Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Hans
Hans datang kerumah sakit tempat Ajeng dirawat semalam. Setelah bukti-bukti tentang Ajeng, Raisha tunjukkan padanya.. Kini sekarang pria itu mulai sadar kalau ternyata Ajeng tidak sebaik itu.
Dia dibohongi, Di tipu habis-habisan. Wajah malang itu ternyata menyimpan kelicikan yang sama sekali tak ia ketahui.
Dan yang membuat Hans kecewa ialah, Kenapa Ajeng tega berbuat seperti itu?. Padahal Hans selalu melakukan yang terbaik untuk wanita itu. Apa yang tidak Hans lakukan? Ajeng butuh perhatian, Hans berikan. Ajeng butuh bantuan Hans datang. Apa yang tidak Hans berikan?
Bahkan Hans tak lengah membela Ajeng saat wanita itu tidak diakui oleh kedua orang tuanya. Hans lah orang yang selalu membelanya.
"Saya ingin pasien yang bernama Ajeng Larasati di pulangkan hari ini juga.." Hans menghentikan seorang perawat yang mendampingi dokter menangani Ajeng kemarin.
"Tunggu sebentar ya mas.. Biar saya bicarakan ini pada dokter dulu.." Kata perawat itu pamit pergi lebih dulu untuk menemui dokter.
Tak lama, Dokter datang bersama perawat yang tadi. Hans segera mendekat dan langsung bicara tentang pemulangan Ajeng hari ini juga.
"Dokter.. Saya mau pasien yang bernama Ajeng Larasati di pulangkan hari ini juga..." Dokter menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis.
"Begini Tuan, Sebenarnya luka yang dialami oleh Mbak Ajeng tidak terlalu serius. Pasien juga bisa pulang sejak kemarin tanpa harus dirawat Mas.. Saya pun juga sudah mengatakan pada pasien kalau beliau tidak perlu dirawat, Tapi pasien menolak dan memaksa untuk dirawat saja.." Jelas dokter. Ajeng memang terluka, Namun lukanya tidak parah sama sekali.
Luka tersebut sebenarnya cukup hanya diobati dan diberi perban saja dan tidak perlu dirawat. Akan tetapi Ajeng berkata pada dokter kalau dia ingin dirawat dirumah sakit saja. Disaat pasien lain bersyukur terluka kecil dan tak perlu dirawat dirumah sakit berbeda dengan Ajeng. Wanita itu memaksa dokter agar dirawat saja dengan alasan masih pusing.
"Kalau begitu, Saya mau wanita itu di pulangkan sekarang.. " Dokter pun memerintahkan perawat untuk melepas infus Ajeng.
"Harap tunggu sebentar Mas.. Saya ingin mengantarkan obat ini untuk pasien diruang rawat lainnya" Hans mengangguk mempersilahkan perawat tersebut melaksanakan tugasnya lebih dulu.
Sementara dia hendak masuk keruang rawat dimana Ajeng berada sekarang. Setelah mendengar penjelasan dokter tadi, Hans mulai banyak tahu kalau ternyata Ajeng punya banyak cara untuk mencari perhatiannya.
Ketika hendak masuk keruang rawat itu, Langkah Hans terhenti. Dia mendengar Ajeng sedang mengobrol dengan seseorang didalam sana. Entah itu siapa, Namun Hans tak langsung masuk melainkan merasa penasaran dengan apa yang Ajeng bicarakan.
"Coba lihat lukamu? Ah, Cuma luka lecet doang.. Masa sampek dirawat segala.." Ucap seorang wanita yang sedang duduk berdua bersama Ajeng diruang rawat tersebut.
" Walaupun cuma lecet, Tapi aku berhasil buat Hans telat datang ke pernikahannya hari ini.." Kata Ajeng pada wanita itu.
"Hahaha.. Tapi percuma kan? Calon istri Hans diperistri sama anak konglomerat.. Dan Hans gak ada apa-apa nya.." Kata Wanita itu. Ajeng menghela nafas panjang.
"Hans memang tidak apa-apa nya.. Tapi karena dia, Aku bisa punya segalanya.." Ajeng menarik nafas panjang.
"Setelah Bram tiada, Aku tidak punya sandaran lagi. Kau tahu sendiri bukan, Aku ditolak mentah-mentah oleh keluarga Arvin. Aku tidak cinta Bram, Dia itu hanya pria bodoh.. Kau lihat sendiri kan? Dia mau melakukan apa saja untukku.. Aku menipunya berulang kali pun dia tidak tahu.. Tapi untuk Hans, Entah kenapa lebih merasa nyaman dengannya daripada Kakaknya.. Dia selalu mengutamakanku.. Maka dari itu buat Hans menjauh dari Raisha. Aku kira Raisha akan sakit hati dan merasa kalah dariku.. Ternyata tidak, Dia bukan kalah melainkan lebih tinggi diriku.. " Ajeng sadar memang dia tidak sebanding dengan Raisha. Tapi dia punya keinginan untuk mengalahkan Raisha. Sayang semua tidak terpenuhi alias gagal total.
