NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:566
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang Kayu dan Tatapan yang Berpaling

Matahari pagi menyengat lapangan latihan di sayap barat Istana Aethelgard. Suara dentingan pedang kayu yang beradu dengan tameng kulit terdengar ritmis, memecah kesunyian paviliun.

Di sana, Princess Aurelia yang baru berusia sepuluh tahun sedang bersusah payah mengatur napasnya. Keringat bercucuran dari pelipisnya, membasahi rambut yang biasanya tertata rapi oleh para dayang.

Di depannya berdiri Sir Gareth, guru bela diri veteran yang ditunjuk langsung oleh pihak istana. Dua orang prajurit berbaju zirah lengkap berdiri tegak di pinggir lapangan, mengawasi setiap gerak-gerik sang putri. Di sudut lain, beberapa dayang tampak cemas sambil memegang nampan berisi air minum dan handuk sutra.

Aurelia melakukan gerakan menebas ke samping, lalu berputar dengan lincah untuk menghindari serangan balasan Sir Gareth. Meski tangannya terasa pegal karena harus memegang pedang kayu yang cukup berat bagi anak seumuran dia, Aurelia tidak menyerah. Sesekali matanya melirik ke arah balkon tinggi yang menghadap langsung ke lapangan latihan.

Di sana, Raja Valerius duduk di balik meja marmer besar. Namun, ayahnya tidak sedang menontonnya. Raja justru tampak sibuk memeriksa tumpukan berkas-berkas penting dan sesekali menuliskan sesuatu dengan pena bulu.

"Fokus, Tuan Putri! Musuh tidak akan menunggumu menoleh ke balkon!" tegur Sir Gareth dengan suara tegas.

Aurelia tersentak dan kembali memposisikan pedangnya. Ia sangat ingin menunjukkan kemampuannya hari ini. Ia tahu ayahnya adalah seorang ksatria legendaris di masa muda—ahli menunggang kuda dan pemegang pedang yang tak terkalahkan.

Aurelia berpikir, jika ia bisa menjadi hebat dalam bela diri, mungkin ayahnya akan bangga padanya. Mungkin ayahnya akan melihatnya bukan sebagai beban, melainkan sebagai penerus yang kuat.

Setelah satu jam latihan intensif yang melelahkan, Sir Gareth akhirnya menurunkan senjatanya. "Cukup untuk hari ini, Tuan Putri. Pertahanan Anda semakin solid. Terima kasih atas kerja kerasnya."

Sir Gareth membungkuk hormat lalu berpamitan untuk meninggalkan lapangan. Aurelia menghela napas panjang, ia menerima air minum dan handuk dari dayangnya dengan terburu-buru. Sambil menyeka keringat di lehernya, ia langsung berlari kecil menuju balkon tempat ayahnya duduk.

"Ayah!" seru Aurelia sambil mencoba mengatur napas agar tetap terdengar sopan.

Raja Valerius tetap diam, jemarinya masih lincah menggerakkan pena di atas kertas. Suara goresan pena itu menjadi satu-satunya jawaban yang diterima Aurelia selama beberapa saat.

Aurelia duduk di kursi kayu di samping ayahnya, mencoba mencari perhatian. "Ayah... bagaimana latihanku tadi? Sir Gareth bilang pertahananku semakin bagus. Apakah Ayah melihat gerakanku saat melakukan serangan berputar tadi?"

Hening. Raja Valerius bahkan tidak melirik sedikit pun. Ia seolah-olah sedang berada di dunianya sendiri yang penuh dengan angka dan urusan diplomasi.

"Ayah? Ayah dengar aku tidak?" Aurelia mencoba lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih mendesak. Ia mendekatkan wajahnya ke arah meja kerja sang Raja.

"Ayah, aku berlatih dua kali seminggu untuk ini. Aku juga belajar cara duduk dan makan yang benar setiap hari sampai punggungku pegal. Aku ingin menjadi kuat supaya bisa melindungi diriku sendiri, dan suatu saat nanti... aku ingin melindungi Ayah juga di kerajaan ini. Jadi, bagaimana menurut Ayah?"

Raja Valerius menghentikan gerakan penanya. Ia menarik napas panjang dan berat, sebuah tanda bahwa ia mulai merasa terganggu. Tanpa menoleh, ia menjawab singkat dengan suara rendah yang dalam. "Ya, ya, Saya mendengarkan. Bagus. Teruskan saja latihanmu."

