NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 22 Cemburu nya Putra Mahkota

Malam itu restoran seafood di pinggir kota ramai oleh suara pengunjung dan aroma bumbu laut yang menggoda. Kepiting saus merah, udang bakar, dan kerang panas memenuhi meja Dewi, Lia, dan Juna.

Biasanya Dewi akan menjadi orang paling semangat saat makan seafood.

Namun malam ini berbeda.

Ia hanya memegang sendok sambil melamun menatap makanan di depannya.

Lia akhirnya menyenggol pelan lengannya.

“Tumben kamu diem.”

Dewi tersenyum kecil tipis.

“Capek aja… lagi diet juga buat penampilan ballerina.”

Juna yang duduk di seberang langsung mendengus pelan.

“Bohong.”

Dewi mengangkat pandangan.

Juna menatapnya serius.

“Sejak Ravin koma, keadaanmu jadi gak stabil.”

Suasana meja langsung berubah canggung.

Lia bahkan berhenti makan.

“Juna…” bisiknya pelan.

Namun pria itu tetap melanjutkan.

“Aku cuma gak mau lihat kamu terus kayak gini.”

Tatapan Juna melembut meski nada suaranya terdengar tegas.

“Coba buka hati buat orang lain.”

Mata Dewi dan Lia langsung membesar bersamaan.

“HAH?” Lia hampir tersedak minumannya.

Sementara Dewi langsung mengerutkan kening tidak percaya.

“Kamu ngomong apa sih?”

“Aku serius.”

Juna menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Ravin mungkin gak akan bangun dalam waktu dekat. Dan kalau dia sadar sekalipun… belum tentu hidupnya bakal sama lagi.”

Kalimat itu membuat Dewi terdiam.

Tangannya perlahan mengepal di bawah meja.

Lia mulai merasa suasana terlalu berat.

“Jun… jangan ngomong gitu.”

“Aku realistis.”

Tatapan Juna kembali pada Dewi.

“Aku cuma gak mau kamu hancur ikut tenggelam sama keadaan.”

Beberapa detik Dewi diam sebelum akhirnya menarik napas panjang.

“Aku latihan bukan karena Ravin.”

Juna mengernyit samar.

“Aku punya mimpi sendiri.”

Tatapan Dewi mulai terlihat lebih kuat.

“Aku mau jadi ballerina hebat bahkan sebelum kenal Ravin.”

Suara gadis itu terdengar pelan namun jelas.

“Jadi jangan sepenuhnya nyalahin Ravin atas keadaanku sekarang.”

Juna terdiam.

Ia tahu Dewi masih berusaha terlihat tegar.

Tapi justru itu yang membuatnya makin khawatir.

Karena senyum Dewi malam ini terasa terlalu dipaksakan.

Sementara itu di istana kerajaan, Ajeng duduk lemas di kamarnya yang luas dan megah. Buku tata krama, sejarah kerajaan, dan pelajaran politik memenuhi meja belajarnya.

Sejak dipilih menjadi calon putri mahkota, hidupnya berubah total.

Pintu kamar terbuka pelan.

Ibunya masuk dengan senyum lembut membawa makanan kecil.

Ajeng langsung berjalan menghampiri ibunya dengan wajah kesal.

“Ibu… aku bosan.”

Wanita itu terkekeh kecil.

“Putri mahkota memang harus banyak belajar.”

“Aku capek terus di kamar.” Ajeng mengeluh sambil menjatuhkan tubuh ke sofa. “Aku bahkan gak bisa bebas keluar istana.”

Ibunya duduk di sampingnya lalu mengusap rambut Ajeng pelan.

“Itu demi menjaga kehormatanmu.”

Ajeng menghela napas panjang.

“Bahkan Kak Arum juga gak boleh datang sembarangan sekarang.”

Nada suaranya mulai terdengar sedih.

Sejak menjadi calon putri mahkota, aturan istana menjadi jauh lebih ketat. Tidak ada gadis lain yang boleh keluar masuk istana tanpa izin raja dan ratu.

Termasuk Arum.

Ibunya menggenggam tangan Ajeng lembut.

“Bersabarlah sedikit lagi.”

Tatapannya penuh harapan dan kebanggaan.

“Sebentar lagi kau akan menjadi putri mahkota kerajaan ini.”

Ajeng tersenyum kecil mendengar itu, meski dalam hatinya ada rasa sepi yang perlahan tumbuh di balik kemewahan istana.

