NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Garis batas yang tegas

Karya Vian's

Katya mencoba menarik tangannya dengan sentakan kasar, namun cengkeraman pria asing di depannya ini terlampau kokoh. Kilat murka di mata Katya perlahan berganti dengan rasa terkejut yang besar. Pria di hadapannya ini sama sekali tidak ia kenal, namun tatapan matanya yang luar biasa tenang justru memancarkan tekanan yang membuat nyali Katya menciut di tempat umum.

"Lepas! Kamu siapa, hah?! Berani-beraninya ikut campur urusan orang!" pekik Katya, mencoba menutupi rasa gugupnya saat menyadari beberapa pengunjung supermarket mulai terang-terangan memperhatikan mereka.

Pria itu—Valerius—tidak membalas pekikan Katya dengan emosi. Ia melepaskan cengkeramannya dengan satu hentakan pelan namun tegas, membuat Katya terhuyung mundur selangkah di dekat pintu kaca otomatis. Valerius kemudian menggeser posisi berdiri tubuhnya yang tinggi tegap, memposisikan dirinya sebagai pembatas, secara mutlak menghalangi pandangan Katya dari Savya.

Valerius menatap Katya datar. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya ada ketenangan sedingin es yang justru terasa sangat mengintimidasi.

"Ada tempat yang lebih layak untuk tangan yang kasar," ucap Valerius. Suaranya rendah dan berat, namun setiap katanya terdengar begitu tajam dan menusuk indra pendengaran semua orang di sana. "Dan itu bukan di wajah wanita ini."

"Kamu—!" Katya menunjuk Valerius dengan jari gemetar, wajahnya memerah padam karena merasa dipermalukan habis-habisan oleh pria asing di depan banyak orang.

Amarah yang sudah menutup akal sehatnya membuat Katya menolak untuk mundur. Ia melangkah menyamping, berusaha mencari celah di balik tubuh tinggi Valerius agar bisa kembali menusuk mental Savya dengan kata-katanya.

"Hebat ya kamu sekarang, Savya!" teriak Katya dengan tawa sumbang yang dipaksakan. "Sekarang kamu bersembunyi di balik punggung orang asing untuk menutupi busuknya masa lalumu?! Biar semua orang di sini tahu siapa kamu sebenarnya! Kamu itu cuma pembawa sial! Semua kekacauan yang terjadi dulu... itu semua karena kamu! Selamanya kamu akan jadi orang yang bersalah atas hancurnya kehidupan kita! Kamu tidak berhak bahagia, Savya!"

Mendengar rentetan makian kejam yang kembali mengungkit trauma lamanya, pertahanan Savya yang tadinya kuat mendadak goyah. Kata 'pembawa sial' dan 'bersalah' itu berdengung hebat di telinganya, memicu debaran jantung yang menggila. Napasnya mendadak terasa sesak, pendek-pendek, dan paru-parunya seolah kehabisan udara. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kamera Leica di dadanya dengan sangat erat, menahan tubuhnya yang mulai gemetar hebat.

Arka, yang masih memegangi troli, tersentak dari keterkejutannya melihat kehadiran pria asing berkemeja rapi itu. Mendengar bosnya terus dihujani makian kejam, Arka langsung meradang dan bersiap maju. "Heh, mulutnya benar-benar—"

Namun, langkah Arka tertahan saat pria asing di depannya itu kembali bersuara, mengunci seluruh perhatian di ambang pintu tersebut.

Valerius tetap berdiri kokoh, tak bergeming sedikit pun oleh teriakan Katya. Ia menatap Katya lurus-lurus, lalu melontarkan kalimat tenang namun sangat menohok harga diri Katya sebagai seorang wanita.

"Seseorang yang benar-benar bahagia dan terhormat tidak akan membuang energinya di pagi hari hanya untuk berteriak dan merendahkan orang lain di tempat umum," ucap Valerius, suaranya sangat tenang namun berwibawa, membuat kata-kata Katya barusan terdengar begitu dangkal dan memalukan di telinga orang-orang yang menonton. "Sikap Anda hari ini... hanya menunjukkan seberapa menyedihkannya diri Anda sendiri, Nona. Sebaiknya Anda pergi sebelum Anda mempermalukan diri Anda lebih jauh lagi."

Mendengar sindiran telak itu, Katya tidak langsung bungkam dan pergi. Alih-alih mundur, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. Tawa sinis kembali lolos dari bibirnya, lebih keras dan penuh dendam. Katya maju satu langkah, menatap Valerius dan Savya bergantian dengan pandangan penuh kebencian.

"Mempermalukan diri sendiri, kamu bilang? Kamu tidak tahu apa-apa soal kami, orang asing!" desis Katya tajam, matanya menyipit ke arah Savya yang berada di balik punggung Valerius. "Kamu pikir kalimat sok bijakmu itu bisa membuat jalang ini lepas dari dosanya? Tidak akan pernah!"

Katya menunjuk Savya dengan telunjuknya yang bergetar. "Dengar baik-baik, Savya. Kamu boleh punya pelindung hari ini. Kamu boleh bersembunyi di balik punggung siapa pun atau lari ke ujung dunia sekalipun. Tapi aku pastikan, aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu tenang!"