"Ajeng.. Andai, Andai Hans tahu kalau Haura itu bukan keponakannnya gimana?" Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Gak bakalan.. Dia gak bakalan tahu. Aku akan buat Hans selalu percaya kalau Haura itu anakku dan Bram.. Aku akan buat Hans terikat denganku.. Aku akan..
BRAAAK!
Dua wanita yang berada didalam itu terkejut melihat Hans yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.
"Hans.. Kamu datang? Aku.." Tanpa mengatakan apapun Hans meraih salah satu tagan Ajeng yang di infus itu lalu..
Craaatt!!
"Aaawwss .. Hans! Apa yang kau lakukan??" Pekik Ajeng merasakan sakit saat infus dipergelangan tangannya dilepas paksa. Bukan dengan dokter atau perawat tapi Hans sendiri yang melakukannya..
"Kita pulang sekarang.." Hans menarik tangan Ajeng untuk segera pergi dari sana.
"Hans...Aku sedang sakit, Aku butuh perawatan.. Aku.
"Kau tidak butuh perawatan, Lukamu hanya lecet jadi jangan manja.." Kata Hans datar dan dingin. Ajeng heran dengan sikap Hans hari ini. Sungguh sikap pria itu berbeda sekali..
"Kita pulang sekarang.." Hans menarik kasar Ajeng. Wanita itu menoleh ke arah temennya.
"Aku titip Hauraa!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hans membawa Ajeng pulang kerumahnya. Lebih tepatnya adalah rumah Kakaknya, Bram. Mantan calon suami Raisha itu mendorong tubuh Ajeng hingga terhempas keatas sofa.
Bugh!
"Hans!!
"Diam!! " Bentak Hans..
Ajeng terdiam setelah mendengar bentakan itu. Sikap Hans berubah bukan Hans yang seperti biasanya. Pria itu berubah..
"Sekarang jelaskan padaku? Kenapa mbak tega bohongi aku selama ini? Kenapa mbak ngelakuin ini aku kenapa mbak?" Ajeng bangkit. Wanita itu memasang wajah polos seolah tidak tahu apapun..
"Maksud kamu apa Hans? Aku..
"Gak usah pura-pura bo-doh mbak.. Maksud mbak apa ngirim video panas kita ke Raisha? Tak hanya itu, Mbak juga mengirim foto aku sama mbak pas saat dikamar.. Mbak sengaja? Aku gak nyangka ya mbak.. Mbak bisa setega itu.. " Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Dengerin Hans, Mungkin yang Raisha bilang itu bohong. Semua itu palsu.. Dia, Dia pandai bersandiwara.. Dia itu hanya diluarnya saja tertutup padahal didalam dia..
PLAAAK!!
Kepala Ajeng tertoleh kesamping setelah mendapatkan tamparan keras dari Hans. Mata wanita itu berkaca-kaca.
"Hans.. Kamu tampar aku?" Tanya nya dengan lirih..
"Kenapa? Kau itu adalah wanita murahan! Kau pantas mendapatkan itu.. Aku tahu semuanya, Aku tahu semuanya Ajeng!! Kau itu adalah rubah licik, Ular berbisa. Menyesal aku percaya padamu.. Aku melihatnya sendiri. Raisha menunjukkan video panas kita, Pesan foto yang kau kirim padanya.. Videomu saat kau datang kerumah sakit dan memaksa Raisha untuk membatalkan pernikahan kami. Dan satu lagi, Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, Dirumah ini, Diatas sofa ini kau berciuman dengan pria lain.. Haura, Dia bukan anak Bang Bram.. Dia anak haram yang kau lahirkan bersama pria lain..
Deg!
"Hans.. " Ajeng tak dapat berkata apapun. Semua yang dikatakan Hans benar. Pria itu tahu semuanya.
"Aku kecewa.. Tega-teganya kau selama ini membohongiku.. Kau menipuku dengan wajah licikmu itu.. Dan gara-gara kau juga aku dan Raisha batal menikah.. Dasar wanita tidak tahu diri!! Aku menyesal mengenalmu dan aku menyesal selama ini telah percaya padamu..
Kaki Hans menendang meja membuat Ajeng terjingkat. Pria itupun pergi dari sana dengan air mata penuh kekecewaan..
"Hans.. Hans. Haaaans..
•
•
•
TBC
ada ada ajah ini tuan muda