Aurelia tertegun. "Hanya itu? Bagus? Ayah bahkan tidak melihat ke arah lapangan sejak tadi! Ayah cuma menulis dan menulis!"

Wajah Raja Valerius mengeras. Ia meletakkan penanya dengan kasar dan akhirnya menoleh ke arah Aurelia dengan tatapan tajam yang membuat nyali Aurelia sedikit menciut.

"Cukup, Aurelia! Apakah kau tidak bisa melihat berapa banyak dokumen yang harus saya selesaikan? Keamanan kerajaan ini tidak bergantung pada gerakan putarmu di lapangan latihan, tapi pada keputusan-keputusan yang saya tulis di sini!" bentak Raja Valerius hingga suaranya bergema di paviliun.

Aurelia tersentak, tangannya yang memegang gelas air gemetar. "Tapi aku hanya ingin Ayah melihat..."

"Sudah! Saya tidak punya waktu untuk mengurusi main-main anak kecil!" Raja kembali mengalihkan pandangannya ke kertas. "Kembalilah ke kamarmu. Rapikan dirimu, kau terlihat berantakan seperti prajurit rendahan. Sebentar lagi kau harus belajar tata krama makan malam. Pergilah sekarang, jangan mengganggu saya lagi!"

Air mata mulai menggenang di mata cokelat Aurelia. Ia merasa sangat kecil dan tidak berarti. Tanpa membalas ucapan ayahnya, ia berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan balkon itu. Dayang-dayangnya mencoba mengejar, namun Aurelia jauh lebih cepat.

Ia tidak menuju kamarnya. Ia menuju tempat persembunyiannya yang paling aman: gudang logistik.

Di sana, ia menemukan Lucas sedang duduk di atas tumpukan jerami sambil mengunyah batang rumput manis. Lucas langsung menyadari ada yang salah ketika melihat gaun latihan Aurelia yang kotor dan wajahnya yang sembab.

"Waduh, kenapa lagi? Apa pedang kayumu patah?" tanya Lucas dengan nada santai khas anak-anak, mencoba mencairkan suasana.

Aurelia langsung duduk di samping Lucas dan menyembunyikan wajahnya di balik lutut. "Ayah jahat, Lucas. Dia tidak mau melihatku berlatih. Dia bilang latihanku cuma main-mainan anak kecil yang tidak berguna."

Lucas terdiam sejenak. Ia melihat pedang kayu kecil yang masih tersampir di pinggang Aurelia. "Bukannya kamu bilang Sir Gareth itu guru yang hebat? Kalau dia bilang kamu bagus, berarti kamu memang bagus. Raja itu kan orang tua, matanya mungkin sudah mulai rabun karena terlalu banyak membaca kertas membosankan itu."

Aurelia mendongak, sedikit tersenyum mendengar ejekan Lucas. "Tapi aku ingin dia bangga padaku, Lucas. Kelak aku ingin jadi ratu yang bisa bertarung, bukan cuma ratu yang bisa minum teh."

"Yah, kalau kamu mau jadi kuat, ya jadilah kuat buat dirimu sendiri," kata Lucas sambil memberikan sebutir buah beri liar yang baru ia petik dari semak luar. "Nih, makan. Ini buah keberanian. Kamu tidak butuh Raja untuk melihatmu keren. Aku saja dari sini bisa dengar suara pedangmu tadi, kedengarannya mantap sekali!"

Aurelia menerima buah itu dan memakannya. "Benarkah kamu dengar?"

"Tentu saja! Suaranya sampai ke gudang. Aku sampai pikir ada raksasa yang sedang berkelahi," canda Lucas sambil tertawa.

"Kamu bohong!" Aurelia memukul bahu Lucas pelan, dan tawa mereka pecah bersamaan.

Di tengah gudang yang berdebu itu, rasa kesal Aurelia pada ayahnya perlahan memudar, digantikan oleh semangat baru.

Ia berjanji dalam hati, suatu hari nanti ia akan menjadi begitu kuat sampai ayahnya tidak punya pilihan lain selain melihatnya. Dan Lucas, anak logistik itu, akan selalu menjadi orang pertama yang tahu betapa hebatnya sang Putri yang sebenarnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!