NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️WARNING!! Unsur dewasa🌶️

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapar

Malam semakin larut. Suara denting jam dinding tua di kantor itu menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan. Lucien, yang awalnya hanya berniat menunggu Aurora bangun, ternyata tak mampu melawan rasa lelahnya sendiri setelah seharian penuh dengan rapat direksi dan drama di pasar kemarin.

Awalnya ia hanya duduk di kursi kayu keras di samping sofa, menyandarkan kepalanya ke tembok sambil terus memperhatikan wajah Aurora. Namun, lama-kelamaan, kelopak matanya terasa berat. Bau kertas tua dan aroma parfum mawar dari tubuh Aurora seolah menjadi obat tidur yang ampuh baginya.

Tanpa sadar, kepala Lucien perlahan terkulai. Ia akhirnya tertidur dalam posisi duduk yang tidak nyaman, namun tangannya masih bertumpu di pinggiran sofa, sangat dekat dengan jemari Aurora.

Kantor museum itu kini menjadi saksi bisu. Sang penguasa bisnis yang ditakuti seluruh Aurelia, tidur terduduk di kursi kayu tua demi menunggu istrinya yang keras kepala.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika Aurora perlahan mulai terusik. Ia merasakan sesuatu yang berat namun hangat menyelimuti tubuhnya. Indra penciumannya menangkap aroma kayu cendana dan tembakau mahal—aroma yang sangat khas milik Lucien.

Aurora mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu meja yang redup.

Begitu ia sadar sepenuhnya, ia merasakan jas hitam yang menyelimuti bahunya.

Ia tertegun, jantungnya berdegup kencang.

Perlahan, Aurora menoleh ke samping.

Matanya membelalak.

Di sana, tepat di sampingnya, Lucien Valehart sedang tertidur lelap. Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh perhitungan kini tampak sangat polos. Rambutnya sedikit berantakan, dan dasinya sudah dilonggarkan. Lucien terlihat sangat... manusiawi.

Aurora terpaku.

Ia tidak berani bergerak sedikit pun, takut gerakannya akan membangunkan pria itu. Ia menatap wajah Lucien dengan saksama—garis rahangnya yang tegas, bulu matanya yang panjang, dan bibirnya yang biasanya mengeluarkan kata-kata pedas.

"Dasar bodoh," bisik Aurora sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Kenapa malah ikut tidur di sini? Kau kan bisa membangunkanku dan menyeretku pulang."

Aurora merasakan dorongan aneh di dadanya. Ada rasa haru yang menggelitik. Pria yang ia kira hanya peduli pada kontrak ini, ternyata rela menunggunya sampai ikut tertidur di kursi yang keras demi tidak mengganggu istirahatnya.

Secara tidak sadar, Aurora mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya dengan sangat lembut menyentuh ujung rambut Lucien yang jatuh ke keningnya.

"Terima kasih," gumamnya lirih, sebuah senyum manis yang tulus menghiasi bibir Aurora di tengah kegelapan malam.

Suasana hening itu mendadak pecah saat Aurora baru saja hendak menarik tangannya kembali. Tanpa peringatan, tangan Lucien bergerak secepat kilat.

Meski matanya masih terpejam, ia menyambar pergelangan tangan Aurora dengan genggaman yang kuat namun hangat.

Aurora tersentak hingga hampir melompat dari sofa. "L-Lucien!"

Lucien perlahan membuka matanya. Tatapannya tidak terlihat mengantuk sama sekali, justru tajam dan penuh intensitas, seolah ia sebenarnya sudah terbangun sejak tadi dan hanya menunggu Aurora menyentuhnya.

"Tertangkap," suara Lucien terdengar sangat serak, khas suara pria yang baru bangun tidur, yang entah kenapa terdengar sepuluh kali lebih maskulin di telinga Aurora.

"Kau... kau sudah bangun?!" Aurora mencoba menarik tangannya, tapi Lucien justru menariknya lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Lepaskan! Kau mengejutkanku, tahu!"

Lucien tidak melepaskannya. Ia justru mengeratkan genggamannya, jempolnya mengusap perlahan kulit pergelangan tangan Aurora. "

Aku terbangun saat kau menyebutku 'bodoh'. Jadi, begini caramu berterima kasih pada pria yang menunggumu sampai tengah malam?"

Wajah Aurora memerah hebat di bawah cahaya lampu temaram. Ia berusaha membuang muka, tapi posisi mereka yang terlalu dekat membuatnya sulit bernapas.

"Aku... aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya heran kenapa kau tidak membangunkanku!"

Lucien menarik napas panjang, menghirup aroma tubuh Aurora yang berada di dekatnya.

Ia perlahan melepaskan tangan Aurora, namun bukannya menjauh, ia justru memajukan tubuhnya, menatap Aurora dengan tatapan yang membuat keberanian wanita itu menciut.

"Aku tidak tega membangunku," ujar Lucien lembut, tangannya kini beralih menyentuh sandaran sofa di belakang kepala Aurora, seolah mengurungnya.

"Tapi sebagai gantinya, karena kita sudah melewatkan jam makan malam... kau harus menemaniku mencari makan di tempat lain."

Lucien melirik jam dinding.

"Jam dua belas malam. Sepertinya hanya ada kedai-kedai pinggir jalan yang buka sekarang. Kau keberatan makan di tempat yang 'tidak higienis' bersamaku?"

Aurora terdiam, jantungnya masih berdebu kencang.

