Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Lampu utama kamar sudah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan. Aroma minyak esensial lavender yang menenangkan memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang jauh lebih hangat dibandingkan ketegangan di teras tadi.
Aurora berbaring telungkup di atas tempat tidur, menyandarkan wajahnya di atas bantal empuk. Langit, yang sudah berganti pakaian menjadi kaos oblong hitam dan celana kain santai, duduk di samping kaki istrinya. Ia mulai mengoleskan sedikit minyak pijat ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu mulai menekan tumit Aurora dengan kekuatan yang pas.
"Aduh... Mas... pelan-pelan, itu titik yang paling pegal," desah Aurora, memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan jemari kokoh Langit bekerja di otot kakinya.
"Ini karena kamu terlalu lama berdiri pakai high heels tadi, Ra. Aku sudah bilang, kalau pemotretan selesai, langsung ganti sandal yang rata," ucap Langit lembut, namun nada kakunya sebagai 'penjaga' tetap tersisa sedikit.
"Namanya juga kerja, Mas. Masa model internasional pakai sandal jepit di lokasi? Kan jatuh harga diriku," sahut Aurora sambil terkekeh kecil. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Langit yang sedang fokus memijat punggung kakinya. "Mas... tadi Papa benar-benar nggak kasih kamu istirahat ya?"
Langit terdiam sejenak, gerakan tangannya melambat. Ia menatap mata Aurora yang bening. "Bapak itu cuma mau aku sigap, Ra. Beliau sengaja kasih banyak instruksi mendadak biar aku nggak lengah. Itu hal biasa buat aku."
"Biasa buat kamu, tapi nggak biasa buat aku, Mas," Aurora bangun dari posisi berbaringnya, kini ia duduk bersila menghadap Langit. Ia meraih tangan suaminya, menghentikan aktivitas pijat itu. "Aku tahu Papa sering kasih kata-kata pedas ke kamu. Aku tahu dia sering bandingin kamu sama relasi bisnisnya yang kaya raya. Kamu... kamu nggak pernah merasa sakit hati?"
Langit menarik napas panjang, ia menatap genggaman tangan Aurora. "Kalau aku bilang nggak sakit hati, aku bohong, Ra. Aku manusia biasa. Tapi setiap kali Bapak bicara begitu, aku selalu ingat satu hal."
"Apa?"
"Aku ingat kalau pria hebat yang sedang merendahkanku itu adalah pria yang sama yang sudah membesarkan kamu dengan segala kemewahan. Kalau beliau keras sama aku, itu artinya beliau sangat mencintai kamu. Beliau cuma takut aku nggak bisa bahagiain kamu sehebat beliau."
Aurora merasakan matanya memanas. Ia tidak menyangka suaminya yang kaku ini memiliki pemikiran sedalam itu. "Tapi Mas, aku nggak butuh kemewahan Papa. Aku cuma butuh kamu. Kita kan lagi nabung, pelan-pelan kita pasti bisa punya rumah sendiri."
Langit tersenyum tipis, ia mengusap pipi Aurora dengan ibu jarinya. "Aku tahu kamu nggak butuh, tapi aku yang butuh membuktikannya, Sayang. Aku nggak mau suatu saat nanti orang-orang bilang kalau Aurora Widjaja jatuh miskin karena menikah dengan ajudannya sendiri. Aku punya harga diri, dan harga diriku adalah kesejahteraan kamu."
"Mas..." Aurora memeluk leher Langit erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. "Makasih ya sudah bertahan sama Papa. Aku tahu itu nggak mudah. Maafin aku kalau sifat manjaku kadang malah bikin posisi kamu makin susah di depan Papa."
Langit membalas pelukan itu, mendekap tubuh mungil istrinya dengan penuh proteksi. "Kamu manja itu sudah hak kamu. Tugas aku ya melayani manja kamu itu. Tapi Ra... boleh aku tanya sesuatu?"
Aurora melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Langit. "Tanya apa, Mas?"
"Apa kamu pernah menyesal? Maksud aku... dulu kamu bisa punya siapa saja. Pengusaha, anak pejabat, atau sesama model. Tapi sekarang kamu malah harus hidup di mansion ini dengan status yang serba salah, nungguin aku pulang dari tugas yang kadang nggak menentu."
Aurora terdiam sejenak, lalu ia mencubit hidung Langit dengan gemas. "Mas Langit yang kaku... dengar ya. Aku pilih kamu karena di antara semua laki-laki yang mendekati aku, cuma kamu yang nggak silau sama nama 'Widjaja'. Cuma kamu yang berani tegur aku kalau aku salah, dan cuma kamu yang bisa bikin aku ngerasa aman tanpa harus pamer harta. Menyesal? Satu-satunya hal yang aku sesali adalah kenapa kita nggak ketemu dari dulu pas aku masih sekolah, biar aku bisa naksir kamu lebih lama."
Langit terkekeh, suara tawa yang sangat jarang terdengar itu membuat hati Aurora bergetar. "Kalau kita ketemu pas kamu sekolah, aku pasti sudah ditangkap polisi karena dituduh macem-macem sama anak di bawah umur."
