"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: LANGKAH BAYANG DI JALANAN SEMPIT
Jalanan menuju Pelabuhan Tanjung Priok masih remang oleh kabut subuh yang bercampur asap sisa ledakan Monas.
Jalanan menuju Tanjung Priok masih remang oleh kabut. Sedan hitam itu melaju zig-zag. VREEEUMMM! VREEEUMMM! TRATATATATATA!
Berondongan peluru kaliber tinggi menghantam kap mobil. TANG! TANG! TING! Percikan api menyambar dalam kegelapan.
Percikan api menyambar kap mobil setiap kali peluru menghantam baja yang untungnya sudah dilapisi kevlar rahasia militer.
"Nak Arka, pegang kemudi!" perintah Eyang Jugo tiba-tiba.
Tanpa menunggu jawaban, pria tua itu membuka pintu belakang mobil yang tengah melaju dalam kecepatan 100 km/jam.
Angin menderu masuk, mengacak-acak rambut Arka yang masih basah oleh darah kering. Arka melompat ke kursi depan, mencengkeram stir dengan tangan yang gemetar.
Eyang Jugo berdiri di ambang pintu, kakinya hanya menempel tipis pada pijakan mobil, seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Ia memegang tongkat kayu jati pendeknya dengan santai.
"Perhatikan, Arka. Kekuatan bumi bukan hanya soal menghancurkan aspal," bisik Eyang Jugo, suaranya terdengar jernih di telinga Arka meski angin menderu kencang.
"Bumi adalah ibu. Dia menyerap, dia menahan, dan dia memantulkan kembali apa yang diberikan padanya." Salah satu motor trail melesat maju, penembaknya mengarahkan senapan mesin ringan ke arah Eyang Jugo.
RATATATAT!
Eyang Jugo tidak menghindar. Ia hanya memutar tongkat kayunya membentuk lingkaran kecil di udara. WUT-WUT-WUT-WUT!
Seketika, debu-debu jalanan dan kerikil tajam beterbangan, membentuk pusaran pelindung transparan di sekitar Eyang Jugo.
Peluru-peluru itu tidak menembus, mereka seolah-olah menghantam tumpukan kapas yang sangat padat, lalu jatuh ke aspal tanpa daya. PUK! PUK! PUK!
"Sekarang... kembalikan pada pemiliknya," Eyang Jugo menghentakkan tongkatnya ke udara.
DUMMM!
Gelombang kejut transparan melesat menghantam motor terdepan. WUUUTSH!
Bukan ledakan, tapi tekanan udara yang begitu padat hingga membuat ban motor itu mendadak kempis dan velg-nya melintir seperti kertas.
Pengendaranya terpental hebat, menghantam pagar beton pembatas jalan. DUAAAGGG!
Dua motor lainnya mencoba mengepung dari sisi kiri dan kanan. Arka melihat dari kaca spion, matanya membelalak.
Ia baru sadar bahwa Eyang Jugo tidak menggunakan energi murni seperti dirinya, pria tua ini menggunakan Resonansi Alam.
"Jangan hanya melihat kekuatannya, Arka! Rasakan frekuensinya!" teriak Eyang Jugo.
Arka mencoba memejamkan mata sejenak sambil tetap menyetir. Mulai merasakan apa yang dilakukan Eyang Jugo.
Pria tua itu tidak memukul udara, dia "meminta" molekul tanah dan karbon di udara untuk memadat. Ini adalah level sinkronisasi yang jauh di atas 50%.
"Sudah cukup untuk pemanasan," Eyang Jugo melompat turun dari mobil. TAP.
CCIIIIIITTTTT!! Arka menginjak rem secara refleks. "Eyang!"
Pria tua itu mendarat dengan anggun di tengah jalan, tepat di depan dua motor yang tersisa. Ia hanya menancapkan tongkat kayunya ke aspal.
KRAKKKK!
Jalanan aspal di bawah motor-motor itu mendadak melunak seperti lumpur hisap. Kedua motor trail itu terjebak hingga setengah roda, membuat pengendaranya terjungkal ke depan.
Sebelum mereka sempat mencabut senjata, Eyang Jugo sudah berada di antara mereka, memberikan totokan ringan di pangkal leher. Keduanya tumbang seketika.
Eyang Jugo berjalan kembali menuju mobil, nafasnya tetap teratur seolah baru saja selesai jalan pagi. Ia masuk ke kursi penumpang, mengetuk pundak Arka.
"Jalan lagi, Nak. Kapal cepat menuju Batam sudah menunggu di dermaga rahasia. Kita tidak punya banyak waktu sebelum satelit The Sovereign melakukan pemindaian ulang koordinat ini."
***
WUUUSSSHHH! BYUURRR!
Di dalam kapal cepat yang melaju membelah Selat Sunda, Arka terbaring di sofa kabin. Reyna sedang mengganti perban di dada Arka.
Luka-luka Arka mulai menutup, namun bekas-bekas keunguan akibat tekanan energi prasasti masih terlihat jelas di jalur meridian lengannya.
