NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Ojek online, tas ransel di punggung, koper kecil di tangan sama persis seperti waktu pergi tiga hari lalu. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara dia berdiri di depan pintu rumah itu, menatap gagang pintu yang sudah dia kenal, mempersiapkan dirinya untuk masuk.

Tiga hari lalu dia keluar dengan pertanyaan.

Hari ini ia masuk dengan jawaban meski belum semua jawabannya ada, meski masih banyak yang belum selesai, tapi setidaknya satu hal sudah jelas:

Ia memilih untuk kembali bukan karena harus tapi karena mau. Zahra membuka pintu.

Rafandra ada di ruang keluarga.

Bukan di studio, bukan di kamarnya, atau di meja makan tapi di ruang keluarga, duduk di sofa dengan buku di tangan yang jelas tidak dibaca karena matanya langsung ke arah pintu begitu Zahra masuk.

Mereka bertatapan.

Tiga hari. Bukan waktu yang lama tapi cukup lama untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih penuh dari sebelumnya.

"Pagi," kata Zahra.

"Pagi." Rafandra meletakkan bukunya. Berdiri tak bergegas, tapi bergerak dengan cara yang menunjukkan bahwa ia sudah menunggu. "Diperjalanannya cape?"

"Ojek setengah jam. Lumayan." Zahra meletakkan kopernya di dekat tangga. Menatap Rafandra yang sekarang berdiri di tengah ruang keluarga itu kemeja putih, celana bahan, rambut yang sedikit lebih tidak tersisir dari biasanya. Seperti seseorang yang sudah siap berangkat tapi memutuskan untuk menunggu dulu. "Om nggak ke kantor?"

"Nanti siang."

"Nungguin gue?"

Rafandra tak menjawab langsung yang artinya iya.

Zahra mengangguk pelan. Duduk di sofa. Melepas jaket denimnya yang baru, yang dia beli bersama Sinta tiga hari lalu, yang warnanya lebih cerah dari yang biasa dia pakai.

Rafandra menatap jaket itu sebentar. Lalu menatap Zahra.

"Beli baru?"

"Iya, sama Sinta kemarin." Zahra menaruhnya di sandaran sofa. "Om bilang ada di rumah. Jadi gue langsung pulang, nggak singgah-singgah lagi."

"Aku tahu." Rafandra duduk di kursi single di seberangnya. "Terimakasih."

Zahra mengernyit. "Terimakasih buat apa?"

"Kembali sesuai janji."

Hening sebentar.

Zahra menatapnya pria yang tiga hari lalu membiarkan dia pergi meski jelas tidak mau, yang menghormati jarak yang diminta meski tiga kali jarinya sudah di layar HP, yang menunggu di ruang keluarga pagi ini dengan buku yang tidak dibaca.

"Gue bilang gue akan balik," kata Zahra. "Gue selalu pegang kata-kata gue."

"Aku tahu." Rafandra menatap tangannya sendiri sebentar gesture yang Zahra sudah hafal artinya. "Aku hanya tidak mau berasumsi."

Zahra diam. "Om Rafa khawatir gue nggak balik."

Bukan khawatir yang dia tunjukkan dengan dramatis atau diucapkan dengan jelas. Tapi ada di sana di cara dia bilang "terima kasih kembali sesuai janji" dengan nada yang terlalu berat untuk ucapan terima kasih biasa.

"Om," kata Zahra.

"Hm."

"Gue mau cerita." Zahra menarik napas. "Tiga hari ini gue mikirin banyak hal. Tentang dokumen itu, tentang Pak Irwan, tentang semua yang belum Om ceritain." Ia menatap Rafandra langsung. "Dan gue punya satu kesimpulan."

Rafandra menunggu.

"Gue nggak percaya Pak Irwan," kata Zahra. "Gue tau dia punya agenda. Gue tau dia coba manfaatin situasi." Dia berhenti sebentar. "Tapi gue juga sadar bahwa selama ini gue sering milih percaya Om bukan karena gue punya bukti cukup, tapi karena gue mau percaya dan itu dua hal yang beda."

"Gue nggak mau terus kayak gitu," lanjut Zahra. "Gue nggak mau percaya Om hanya karena gue mau. Gue mau percaya Mas karena ada alasannya." Suaranya tak naik, maupun gemetar hanya jelas. "Jadi hari ini gue minta satu hal."

"Apa?"

"Ceritain semuanya." Zahra menatap balik. "Ga mau setengah. BUKAN yang Om pikir gue siap dengar, tapi semuanya dari awal, apa alasan sebenarnya kenapa Om milih pernikahan ini, sampai hal-hal yang selama ini Om bilang 'belum waktunya.'" Dia menarik napas. "Gue siap dan kalau ternyata gue nggak siap itu urusan gue, bukan keputusan Om."

Ruangan itu sunyi.

"Baik," katanya akhirnya.

Satu kata. Tapi beratnya berbeda dari semua kata yang pernah dia ucapkan sebelumnya.

.

.

.

Rafandra cerita selama satu setengah jam. Tak berdiri, tak mondar-mandir, maupun memilih-milih kalimat dengan kehati-hatian yang biasa. Ia duduk di kursi itu dan bicara tentang ayahnya yang meninggal waktu Rafandra masih dua puluh enam, tentang janji yang dibuat di sisi ranjang rumah sakit, tentang dua puluh tahun menjaga keluarga Hendra dari jarak yang dia sebut "wajar."

