Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : MEMBUKTIKAN
Satu bulan berlalu sejak Kirana bergabung dengan perusahaan Papahnya. Kini Kirana mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaannya, kemampuan Kirana memang tak bisa dianggap remeh. Di sisi lain Kirana yg memang Gadis yang cerdas. Tak butuh waktu lama buat Arga membimbing Kirana. Pak Harsono juga sangat percaya dengan kemampuan putri semata wayang nya. Ini dibuktikan dari beberapa project kerja sama dengan beberapa perusahaan besar lainnya.
PT. Cahaya Utama adalah salah satu klien terbesar yang sedang diincar PT. Harsono Group sejak tiga bulan terakhir. Kontrak kerja sama senilai dua puluh miliar rupiah itu bisa jadi penentu apakah divisi marketing di bawah pimpinan Kirana bisa dipercaya oleh direksi atau tidak. Nyonya Pratiwi, pemilik perusahaan tersebut, dikenal sebagai sosok yang tegas, perfeksionis, dan tidak pernah mau bekerja sama dengan orang yang ia anggap tidak kompeten. Satu kesalahan kecil saja, dan kontrak itu bisa berpindah ke tangan kompetitor.
Itu sebabnya presentasi final hari ini sangat penting. Bukan hanya untuk Kirana, tapi juga untuk nama baik Pak Harsono.
Pagi itu ruang meeting lantai tujuh terasa lebih dingin dari biasanya. AC dinyalakan penuh, tapi yang membuat udara di sana menusuk bukanlah suhunya. Tapi tatapan Nyonya Pratiwi.
Nyonya Pratiwi duduk di ujung meja dengan lengan disilang. Usianya lima puluh tahun, rambutnya disanggul rapi, dan sorot matanya tajam seperti orang yang sudah melihat ratusan proposal dan bisa menilai siapa yang serius dan siapa yang hanya mengandalkan nama besar.
Di sampingnya duduk dua orang stafnya. Di depan mereka, Kirana berdiri dengan laptop terbuka. Slide presentasi sudah siap. Di sebelahnya, Arga berdiri diam, memegang folder data pendukung.
Presentasi sudah berjalan dua puluh menit. Tapi semakin lama, Nyonya Pratiwi semakin sering memotong ucapan Kirana dan malah bertanya langsung pada Arga.
“Kira-kira margin keuntungan di kuartal ketiga ini bisa tembus berapa persen, Pak Arga?” tanya Nyonya Pratiwi tanpa melihat Kirana.
Arga melirik Kirana sekilas. “Nona Kirana yang lebih paham untuk bagian itu, Bu,” jawabnya pelan.
Kirana menarik napas dalam-dalam. “Angka proyeksi kita ada di 12.5 persen, Bu. Itu berdasarkan data tren pasar tiga bulan terakhir dan evaluasi tim keuangan kami.”
Nyonya Pratiwi mengangguk kecil, tapi matanya masih tertuju pada Arga. “Data ini akurat? Atau hanya disiapkan tim Pak Arga?”
Kalimat itu seperti tamparan pelan di pipi Kirana. Ruangan jadi hening. Beberapa karyawan yang duduk di belakang ikut menunduk, tidak berani menatap.
Kirana menutup laptopnya pelan. “Bu Pratiwi,” suaranya tetap tenang meski dadanya panas. “Saya yang memimpin divisi marketing ini. Semua data di sini sudah melalui verifikasi saya pribadi.”
Nyonya Pratiwi mengangkat alis. “Saya minta maaf, Nona Kirana. Tapi saya lebih nyaman kalau Pak Arga yang jadi PIC utama project ini. Saya ragu dengan kemampuan kepala divisi yang baru.”
Itu dia. Kalimat yang paling ditakuti Kirana.
Meeting berakhir sepuluh menit setelahnya. Tanpa keputusan. Nyonya Pratiwi bilang akan mempertimbangkan ulang.
Begitu pintu ruang meeting tertutup, Kirana langsung berjalan cepat kembali ke ruangannya. Punggungnya tegak. Langkahnya tidak goyah. Tapi begitu pintu terkunci, bahunya langsung jatuh.
“Saya ragu dengan kemampuan kepala divisi yang baru.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Bukan karena Kirana tidak siap. Dia sudah begadang tiga malam untuk presentasi itu. Tapi karena orang itu tidak melihat usahanya. Orang itu hanya melihat Anak Pak Harsono.
Kirana duduk di kursinya. Tangan yang tadi mengepal di bawah meja kini gemetar.
Pintu diketuk pelan. “Kirana?” suara Arga terdengar dari luar. Kirana tidak menjawab. Dia tidak ingin Arga melihatnya seperti ini. Tidak ingin Arga melihatnya kalah.
Arga tidak memaksa masuk. Dia hanya berdiri di luar selama beberapa detik, lalu berkata pelan. “Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja Kirana...." Arga diam sesaat lalu "Soal tadi...Aku nggak akan kecewa. Aku juga nggak akan nyalahin kamu Kirana.”Langkah kaki Arga menjauh. Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sepanjang siang, gosip mulai beredar lagi. Tapi kali ini bukan soal Kirana dan Arga pulang bareng. Kali ini soal Kirana yang “nggak becus pimpin presentasi”.
“Wah, klien besar bisa lepas nih gara-gara Nona Kirana,” bisik seorang staf junior di pantry.
“Ya namanya juga anak direktur. Pasti dapat jabatan karena jalur orang dalam,” sahut yang lain.
Kirana yang kebetulan lewat hanya diam. Dia tidak membantah. Dia tidak marah. Dia hanya berjalan lebih cepat.
