NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Pukul 03.45 pagi, sayup-sayup suara sholawat dari pengeras suara masjid mulai terdengar, menandakan waktu subuh menjelang. Syifa perlahan membuka matanya. Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya saat ia merasakan sesuatu yang tidak beres.

​Guling pembatas yang tadi malam ia pasang dengan penuh ancaman, kini sudah tergeletak mengenaskan di atas lantai. Lebih mengejutkannya lagi, dalam keadaan setengah sadar, tangan Syifa tengah meraba-raba dan memeluk sesuatu yang terasa hangat, bidang, dan sangat kokoh.

​Syifa mengerjapkan matanya berulang kali. Begitu pandangannya jernih, mata Syifa membulat sempurna. Ia refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan agar jeritan histerisnya tidak lolos!

​Posisinya saat ini benar-benar intim. Tubuhnya tenggelam sepenuhnya dalam dekapan hangat Fadhlan. Tangan kekar suaminya melingkar dengan posesif di pinggangnya, mengunci tubuh Syifa tanpa jarak. Aroma maskulin khas Fadhlan langsung menyerbu indra penciumannya di pagi buta itu.

'​Ya Allah... semalam... aku dan Pak Fadhlan apa sudah melakukannya?' batin Syifa berteriak panik, jantungnya berdegup hebat seperti genderang perang. 'Terus... semalam kenapa aku merasa ada yang menciumku ya? Mungkinkah itu nyata? Pak Fadhlan yang menciumku?! Malu sekali Ya Allah kalau beneran kejadian!'

​Wajah Syifa memerah panas seperti kepiting rebus. Dalam jarak sedekat ini, ia terpaksa memandangi wajah tidur Fadhlan dari dekat. Fitur wajah suaminya tampak begitu tenang, bulu matanya lentik, dan garis rahangnya terlihat sangat tegas. Diam-diam, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Syifa mengakui satu hal, suaminya ini memang luar biasa tampan dan memiliki pesona yang bisa membuat wanita mana pun bertekuk lutut.

'​Bisa mimisan kalau kelamaan di posisi begini!' batin Syifa panik sendiri.

​Takut Fadhlan keburu terbangun dan melihat wajah paniknya, Syifa menahan napas, lalu dengan gerakan super lambat dan hati-hati, ia mengangkat tangan Fadhlan dari pinggangnya. Setelah berhasil lolos, Syifa segera turun dari kasur, membetulkan jilbabnya yang agak berantakan, lalu buru-buru keluar dari kamar dengan langkah yang agak kikuk karena sisa rasa lemas.

​Baru saja menutup pintu kamar, ia dikejutkan oleh keberadaan Ummi Salwa yang sedang berjalan dari arah dapur.

​"Kenapa jalannya pelan-pelan begitu, Nduk? Kakimu masih sakit?" tanya Ummi Salwa menatap heran cara berjalan Syifa yang tampak mencurigakan.

​Syifa tersentak, wajahnya kembali memanas. "Eh, Ummi... Itu... itu tadi, ada kecoa di dekat pintu, jadi Syifa kaget, hehe," kilah Syifa asal-asalan, memberikan senyum kuda yang kaku.

​Ummi Salwa menggeleng-gelengkan kepala. "Hm, kamu ada-ada saja. Oh ya, semalam kata suamimu, kamu demam tinggi, Nduk. Sekarang sudah mendingan?" Ummi maju selangkah, menempelkan punggung tangannya di kening Syifa untuk mengecek suhu tubuh putrinya.

​Syifa berkedip bingung. "Hah? Syifa demam, Mi?" Ia ikut menaruh tangannya di kening sendiri. "Oh iya... masih agak anget sedikit sih, Mi."

​"Nduk, jangan teledor begitu lagi ya? Jangan bikin Ummi, Abah, sama suamimu khawatir setengah mati. Kasihan suami kamu semalam, dia kelihatan gelisah sekali, sampai tidak bisa tidur. Bolak-balik ke dapur buat ambil air hangat sama ganti kain kompres buat kamu," tutur Ummi Salwa lembut, memberikan nasihat sebelum berjalan kembali menuju dapur.

'​Pak Fadhlan... jagain aku semalaman? Sampai ngga tidur? Ummi ngga lagi bohongin aku kan ini?' batin Syifa tertegun, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya mendengarkan perhatian tulus dari pria yang selama ini dianggapnya sebagai dosen killer tak punya hati itu.

