NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertengkaran 2

Nadia menatap Ratna dengan mata berkilat. Sorot matanya penuh luka yang selama ini ia tahan sendiri. Perempuan itu berdiri dengan dada naik turun, sementara suara televisi dari ruang tengah masih terdengar pelan, bercampur suara game dari tablet milik Nanda.

“Ratna, kamu boleh merebut suamiku,” ucap Nadia lirih, tetapi penuh penekanan. “Tapi jangan rusak caraku membesarkan Nanda.”

Ratna justru tertawa kecil. Sudut bibirnya terangkat sinis seolah ucapan Nadia hanyalah angin lalu.

“Nanda butuh hiburan, Nadia,” balasnya santai. “Aku kasihan sama dia. Hidupnya terlalu tertekan karena kamu.”

“Siapa kamu, Ratna, Nanda itu Anakku?” bentak Nadia..

Dadanya sesak menahan emosi yang sejak tadi terus dipancing..

“Anakmu?” tanyanya mengejek. Tatapannya merendahkan

Nadia mengepalkan tangan.

“Aku yang mengurus Nanda sejak bayi, Ratna,” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku yang begadang waktu dia demam tinggi. Aku yang panik waktu tubuhnya kejang karena panas. Aku yang hafal makanan apa saja yang bikin dia alergi.”

Nadia menatap Ratna tanpa berkedip.

“Aku juga yang tiap malam tidur enggak tenang kalau Nanda batuk sedikit saja.”

Suasana mendadak terasa pengap.

“Dan kamu...” Nadia menarik napas panjang. “Kamu cuma pelakor. Perusak rumah tangga orang. Sekarang mau ikut campur mengurus anakku?”

Ratna sama sekali tidak terlihat marah.

Ia justru tersenyum tipis dengan wajah penuh kemenangan.

“Masalahnya,” katanya pelan, “aku selalu berhasil mendapatkan apa pun yang kamu punya, Nadia.”

Kalimat itu menghantam tepat di dada Nadia.

Napasnya memburu.

Wajahnya memerah menahan amarah dan sakit hati yang bercampur jadi satu.

Tangannya bahkan sudah terangkat hendak menampar Ratna.

“Hentikan!”

Suara keras Yuni memotong pertengkaran mereka.

Perempuan paruh baya itu melangkah cepat mendekat dengan wajah tegang.

“Kenapa kalian ribut di depan anak kecil?” hardiknya.

“Bu,” Nadia menoleh cepat dengan mata berkaca-kaca, “Ratna membawa pengaruh buruk buat Nanda.”

Ia menunjuk jam dinding.

“Ini sudah jam sebelas malam, tapi Nanda belum tidur. Dia masih main tablet. Besok sekolah.”

Tatapan Nadia langsung beralih pada putranya.

Hati Nadia mencelos melihat mata Nanda yang mulai takut.

“Kamu boleh ambil suamiku, Ratna,” ucap Nadia lirih penuh luka. “Tapi jangan rusak Nanda.”

Ratna mengangkat bahu.

“Nanda cuma butuh hiburan. Sesekali tidur malam enggak masalah.”

“Besok dia sekolah!” suara Nadia meninggi.

“Kalian ini perempuan dewasa, malah bertengkar kayak begini,” geram Yuni.

Ia segera masuk ke kamar Ratna lalu menggendong Nanda.

“Malam ini tidur sama Oma, ya.”

Nanda menunduk pelan.

Tablet di tangannya sudah mati.

Wajah kecil itu tampak murung. Anak itu mungkin belum benar-benar mengerti masalah orang dewasa, tetapi ia cukup paham kalau Mamah dan Bundanya sedang bertengkar gara gara dirinya.

Tatapan Nadia langsung melembut.

Rasa bersalah tiba-tiba menghantam dadanya.

Harusnya aku tahan emosi di depan Nanda, batinnya pilu.

Yuni membawa Nanda berjalan menuju kamar.

Namun sebelum pintu tertutup, suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah.

Nanda langsung menoleh cepat.

“Yeay! Papah datang!”

Wajah kecil itu mendadak berbinar penuh semangat.

Nadia ikut menoleh.

Ia melihat Raka masuk sambil membawa beberapa kantong plastik makanan.

Aroma ayam goreng cepat saji langsung menyebar memenuhi ruangan.

Ada kentang goreng.

Minuman bersoda dingin.

Saus sambal.

Saus tomat.

Dan dua bungkus seblak pedas.

Rahang Nadia langsung mengeras.

“Makanan itu buat siapa, Mas?” tanyanya dingin.

Belum sempat Raka menjawab, Nadia sudah merebut kantong plastik itu dari tangannya.

“Oma, ayo makan di dapur!” seru Nanda polos sambil menarik tangan Yuni.

Yuni langsung paham suasana akan kembali meledak.

“Ayo, Sayang,” ujarnya cepat membawa Nanda menjauh.

Begitu mereka pergi, Nadia menatap Raka dengan mata penuh kecewa.

“Mas tega sekali.”

“Nad, cuma sesekali,” ucap Raka pelan. “Enggak masalah.”

“Enggak masalah?” suara Nadia bergetar. “Untuk apa semua ini? Untuk merayakan pelakor ini tinggal di rumah ini?”

