NovelToon NovelToon
HANUM

HANUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Lukmanben99

bagaimana mungkin aku lupa dengan masa itu, bagaimana mungkin aku lupa dengan kenangan kisah cinta kita, yang kita jalin bertahun tahun lamanya, dan tidak pernah ku sangka kisah kita berakhir dengan pengkhianatan yg sadis, kau balas cinta dan pengorbanan ku dengan luka yg begitu hebat, hingga luka itu merubah ku menjadi bukan diriku, hari hari ku di penuhi rasa dendam, hingga muncul niat dalam pikiran ku untuk membunuh mu, namun takdir berkata lain.

aku nyaris kehilangan akal sehat, dan hampir gila dengan alur cerita hidup ku, hingga aku kehilangan arah tujuan hidup ku, sampai pada suatu hari tuhan menghadirkan se orang wanita yg menyadarkan ku, dan menyelamatkan hidup ku, dia merubah hidup ku menjadi berarti, dan bangkit meraih mimpi ku, hingga tuhan mempersatukan ku dengan dia, dan tuhan menganugrahkan kebahagiaan yg luar biasa tak pernah ku rasakan dalam hidup ku bersama dia sebelumnya.

dan kau lah jawaban doa dalam hati ku. HANUM RUSYDAH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

masuk RS

Dony merangkak menghampiriku. Dia memeluk tubuhku yang lemas, lalu pecah tangis. Dia mengira aku sudah mati. Air matanya jatuh ke pipiku yang berlumuran darah.

“Satt... bangun Satt, jangan tinggalin gue sat...” ucapnya lirih.

Polisi segera mengecek nadiku. “Masih ada!”  Dengan cepat, aku dan Dony dilarikan ke rumah sakit.

*DI UGD...*

Tim medis bergerak cepat. Luka di kepalaku cukup parah. Dokter harus menjahit beberapa jahitan di bagian kepalaku. Sementara Dony hanya luka ringan, memar-memar di wajah dan badan saja.

Aku belum sadarkan diri. Dony duduk menunggu di luar ruangan, kepalanya tertunduk, menahan rasa bersalah.

Selesai tindakan, dokter keluar. Dony langsung menghampiri, menanyakan kondisiku. Setelah mendapat penjelasan, dia masuk ke ruang rawat. Dia duduk di samping ranjangku, menatap selang infus di tanganku.

“Maafin gue Sat... gara-gara gue loe jadi begini,” ucapnya pelan.

Tak lama, pintu terbuka. Bapak dan Ibu datang tergopoh-gopoh. Begitu melihatku terbaring dengan perban di kepala, Ibu langsung pecah tangis. Dia menghambur ke ranjang, menggenggam tanganku.

“Satria... anak umi... kenapa bisa begini Nak?” isaknya. Lalu dia menoleh ke Dony dengan mata merah, “Don, jelasin ke bibi! Gimana semua ini bisa kejadian?”

Dony diam Takut, ia Merasa bersalah. Di bawah tekanan Ibu, akhirnya dia menceritakan semuanya sambil terbata-bata, berkali-kali minta maaf ke Bapak dan Ibu.

Tak lama, Emaknya Dony datang. Dia kaget melihat kondisiku, lalu tanpa ampun memarahi Dony habis-habisan di depan semua orang.

Malam makin larut. Emak Dony pamit pulang duluan, tapi menyuruh Dony tetap di RS untuk menjagaku. Melihat Bapak dan Ibu sudah sangat lelah, Dony dengan lembut menyarankan, “Pak, Bu... Bapak Ibu pulang aja dulu, Istirahat di rumah, Biar malem ini Dony yang jaga Satria.”

Awalnya Ibu menolak, tapi akhirnya Bapak mengangguk. Mereka pamit pulang, menitipkanku pada Dony.

*pagi tiba...*

Jemariku bergerak pelan. Mataku terasa berat saat kubuka. Hal pertama yang kulihat: Dony, tertidur dengan posisi duduk di kursi, kepalanya terkulai di samping ranjangku.

Aku tersenyum. Dengan sisa tenaga, kujitak pelan kepalanya.

“Aw!” Dony langsung terbangun, kaget. Matanya membulat saat melihatku sudah melek. “SAT! LOE UDAH BANGUN!?”