​"Nggih, Ummi... ngapunten, Syifa janji ngga bakal telat makan lagi," jawab Syifa pelan dengan rasa bersalah.

​Ummi Salwa menoleh dari ambang pintu dapur. "Ya sudah, lain kali dijaga kesehatannya. Suamimu sudah bangun belum? Kakek sudah menunggu di mihrab, minta kita semua shalat subuh berjamaah."

...----------------...

Setelah kembali ke kamar, dengan penuh kecanggungan membangunkan Fadhlan yang ternyata langsung bergegas mengambil air wudu, Syifa kini sudah menggelar sajadah di area mihrab (ruangan untuk ibadah di rumah) bersama keluarga besarnya. Kakek Ali, Abi Musthofa, Ummi Salwa, Reyhan dan Tasya sudah bersiap di saf masing-masing.

​Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Ketika Fadhlan berjalan memasuki area salat, netra Syifa langsung terkunci pada sosok suaminya. Ia menatap tanpa berkedip, seolah terhipnotis.

​Pagi itu, Fadhlan tidak mengenakan setelan jas atau kemeja formal dosen yang biasa Syifa lihat di koridor kampus. Pria itu tampil sangat bersahaja namun luar biasa berkarisma dalam balutan kemeja koko berwarna putih polos, dipadukan dengan sarung hitam bermotif batik pekat, serta peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya. Penampilannya benar-benar bertransformasi total menjadi sosok "Mas-Mas Santri" karismatik yang biasa dijumpai di pondok pesantren besar.

...(Ilustrasi Pak Fadhlan versi 'Mas-Mas Santri') ...

​Tasya yang berdiri di samping Syifa menyenggol lengan kakaknya dengan jahil, lalu berbisik sangat pelan, "Masya Allah... mau pakai gaya CEO ataupun gaya santri begini, tetep aja Kak Fadhlan kelihatan ganteng kuadrat ya, Kak? Enggak ada obat!"

​Syifa berdeham kecil, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang mendadak salah tingkah. "Hmm... biasa aja menurut Kakak. Standar," jawab Syifa mengelak gengsi, meskipun di dalam hatinya menjerit setuju dengan ucapan adiknya.

'​Pak Fadhlan ini ngga capek apa ya, kelihatan ganteng terus dari pagi sampai subuh begini?' gumam Syifa dalam hati, buru-buru membetulkan posisi mukenanya untuk menutupi pipinya yang merona.

​Abi Musthofa kemudian menoleh ke belakang, menatap menantunya dengan senyum hangat. "Nak Fadhlan, silakan maju ke depan. Jadi imam shalat subuh kita hari ini."

​Fadhlan mengangguk hormat. "Nggih, Abah."

​Pria itu melangkah mantap, mengambil posisi di saf paling depan sebagai imam. Atmosfer di dalam rumah Abi Musthofa seketika berubah menjadi sangat sakral dan damai. Bagi Syifa, momen ini terasa begitu magis dan berbeda dari biasanya. Selama bertahun-tahun hidupnya, sosok yang berdiri di saf imam adalah Abinya, namun subuh ini, yang berdiri tegak memimpin ibadahnya adalah seorang pria muda yang kini telah resmi memegang tanggung jawab atas lahir dan batinnya. Pria yang statusnya adalah suaminya.

​Fadhlan mengangkat kedua tangannya. "Allahu Akbar..." Suara takbiratul ihram-nya terdengar begitu mantap, berat, dan berwibawa, menggema lembut di ruangan itu.

​Saat Fadhlan mulai melafalkan ayat demi ayat dalam surat Al-Fatihah dengan rukun dan tajwid yang begitu fasih serta nada yang sangat menyentuh hati, dada Syifa bergetar hebat. Suara suaminya begitu indah, mengalun syahdu membawa ketenangan yang luar biasa masuk meresap ke dalam jiwanya. Tanpa sadar, di balik balutan mukenanya, air mata Syifa menetes pelan membasahi pipinya, air mata haru atas kesadaran bahwa Allah telah mengirimkan seorang imam yang begitu luar biasa untuk membimbing jalannya menuju surga.

...****************...

1
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!