Sore itu Kirana memutuskan untuk tidak pulang. Dia mengunci diri di ruangan dan membuka ulang semua file presentasi. Dia cek ulang setiap angka. Setiap grafik. Setiap kalimat.
Arga masih ada di meja sebelah. Lampu mejanya menyala sampai jam sembilan malam. Tapi dia tidak pernah datang ke ruang Kirana. Tidak pernah bertanya. Tidak pernah mengganggu.Ya, Kirana memang sekarang memiliki ruang kerja sendiri sudah tak satu ruangan dengan Arga.
Itu yang membuat Kirana merasa aneh. Biasanya, kalau ada masalah, Arga pasti langsung turun tangan. Tapi kali ini Arga memilih tidak banyak bicara.
"Dia percaya aku bisa",pikir Kirana.
Jam menunjukkan pukul 21.47. Kantor sudah sepi. Hanya suara AC dan ketikan keyboard Kirana yang terdengar. Arga juga pura-pura lembur dia tetap diruang nya di sebelah ruangan Kirana, menjaganya dari balik tembok kantor. Arga sebenarnya cukup kawatir dengan Kirana ingin rasanya dia masuk sekedar meringankan bebanya... tapi disisi lain dia ingin memberi Kirana ruang kebebasannya sendiri. Arga ingin Kirana melewati prosesnya.
Kirana menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya perih. Kepalanya pening. Tapi dia belum selesai.
Di tengah kelelahan itu, ingatan tentang mendiang Nyonya Anastasya tiba-tiba muncul.
“Dulu Mama selalu bilang... pemimpin yang baik itu bukan yang nggak pernah jatuh. Tapi yang berani berdiri lagi sendirian, Kirana.”
Kirana menutup matanya. Air mata yang tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Tapi air mata tekad.
Dia tidak akan menyerah. Bukan untuk Pak Harsono. Bukan untuk Arga. Tapi untuk dirinya sendiri. Untuk membuktikan bahwa dia pantas duduk di kursi ini.
Pukul 08.30 keesokan harinya, Kirana masuk ke ruang Pak Harsono tanpa mengetuk.
“Pah, saya minta jadwal meeting ulang dengan Nyonya Pratiwi. Hari ini. Jam 10 pagi,” katanya langsung.
Pak Harsono terkejut. “Kamu yakin, Kirana? Kliennya sudah mulai ragu.”
Kirana mengangguk. “Saya yakin. Kali ini saya yang presentasi. Sendiri. Tanpa Arga.”
Pak Harsono menatap Kirana dalam-dalam. Dia melihat sesuatu yang berbeda di mata anaknya. Bukan kemarahan. Tapi tekad.
“Baik,” Pak Harsono mengangguk. “Papa percaya sama kamu.”
Pukul 10.00, Kirana masuk ke ruang meeting sendirian. Tidak ada Arga di sampingnya. Tidak ada Pak Harsono yang mendampingi.
Hanya dia dan Nyonya Pratiwi.
Presentasi kedua itu berjalan berbeda. Kirana tidak gugup. Suaranya tegas. Jawabannya tenang. Dia tidak hanya membaca slide. Dia menjelaskan logika di balik setiap angka.
Ketika Nyonya Pratiwi bertanya tentang risiko pasar, Kirana menjawab dengan data cadangan yang sudah dia siapkan semalaman. Ketika Nyonya Pratiwi menyentil soal pengalaman, Kirana menjawab dengan strategi yang dia buat sendiri untuk tiga klien sebelumnya.
Dua puluh menit berlalu. Tidak ada satu pun pertanyaan yang bisa menjatuhkan Kirana.
Di akhir presentasi, Nyonya Pratiwi menutup foldernya. Dia berdiri dan mengangguk pelan.
“Maaf Nona Kirana. Saya salah menilai Anda kemarin,” katanya tulus. “Anda memang pantas memimpin project ini.”
Kirana hanya mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ada rasa lega yang luar biasa. Seperti beban seratus kilo yang tiba-tiba terangkat dari pundaknya.
Begitu pintu ruang meeting terbuka, Kirana melihat Arga sudah berdiri di depan pintu. Pria itu tidak tersenyum berlebihan. Hanya mengangguk kecil.
“Selamat, Nona Kirana,” kata Arga pelan.
Kirana berhenti di depannya. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung pergi. Dia menatap Arga dalam-dalam.
“Terima kasih, Pak Arga,” jawab Kirana.
Itu saja. Tidak ada ucapan panjang. Tidak ada pelukan. Tapi nada suara Kirana berbeda. Tidak ada jarak dingin seperti biasanya.
Arga mengangguk. “Kamu keren. Tanpa aku pun kamu bisa.”
Kirana tersenyum kecil. Pertama kali. Senyum yang tulus. Bukan senyum formal yang ia pakai untuk klien.
“Kamu juga,” jawab Kirana pelan. “Kamu tahu kapan harus mundur. Dan kapan harus ada.”
Arga terdiam. Kalimat itu lebih berarti daripada ucapan terima kasih mana pun.
Mereka berjalan kembali ke ruang divisi bersama. Jarak di antara mereka tidak lagi dua meter. Kini hanya setengah meter. Dan tidak ada yang merasa itu salah.Di sepanjang koridor, beberapa karyawan menatap mereka. Tapi kali ini tidak ada bisik-bisik. Hanya tatapan hormat.
Kirana masuk ke ruangannya dan meletakkan laptop di meja. Dia duduk dan melihat pantulan dirinya di layar komputer yang mati.
Wajahnya tetap sama. Tapi matanya tidak lagi kosong seperti beberapa minggu lalu. Ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang disebut kepercayaan diri. Dan ada sesuatu lagi. Sesuatu yang disebut kepercayaan pada orang lain.
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"