Dia hampir nangis lagi, kali ini karena lega. “Maaf, Sat... maafin gue ya...”

Aku cuma tersenyum dan mengangguk pelan. Lega rasanya lihat sahabatku baik-baik saja.

_Klek._ Pintu terbuka pelan. Itu adalah maya, Maya masuk menyapa kami. Tapi di belakangnya, ada seseorang yang sembunyi-sembunyi. Maya menarik paksa orang itu, “Udah, jangan malu-malu! Masuk!”

Jantungku berdebar. Dari balik pintu, muncul Elina. Dia melangkah masuk dengan malu-malu, membawa bingkisan. Mataku nggak bisa lepas darinya. Dengan busana sederhana, dia terlihat sangat cantik pagi ini.

Dia tersenyum tersipu malu. “Hai, Kak...” sapanya lembut. Aku balas tersenyum.

“Kok loe tau May gue di sini?” Dony heran.

“Iya, kan rame. Satu sekolah juga pada tau,” jawab Maya santai.

“Emm Kak, ini aku bawain sarapan buat kamu,” kata Elina sambil meletakkan bingkisan di meja samping ranjangku.

“Iya Lin, makasih ya udah mau datang jenguk aku,” ucapku tulus. Elina mengangguk, senyumnya makin lebar.

“Iya nih, gue bawain makan nih buat kalian. Kalian belum pada sarapan kan?” timpal Maya.

“Iya May, pas banget kalian datang. Mana sini May, laper gue...” Dony langsung nyamber bingkisan Maya dan makan dengan lahap.

Dony melirik kami, lalu nyengir, “Lin, suapin Satria tuh,!”

“Kak, mau sarapan juga?” Elina bertanya pelan.

“Iya, boleh Lin,!” jawabku.

“Ya udah, bentar ya Kak,” Elina membuka kotak makan, mengambil sendok. “Aku suapin ya, Kak...” ucapnya malu-malu.

Aku mengangguk. Saat suapan pertama masuk ke mulutku, terdengar suara deheman keras.

“Ehem ehemmm...” Maya godain kami sambil senyum jahil.

“May, gue nggak disuapin May,” Dony protes.

“Ogah! Makan aja loe sendiri!” balas Maya ketus.

“Tega loe May...!” Dony ngedumel sambil makan.

Aku dan Elina menahan tawa. Lalu Elina menatapku serius, “Emang gimana ceritanya Kak, kok bisa sampai begini?”

“TAU LOE PADA, PADA SOK JAGOAN SIH KALIAN!” Maya langsung nyaut duluan.

Dony pun mulai bercerita. Dari awal tawuran, sampe adegan “pria punya selera” dan si sok jagoan yang kabur duluan. Maya dan Elina ngakak dengernya. Suasana kamar RS yang tadinya tegang jadi hangat dan penuh tawa.

Tak lama, Maya mengajak Elina pulang. Sebelum keluar pintu, aku memanggilnya, “Lin!”

Elina berhenti, menoleh. Aku menatapnya lekat-lekat, “Makasih ya, Lin. Sekali lagi.”

Dia tersenyum, mengangguk pelan. “Iya, Kak. Cepet sembuh ya.” Lalu mereka pergi.

*Keesokan harinya di sekolah...*

Dony dan semua siswa yang ikut tawuran dikumpulkan di lapangan. Kepala Sekolah marah besar karena mereka mencemarkan nama baik sekolah. Hukumannya: lari keliling lapangan 100 kali, dilanjut bersihin toilet dan seluruh halaman sekolah sampai kinclong.

Semuanya dihukum. Kecuali aku, karena masih di rumah sakit.

*beberapa hari kemudian...*

Kondisiku sudah jauh lebih baik. Luka di kepala mulai kering. Aku kangen sekolah, kangen rumah, kangen kehidupan normal. Bapak dan Ibu minta izin ke dokter untuk pulang. Karena keadaanku sudah stabil, dokter mengizinkan.

Siang itu, aku pulang. Melangkah keluar dari rumah sakit dengan perban di kepala, tapi dengan hati yang hangat. Karena aku tahu, aku punya sahabat yang nggak akan ninggalin aku, dan... ada seseorang yang rela nyuapin aku bubur di pagi hari.