Suara Katya merendah, namun getaran ancamannya terdengar begitu pekat dan beracun. "Setiap kali kamu menutup mata, setiap kali kamu mencoba untuk tersenyum, aku akan selalu ada di sana untuk mengingatkan seberapa menjijikkannya dirimu di masa lalu. Aku akan terus membuatmu merasa bersalah atas setiap embusan napasmu. Kamu mau hidup menderita di tumpukan sampah ini? Bagus! Karena aku sendiri yang akan memastikan kamu tetap berada di sana, menderita, sampai kamu memohon ampun padaku!"

Rentetan ancaman yang meluncur dari bibir Katya terasa seperti tali yang melilit leher Savya semakin kencang. Bayangan masa lalu itu terasa nyata, mengepungnya dari segala arah. Savya memejamkan mata, air mata frustrasinya setitik lolos melewati pipinya yang pucat.

Valerius tidak memberikan celah lagi bagi Katya untuk menyebarkan racunnya. Rahangnya mengeras sejenak, namun dia tetap mempertahankan ketenangannya yang mematikan. Langkahnya maju setengah senti, sepenuhnya menutup ruang pandang Katya, menghentikan dominasi psikologis wanita itu.

"Kata-kata Anda hanya membuktikan bahwa Anda tidak punya kuasa apa-apa selain ingatan usang," ucap Valerius, suaranya begitu rendah namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Dan di depan saya, ancaman Anda tidak lebih dari sekadar angin lalu yang mengganggu. Pergi sekarang."

Katya terengah-engah, merasa napasnya tertahan oleh wibawa dingin pria di depannya. Di sekelilingnya, bisik-bisik pengunjung supermarket sudah semakin menyudutkannya dengan pandangan menghakimi. Sadar dirinya tidak akan bisa menyentuh Savya hari ini, Katya menyambar tas bermereknya dengan kasar.

"Kita lihat saja seberapa lama pria ini bisa menjagamu, Savya!" ancam Katya terakhir kalinya dengan nada penuh dendam.

Dengan langkah menghentak kasar, Katya berbalik dan berjalan cepat menembus pintu otomatis, menghilang di antara kendaraan di area parkir.

Begitu bayangan Katya benar-benar lenyap, pertahanan yang mati-matian Savya pasang runtuh sepenuhnya. Tubuhnya lemas kehilangan tumpuan. Kantong belanjaan di tangannya hampir saja lolos dan jatuh ke lantai kalau saja tangan Valerius tidak bergerak sigap menangkap dan mengambil alih kantong-kantong itu.

Arka yang melihat bosnya pucat pasi dan gemetar hebat langsung melepaskan trolinya dengan panik. "Mbak Bos! Mbak gapapa? Duduk dulu, Mbak—"

Sebelum Arka sempat meraih lengan Savya, Valerius sudah lebih dulu menahan siku Savya dengan lembut namun kokoh menggunakan tangan kirinya yang bebas. Valerius menatap Arka sejenak, lalu mengangguk pelan memberikan isyarat tanpa kata agar mereka segera membawa Savya menjauh dari keramaian pintu keluar.

Arka yang peka dengan situasi darurat itu segera mengambil alih semua kantong belanjaan dari tangan Valerius, lalu mendorong trolinya mendahului mereka menuju area parkir yang lebih tenang untuk memberikan ruang bagi bosnya bernapas.

Valerius menuntun Savya dengan hati-hati menuju sudut dekat pilar yang lebih sepi. "Savya, lihat saya," ucap Valerius lembut. Nada suaranya berubah drastis—tidak ada lagi ketegasan dingin seperti tadi, hanya ada suara berat yang dalam, tenang, dan begitu meneduhkan.

Savya mendongak dengan pandangan yang mengabur oleh air mata. Di balik matanya yang bergetar, ia bisa melihat wajah Valerius yang menatapnya dengan fokus yang penuh. Savya mencengkeram ujung jaket Valerius dengan jemarinya yang sedingin es, mencari pegangan agar dunianya tidak runtuh saat itu juga.

"Tarik napas perlahan... ikuti ritme saya," tuntun Valerius lembut, memberikan jeda aman agar Savya bisa menguasai dirinya kembali dari serangan panik yang menyiksa.

Savya menghirup udara banyak-banyak, mencoba menyamakan detak jantungnya yang menggila dengan ketenangan mutlak yang dipancarkan oleh pria di depannya. Perlahan, setelah beberapa tarikan napas yang berat, gemetar di tubuh Savya mulai mereda.

Savya mencoba mengulas senyum tipis yang hangat di bibirnya yang masih pucat, menatap mata Valerius dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Terima kasih, Vale... Kamu selalu datang di waktu yang tepat."

Valerius terdiam sesaat, matanya turun menatap jepit bunga matahari di rambut Savya yang tampak sedikit miring akibat ketegangan tadi. Tanpa diduga, Valerius mengulurkan tangan kirinya. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, jemari panjangnya merapikan posisi jepit bunga matahari itu kembali ke tempatnya, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Savya ke belakang telinga.

"Mulai hari ini," ucap Valerius, suaranya merendah namun terdengar seperti sebuah janji mutlak, "kamu tidak perlu menghadapi bayangan itu sendirian lagi, Savya. Saya di sini."

Di ambang pintu keluar supermarket itu, di antara bisingnya dunia luar yang perlahan memudar, sebuah debaran baru muncul di dada Savya. Sebuah debaran yang kali ini sama sekali tidak membawa rasa takut, melainkan sebuah rasa aman yang begitu utuh, yang dibawa oleh sang perisai masa depannya.

..."Story by Vian's"...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!