NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NONIK ANFAL

Rani mengamati tubuh kecil itu dengan tatapan sedih. Nonik ada dalam tempat tidur yang lebar lebih besar untuk tubuh mungilnya. Rani teringat kepada ibunya yang juga sakit-sakitan sampai dia merelakan dirinya pergi ke negara H untuk kerja keras mengumpulkan biaya untuk merawat ibunya.

“Emmm mbak. Kulihat mbak sedang merenung. Jangan-jangan mikir boss Midun yaaa. Takut kalau boss nlikung. He…he…he….”

Darto terkekeh. Rani menepuk punggung Darto.

“Eiiissss. Mau tau aja.”

Midun tadi mengatakan akan mencari makan untuk mereka bertiga dan juga untuk Nonik jika Nonik bangun. Midun meminta Rani untuk bisa menjaga Nonik dengan baik.

“Ni amanat. Jangan lupa uang pasti cair.”

Demikian Midun meyakinkan Rani. Rani membayangkan nanti dia bisa beli perhiasan, pakaian mahal dan perawatan mandi air susu biar kulitnya tambah halus. Rani memang suka pada perawatan tubuh karena tubuh ini aset bagi dia untuk dijaga dan dirawat supaya tetap mulus. Orang juga akan senang lihat dia cantik. Seorang perempuan modern harus selalu jaga penampilan.

“Kau liat apa, bossmu udah pulang. Noh.”

Rani mendelik kepada Darto.

“Mbak gak suka ya aku temenin.”

Seloroh Darto penuh jenaka.

“Udah, noh.”

Darto senyam-senyum sendirian kemudian beranjak kedepan untuk melihat apakah Midun sudah pulang.

Rani kenal Midun sebagai orang yang pemberani. Bukan tipe pengecut. Semuanya dihadapi dengan dada tengadah. Dia senang karena sikapnya yang melindungi ketika dia berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, Midun selalu membelanya. Pernah ada segerombolan pemuda mau ajak dia untuk tolong bantu rawat tubuh. Rani tidak mau. Lalu Midun datang menolong. Sebagai salam mainnya garis melintang di muka Midun didapatkannya.

Tiba-tiba Nonik kejang-kejang. Mulutnya berbusa dan nguk-nguk terdengar. Rani terkejut dan berusaha untuk membantu Nonik. Dia panik tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Dartooo…”

Rani berteriak memanggil Darto. Darto yang ada didepan segera berlarian mendekat.

“Gimana ni.”

Teriak Rani panik. Dia bukan dokter. Bukan juga suster. Tidak tahu cara menanggulangi anak kecil yang sakit keras seperti Nonik.

“Kau panggil dokter cepat.”

“Panggil dokter mbak. Bukankah boss pesen….”

“Cepaaat Darto. Pa kau mau anak ini tumbang.”

“Ba..baik mbak.”

Darto segera beranjak mau panggil dokter untuk merawat Nonik yang sedang  anfal.

Malam itu dokter Sapto tidak bisa tidur. Pikirannya kemana-mana. Dia merasa gagal karena anak yang dioperasinya kemarin tumbang. Dia melihat kedua orangtua, masih muda menangis sedih ketika anaknya tumbang. Walaupun orangtuanya tidak menyalahkannya, tetapi sebagai dokter 10 tahun di rumah sakit KM, dia merasa gagal. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Saat dia asyik dengan dirinya sendiri terdengar ketukan.

TOK…..TOK….TOK…..

Ada apa? Tidak biasanya orang datang kepadanya malam-malam. Dia akan selalu bilang

“Maaf, udah malam. Besuk pagi aja ya!”

Lalu dia tutup pintu rapat-rapat. Seharian dia di rumah sakit. Lelah, letih dan capek. Dia tidak mau diganggu. Toh dokter yang praktek juga banyak. Dia tidak pernah pasang plang “Dokter Praktek”, dia sudah banyak pekeerjaan di rumah sakit. Terlalu ribet kalau jadi dokter praktek.

TOK…..TOK……TOK……

Ketukan terus terdengar. Sambil bergumam kesal dia membuka pintu.

“Dok.”

“Kau Darto. Ada apa.”

Suara dokter Sapto tidak ramah. Dia kenal Darto sebagai keamanan yang sering cari uang di jalanan.

“Penting, dok. Boleh aku masuk dulu.”

Tanpa dipersilakan, Darto menerobos masuk. Dokter Sapto menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku tak rehat dulu. Capek.”

Kaki Darto diluruskan di meja tamu. Dia duduk setengah berbaring di kursi tamu. Dokter Sapto melihatnya tidak senang. Darto memang orangnya tidak kenal aturan. Seenaknya sendiri.

“Ada apa. Cepatlah aku udah ngantuk.”

“Tunggu dok. Biar aku nafas dulu.”

Dokter Sapto menjadi tidak sabar menghadapi sikap Darto yang seenaknya.

“Cepat katakan. Ada apa. Ini aku capek juga.”

“Oke. Oke dok.”

Dengan gaya serius, Darto menurunkan kakinya dari meja tamu.

“Ni ada anak butuh dokter. Gawat. Kondisinya anfal.”