"Kau terlalu nekat, Arka," bisik Reyna. "Kalau Eyang Jugo tidak datang, kau mungkin sudah hancur bersama Monas."
Arka menatap langit-langit kabin yang bergetar. "Aku harus kuat, Rey. Rendra Adiningrat... pria itu bukan lagi Rendra yang kukenal."
"Auranya semalam... itu bukan aura manusia. Dia seperti wadah kosong yang diisi oleh sesuatu yang sangat jahat."
"Itu karena dia sudah menjalani ritual 'Manusia Tanpa Bayangan' di markas Black Order," sahut Eyang Jugo yang duduk di pojok, sedang membersihkan tongkat kayunya dengan minyak cendana.
"Dia menukarkan jiwanya dengan kekuatan fisik yang melampaui batas mortal. Baginya, kau adalah satu-satunya penghalang untuk mendapatkan pengakuan dari keluarga Adiningrat."
Eyang Jugo melemparkan sebuah berkas foto ke meja. Foto itu menunjukkan seorang pria tua berwibawa dengan jas mahal, berdiri di depan sebuah galeri seni mewah di Singapura.
"Ini adalah Haris Adiningrat, ayah kandung Siska. Dia adalah kolektor artefak okultisme terbesar di Asia Tenggara. Dan di dalam brankas bawah tanahnya, ia menyimpan 'Keris Kyai Sangga Buwana'."
"Pusaka itu adalah kunci untuk mengendalikan elemen angin di Nusantara."
KRETEKK!
Arka mengepalkan tangannya. "Siska... apa dia tahu ayahnya terlibat dalam semua ini?"
"Siska adalah pion, sama sepertimu dulu," Eyang Jugo menatap Arka tajam. "Tapi sekarang, dia berada di Singapura bersama ayahnya."
"Rendra sedang menuju ke sana untuk meminang Siska secara resmi, sekaligus mengambil keris itu sebagai mahar. Jika mereka bersatu, Black Order akan memiliki legitimasi politik dan kekuatan mistis untuk menguasai Jawa."
Arka berdiri, meski tubuhnya masih terasa nyeri. "Kita harus ke Singapura sekarang."
"Tunggu," Reyna menahan pundak Arka.
"Kau tidak bisa ke sana sebagai Arka Nirwana. Seluruh bandara dan pelabuhan internasional sudah memasang foto wajahmu dengan status 'Teroris Paling Dicari' akibat ledakan Monas. Kau adalah musuh negara sekarang."
Eyang Jugo tersenyum misterius. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi lensa kontak tipis dan sebuah cairan kimia transparan.
"Pakai ini. Ini akan mengubah warna iris matamu dan sedikit mengubah struktur tulang pipimu secara optik. Dan ini..." Eyang Jugo menyerahkan paspor biru dengan lambang singa.
"Identitas barumu. Satria Erlangga, seorang konsultan keamanan asal Batam yang disewa oleh galeri Haris Adiningrat."
"Disewa?" Arka mengerutkan kening.
"Ya. Wironegoro sudah mengatur semuanya. Haris sedang merasa terancam karena beberapa koleksinya mulai diincar pencuri internasional."
"Dia butuh tenaga ahli. Kau akan masuk ke jantung pertahanan musuh sebagai pelindung mereka. Ironis, bukan?"
***
Dua belas jam kemudian. Bandara Changi, Singapura. TIIING-TOOONG... (Suara pengumuman bandara).
Seorang pria dengan setelan jas hitam yang pas di badan, kacamata aviator, dan rambut yang disisir rapi ke belakang keluar dari pintu kedatangan.
TAK... TAK... TAK...
Langkah kakinya tegap, memancarkan aura kepercayaan diri yang tinggi. Tak ada lagi sisa-sisa "Mas Arka" yang kusam dan membungkuk.
Ini adalah Satria Erlangga.
Di pintu keluar, sebuah mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu. Seorang pelayan dengan seragam putih membukakan pintu.
"Tuan Satria? Tuan Haris sudah menunggu Anda di kediaman Sentosa Cove," ucap pelayan itu dengan sopan.
Arka atau sekarang Satria mengangguk tanpa bicara. Ia masuk ke dalam mobil. Di dalam, ia melihat tablet digital yang menyala, menampilkan profil keamanan galeri Haris.
Namun, fokus Satria teralihkan oleh sebuah foto di sudut layar.
Foto Siska Adiningrat. Wanita itu tampak lebih kurus, matanya menyimpan kesedihan yang dalam. Di sampingnya, berdiri Rendra yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
VREUUUUMMMM!!!
Mobil melaju membelah jalanan Singapura yang sangat bersih dan teratur. Kontras sekali dengan kekacauan yang baru saja ia tinggalkan di Jakarta.
Namun, Satria tahu, di balik kemewahan gedung-gedung kaca ini, ada jaring-jaring kekuasaan The Sovereign yang lebih kuat daripada di Indonesia.
Sesampainya di kediaman mewah Sentosa Cove, Satria disambut oleh sistem keamanan biometrik yang sangat ketat. Ia dipandu menuju sebuah balkon luas yang menghadap ke laut lepas.
