Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA MASA LALU
Cerita ini sudah terjadi cukup lama. Aku bahkan ragu jika orang yang akan kuceritakan masih mengingat kejadian tersebut. Kejadian kecil yang mungkin tidak berarti untuknya, tapi sangat berarti untukku. Kejadian yang sebenarnya tidak perlu diingat, tapi tetap membekas dalam ingatanku. Kejadian tidak berarti, yang menyelamatkan hidupku disekolah.
Tahun pertama sekolah baru saja dimulai. Tanpa kenal siapapun, aku hanya bisa duduk melihat orang – orang sekitar. Banyak dari mereka yang sudah berteman dari sekolah sebelumnya, bahkan ada juga yang sudah bersama sejak sekolah dasar. Sebagian kecil, menemukan kecocokan berdasarkan kemampuan, hobi, sifat, atau kepintaran. Tersisa satu orang penyendiri yang tidak memiliki apa – apa. Hanya diam dan memperhatikan.
Ada suatu momen, mataku terarah pada seorang cewek tanpa sengaja. Mata kami saling bertatapan untuk sesaat. Aku yang tidak biasa menatap mata orang lain, seketika mengalihkan pandangan. Menyandarkan dahiku ke meja berharap kesalahpahaman tidak terjadi.
Dalam posisi telungkup dimeja, kulihat ada bayangan yang semakin merapat kearah kakiku, seperti ada seseorang yang berusaha untuk mendekat. Mungkin saja cewek yang tidak sengaja kulihat, merasa jijik mendapat tatapan dari orang yang tidak punya teman sepertiku, dan ingin protes. Meski begitu, aku tidak terlalu takut. Aku sudah menyiapkan berbagai alasan kalau – kalau mendapat tuduhan yang aneh. Tapi, alih – alih mendengar suara seorang cewek, yang kudengar malah suara cowok dengan suara ngebass. Dia memperkenalkan diri dengan cara mengulurkan tangan, “Dimas.” Teman pertama yang kudapatkan disekolah.
Dimas adalah cowok yang cukup berotot, rambutnya pendek mendekati botak, sikapnya tegas, mirip seperti tentara. Dia sering mengajakku bicara saat luang. Membuat hari – hariku yang sunyi, berubah. Tidak ada lagi kesendirian yang menghampiriku. Tidak ada lagi makan sendiri dikantin, tidak ada lagi mendapat kelompok sisa, benar – benar tidak ada lagi kata sendiri dalam kamusku. Hampir semua kejadian kulewati bersamanya.
Pernah suatu waktu, aku tidak sengaja berurusan dengan preman sekolah. Bisa kuketahui dari seragam yang mereka gunakan, kalau mereka berasal dari sekolah lain. Aku dicegat tanpa alasan saat ingin pulang. Mereka menyeretku ke tempat yang sunyi dan memintaku untuk menyerahkan uang. Jujur tidak ada sedikitpun keberanian yang bisa kutunjukkan dihadapan mereka. Aku hanya bisa diam mematung. Bahkan, untuk menyerahkan uang pun aku tidak sanggup. Ketika aku sudah pasrah dengan keadaan, Dimas datang. Dia tanpa ragu membelaku dan menghajar preman – preman tersebut. Benar – benar orang yang layak untuk dihormati.
Waktu berlalu cepat, sudah satu semester terlewati sejak aku mengenal Dimas. Kuharap pertemanan kami bisa terus berlanjut sampai tua. Sayangnya, harapan tetaplah harapan. Sikap Dimas mulai berubah perlahan – lahan. Awalnya dia menyuruhku untuk pergi ke kantin membelikan dia makanan dan minuman. Aku pikir itu hal yang wajar meminta tolong dan saling menolong, aku tidak protes. Dihari yang lain, dia memintaku mengerjakan tugasnya. Aku masih tidak protes karena dia saja pernah menolongku lebih dari apa yang dia minta. Tapi, semakin hari sikap Dimas semakin parah. Dia mulai bolos dan malah berkumpul dengan para preman sekolah yang pernah menggangguku. Aku yang masih berusaha untuk tetap berteman, menasehatinya secara baik – baik. Kubilang, “cerita saja kalau ada masalah.” Bukannya sebuah ungkapan yang keluar, malah tinju yang diarahkan ke perutku.
Situasi mencapai puncak saat aku dan Dimas berada dikantin. Bukan janjian untuk bertemu, hanya sebuah ketidaksengajaan, aku sudah jarang bersamanya. Hari – hariku kembali dipenuhi kesunyian. Tapi, aku merasa lebih baik. Hari yang tenang dan damai ternyata tidak seburuk yang kupikirkan, malah sesuatu yang kurindukan. Kusantap secara perlahan makanan yang ada dihadapanku seorang diri, tanpa ada siapapun disebelahku. Menikmati kembali rasa yang pernah hilang seraya menatap orang – orang disekitar. Seketika Dimas datang, suasana nikmat yang sudah kubangun, rusak.
“Maaf,” kata pertama yang kudengar dari Dimas setelah tidak bersama selama beberapa hari. Dia terlihat memelas saat mengatakannya, menandakan keseriusan. Tentu aku merasa senang. Meskipun aku baru saja berusaha menikmati kesendirianan, bukan berarti aku menolak jika ada jalan untuk berdamai. Tidak bisa dipungkiri, bersama lebih menyenangkan daripada sendiri. Kalau saja sejak awal aku tetap sendiri, mungkin tidak masalah. Tapi, karena aku sudah tau bagaimana rasanya ketika ada seseorang yang peduli denganku, tidak mudah untuk melepaskannya.
