genesis dan melihat gerakan di balik semak-semak. Setelah beberapa saat, seekor ular besar dengan tubuh berwarna biru kehijauan muncul perlahan-lahan. Kulitnya bersinar dengan kilau yang indah di bawah sinar matahari yang menyelinap melalui dedaunan pohon. Di kepalanya ada dua tonjolan kecil yang menunjukkan bahwa ini adalah Ular Biasa Berwarna Biru, binatang spiritual yang dicari mereka.
"Ini dia yang kau butuhkan, Ze Kai," bisik Genesis. "Jangan terlalu tergesa-gesa. Ular ini cukup cerdas dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan energi air juga. Kau harus berhati-hati."
Ze Kai menelan saliva nya, lalu berdiri perlahan, siap menghadapinya. Ular itu mengangkat kepalanya, mata besarnya memperhatikan dengan cermat. Tanpa berlama-lama, ia menyerang dengan cepat. Tubuhnya melengkung seperti peluru yang ditembakkan ke arah Ze Kai. Ze Kai dengan cepat melompat ke samping, menggunakan kelincahan hasil dari latihan Elemen Air.
"Gunakan kombinasi Elemen Tanah dan Air!" sarankan Genesis saat ia menghindari serangan ular yang hampir menyambar lengannya. "Tanah untuk membatasi gerakannya, Air untuk mengontrol kecepatannya!"
Ze Kai mengangguk dan segera mengerahkan kekuatannya. Dari tanah muncul beberapa tembok batu kecil yang menghalangi jalan ular, sementara ia mengendalikan air dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana untuk membentuk tirai air yang memperlambat gerakannya. Ular itu menjerit dengan suara yang keras, tubuhnya mulai mengeluarkan energi biru yang membuat tanah di sekitarnya menjadi lembab dan licin.
Pertarungan berlangsung cukup lama dan sengit. Ular itu sangat cepat dan cerdas, seringkali membuatnya kesulitan untuk mengendalikannya. Ze Kai hampir terjatuh beberapa kali karena tanah yang licin akibat energi airnya, tapi dengan bantuan Genesis yang selalu memberikan nasihat tepat waktu dan Xiao Bai yang memberikan peringatan ketika ular akan menyerang dari belakang, ia bisa bertahan.
Pada akhirnya, Ze Kai memutuskan untuk menggunakan kombinasi jurus yang baru ia buat sendiri. Ia membentuk lingkaran batu dari Elemen Tanah yang kokoh untuk menjebak ular di tengahnya. Batu-batu itu menyatu menjadi dinding yang tidak bisa ditembus, membuat makhluk itu tidak bisa melarikan diri. Kemudian ia mengendalikan aliran air dari sungai dekat untuk membentuk bentuk seperti rantai yang mengikat tubuhnya dengan kuat, membatasi setiap gerakan yang mungkin dilakukan.
Matanya terpaku pada ular besar yang kini terkurung dalam jeruji buatan dirinya. Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh kesedihan namun tegas. Genesis telah menjelaskan dengan jelas bahwa binatang spiritual harus dikalahkan hingga tidak berdaya dan dibunuh agar energi rohnya bisa dilepaskan dan diserap dengan benar. Tanpa itu, energi rohnya akan tetap terikat pada tubuhnya dan tidak bisa digunakan untuk meningkatkan kultivasinya.
"Maafkan aku..." bisik Ze Kai dengan suara yang hampir tak terdengar.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, ia mengumpulkan energi tanah dan air di telapak tangannya, membentuk sebuah bola energi yang lembut dan memiliki kekuatan yang cukup untuk mengakhiri penderitaan binatang itu dengan cepat. Ia melemparkannya dengan presisi tepat pada titik vital di bagian leher ular. Dalam sekejap, makhluk itu mengeluarkan suara jeda mendesis keras, sebelum tubuhnya mulai rileks dan warna kilau pada kulitnya perlahan memudar.
Setelah memastikan bahwa ular itu telah benar-benar tidak ada kehidupan, Ze Kai menghampirinya dengan hati-hati. Ia mengikuti langkah-langkah yang diajarkan Genesis, meletakkan telapak tangannya pada bagian kepala ular, kemudian mulai menyerap energi roh yang mulai keluar dari tubuhnya dalam bentuk cahaya kebiruan yang lembut. Proses ini berlangsung beberapa menit, dengan energi yang hangat mengalir perlahan ke dalam tubuhnya, menyebar ke setiap bagian tulang dan ototnya.
Saat proses menyerap selesai, sedikit cahaya kebiruan tersisa mengelilingi tubuh ular sebelum perlahan menghilang. Ze Kai berjongkok di sampingnya, menyentuh kulitnya yang kini sudah tidak lagi bersinar.
"Terima kasih atas energi rohmu," ucapnya dengan penuh rasa hormat. "Aku akan menggunakan kekuatan ini dengan bijak untuk melindungi orang-orang yang aku cintai."
Genesis muncul di sisinya dengan wajah yang lebih tenang.
"Kau telah melakukan hal yang benar, Ze Kai. Di dunia ini, terkadang kita harus membuat pilihan yang sulit untuk bertahan hidup dan melindungi orang lain. Energi roh yang kau dapatkan akan sangat membantu untuk meningkatkan level Elemen Tanah dan Air mu."
Xiao Bai juga mendekat dan menjilati bagian tubuh ular dengan lembut sebelum kembali ke pundak Ze Kai. Dengan hati-hati, Ze Kai mengangkat tubuh ular yang tidak lagi bernyawa dan membawanya ke tempat yang jauh dari jalur umum di hutan. Ia menggunakan Elemen Tanah untuk menggali liang yang dalam dan menyematkan tubuhnya dengan penuh rasa hormat, kemudian menutupinya dengan tanah dan menanam beberapa bunga di atasnya sebagai tanda penghormatan.
Setelah selesai, ia berdiri dan melihat ke arah langit yang mulai gelap. Waktu untuk kembali ke goa. Energi roh yang baru masuk ke dalam tubuhnya mulai bereaksi, dan ia perlu waktu untuk mengolahnya dengan benar.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