Di sana, Haris Adiningrat sedang duduk menikmati teh sorenya. Di sampingnya, duduk seorang wanita yang membuat jantung Satria seolah berhenti berdetak. DEG! (Jantung Arka seolah berhenti).
Siska.
Wanita itu menoleh saat Satria mendekat. Matanya bertemu dengan mata Satria yang kini berwarna biru safir akibat lensa kontak.
Siska tampak mengerutkan kening, seolah merasakan sesuatu yang familiar, namun logika mengalahkannya.
"Ah, Tuan Satria Erlangga. Selamat datang," Haris berdiri, menyalami Satria dengan hangat.
"Saya sudah mendengar reputasi Anda dari kolega saya di Jakarta. Katanya, Anda adalah ahli keamanan terbaik untuk menangani 'ancaman yang tidak terlihat'."
"Suatu kehormatan, Tuan Haris," jawab Satria dengan suara yang sudah ia ubah menjadi lebih bariton dan tegas.
"Perkenalkan, ini putri saya, Siska. Dan ini..." Haris menunjuk ke arah pria yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
TAP... TAP... Rendra Adiningrat.
Rendra menatap Satria dengan mata yang dingin dan menyelidik. Ia berjalan mendekat... KREEEET... menjabat tangan Satria dengan cengkeraman yang sangat kuat seolah ingin meremukkan tulang tangan Satria.
Satria tidak mundur. Ia membalas cengkeraman itu dengan stabilitas Segel Bumi 20%-nya. DZZZT... Keduanya saling menatap selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
"Satria Erlangga... nama yang bagus," ucap Rendra, suaranya parau. "Tapi kau terasa... sangat familiar. Pernahkah kita bertemu di medan perang?"
Satria tersenyum tipis. "Mungkin di kehidupan sebelumnya, Tuan Rendra. Saya sering berada di tempat-tempat yang tidak diinginkan orang lain."
"Cukup, Rendra. Jangan menakuti konsultan kita," potong Haris sambil tertawa. "Satria, tugas pertama Anda adalah memeriksa brankas bawah tanah saya malam ini."
"Saya baru saja menerima ancaman dari kelompok yang menamakan diri mereka 'Pustaka Senyap'. Apa Anda pernah dengar tentang mereka?"
Satria tetap tenang, meski hatinya bergejolak mendengar nama tokonya disebut sebagai ancaman. "Nama yang aneh untuk sebuah kelompok teroris. Saya akan memeriksanya segera."
***
Malam harinya, di dalam brankas bawah tanah yang sangat canggih, Satria berdiri sendirian di depan lemari kaca yang berisi Keris Kyai Sangga Buwana.
HUMMMMM... (Suara sistem pendingin ruangan). Keris itu memancarkan aura kehijauan yang samar, menciptakan pusaran angin kecil di dalam wadahnya.
Satria merasakan Segel Udara di dalam tubuhnya berdenyut kencang. Ia tahu, jika ia menyentuh keris ini, sinkronisasi elemen udaranya akan melompat drastis.
Namun, saat ia hendak memeriksa sistem sensor di sekitar keris, lampu di ruangan itu mendadak padam.
KLIK.
Suara pistol yang dikokang terdengar tepat di belakang kepalanya.
"Kau pikir aku tidak tahu?" suara wanita terdengar gemetar di belakangnya. "Lensa kontak itu... cara berdirimu... dan aroma parfum cendana yang selalu kau pakai di toko dulu."
Satria membeku. Ia tidak berbalik.
"Siska..." bisik Satria. FIIIIUUUU... (Embusan napas Arka).
"Kenapa kau ke sini, Arka?! Pergi! Jika Rendra tahu kau masih hidup, dia akan membunuhmu dan Dafa malam ini juga! Singapura bukan tempatmu!" Siska menangis, pistol di tangannya bergetar hebat.
"Aku ke sini untuk membawamu pulang, Siska. Dan untuk menghentikan ayahmu," Arka berbalik perlahan, menatap mata Siska yang kini penuh air mata.
Tiba-tiba... BOOOOOMMMM! Pintu brankas meledak hancur. Bukan oleh bom, tapi oleh hantaman fisik yang luar biasa.
Rendra Adiningrat berdiri di sana, dikelilingi oleh asap dan api. Matanya merah membara, dan urat-urat hitam menjalar di lehernya.
Di tangannya, ia memegang sebuah jantung mekanik yang masih berdetak, alat pemicu kekuatan Black Order miliknya.
"Siska sayang... turunkan pistol itu," ucap Rendra dengan nada yang sangat mengerikan. "Biarkan aku menyapa 'saudara' lamaku ini dengan cara yang pantas."
HUA-HA-HA-HA!
Rendra menatap Arka, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau benar-benar datang untuk mati, Arka! Di sini, di wilayah kekuasaanku, kau hanyalah seekor tikus yang masuk ke perangkap naga!"
ZINGGGGGG!
Rendra melesat maju. Kecepatannya jauh melampaui apa yang pernah Arka lihat di Monas.
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.