Akhirnya aku bisa kembali bersekolah. Perban putih masih melingkar di kepala, menutupi jahitan yang belum kering. Tapi itu tak jadi halangan. Karena di sekolah, ada wanita yang membuatku rela ku datang meski kepala masih nyut-nyutan.

Aku berangkat mengendarai vespa bututku. Di tengah jalan, tiba-tiba _NGUUUNG_ — sebuah mobil mewah hitam melaju kencang dari arah belakangku, Nyaris menyerempetku. Aku kaget, setang goyang, aku hampir jatuh.

“WOI! !” teriakku kesal sambil menstabilkan motor.

Aku menatap mobil itu. Platnya... mobilnya... rasanya aku kenal. Itu mobil Papahnya Elina. Dari kaca belakang, kulihat beliau sedang menyetir sambil menelepon, wajahnya serius. Dia sempat melirikku lewat spion, tapi tak peduli. Ia Tidak mengenaliku. Mobil itu terus melaju, meninggalkanku dengan dada yang masih berdebar.

Aku menghela napas, lalu melanjutkan perjalanan ke sekolah.

*di sekolah...*

Si sok jagoan sedang nongkrong dengan gengnya di pojokan, menghitung uang lecek sambil cekikikan. Tiba-tiba lewat adik kelas, culun, berkacamata tebal, jalan nunduk-nunduk.

“HEH, NOBITA! SINI LOE!” bentak si sok jagoan.

Adik kelas itu berhenti, gemetaran. “Ke... kenapa, Kak?”

“KAKAK? EMANG GUE KAKAK LOE? PANGGIL GUE KOMANDAN!”

“ tambahin nih,” kata si sok jagoan sambil mengipas-ngipas uang hasil malak.

“Kakak malak saya?” tanya si adik kelas polos.

“PAKE NANYA LAGI NI ANAK! GUE BUKAN MALAK, GUE MINTA SUMBANGAN!”

“Buat apa, Kak?”

“BUAT NYAWER BIDUAN! BANYAK NANYA LOE YA! SINI BAGI DUIT LOE SEKARANG!”

“Aku nggak punya uang Kak, beneran...”

“LOE JANGAN BOHONG SAMA GUE YA! KALAU ADA GUE AMBIL SEMUA DUIT LOE!”

 

1
Lukman Hakim
mohon maaf jangan membaca cerita ini yg berjudul HANUM. ADA kesalahan. cerita lengkap dan revisi terbaru nya ada di novel ku yg satu lagi. yg berjudul HADIRMU MENYADARKANKU.

terimkasih.
T28J
keren kak, saya kasih hadiah ya /Rose/
Lukman Hakim: terimakasih kak😊😊😊
total 1 replies
T28J
oalah tanda kurung itu artinya lagi di telpon kah 🤭 sempet kaget aku kak 🤣👍
Lukman Hakim: iya aku belum sempet sampe situ ngerevisi nya kak, 😁
total 1 replies
T28J
like follow and subscribe guys, cerita si Thor menarik
Lukman Hakim: terimakasih T28j 😊
total 1 replies
Lukman Hakim
iya maaf kak, terimakasih atas pengamatanya, nanti saya perbaiki, mohon maaf jika ada salah kata atau kurangnya huruf dalam tulisan kisah ini🙏
Manusia Ikan 🫪
kayaknya kamu terlalu banyak menggunakan kata "Itu"🕵
Manusia Ikan 🫪: ooh tentu saja, kota memang harus saling mendukung ✋🤓🤚
total 3 replies
T28J
saya like dan tonton hadiah ya 👍
Lukman Hakim
nanti aku baca lagi juga karya kakak.😊
EvhaLynn
Seru Ceritanya😁
Lukman Hakim: iya, nanti lebih seru kak, saat mereka berpisah nanti.
total 1 replies
EvhaLynn
Saya Sangat Menyukai Cerita Novel Mu Author😉
Lukman Hakim: maksih kak.😊
total 1 replies
Lukman Hakim
baik kak, nanti saya kunjungi karya kaka, mohon saling dukung nya ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!