Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Jangan Menangis Karena Orang Lain
Suasana ruang makan mansion masih terasa sunyi setelah Arkana berkata pelan namun tegas, “Aku tidak suka melihat dia sedih.” Kalimat itu menggantung berat di udara. Dan untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara.
Kemuning langsung membeku di kursinya. Jantungnya berdetak terlalu keras sampai telinganya terasa panas. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala setelah mendengar ucapan Arkana barusan. Karena pria itu mengatakannya di depan Selvina.
Sedangkan Selvina tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Namun matanya jelas menyimpan sesuatu yang terluka. Untuk pertama kalinya selama mengenal Arkana, wanita itu merasa tersisih. Dan perasaan itu terasa sangat asing sekaligus menyakitkan.
Arkana sendiri terlihat tenang seperti baru mengatakan sesuatu yang biasa. Padahal kalimat tadi terasa terlalu besar secara emosional bagi Kemuning. Tidak pernah ada orang yang membelanya seperti itu sebelumnya. Apalagi di depan perempuan lain.
Dan justru itulah yang membuat Kemuning semakin takut berharap. Karena semakin baik Arkana padanya, semakin sulit dirinya menjaga hati sendiri. Dan semakin menyakitkan jika semua itu suatu hari hilang.
Selvina akhirnya mengembuskan napas kecil lalu tersenyum profesional lagi. “Dokumen kerja sama Singapura sudah direvisi.” Wanita itu mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke pekerjaan. Namun suasana sudah berubah sejak tadi.
Arkana menerima map dari Selvina tanpa banyak bicara. Nada suaranya tetap datar dan dingin saat membahas pekerjaan. Berbeda jauh dibanding caranya bicara pada Kemuning atau Agam beberapa menit lalu. Dan perbedaan itu tidak luput dari perhatian Selvina.
Sementara itu, perhatian Arkana justru terus kembali ke Kemuning. Gadis itu semakin diam sejak tadi. Bahkan tidak menyentuh makanannya lagi. Dan matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.
Kemuning sebenarnya berusaha terlihat biasa saja. Namun ucapan Selvina tadi terus mengganggu pikirannya. Tentang hubungan panjang wanita itu dengan Arkana. Tentang dunia mereka yang terlalu berbeda darinya.
Saat Kemuning hendak mengambil gelas air dengan gugup, jemarinya tanpa sadar menyenggol pinggir gelas. Gelas itu hampir jatuh dari meja. Namun sebelum benar-benar terlepas, tangan seseorang lebih dulu menahannya.
Jemari pria itu langsung menggenggam pergelangan tangan Kemuning dengan refleks. Sentuhannya hangat dan kuat. Sedangkan napas Kemuning langsung kacau saat kulit mereka bersentuhan begitu natural. Seolah Arkana sudah terbiasa menyentuh dirinya.
“Pelan.” Suara rendah Arkana terdengar dekat sekali. Kemuning langsung mengangguk gugup tanpa berani menatapnya. Sedangkan Selvina memperhatikan semuanya dengan dada semakin sesak.
Karena Arkana tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tidak pernah seprotektif ini pada perempuan mana pun. Dan sekarang pria itu bahkan refleks menyentuh Kemuning tanpa berpikir lagi. Hal itu terasa sangat nyata bagi Selvina.
Kemuning justru semakin merasa bersalah. Dirinya sadar hubungan Arkana dan Selvina berubah sejak dirinya datang ke mansion ini. Dan pikiran itu membuat dada Kemuning terasa berat. Ia tidak ingin menjadi alasan siapa pun terluka.
Di tengah suasana tegang tersebut, suara kecil Agam tiba-tiba terdengar polos. “Om Kana marah, ya?” Anak kecil itu menatap Arkana sambil memeluk robot mainannya. Dan pertanyaan itu langsung membuat suasana sedikit mencair.
Arkana perlahan mengembuskan napas pendek lalu menoleh pada Agam. “Enggak.” Nada suara pria itu jauh lebih lembut dibanding beberapa detik sebelumnya. Bahkan tangannya sempat mengusap kepala Agam pelan.
Selvina memperhatikan pemandangan itu diam-diam. Arkana Mahendra yang ia kenal tidak pernah sesabar ini pada siapa pun. Namun sekarang pria itu berubah perlahan di dekat Kemuning dan Agam. Dan perubahan itu membuat Selvina semakin takut kehilangan dirinya.
Beberapa waktu kemudian, Selvina akhirnya berdiri pelan dari kursinya. “Aku pulang dulu.” Senyumnya tetap elegan dan tenang. Namun matanya terlihat jauh lebih lelah sekarang.
Arkana berdiri singkat untuk mengantar beberapa dokumen ke arah meja dekat pintu. Dan saat pria itu sedikit menjauh, Selvina perlahan mendekati Kemuning. Suasana ruang makan langsung terasa lebih dingin. Kemuning refleks menegang kecil.
“Kau tahu kenapa aku takut kehilangan dia?” Suara Selvina terdengar sangat lembut. Namun setiap katanya terasa menusuk perlahan ke dada Kemuning. Gadis itu langsung membeku.
“Karena Arkana tidak pernah melihat perempuan lain selama ini.” Selvina tersenyum tipis saat mengucapkannya. Dan untuk pertama kalinya, Kemuning benar-benar sadar seberapa penting wanita itu di hidup Arkana. Dadanya langsung terasa sesak.