Di sisi lain kerajaan, Ravin berjalan bersama Arkara melewati pasar desa yang mulai dipenuhi cahaya lampu malam.

Namun semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas penderitaan rakyat terlihat.

Anak-anak kecil duduk kurus di pinggir jalan sambil memegang mangkuk kosong.

Beberapa warga memakai pakaian lusuh dan robek.

Ada yang bahkan berebut sisa makanan.

Langkah Ravin perlahan melambat.

Tatapannya berubah gelap.

“Kenapa keadaan mereka seperti ini…”

Suara Ravin terdengar rendah penuh emosi tertahan.

Arkara ikut memandang sekitar dengan wajah serius.

Ravin mengepalkan tangannya.

“Apa yang dilakukan raja dan ratu selama ini?”

Nada suaranya mulai terdengar marah.

“Di istana mereka mengadakan pesta… makan makanan mewah…”

Tatapannya menatap seorang anak kecil yang tidur di sudut jalan dengan tubuh menggigil.

“Sementara rakyat hidup setengah mati.”

Angin malam terasa dingin.

Untuk sesaat Ravin merasa muak pada istana tempat ia dilahirkan sendiri.

Arkara akhirnya mencoba mengalihkan suasana.

“Malam ini ada festival di halaman istana.”

Ravin mendengus kecil.

“Lalu?”

“Kau harus datang.”

“Aku tidak tertarik.”

Arkara malah tersenyum jahil sambil menyikut pelan bahu Ravin.

“Ajak Arum juga.”

Ravin langsung menatap tajam.

“Kalian cocok sekali.”

“Diam.”

Arkara tertawa kecil melihat reaksi dingin Ravin

“Tapi serius,” godanya lagi. “Kalau Arum datang, mungkin pangeran dingin seperti dirimu bisa tersenyum sedikit.”

Ravin memalingkan wajah dengan malas.

Namun diam-diam…

nama Arum membuat pikirannya tidak setenang tadi.

Istana malam itu dipenuhi cahaya lampion berwarna emas dan merah yang bergantung di sepanjang lorong. Musik tradisional mulai terdengar pelan dari halaman utama tempat festival kerajaan akan berlangsung.

Di ruang pribadinya, Putra Mahkota Yudra berdiri tegak saat para pelayan membantu memasangkan jubah hitam keemasannya. Mahkota kecil khas putra mahkota terpasang rapi di rambutnya.

Namun wajahnya tetap datar.

Tidak ada antusias sedikit pun untuk festival malam ini.

“Yang Mulia terlihat sangat tampan malam ini,” puji salah satu pelayan.

Yudra hanya mengangguk kecil tanpa minat.

Sementara di sisi lain istana, Ajeng sedang dipersiapkan dengan penuh hati-hati oleh ibunya dan pelayan pribadinya.

Gaun lembut berwarna merah muda keemasan membungkus tubuhnya dengan anggun. Rambutnya dihias sederhana namun elegan layaknya calon putri mahkota.

Ajeng memandang dirinya di cermin sambil tersenyum gugup.

“Ibu… apa aku terlihat aneh?”

Ibunya terkekeh kecil lalu membenarkan hiasan rambut putrinya.

“Tidak. Kau sangat cantik.”

Ajeng tersipu malu kecil.

Meski begitu, dalam hatinya tetap ada rasa gugup setiap kali mengingat dirinya akan berdiri di sisi Putra Mahkota malam ini.

Sementara itu di rumah sederhana keluarga Arum, suasana jauh lebih hangat.

Di atas ranjangnya terbentang pakaian festival yang sudah dipersiapkan ibunya sejak beberapa hari lalu. Namun malam ini Arum harus berdandan sendiri karena ibunya pergi menemui Ajeng di istana.

Arum berdiri di depan cermin sambil mencoba merapikan rambutnya sendiri.

Gaun lembut berwarna biru muda dengan detail perak membuatnya terlihat berbeda dari biasanya.

Lebih dewasa.

Lebih anggun.

Pipinya memerah sendiri saat mengingat satu hal—

Ia akan pergi bersama Ravin.

Entah sejak kapan…

setiap bertemu Ravin bukan sebagai Pangeran Aruna, jantungnya mulai terasa aneh.

Arum memegang pipinya sendiri sambil menggeleng malu.

“Kenapa aku jadi begini sih…”

Di luar rumah, Ravin sudah menunggu sambil berdiri di bawah lampion-lampion kecil yang digantung di halaman.