“Sebenarnya kenapa?” Aku tidak perlu permintaan maaf. Aku hanya ingin membantu Dimas seperti yang pernah dia lakukan padaku. “Aku gak tau masalah kamu. Mungkin kamu gak mau cerita. Tapi, kalau ada yang aku bantu, bilang aja.” Untuk sesaat aku teringat semua kejadian yang pernah kulalui dengannya. Waktu yang kuhabiskan bersama terasa begitu berarti. “Kitakan teman?” Sebuah kata yang sangat ingin kukatakan akhirnya terucap. Senyuman dibibirku adalah tanda betapa bahagianya aku ketika mengatakan kata tersebut.
“Kamu benar. Seharusnya aku cerita.” Dimas merangkulku. Sesuatu yang sering dia lakukan saat bercanda. “Kalau begitu ….” Aku sudah siap menjadi pendengar yang baik. Perlu waktu yang lama sampai akhirnya dia ingin terbuka padaku. Momen yang ditunggu – tunggu akhirnya tiba. “Aku minjam 5 juta.”
“Hah?” Pikiranku yang awalnya kosong, langsung terisi penuh dengan pertanyaan. Sepertinya sekali lagi dugaanku salah, atau mungkin saja sejak awal aku sudah salah. Bukan kata – kata seperti itu yang aku harapkan keluar dari mulut Dimas. Sama sekali bukan. Kalau dia mengatakan hal tersebut, pikiran burukku tentangnya malah semakin kuat. Permintaan maaf yang dia ucapkan akan terlihat seperti kebohongan dimataku. Mirip dengan seseorang yang berusaha bersikap baik ketika ingin berhutang dan akan galak ketika ditagih, pemanis yang dibuat – buat.
“Bisa, kan?” Rangkulan Dimas semakin kuat. Setelah dipikir – pikir, tindakannya tidak seperti seseorang yang berusaha akrab, melainkan tindakan yang biasa dilakukan oleh pemalak. “Kitakan teman?” Kata yang kuucapkan padanya dibalikkan padaku dengan cara yang sangat berbeda. Sebenarnya apa yang salah? Kenapa dia berubah? Apa semua salahku karena tidak menyadarinya dari awal? Apa salahku juga tidak menghentinkannya ketika masih ada harapan? Dimana letak kesalahku sampai semua bisa jadi begini? Seseorang tolong katakan padaku ….
Kalau saja sejak pertama aku tidak mengenalnya, apakah dia tidak akan pernah berubah?
“Stop!” Seorang cewek yang tidak kukenal tiba – tiba ikut bergabung dimeja kami. Dari lambangnya, dia satu angkatan denganku, kemungkinan kelas sebelah. “Kalian ngapain?!” Pertanyaan yang disertai kemarahan. Aku tidak tau dia beneran marah atau memang wajah biasanya yang terlihat seperti itu. “Khususnya kamu yang bajunya berantakan!” Dia mengatakannya sambil menunjuk Dimas.
“Nggak.” Dimas melepas rangkulannya dan menunjukkan senyum palsu pada cewek yang bicara padanya. “Biasa bercanda sama teman.”
“Gak keliatan kaya temanan. Kalian gak cocok.”
“Lah? Gak percaya! Tanya aja sama dia.”
“Bener?”
Aku yang biasa pasti akan langsung menjawab, “iya.” Aku yang masih berusaha terus positif pasti akan membela Dimas. Aku yang masih ingin berteman dengannya pasti akan berusaha meminjamkan uang yang kupunya, meski harus mengorbankan uang tabunganku. Aku yang ingin terus menghabiskan waktu bahagia bersamanya pasti akan menolongnya apapun yang terjadi. Bahkan, jika itu harus mengorbankan diriku sendiri. Tapi …, aku sudah muak! Aku tidak tau bagaimana caranya berteman. Aku tidak punya pengalaman itu sebelumnya. Tidak masalah jika aku sendiri. Tidak masalah jika aku disebut pengkhianat. Aku hanya ingin semua berakhir. “Aku gak kenal dia.”
Benar yang dikatakan cewek barusan, “kami tidak cocok.” Hubungan tidak harus dipaksakan, termasuk dalam pertemanan. Tidak perlu ada yang namanya pertentangan buruk. Pada akhirnya ini soal kecocokan. Bukan Dimas yang tidak cocok denganku, tapi aku yang tidak cocok dengan siapapun. Jika pada akhirnya memang tidak akan pernah ada yang cocok denganku, itu tidak masalah. Aku hanya perlu melewati hari – hari sendiri, seperti sebelum – sebelumnya. Seperti hari dimana aku tidak bertemu dengan Dimas.
Sejak kejadian dikantin, aku tidak pernah lagi bicara dengan Dimas, malahan dia benar – benar mengabaikanku. Dia menganggapku tidak pernah ada. Tidak lama setelah itu, dia hampir tidak pernah masuk sekolah, guru menyuruh orang tuanya untuk datang, tapi tidak dihiraukan. Hingga pada saat kenaikan kelas, aku tidak pernah melihatnya lagi. Dia pindah kesekolah lain. Setidaknya itulah kabar yang kudengar dari rumor yang beredar.
Cewek yang pernah membantuku, satu kelas denganku setelah kenaikan kelas. Aku tidak pernah lagi bicara padanya. Aku juga tidak ada niatan untuk mengobrol dengannya. Lagipula, dia tidak akan mengingat orang sepertiku. Aku tidak mempermasalahkannya. “Clarissa,” itu panggilan yang kudengar dari teman – temannya ketika memanggil namanya. Cewek yang membuatku sadar kalau pertemanan tidak perlu dipaksakan.