"Ih, Mas Langit bisa bercanda juga!" Aurora tertawa riang, ia menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Langit lagi. "Mas, janji ya? Apapun yang Papa katakan nanti, jangan pernah tinggalkan aku. Meskipun Papa usir kamu, aku bakal ikut kamu tinggal di kos-kosan sempit sekalipun."
"Aku nggak akan biarkan kamu tinggal di tempat sempit, Ra. Tabunganku sudah hampir cukup untuk uang muka apartemen yang kita lihat kemarin. Sabar sedikit lagi ya? Kita bakal punya istana kecil kita sendiri, tanpa perlu dengar Papa ngomel tiap pagi."
Aurora mendongak, matanya berbinar. "Beneran, Mas? Kamu serius?"
"Iya, serius. Makanya aku kerja keras hari ini sama Bapak. Aku mau tunjukkan kalau menantunya ini bisa diandalkan dalam hal apa pun, termasuk urusan bisnis."
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, percakapan mereka mengalir lebih jujur dari biasanya. Dinding kekakuan Langit runtuh sepenuhnya di hadapan Aurora. Ternyata, di balik seragam hitam dan wajah tanpa ekspresi itu, ada seorang pria yang sedang berjuang mati-matian demi harga diri dan cinta sejatinya.
"Mas... pijitnya lanjutin dong, tapi yang di bahu sekarang," pinta Aurora dengan nada manja yang kembali muncul.
Langit menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah. "Siap, Nyonya Langit. Perintah dilaksanakan."
Dan di tengah malam yang dingin itu, sebuah janji tanpa kata terukir di antara mereka. Bahwa serumit apa pun tekanan dari sang mertua, selama mereka memiliki satu sama lain, mansion Widjaja hanyalah sebuah panggung, dan rumah yang sesungguhnya adalah pelukan hangat di atas tempat tidur itu.
***
Pagi itu, Mansion Widjaja sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya yang kaku namun teratur. Aurora menuruni tangga dengan langkah santai, satu tangannya memegang susu kotak rasa stroberi yang ia sesap melalui sedotan, sementara tangan lainnya sibuk merapikan cardigan yang tersampir di bahunya. Matanya yang bulat menyipit saat melihat sesosok asing di sofa ruang tengah.
Seorang gadis cantik, berpakaian formal dengan blazer yang sangat rapi dan aura profesional yang kuat, sedang duduk tenang sambil memangku sebuah map dokumen. Penampilannya sangat kontras dengan Aurora yang selalu tampil glamor atau santai.
"Eh, Kakak siapa?" tanya Aurora polos, langkahnya terhenti di anak tangga terakhir.
Gadis itu berdiri, memberikan senyum tipis namun sopan. "Saya Silviana. Kamu Aurora?"
"Iya," jawab Aurora sambil berjalan mendekat, meneliti Silviana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan rasa ingin tahu yang besar. "Kakak ngapain di sini? Mau bertamu ke Papa? Tapi Papa sudah berangkat sama Pak Bambang tadi subuh."
"Bukan ke Bapak Anggara," suara berat dan dingin memotong dari arah ruang makan. Elang muncul dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung, wajahnya tampak segar namun tetap dengan ekspresi 'predator' andalannya. "Itu sekretaris gue."
Mata Aurora membelalak. Ia teringat cerita-cerita tentang sekretaris baru kakaknya yang katanya punya nyali baja menghadapi mulut pedas Elang. "Oh... Jadi ini sekretaris yang bikin Kak Elang—"
Sebelum Aurora sempat menyelesaikan ucapannya yang kemungkinan besar akan memalukan, Elang dengan sigap melangkah maju dan membekap mulut adiknya itu dengan telapak tangannya yang lebar.
"Mmph—mmph!" Aurora meronta, mencoba melepaskan tangan kakaknya yang besar, sementara susu kotaknya nyaris tumpah.
"Jangan dengerin dia, Sil. Dia emang agak miring otaknya kalau belum kena nasi," ucap Elang datar, menatap Silviana seolah tidak terjadi keributan apa pun di depannya.
Elang melepaskan bekapannya setelah memastikan Aurora tidak akan berteriak lagi. Aurora langsung menghirup oksigen dalam-dalam dengan wajah cemberut maksimal. "Ih! Sembarangan! Mas... Mas Langit! Masa Kak Elang bilang aku otaknya miring!"
Langit, yang baru saja muncul dari arah dapur membawa tas kerjanya, hanya bisa menghela napas. Ia sudah terbiasa menjadi penengah di antara dua saudara yang hobi bertengkar ini. "Sudah, Ra. Mas Elang cuma bercanda."
"Nggak lucu!" Aurora menjulurkan lidahnya pada Elang. Ia kemudian beralih lagi pada Silviana yang sedari tadi hanya menonton dengan tatapan geli. "Eh, Kak Silvi... Kakak sudah pacaran ya sama Kak Elang?"
Pertanyaan frontal itu membuat suasana di ruang tengah mendadak hening sesaat. Silviana hanya tersenyum tenang, sebuah senyum profesional yang sulit dibaca maknanya. "Saya bekerja untuk kakakmu, Aurora."