Raka terdiam.

“Kamu membiarkan Nanda main tablet sampai tengah malam, lalu memberinya makanan kayak beginian?” Tatapan Nadia terasa begitu tajam.

“Kamu boleh menghancurkan rumah tangga kita, Mas,” lanjutnya lirih penuh luka. “Tapi jangan hancurkan kehidupan Nanda.”

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Nadia.

“Aku mati-matian menjaga pola makan dia. Menjaga kesehatannya. Menjaga tidurnya. Tapi malam ini kamu dan perempuan itu menghancurkan semuanya.”

“Lebay.”

Ratna menjawab santai sambil menyandarkan tubuh di pintu.

“Diam kamu, Ratna!” bentak Nadia.

Sejujurnya Nadia sudah ingin menerkam perempuan itu sejak tadi.

Kalau saja Nanda tidak ada di rumah tersebut, mungkin tamparan itu sudah benar-benar mendarat.

“Nad,” ujar Raka pelan mencoba menenangkan, “hidup kamu terlalu serius. Anak kecil juga butuh senang-senang.”

“Keinginan Nanda atau keinginan Ratna?” potong Nadia tajam.

Raka langsung bungkam.

“Nadia,” Ratna kembali bicara dengan nada meremehkan, “kamu terlalu mengekang Nanda. Dia beberapa kali bilang sama aku kalau dia pengin makan makanan pedas, gurih, minuman soda, dan jajanan lain. Tapi kamu selalu melarang.”

“Diam kau, Ratna!” suara Nadia bergetar marah.

Ia menatap perempuan itu penuh kebencian.

“Kamu enggak pernah nungguin Nanda dirawat di rumah sakit gara-gara salah makan!”

Napas Nadia memburu.

“Aku pernah tidur di lantai rumah sakit selama berhari-hari demi jagain dia. Aku pernah hampir gila waktu lihat tubuh Nanda dipasang infus.”

Suasana mendadak hening.

“Dan sekarang kamu bilang aku kejam?”

“Sudahlah, Nad,” bujuk Raka lirih. “Jangan marah terus.”

Nadia tertawa kecil.

Tawa yang justru terdengar menyakitkan.

“Mas, kita cerai saja.”

Raka langsung menatap Nadia.

“Dan malam ini juga aku akan bawa Nanda pergi.”

“Jangan emosional, Nad,” ucap Raka cepat. “Kamu pikir Nanda bakal bahagia tanpa aku?”

Kalimat itu langsung menghantam titik terlemah Nadia.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

“Dan kamu pikir Nanda bakal baik-baik saja kalau enggak lihat papanya lagi?” lanjut Raka pelan.

Nadia memejamkan mata.

Dadanya terasa sesak.

Raka mendekat perlahan.

“Untuk malam ini aku minta maaf,” katanya lirih. “Ini terakhir kali. Besok kamu tegakkan lagi semua aturan buat Nanda.”

Nadia menatap suaminya lama.

Tatapan itu penuh kelelahan.

Penuh kecewa.

Dan perlahan kehilangan harapan.

“Enggak bisa, Mas,” jawabnya akhirnya.

Suaranya pelan, tetapi terasa begitu tegas.

“Selama perempuan itu ada di rumah ini...”

Nadia menoleh ke arah Ratna dengan mata basah.

“Semua aturan yang aku bangun untuk Nanda akan hancur sedikit demi sedikit.”

“Kalian ini ribut terus malam-malam begini. Kasihan Nanda, dia jadi terganggu makannya.”

Suara Yuni terdengar tegas di tengah suasana panas ruang makan.

Nadia menatap meja makan dengan dada sesak. Ayam goreng, kentang, minuman bersoda, dan seblak pedas masih tersusun di sana.

“Ibu membiarkan Nanda makan itu semua?” tanyanya lirih, hampir tidak percaya.

Yuni menghela napas panjang.

“Dia yang mau, Nadia. Sudahlah, jangan terlalu kejam sama anak.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Nadia.

Kejam.

Lagi-lagi dirinya disebut kejam hanya karena berusaha menjaga kesehatan anaknya.

“Kalian semua keterlaluan,” ucap Nadia pelan penuh luka.

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menuju kamar.

Brak!

Suara pintu dibanting keras membuat rumah mendadak sunyi.

Nadia bersandar di balik pintu dengan napas memburu. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

Rumah tangganya hancur.

Dan sekarang, aturan yang ia buat mati-matian demi kesehatan Nanda justru dianggap berlebihan.

“Apa mereka pernah lihat Nanda panas sampai empat puluh derajat?” bisiknya lirih.

Nadia memejamkan mata.

Namun perlahan sebuah harapan muncul di kepalanya.

Tadi saat ia ingin membawa Nanda pergi, Ratna terlihat biasa saja.

Tidak panik.

Tidak takut kehilangan.

Seolah Nanda memang bukan anak kandungnya.

Kalau begitu...

Nadia mengusap air matanya cepat.

“Aku harus cari cara supaya Nanda bisa ikut denganku,” batinnya penuh tekad.

1
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
Anonim
Bloon bloon si nadia ampun dah ,tegas donk sama pelakor ko diem bae sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!