NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: kamar pengantin tirani

Bab 1: Kamar Pengantin Tirani

Gaun pengantin satin putih yang melekat di tubuh Alana Wijaya terasa seperti kain kafan yang mencekik lehernya.

Sudah tiga jam dia duduk membeku di tepi ranjang berukuran king size di dalam kamar utama mansion keluarga Adhitama. Kamar itu sangat luas, didominasi warna hitam dan abu-abu arang yang dingin. Tidak ada dekorasi hangat layaknya kamar pengantin baru. Yang ada hanya keheningan yang mengintimidasi.

Alana meremas jemarinya yang gemetar. Air mata hampir menetes, merusak riasan tebal yang sengaja dipasang untuk menyamarkan kemiripan wajahnya dengan Siska, kakak tirinya.

“Kau harus menggantikan Siska, Alana! Jika tidak, besok pagi perusahaan ayahmu akan bangkrut dan kita semua akan membusuk di jalanan!”

Bisikan histeris ibu tirinya beberapa jam lalu kembali terngiang. Siska melarikan diri tepat di malam sebelum pernikahan karena menolak menjadi istri dari seorang pria cacat. Dan Alana, anak perempuan yang tidak pernah dianggap dalam keluarga Wijaya, dilempar ke dalam kandang singa sebagai tumbal.

Klek.

Suara kunci pintu yang berputar seketika memutus lamunan Alana. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Pintu terbuka lambat. Suara putaran roda yang halus di atas lantai marmer terdengar begitu kentara di tengah keheningan malam.

Seorang pria di atas kursi roda elektrik masuk ke dalam kamar.

Dia adalah Devano Adhitama. Pria yang memegang kendali atas urat nadi perekonomian kota ini. Sosok yang dirumorkan menjadi monster berhati dingin sejak kecelakaan tragis melumpuhkan kedua kakinya dua tahun lalu.

Alana menahan napas. Rahang pria itu tegas seolah dipahat dari batu es. Sepasang matanya yang sehitam malam menatap Alana dengan kilat tajam, begitu pekat hingga mampu membuat siapa pun merinding ketakutan.

Ketampanannya sangat luar biasa, namun auranya begitu pekat dan berbahaya.

Devano menghentikan kursi rodanya tepat dua langkah di depan Alana. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya memandangi Alana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

"Angkat kepalamu," perintah Devano. Suaranya berat, rendah, dan dingin seperti embun musim dingin.

Alana menelan ludah dengan susah payah. Perlahan, dia mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap mata sang tirani.

Sudut bibir Devano terangkat, membentuk seringai sinis yang mematikan.

"Wajah yang asing," ucap Devano pelan, namun setiap kata yang keluar seperti belati yang menghujam jantung Alana.

"Keluarga Wijaya benar-benar punya nyali yang besar. Mereka pikir, hanya dengan memasangkan cadar dan riasan tebal, aku tidak bisa mengenali siapa wanita yang tidur di ranjangku?"

Tubuh Alana menegang sempurna.

Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dia... dia langsung mengetahuinya?

"T-Tuan Devano... saya..." Suara Alana tercekat di tenggorokan.

"Di mana Siska?" potong Devano cepat. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan di sandaran kursi roda, menatap Alana seolah wanita itu hanyalah serangga kecil yang bisa dia remas kapan saja. "Di mana wanita egois yang berani melarikan diri dari pernikahan kontrak denganku?"

"Kak Siska... dia..." Alana menggigit bibir bawahnya hingga memucat.

Dia tidak mungkin mengatakan Siska kabur karena jijik dengan kecacatan Devano. Itu sama saja dengan memicu hukuman mati untuk keluarganya malam ini juga.

"Dia kabur karena menganggapku pria cacat yang tidak berguna, bukan?" Devano menebak dengan akurasi yang kejam. Dia terkekeh rendah, suara tawa yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Dan mereka mengirimmu? Siapa namamu? Anak haram? Atau pelayan keluarga Wijaya?"

Penghinaan itu membakar telinga Alana.

Sifat keras kepalanya yang terpendam selama bertahun-tahun di bawah tekanan keluarga tirinya tiba-tiba terusik. Dia mengepalkan tangan di atas gaun pengantinnya.

"Nama saya Alana, Tuan Devano," jawab Alana dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski dadanya bergemuruh. "Saya adalah putri sah dari ayah saya. Dan saya di sini... untuk bertanggung jawab atas pernikahan ini."

"Bertanggung jawab?" Devano mengulang kata itu dengan nada mengejek.

Tiba-tiba, dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga, Devano mengulurkan tangannya yang kekar. Dia mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan kekuatan yang luar biasa dan menariknya dengan satu sentakan kuat.

"Ah!" Alana menjerit.

Tubuh ringkih Alana kehilangan keseimbangan.

Dia jatuh terjerembap tepat di atas pangkuan Devano yang berada di kursi roda.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Alana bisa merasakan embusan napas hangat Devano yang beraroma mint dan tembakau mahal menerpa kulit wajahnya. Kedekatan yang begitu intim dan tiba-tiba ini membuat bulu kuduk Alana meremang. Sensasi aneh yang mendebarkan sekaligus menakutkan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Alana mencoba bangkit, namun lengan kekar Devano langsung melingkar di pinggangnya, mengunci tubuh wanita itu agar tetap menempel pada dada bidangnya yang keras seperti dinding karang.

"Lepaskan... Tuan Devano, tolong lepaskan," bisik Alana panik, kedua tangannya terpaksa bertumpu pada bahu lebar Devano untuk menahan jarak.

"Kau bilang kau ingin bertanggung jawab, Alana?" Devano berbisik tepat di depan bibir Alana. Tangan satunya naik, jemarinya yang panjang dan dingin mencengkeram dagu Alana dengan kuat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkilat posesif.

"Keluargamu sudah menjualmu kepadaku sebagai barang pengganti. Dan di dunia bisnisku, barang pengganti yang cacat kualitasnya harus membayar denda yang jauh lebih mahal," lanjut Devano, suaranya melembut namun justru terdengar sepuluh kali lebih mengerikan.

"Apa yang... apa yang ingin Anda lakukan?" Alana bisa mendengar detak jantung Devano yang berdegup konstan, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar.

Devano mendekatkan wajahnya, memiringkan kepalanya sedikit hingga bibirnya hampir menyentuh daun telinga Alana yang memerah.

"Mulai malam ini, kau adalah hak milikku. Kau akan membayar setiap sen utang keluargamu dengan kebebasanmu. Jangan pernah bermimpi untuk keluar dari mansion ini hidup-hidup, Nyonya Adhitama yang palsu."

Sebelum Alana sempat mencerna ancaman itu, Devano mencium leher jenjang Alana dengan kasar, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas di sana. Alana memejamkan mata erat, mencengkeram kemeja Devano seiring dengan rasa takut dan getaran aneh yang mulai menguasai akal sehatnya.

Devano melepaskan cengkeramannya pada dagu Alana, lalu mendorong tubuh wanita itu kembali ke atas ranjang dengan dingin.

"Tidur di lantai malam ini. Aku muak melihat wajah penipu di ranjangku," ketus Devano sembari memutar arah kursi rodanya, meninggalkan Alana yang terduduk lemas di atas kasur dengan napas terengah-engah dan air mata yang akhirnya luruh.

Pernikahan neraka ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!