Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Intaian di Balik Tirai
"Lo ngapain tidur di sini? Pindah ke sofa gak!"
Sienna tiba-tiba menegakkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Declan yang sudah memejamkan mata dengan santai di atas kasur king size. Kesadaran cewek itu baru pulih sepenuhnya setelah drama ciuman brutal tadi. Dia baru sadar ada yang aneh dengan pembagian wilayah tidur mereka malam ini.
Declan tidak membuka matanya, hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis. "Kasur ini punya gue. Kamar ini punya gue. Suka-suka gue mau tidur di mana."
"Gak bisa gitu, Kanebo!" Sienna menendang kaki Declan di balik selimut, membuat pria itu mendengus pelan. "Kemarin-kemarin lo sendiri yang gengsi dan milih tidur di sofa sampai badan lo kaku semua. Kenapa sekarang mendadak jadi pengen di ranjang? Lo... lo pasti sengaja mau nyari kesempatan lagi kan gara-gara kejadian tadi?!"
"Jangan kepedean, Rose," potong Declan, suaranya terdengar berat dan serak khas orang yang menahan kantuk. "Gue tidur di sini karena gue capek. Seharian ini gue harus ngadepin drama pacar lo yang manipulatif itu, ditambah lo yang hobi banget nyari perkara di pinggir kolam. Energi gue habis."
"Dia bukan pacar gue ya, jaga mulut lo!" amuk Sienna, wajah sengaunya kembali merengut kesal. "Lagian kalau lo capek ya tidurnya di sofa aja kayak biasanya! Jangan mepet-mepet ke area gue. Kamar mansion WGM kan dikasih sekat, kenapa lo malah ngetem di kasur apartemen pribadi lo?!"
Sienna terus mengomel, mengeluarkan rentetan protes khas cegilnya yang cerewet tanpa henti. Namun, di tengah-tengah omelan panjangnya itu, tangan kekar Declan tiba-tiba bergerak menyusup ke bawah tengkuk Sienna.
Sret!
Dengan satu tarikan yang kuat dan tidak terduga, Declan menarik tubuh mungil Sienna hingga cewek itu jatuh terjerembap tepat di atas dada bidangnya. Sienna terpekik kaget, kedua tangannya refleks menumpu di bahu tegap Declan. Sebelum dia sempat memaki, lengan kekar Declan yang lain sudah melingkar erat di pinggang rampingnya, mengunci tubuh mereka dalam pelukan yang sangat rapat tanpa celah.
"Declan! Lepasin gak! Lo bener-bener gila ya—"
"Diam, Sienna. Tolong diam sebentar aja," bisik Declan tepat di sela rambut Sienna. Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius, rendah, dan dipenuhi ketegangan yang tertahan.
Sienna langsung membeku. Detak jantung Declan yang berdegup kencang dan konstan terasa sangat jelas di permukaan dadanya. "Dec... lo kenapa sih? Jangan bikin gue takut deh."
Declan melonggarkan pelukannya sedikit, hanya cukup untuk membiarkan Sienna bernapas, namun matanya kini terbuka dan menatap lurus ke arah jendela besar balkon apartemen mereka yang tertutup tirai tipis. "Gue gak lagi bercanda. Di luar sana... di atas gedung seberang, ada orang yang lagi ngeliatin kita pake kamera lensa jarak jauh."
Mata kucing Sienna langsung melebar sempurna. "Hah? Maksud lo ada paparazzi?"
"Bukan paparazzi biasa," desis Declan, rahangnya kembali mengeras dengan pekat. "Itu orang suruhannya Edrick. Bajingan itu lagi memata-matai kita dari luar. Dia pengen mastiin apakah hubungan kita ini beneran asli atau cuma settingan kontrak kayak yang dia tuduhin tadi di bawah tangga."
Sienna menelan ludah, rasa merinding langsung menjalar di sekujur tubuhnya. "Lo... lo serius, Dec? Kok lo bisa tahu?"
"Gue udah biasa hidup di bawah intaian orang-orang kayak dia sejak kecil, Sienna. Gue tahu bedanya kilatan lampu kamera biasa sama lensa pengintai taktis," jawab Declan, tangannya perlahan naik untuk mengusap rambut panjang Sienna yang masih agak lembap dengan gerakan protektif. "Kalau sekarang lo berontak dan milih tidur di sofa, besok pagi berita tentang keretakan hubungan kita bakal langsung ada di meja direksi agensi. Dan Edrick bakal punya celah buat masuk."
Sienna terdiam, melingkarkan tangannya dengan ragu di pinggang Declan, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa sangat panas di ceruk leher pria itu. "Jadi... ini semua demi kerjaan lagi?" tanya Sienna dengan suara yang sangat pelan, ada sedikit nada kecewa yang terselip di sana.
Declan menghentikan gerakan tangannya di rambut Sienna. Dia menundukkan kepalanya, menatap lekat-lekat wajah Sienna yang berada di dalam dekapannya. "Gue gak pernah bilang ini cuma demi kerjaan, Sienna."
"Terus apa?" tuntut Sienna, mendongak berani menatap langsung ke dalam manik mata hitam Declan yang dalam. "Lo selalu kayak gini. Posesif, meluk-meluk gue, nyium gue sepuas lo, tapi abis itu lo bilang ini bagian dari skenario atau taktik. Lo pikir perasaan gue ini mainan?!"
Declan menatap bibir ranum Sienna yang sedikit mengerucut, lalu menghela napas panjang. Sifat tsundere-nya seolah sedang bertarung hebat dengan ego lelakinya yang ingin jujur. "Gue meluk lo sekarang karena gue mau, Rose. Gue gak mau lo diambil sama dia. Itu bukan taktik, itu murni karena gue gak suka hak milik gue diganggu."
"Hak milik dari mana, kita kan belum—"
"Bakal segera," potong Declan cepat dengan nada suara yang sangat tegas dan penuh keyakinan mutlak. Pria itu menarik selimut tebal mereka sampai ke dada, membungkus tubuh mereka berdua di dalam kehangatan malam. "Sekarang lo tidur. Merem. Hidung lo udah makin merah gara-gara flu."
Sienna menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus membalas apa lagi karena hatinya sudah kepalang lumer oleh perlakuan Declan. Dia akhirnya pasrah, menyandarkan kepalanya di dada bidang Declan yang nyaman, mendengarkan irama detak jantung pria itu sebagai lagu pengantar tidur yang paling menenangkan.
"Hancung!"
Sienna mendadak bersin lagi, membuat dada Declan sedikit berguncang. Cewek itu langsung mendongak dengan wajah polos tanpa dosa. "Maaf, Dec... mampetnya pindah ke sebelah kanan."
Declan meremas dahinya frustrasi, namun lengan kekarnya sama sekali tidak melepaskan dekapannya pada tubuh Sienna. "Sienna Rose... untung gue sayang, kalau nggak udah gue lempar lo dari balkon sekarang juga."
Sienna tersenyum lebar di dalam kegelapan kamar, menyembunyikan senyuman manisnya di balik dada Declan. Di luar sana, badai pengintaian Edrick mungkin sedang mengintai mereka, namun di dalam kamar terkunci ini, kehangatan pelukan Declan terasa jauh lebih nyata daripada skenario apa pun yang ada di dunia hiburan.