Tentang Pak Irwan yang mulai bergerak dua tahun lalu mengendus kelemahan keluarga Hendra, mencoba mengambil celah yang akan menghancurkan semua yang ayah Rafandra dan Pak Hendra bangun bersama selama tiga dekade.

Tentang keputusan untuk mempercepat pernikahan ini bukan karena kalkulasi dingin, tapi karena itu satu-satunya cara untuk menutup celah itu sebelum Pak Irwan masuk terlalu dalam dan tentang sesuatu yang lebih yang Rafandra ceritakan terakhir, dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya:

Bahwa dua tahun lalu, waktu Pak Hendra pertama kali cerita tentang kondisi perusahaannya, ia juga cerita tentang Zahra. Tanpa sengaja, cara orang tua cerita tentang anaknya. Dan Rafandra ingat setiap kata itu tentang gadis yang keras kepala tapi tidak pernah menyerah, yang bilang apa yang dia pikir tanpa takut, yang satu-satunya di keluarga itu yang bisa baca situasi dengan tepat tapi tetap memilih untuk percaya.

"Aku tertarik padamu sebelum mengenalmu," kata Rafandra. Pelan. "Dan ketika situasinya membuat pernikahan ini menjadi opsi, aku tidak mencari alasan untuk menolak."

Zahra duduk diam sedikit shoc, tapi bahagia mendengar itu.

Tidak menyela selama satu setengah jam itu. Tidak bertanya. Hanya mendengarkan dengan cara yang membuat Rafandra merasa sesuatu yang tidak familiar: didengar sepenuhnya.

"Dokumen itu," kata Rafandra. "Revisi ketiga itu. Tim pengacaraku yang bersikeras. Mereka bilang itu standar perlindungan. Aku tidak mempermasalahkannya karena pikiranku ada di hal lain waktu itu." Dia menatap Zahra langsung. "Tapi aku seharusnya bilang. Dan itu kesalahanku."

Zahra masih diam.

"Ada lagi yang mau kamu tanyakan?" tanya Rafandra.

Zahra mempertimbangkan sebentar. Lalu, "Satu."

"Apa?"

"Kalau situasinya nggak separah itu kalau perusahaan Papa nggak hampir bangkrut, kalau Pak Irwan nggak bergerak ambil keuntungan, kalau nggak ada tekanan dari luar." Zahra menatapnya. "Om masih tetap akan pilih ini?"

Hening.

Rafandra menatapnya lama dengan ekspresi yang membuat Zahra menahan napas tanpa sadar.

"Ya," katanya akhirnya. "Hanya waktunya yang berbeda."

Ruangan itu sunyi. Zahra menatap tangannya sendiri di pangkuan.

Satu setengah jam cerita. Satu jawaban akhir dan sekarang ia duduk di sofa ruang keluarga rumah ini dengan semua puzzle yang selama dua bulan lebih berserakan di lantai akhirnya mulai membentuk gambar yang dia bisa lihat.

Tak sempurna. Masih ada bagian yang buram, masih ada sudut yang perlu waktu untuk jelas. Tapi utuh cukup untuk Zahra melihat apa yang sebenarnya ada di sana.

"Om," kata Zahra akhirnya.

"Hm."

"Gue butuh waktu untuk mencerna semua ini." Pelan. Jujur. "Bukan tiga hari lagi, gue nggak kemana-mana. Tapi gue butuh waktu di dalam kepala gue sendiri sebelum gue bisa kasih Om jawaban yang Om mungkin tunggu."

Rafandra mengangguk. "Aku tidak menuntut jawaban apapun."

"Gue tau." Zahra mendongak. "Tapi gue mau Om tau bahwa gue dengar semuanya hari ini dan gue nggak pergi kemana-mana lagi."

Mata Rafandra bergerak sesuatu yang hangat dan tidak terburu-buru dan terasa seperti seseorang yang sudah belajar bahwa beberapa hal memang perlu waktu.

"Baik," katanya.

Zahra berdiri. Mengambil ranselnya.

"Gue mau taruh barang dulu." Dia berjalan ke tangga. Berhenti di anak tangga pertama kebiasaan lama. "On."

"Hm, kenapa Zahra."

"Makasih udah cerita." Tidak menoleh. "Gue tau itu nggak gampang."

"Tidak," kata Rafandra jujur. "Tapi kamu layak mendengarnya."

.

.

.

Di kamarnya, meletakkan ransel di lantai dan duduk di tepi kasur. Menatap kamar yang tiga hari lalu dia tinggalkan dengan pertanyaan dan sekarang kembali dengan jawaban yang lebih banyak dari yang dia bayangkan.

HPnya bergetar.

Sinta: Lo udah nyampe? Gimana?

Zahra: Udah. Dia cerita semuanya, Sin.

Sinta: DAN?

Zahra menatap layarnya sebentar. Lalu mengetik pelan:

Zahra: Dan gue rasa gue udah tau jawabannya, cuma belum siap ngomongnya.

Tiga titik muncul. Lama.

Sinta: Zah. Lo udah jatuh cinta sama suami lo.

Tak menjawab pesan sinta, Zahra meletakkan HP ke kasur.

Di bawah sana, di ruang keluarga, Rafandra masih ada mungkin sudah ambil bukunya lagi, mungkin sudah buka laptopnya, mungkin duduk diam dengan cara yang dia lakukan waktu sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin dia tunjukkan dan Zahra yang tiga hari lalu pergi dengan langkah yang tidak yakin rebahan di kasurnya dengan satu kepastian yang tidak dia miliki sebelumnya.

"Gue nggak menyesal ada di sini." Batinnya jujur.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!