“Gawat, dimana.”

Dokter Sapto tiba-tiba teringat lagi muka orangtua anak yang tumbang itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anu. Tempatnya rahasia. Dokter kesana tutup mata ya!”

“Kau.”

Dia terdiam ketika Darto mengeluarkan alat kerja pendeknya. Lalu Darto mengeluarkan sehelai kain hitam di sakunya.

“Ayo dok. Nurut sama aku.”

“Tunggu.”

Dokter itu mencegah tangan Darto yang berusaha mengikatkan kain itu kematanya.

“Anak itu. Dia Sakit apa.”

“Tak tau dok. Dia kejang-kejang, mulut berbusa dan nguk-nguk.”

“Penyakit yang berhubungan dengan pernafasan.”

Dokter Sapto berguman.

“Tu…tunggu aku siapkan obat dan peralatannya.”

Dokter Sapto mengibaskan tangannya Darto yang mau menutup matanya dengan sehelai kain hitam di matanya kembali.

“Baik aku tunggu 5 menit. Harus beres.”

Suara Darto kedengaran galak. Dokter Sapto cepat-cepat menyiapkan segala sesuatunya. Lalu membiarkan matanya ditutup dan mengikuti Darto.

Dokter Sapto bergegas masuk ke kamar tempat Nonik dibaringkan. Dia melihat anak berumur 5 tahun sedang kondisi yang kritis. Mulutnya sudah membiru, matanya seperti mau keluar dengan tubuh yang kejang-kejang karena nafasnya seperti tersumbat. Dokter Sapto ragu-ragu.

“Apakah aku mampu.”

Gumannya dengan suara getir. Ingatannya kembali pada operasinya yang gagal kemarin.

“Gimana dok.”

Kata Rani dengan nada penuh kekhawatiran. Dia berharap dokter Sapto segera dapat menangani Nonik.

“Emmm. Aku priksa dulu mbak. Ini harus teliti.”

“Ah dok. Kau khan dokter masak nggak tau.”

Seloroh Darto tajam. Darto memang suka ceplas-ceplos berbicara tanpa perduli orang yang diajaknya berbicara tersinggung hatinya. Dia terbiasa bicara seperti itu.

Dokter Sapto tidak menjawab. Dia mengeluarkan botol kecil obat dan suntikan. Lalu dia mengambil cairan obat yang ada di botol kecil itu dengan suntikan. Dengan hati-hati dia mencoba menyuntik lengan kanan Nonik. Tetapi Nonik bergerak-gerak terus sulit untuk disuntik.

Dokter Saptoyo memberi isyarat kepada Rani dan Darto untuk memegangi Nonik. Mereka segera memegangi Nonik. Setelah Nonik dipegangi oleh Rani dan Darto, dokter Sapto menyuntikkannya ke lengan kanan Nonik. Perlahan-lahan gerakan Nonik melambat dan akhirnya tenang kembali. Dia tertidur kembali.

Dokter Sapto menyeka keringat di dahinya. Dia ketakutan setengah mati karena masih dibayang-bayangi kegagalannya dalam operasi kemarin.

“Apa dia nggak apa-apa dok.”

Tukas Rani dengan khawatir.

“Ndak apa-apa mbak. Yang penting dia tertidur dulu.”

Dokter Sapto tersenyum tetapi penuh kegetiran. Obat yang tadi dia suntikkan bukanlah obat untuk mengobati penyakit tetapi obat penenang supaya pasien tenang dan tertidur. Dia sendiri tidak tahu cara mengobati anak itu, karena bukan spesialisnya. Dia dokter spesialis penyakit dalam bukan spesialis paru dan pernafasan. Dia hanya tahu, untuk pencegahan bisa dengan obat penenang. Tetapi itu tidak akan bertahan lama. Anak itu harus mendapat penanganan segera dari dokter spesialis paru dan pernafasan. Dokter Sapto menyeka keringatnya lagi.

“Dok. Kalau ada apa-apa pada anak itu, kau harus tanggungjawab.”

Darto berkata dengan galak kepada dokter Sapto.

“Darto. Kau kenal aku berapa lama hah.”

Dokter Sapto membalas tidak mau kalah. Darto tertawa.

“Kau bukanlah dokter yang memegang etika kedokteran. Aku tau itu.”

Darto tersenyum mengejek. Dokter Sapto tidak menjawab. Dia memang seringkali meyalahgunakan kedokterannya untuk hal-hal yang kurang baik. Tetapi tidak semua orang tahu itu. Rahasia itu tersimpan aman asalkan Darto tutup mulut.

“Udah….udah… yang penting anak ini sudah tenang.”

“Oke dok.”

“Hei siapa ni.”

Tiba-tiba Madun yang datang berkata dengan penuh curiga kepada dokter Sapto.

“Ma..af boss. Tadi anak itu anfal. Aku terpaksa panggil dokter. Lagipula mbak Rani yang suruh.”

Madun memperhatikan dengan seksama dokter Sapto. Dia asing karena tidak kenal dokter Sapto.

Bagaimana dengan Nasib Nonik. Juga pak Dody dan Santi ?

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!