Tatapannya tertuju pada salah satu lampion harapan milik Arum yang bergerak pelan tertiup angin.

“Apa isi harapanmu sebenarnya…” gumamnya pelan penasaran.

Pintu rumah terbuka perlahan.

Dan Ravin langsung terdiam.

Arum keluar dengan langkah pelan sambil menggenggam ujung gaunnya sedikit gugup.

Cantik.

Terlalu cantik sampai Ravin bahkan lupa berkedip beberapa detik.

Lampu lampion membuat wajah Arum terlihat lembut dan hangat.

Arum yang sadar terus dipandangi langsung salah tingkah.

“Apa… aneh ya?”

Ravin masih diam.

Tatapannya belum lepas dari Arum.

“Ravin?”

Pria itu akhirnya tersadar lalu berdeham pelan.

“Tidak…”

Suara Ravin terdengar lebih pelan dari biasanya.

“Kamu cantik.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat pipi Arum memerah.

Ia buru-buru berjalan lebih dulu sambil menunduk malu.

“Ayo cepat…”

Dalam hati Arum sendiri tidak menyangka dirinya akan berdandan seperti ini.

Rasanya…

seperti pergi kencan pertama.

Festival kerajaan berlangsung sangat meriah.

Lampion memenuhi langit malam, tarian istana dipentaskan di tengah halaman, musik tradisional menggema di seluruh area kerajaan.

Para bangsawan duduk di tempat khusus dekat panggung utama.

Putra Mahkota Yudra duduk di samping Ajeng dengan wajah tenang dan dingin seperti biasa.

Ajeng mencoba tersenyum sambil sesekali berbicara kecil padanya, namun Yudra hanya menjawab seperlunya.

Tatapannya perlahan terhenti pada satu sosok di tengah keramaian.

Arum.

Yudra sedikit terdiam melihat gadis itu malam ini.

Berbeda.

Sangat berbeda dari biasanya.

Arum terlihat tertawa kecil sambil menikmati pertunjukan dengan mata berbinar.

Untuk sesaat Yudra bahkan tidak lagi mendengar suara musik di sekelilingnya.

Namun beberapa detik kemudian…

tatapannya berubah dingin.

Karena di sebelah Arum ada Aruna.

Pangeran Aruna berdiri dekat gadis itu sambil sesekali menatap Arum dengan tatapan lembut yang jarang terlihat.

Rasa tidak nyaman langsung muncul di dada Yudra.

Ajeng yang duduk di samping perlahan menyadari arah pandangan putra mahkota.

Matanya mengikuti tatapan Yudra…

lalu menemukan Arum.

Senyum Ajeng perlahan memudar.

Yudra bahkan tidak memperhatikan pertunjukan.

Tidak juga dirinya.

Tatapannya hanya tertuju pada Arum.

Jari Ajeng perlahan menggenggam kain gaunnya sendiri di bawah meja.

Ada rasa sesak kecil yang mulai tumbuh di dadanya.

Di sisi lain halaman festival, Arum terlihat benar-benar menikmati malam itu.

Ia tersenyum kagum melihat tarian kerajaan dan pertunjukan cahaya lampion.

“Indah sekali…” ucapnya pelan dengan mata berbinar.

Ravin diam memandang Arum.

Dan untuk pertama kalinya…

ia merasa lebih tertarik melihat senyum Arum dibanding seluruh festival megah di istana itu.

“Kenapa lihat aku terus?” tanya Arum malu-malu.

Ravin tersenyum kecil.

“Karena kamu kelihatan bahagia.”

Arum sedikit terdiam mendengar itu.

Angin malam meniup rambutnya pelan sementara suara musik memenuhi halaman.

Namun tak lama kemudian Ravin tiba-tiba menggenggam tangan Arum.

Arum langsung terkejut.

“Eh?”

“Ayo pergi.”

“Loh? Festivalnya belum selesai.”

“Aku bosan.”

Arum langsung menatap Ravin tidak percaya.

“Bosan?!” bisiknya pelan. “Padahal acaranya seru sekali.”

Ravin hanya menarik Arum berjalan keluar dari keramaian.

Dan tanpa sadar…

dari tempat duduk khusus bangsawan, Putra Mahkota Yudra melihat jelas tangan Aruna yang menggenggam tangan Arum pergi meninggalkan festival.

Tatapan Yudra langsung berubah gelap dipenuhi rasa kecewa dan cemburu yang bahkan dirinya sendiri tidak ingin akui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!