"Dih, jawabannya diplomatis banget kayak Papa," komentar Aurora. Ia mendekati Silviana dan berbisik, namun suaranya masih cukup keras untuk didengar Elang. "Jangan mau deh Kak pacaran sama ini orang. Udah jelek, galak, mulutnya pedes lagi! Mending Kakak cari yang kaku-kaku tapi sayang kayak suamiku ini."
"Aurora Widjaja, lo mau gue potong uang jajan tambahan lo bulan ini?" ancam Elang dengan mata menyipit.
"Pelit! Ayo Mas, berangkat! Di sini ada singa kelaperan, ngeri!" Aurora menarik tangan Langit dengan kuat, menyeret suaminya yang kaku itu menuju pintu depan.
Begitu sampai di depan mobil, Aurora melepaskan tarikannya namun tetap menggenggam tangan Langit. Hari ini Langit harus mengawal salah satu tamu negara ke kediaman bapak menteri, tugas yang cukup berat dan memakan waktu seharian.
"Mas... nanti kalau sampai ke rumah bapak menteri telepon ya?" pinta Aurora, wajahnya kembali menjadi mode manja dalam sekejap.
Langit merapikan rambut Aurora yang sedikit berantakan terkena angin pagi. "Iya, aku telepon. Tapi jangan setiap jam kamu kirim pesan, aku harus fokus, Ra. Ini tamu negara."
"Iya, aku tahu. Tapi kan kangennya nggak bisa dijadwal, Mas," Aurora mengerucutkan bibirnya. "Terus nanti pulangnya belikan aku martabak manis yang di dekat perempatan itu ya? Yang keju susunya banyak."
"Siap, laksanakan," jawab Langit dengan senyum tipis yang tulus. Ia membungkuk sedikit, mengecup kening Aurora lama sekali. "Aku berangkat dulu. Jangan bikin Kak Elang makin emosi di dalam, kasihan Kak Silviana kalau harus dengerin kalian debat terus."
"Habisnya Kak Elang nyebelin! Ya sudah, Mas hati-hati ya. Jangan lirik ajudan menteri yang cewek-cewek!" ancam Aurora sambil melambaikan tangan saat Langit masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil Langit hilang dari pandangan, Aurora tidak langsung pergi ke kamarnya. Ia justru kembali masuk ke ruang tengah, di mana Elang dan Silviana tampak sedang mendiskusikan jadwal keberangkatan mereka ke kantor.
Aurora duduk di sofa seberang Silviana, kembali menyesap susu kotaknya. "Kak Sil, emang betah ya kerja sama Kak Elang?"
Elang yang sedang memeriksa berkas melirik adiknya tajam. "Ra, lo nggak ada kerjaan lain apa? Pemotretan atau apa gitu?"
"Jadwal aku nanti siang, Kak! Jangan ngusir!" Aurora beralih ke Silviana lagi. "Kak Sil, aku serius lho. Kak Elang itu kalau di kantor lebih parah dari Papa. Kalau Kakak nggak kuat, bilang aku ya? Nanti aku cariin kerjaan di agensiku jadi asisten manajer."
Silviana tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat elegan. "Terima kasih tawarannya, Aurora. Tapi sejauh ini, Kakakmu ini masih bisa saya tangani. Pedasnya masih selevel cabe rawit, belum sampai level cabe setan."
Elang mendengus mendengar perumpamaan sekretarisnya. "Kalian berdua ini kenapa jadi kompak ngehina gue?"
"Karena itu fakta, Kak!" seru Aurora riang. "Kak Sil, Kak Elang itu sebenarnya gengsian. Kalau dia lagi marah-marah nggak jelas, itu artinya dia lagi pusing atau... lagi suka sama orang tapi nggak tahu cara ngomongnya."
Wajah Elang sedikit berubah warna, ia segera berdiri dan menyambar tas kerjanya. "Sil, ayo berangkat. Sebelum mulut anak ini makin nggak beradab."
Silviana berdiri, merapikan blazernya. "Baik, Pak. Aurora, saya pamit dulu ya. Senang bertemu kamu."
"Senang juga, Kak! Semangat ya jagain singa!" Aurora melambaikan tangan dengan semangat.
Saat Elang dan Silviana berjalan menuju pintu, Aurora masih sempat berteriak, "KAK ELANG! JANGAN LUPA BELIKAN KAK SILVI MAKAN SIANG YANG ENAK! BIAR DIA NGGAK MINTA RESIGN!"
Elang tidak menyahut, namun langkahnya sedikit melambat saat ia membukakan pintu mobil untuk Silviana. Aurora yang melihat itu dari balik jendela besar mansion tersenyum lebar.
"Kaku sih, tapi kalau sama Kak Silvi kok kayaknya ada yang beda ya?" gumam Aurora pada dirinya sendiri. Ia menghabiskan sisa susunya, lalu berjalan menuju kamarnya sambil bersenandung. Baginya, melihat kakaknya mulai "terancam" oleh pesona seorang wanita adalah hiburan paling menarik di Mansion Widjaja hari ini.