Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Gunakan Aku
"Buat salinan video yang kamu dapatkan dan simpan di tiga tempat berbeda,” ucap Arkana memberi saran.
Thalia menatap manik mata Arkana. "Kenapa?"
“Dalam situasi seperti ini, kau membutuhkan rencana cadangan. Kau yang paham dunia bisnis, tentu tahu jika orang seperti suamimu selalu memiliki cara untuk mengelak ataupun memutarbalikkan keadaan, termasuk menggunakan sugesti untuk membuatmu kembali merasa bersalah seperti yang biasa dia lakukan padamu selama ini."
Thalia terdiam. Sedikitpun ia tidak menyangka Arkana akan mengenal dirinya lebih dalam hanya dari beberapa kali pertemuan saja.
“Aku bukan karyawanmu yang bisa kamu beri perintah,” ucap Thalia berusaha menepis rasa hangat yang menjalar di hatinya.
“Dan aku tidak sedang bicara sebagai atasanmu,” jawab Arkana tanpa jeda.
“Lalu sebagai apa?” pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa Thalia rencanakan.
Arkana tidak langsung menjawab. Ia maju selangkah, kembali memangkas jarak yang sempat ada dan memerangkap Thalia di antara kedua tangannya.
“Sebagai pria yang baru saja melihatmu dihancurkan oleh pria yang seharusnya melindungimu."
Napas Thalia tercekat di tenggorokan, luka yang belum sepenuhnya sembuh di hatinya ditambah dengan pengkhianatan suaminya yang baru saja ia saksikan membuat kalimat sederhana itu terasa seperti luka yang ditaburi garam.
“Jangan bicara seolah kau peduli,” ucap Thalia pada akhirnya.
Tatapan Arkana menggelap. “Aku memang peduli.”
“Arkana.”
“Dan aku tidak akan berpura-pura tidak menginginkanmu meski kau masih istrinya.”
Kalimat itu menusuk udara, kedua mata Thalia melebar mendengar kalimat yang baru saja Arkana ucapkan.
Tangan Arkana bergerak pelan menyentuh dagu Thalia, menahan wajah itu agar tidak berpaling.
"Aku menginginkanmu, Thalia," ucap Arkana rendah. "Aku menginginkanmu bahkan sebelum kita bertemu di acara pesta malam itu."
Thalia membeku selama beberapa saat, tetapi berusaha mempertahankan akal sehatnya tetap ada, lalu berkata pelan,
“Aku baru saja melihat suamiku bercumbu dengan wanita lain. Jangan jadikan masalah ini lebih rumit.”
"Kalau begitu, gunakan aku," ucap Arkana tanpa ragu.
Thalia mengerutkan kening. "Apa?"
"Kalau kau ingin melawan Rendra, gunakan aku."
"Jangan gila!" sergah Thalia.
"Aku serius." jari tangan Arkana berpindah dari dagu ke pipi Thalia. "Kau membutuhkan kekuasaan? Aku memilikinya. Kau menginginkan akses? Akan kuberikan sebanyak yang kau mau. Dan kau membutuhkan seseorang yang bisa membuat Rendra sadar akan tempatnya? Gunakan namaku."
Hening.
Thalia menatap manik Arkana lama. "Kamu menawarkan diri menjadi senjata?"
"Jika kamu menganggapnya begitu, maka ya," jawab Arkana.
"Reputasimu bisa hancur," ucap Thalia.
"Dan aku mampu membangunnya lagi jika itu untukmu," jawab Arkana.
Thalia kembali membeku, sentuhan tangan Arkana di pipinya perlahan memanas dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Setiap kata yang ia keluarkan selalu dijawab tanpa ragu ataupun berpikir, seolah pria itu sedang menegaskan bahwa memang itulah yang akan dia lakukan.
"Thalia..." suara Arkana menjadi lebih rendah, jemarinya mengusap lembut pipi Thalia. "Rendra baru saja membuktikan bahwa dia tidak pantas memilikimu."
Kalimat itu salah, dan Thalia sadar akan hal itu. Namun, setelah semua kebohongan Rendra, kejujuran Arkana terasa seperti bahaya yang sulit ia tolak. Ia bahkan tidak menepis ataupun mendorong Arkana menjauh.
"Jika aku menciummu sekarang." ucap Arkana semakin mengikis jarak. "Aku tidak akan menganggapnya sebagai kesalahan."
Jantung Thalia seakan berhenti berdetak. Namun, sebelum ia bisa mencernanya, bibir Arkana sudah menempel di bibirnya, membungkamnya dengan ciuman lembut yang bahkan tidak pernah Renda lakukan.
Thalia membeku sepersekian detik, otaknya berteriak itu salah, tetapi tubuh dan hatinya tidak berjalan selaras. Tubuhnya merespon apa yang Arkana lakukan. Awalnya, ia memukul dada Arkana, tetapi saat pria itu justru memperdalam ciuman, pertahanan terakhirnya runtuh. Ia membalas ciuman Arkana.
Arkana mencium Thalia seperti pria yang sudah terlalu lama menahan sesuatu yang gelap di balik kendali sempurna. Satu tangannya naik berpindah ke tengkuk Thalia, menekan tubuh Thalia ke pintu saat ciumannya menjadi lebih mendesak.
Ciuman itu terhenti saat Arkana merasakan napas Thalia nyaris habis, tetapi ia tidak menjauh. Dahinya ia tempelkan di dahi Thalia, netranya mengunci wajah Thalia, membiarkan napas mereka berbaur menjadi satu bersama rencana yang mereka susun dalam keheningan.
"Setelah ini, jangan harap kau bisa lepas dariku."
. . . .
. .. .
To be continued...