Ia menatap Lucien yang kini sudah kembali memasang senyum miringnya—senyum yang menyebalkan tapi sangat memikat.

"Asal kau tidak mencoba menciumku lagi seperti di pasar kemarin," ketus Aurora, meski nada suaranya sudah jauh lebih lembut.

Lucien terkekeh rendah, suara tawanya bergema di ruangan yang sunyi itu.

"Tidak janji. Tergantung bagaimana sikapmu malam ini."

Aurora langsung menarik tangannya dengan sentakan kasar begitu mendengar jawaban "tidak janji" dari Lucien. Rasa haru yang sempat muncul di dadanya tadi seketika menguap, digantikan oleh emosi yang meledak-ledak.

"Kau benar-benar tidak bisa diperbaiki, ya!" seru Aurora sambil bangkit berdiri dari sofa, membuat jas Lucien yang menyelimutinya terjatuh ke lantai.

"Baru saja aku merasa sedikit—sedikit saja!—tersentuh karena kau menungguku, kau malah sudah berani bicara mesum lagi!"

Lucien ikut berdiri, mencoba meraih jasnya yang jatuh, tapi Aurora sudah lebih dulu menendang jas itu pelan dengan ujung sepatunya ke arah Lucien.

"Makan malam dibatalkan! Aku mau pulang dan tidur di kamarku sendiri yang terkunci rapat!" Aurora menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju pintu.

"Dan jangan berani-berani mengikutiku dengan senyum anehmu itu, Lucien Valehart! Kau pria paling menyebalkan yang pernah kutemui di seluruh Aurelia!"

Lucien yang baru saja memungut jasnya hanya bisa berdiri terpaku di tengah kantor yang berdebu. Ia menghela napas panjang, menyesali mulutnya yang terlalu cepat menggoda sebelum melihat situasi.

"Aurora, tunggu! Ini sudah tengah malam, kau tidak bisa pulang sendirian!" teriak Lucien sambil berlari kecil mengejarnya.

"Jangan mengikutiku!" sahut Aurora tanpa menoleh, langkah kakinya berdentum keras di lorong museum yang sepi, menunjukkan betapa ia sedang murka tingkat tinggi.

"Aurora! Berhenti! Jangan keras kepala, aku akan mengantarmu!" seru Lucien sambil menyusuri lorong museum yang gelap, mencoba mengejar langkah kaki istrinya yang sangat cepat.

"Sudah kubilang tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri, aku akan menelepon sopir kelua—"

KRUUUUYUUUUKKK!

Langkah Aurora terhenti seketika di tengah koridor yang sunyi itu. Suara itu begitu nyaring, bergema di antara pilar-pilar marmer museum, seolah-olah ada monster kecil yang sedang mengamuk di dalam perut Aurora.

Hening.

Aurora mematung dengan posisi kaki yang masih melangkah. Wajahnya yang tadinya merah karena marah, kini berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa. Ia meremas tas tangannya erat-erat, berharap bumi tiba-tiba terbuka dan menelannya saat itu juga.

Di belakangnya, Lucien juga ikut berhenti. Pria itu terdiam selama beberapa detik, mencoba memproses suara "ledakan" yang baru saja ia dengar.

"Itu..." Lucien memulai dengan nada ragu, "...suara perutmu?"

"BUKAN!" teriak Aurora spontan tanpa berani menoleh.

"Itu... itu suara gesekan lantai! Lantai museum ini sudah tua, kau tahu sendiri kan?!"

"Aurora, suara gesekan lantai tidak memiliki nada yang seirama dengan rasa lapar," sahut Lucien, dan kali ini Aurora bisa mendengar nada geli yang sangat jelas dalam suaranya.

KRUYUUUUUKKKKK!

Perut Aurora seolah tidak mau diajak bekerja sama.

Bunyi yang kedua kali ini bahkan lebih panjang dan lebih keras, seolah sedang memprotes majikannya yang terlalu banyak bicara daripada makan.

Lucien tidak bisa menahannya lagi.

Sebuah tawa rendah yang renyah lolos dari bibirnya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Aurora yang bahunya mulai gemetar antara malu dan kesal.

"Sepertinya monster di dalam perutmu tidak setuju kalau makan malamnya dibatalkan," bisik Lucien tepat di dekat telinga Aurora.

Aurora memutar tubuhnya dengan wajah yang sudah matang seperti tomat rebus.

"Berhenti tertawa! Kau pikir ini lucu?! Aku sibuk bekerja seharian sampai lupa makan, dan kau malah menertawakanku!"

Lucien menahan senyumnya, meskipun matanya masih berkilat jenaka. Ia meletakkan tangannya di bahu Aurora, memutar tubuh wanita itu agar kembali menghadap ke arah luar.

"Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak tertawa," bohong Lucien (padahal sudut bibirnya masih berkedut).

"Sekarang, kau tidak punya pilihan. Kau bisa terus marah padaku, tapi kau tidak bisa melawan perutmu sendiri. Ayo, aku tahu ada kedai yang masih buka di dekat sini."

Aurora mendengus keras, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur di lantai museum.

"Aku ikut karena aku lapar, bukan karena aku memaafkanmu!"

"Tentu saja," jawab Lucien santai sambil mulai menuntun Aurora jalan keluar.

"Apapun yang membuatmu merasa lebih baik, Nyonya Valehart."

1
Keivanya Lee
apakah sebenarnya Lucien ini suka sama Aurora
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!