NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AIR MATA SEMANGKA DAN BADAI DI HATI BUMIL

Pagi itu, langit di atas Pesantren Al-Hidayah sebenarnya sangat cerah. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon mangga, dan aroma nasi uduk dari dapur asrama tercium menggoda. Namun, di dalam rumah kecil Gus Zikri, suasana terasa seolah sedang terjadi gerhana matahari total.

Mentari duduk di meja makan dengan wajah ditekuk. Matanya sembab, dan di depannya terdapat sebuah piring berisi potongan buah semangka. Gus Zikri berdiri di sampingnya dengan wajah yang benar-benar bingung sebuah ekspresi langka bagi seorang ulama yang biasanya punya jawaban untuk segala masalah kitab suci.

"Sayang... kamu kenapa menangis lagi?" tanya Zikri dengan nada selembut sutra, mencoba menyentuh bahu istrinya.

"Mas jahat!" tangis Mentari pecah seketika. "Mas nggak sayang lagi sama aku dan bayi ini!"

Zikri terperangah. "Astaghfirullah, Mentari. Apa salah Mas? Mas baru saja bangun, salat Subuh, dan memotongkan semangka kesukaanmu."

Mentari menunjuk piring itu dengan jari gemetar. "Ini! Liat potongannya! Kenapa Mas potongnya kotak-kotak?! Aku maunya dipotong segitiga kayak gunung! Kalau kotak begini rasanya jadi hambar, Mas! Mas sengaja kan mau bikin aku sedih?"

Zikri mengusap wajahnya perlahan. Ia mencoba mencerna logika istrinya. Bagaimana mungkin bentuk potongan buah bisa mengubah rasa dan kadar cinta seseorang? Namun, ia teringat pesan Bu Dokter: *Hormon ibu hamil itu seperti cuaca di pegunungan, bisa berubah dalam hitungan detik.*

"Maafkan Mas, Sayang. Mas kira kalau kotak lebih mudah dimakan," ucap Zikri sabar. "Sini, Mas potongkan yang baru. Mas cari semangka lain yang bisa dipotong segitiga sempurna, ya?"

"Nggak mau! Semangkanya udah terlanjur sakit hati karena dipotong kotak!" Mentari justru semakin terisak, menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan di atas meja.

Tepat saat itu, Bondan dan Fahma muncul di pintu dapur. Mereka membawa nampan berisi kue-kue pasar.

"Assalamualaikum! Eh... ini ada konser tangis pagi-pagi?" Bondan melongo melihat Mentari yang sesenggukan. "Tari, lo kenapa? Gus Zikri pelit nggak kasih uang jajan?"

"Gus Zikri jahat, Bon! Dia potong semangka kotak-kotak!" adu Mentari sambil sesenggukan.

Bondan menatap piring semangka itu, lalu menatap Zikri, lalu kembali ke semangka. "Gus... serius? Gara-gara bentuk potongan doang?"

Zikri hanya bisa memberikan isyarat tangan "tolong bantu saya" kepada Bondan.

Fahma mendekati Mentari, ia mengambil sepotong semangka kotak itu lalu mengamatinya dengan serius. "Tari, kalau kamu makan kotak ini, nanti di dalem perut bayinya jadi pinter matematika loh. Kan kotak itu kayak kotak kubus di pelajaran sekolah."

Mentari berhenti menangis sejenak, menatap Fahma dengan mata merahnya. "Beneran?"

"Iya! Kalau segitiga nanti bayinya jadi runcing, kasihan perut kamu ketusuk-tusuk dari dalem," tambah Fahma dengan wajah tanpa dosa.

Bondan menepuk jidatnya. "Logika macam apa itu, Fahma! Tapi Tari, dengerin gue. Gus Zikri itu saking cintanya sama lo, dia sampe nggak mau lo ribet makan segitiga yang kulitnya sering kena pipi. Makanya dia bikin kotak biar langsung _hap_ masuk mulut."

Mentari mulai mereda. Ia mengambil satu kotak semangka, mengunyahnya pelan, lalu tiba-tiba tersenyum. "Iya sih... lebih praktis. Makasih ya, Mas."

Zikri bernapas lega. Ia merasa baru saja memenangkan perang besar tanpa senjata. Namun, kelegaan itu hanya bertahan lima menit.

"Mas," panggil Mentari lagi.

"Iya, Sayang?"

"Aku tiba-tiba pengen bau aspal basah yang baru kena hujan. Tapi sekarang kan musim panas. Bisa nggak Mas bikin halaman depan jadi bau aspal hujan?"

Zikri terdiam. Bondan langsung menarik Fahma mundur. "Oke Gus, bagian ini kami nggak bisa bantu. Good luck, Pak Imam!"

Berita tentang Mentari yang "ngidam" bau aspal basah menyebar ke seluruh penjuru pesantren. Para santri mulai kasak-kusuk melihat Gus mereka menyiram aspal di depan gerbang pesantren di tengah terik matahari, hanya agar aromanya bisa tercium sampai ke teras rumah.

Hafizah datang membawa es sirup untuk Zikri yang tampak kelelahan. "Gus, sabar ya. Ibu hamil memang sering punya keinginan yang di luar nalar. Itu tandanya bayinya sangat aktif."

Zikri tersenyum tulus sambil menyeka keringatnya. "Saya tidak keberatan, Hafizah. Justru saya merasa bersalah jika tidak bisa memenuhi keinginannya. Mentari sudah mengorbankan banyak hal demi berada di sini, ini hanya hal kecil yang bisa saya lakukan."

Sore harinya, saat aroma aspal basah buatan itu memenuhi udara, Mentari duduk di teras dengan wajah sangat puas. Ia menghirup dalam-dalam aroma itu sambil mengelus perutnya yang besar.

"Mas... sini duduk," panggil Mentari.

Zikri duduk di sampingnya. Mentari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Maaf ya Mas, tadi pagi aku marah-marah nggak jelas. Aku juga nggak tahu kenapa sedih banget liat semangka kotak."

Zikri merangkul bahu Mentari, mengecup puncak kepalanya. "Nggak apa-apa. Mas janji, besok-besok Mas akan tanya dulu mau dipotong bentuk apa. Mau bentuk bintang, bulan, atau trapesium, Mas usahakan."

Mentari tertawa renyah. "Gus Zikri sekarang pinter bercanda ya."

"Belajar dari kamu, Mentari."

Di kejauhan, Bondan dan Fahma memperhatikan dari balik pohon mangga. "Duh, damai lagi ya. Padahal gue udah siapin mental kalau-kalau Gus Zikri disuruh cari buah naga warna biru," celetuk Bondan.

Malam itu, badai mood swing Mentari berlalu, digantikan dengan ketenangan yang dalam. Zikri menyadari bahwa menjadi imam bukan hanya soal memimpin salat atau mengajar kitab, tapi juga tentang menjadi pendengar yang paling sabar bagi tangis seorang istri yang sedang berjuang menghadirkan nyawa baru ke dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!