Namun Selvina belum selesai. Wanita itu menatap Kemuning beberapa detik sebelum melanjutkan pelan, “Tapi sekarang dia mulai melihatmu.” Kalimat itu menghantam Kemuning jauh lebih keras dari yang seharusnya.
Kemuning langsung menunduk. Jantungnya berdebar kacau. Karena bahkan Selvina pun melihat perubahan Arkana dengan jelas. Dan itu membuat semuanya terasa semakin nyata sekaligus menakutkan.
Sebelum percakapan mereka berlanjut, langkah kaki Arkana terdengar kembali mendekat. Pria itu langsung memperhatikan wajah Kemuning yang berubah murung lagi. Tatapannya perlahan menjadi dingin. Karena Arkana mulai sadar Selvina terus mengatakan sesuatu yang membuat Kemuning sedih.
“Reno.” Suara Arkana terdengar datar tetapi tegas. “Tolong antar Selvina pulang.” Kalimat itu langsung membuat Selvina diam sesaat.
Nada suara Arkana tetap sopan. Namun jarak yang pria itu ciptakan terasa sangat jelas sekarang. Dan hal itu justru lebih menyakitkan bagi Selvina. Karena Arkana tidak lagi berusaha mempertahankan kedekatan mereka seperti dulu.
Selvina akhirnya tersenyum kecil. Namun senyum itu terlihat jauh lebih rapuh dibanding biasanya. “Selamat malam, Kana.” Lalu wanita itu pergi perlahan bersama Reno.
Dari lantai atas mansion, Ratih memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan wanita elegan itu semakin tajam saat melihat cara Arkana terus memerhatikan Kemuning. Dan untuk pertama kalinya, Ratih benar-benar merasa situasi ini berbahaya. Putranya jatuh terlalu dalam.
Jika dibiarkan lebih lama, Arkana tidak akan bisa melepaskan Kemuning lagi. Dan Ratih tidak akan membiarkan itu terjadi. Wanita itu perlahan menggenggam railing tangga lebih erat. Satu keputusan mulai terbentuk di kepalanya.
Malam semakin larut setelah Selvina pergi. Agam sudah tertidur pulas di kamarnya setelah bermain seharian. Sedangkan Kemuning berdiri sendirian di dapur mansion sambil mencoba membuat susu hangat untuk adiknya. Namun pikirannya masih kacau karena ucapan Selvina tadi.
Kemuning menatap microwave modern di depannya dengan bingung. Ia menekan beberapa tombol sambil menggigit bibir gugup. Namun beberapa detik kemudian, suara alarm dapur tiba-tiba berbunyi nyaring. Kemuning langsung panik luar biasa.
“Astaga...” Gadis itu buru-buru mencoba mematikan microwave tersebut. Namun ia malah semakin salah menekan tombol. Dan suara alarm justru semakin keras memenuhi dapur.
Langkah kaki tenang terdengar mendekat beberapa saat kemudian. Arkana masuk ke dapur masih memakai kemeja kerja hitam dengan lengan tergulung rapi. Aura maskulin pria itu langsung memenuhi ruangan sempit tersebut. Dan Kemuning otomatis semakin gugup.
Arkana mematikan microwave hanya dengan satu tombol. Lalu pria itu berdiri sangat dekat di depan Kemuning. Dapur mendadak terasa terlalu sempit sekarang. Apalagi tubuh tinggi Arkana nyaris mengurung dirinya di depan meja dapur.
Kemuning langsung menunduk salah tingkah. Ia masih memikirkan ucapan Selvina sejak tadi. Dan keberadaan Arkana sedekat ini justru membuat jantungnya semakin kacau. Sulit bernapas normal.
“Apa yang dia katakan padamu?” Suara Arkana terdengar rendah dan serius.
Kemuning langsung buru-buru menggeleng. “Nggak ada.”
Namun Arkana jelas tidak percaya. Pria itu perlahan mengangkat dagu Kemuning dengan jemarinya. Sentuhan hangat itu langsung membuat tubuh Kemuning menegang. Sedangkan tatapan Arkana terasa terlalu dekat malam ini.
Kemuning bisa melihat jelas mata gelap pria itu dari jarak sedekat ini. Bahkan napas Arkana terasa samar menyentuh wajahnya. Dan jantung Kemuning langsung kehilangan ritmenya. Karena pria itu menatapnya terlalu dalam.
“Aku takut.” Kemuning akhirnya berkata lirih sambil menunduk sedikit. Suara gadis itu terdengar rapuh dan hampir pecah. Sedangkan Arkana langsung diam memperhatikannya.
“Aku takut suatu hari nanti Tuan akan bosan juga.” Kalimat itu keluar begitu pelan. Namun cukup untuk membuat suasana dapur mendadak sunyi total. Dan Arkana langsung membeku beberapa detik.
Pria itu menatap Kemuning lama sekali. Seolah sedang mencerna ketakutan yang disimpan gadis itu selama ini. Lalu perlahan Arkana mendekat sedikit lagi. Hingga napas mereka hampir bertabrakan.
“Kalau aku benar-benar bosan...” Suara Arkana terdengar sangat rendah di antara jarak yang nyaris tidak ada. Tatapannya turun sebentar ke bibir Kemuning sebelum kembali menatap mata gadis itu. “… kenapa sampai sekarang aku masih terus kembali padamu?”